
"Bukan aku yang pergi dari rumah ini, Sarah. Tapi kamu lah yang seharusnya pergi dari sini!!!," akhirnya mas Bima angkat suara juga.
Namun yang membuat hati ku terkejut adalah ucapan yang ia keluarkan dari mulut nya.
Kok bisa-bisanya, ia mengusir ku dari sini, padahal dari awal dia sudah tahu kalau tak ada uang dari nya sepeserpun didalam rumah ini.
Karena aku membeli rumah ini dari sebelum aku menikah dengan mas Bima. Jadi aku rasa di dalam rumah ini tak ada hak sedikit pun untuk nya. Seratus persen ini rumah hak milik ku dan Kean anak ku.
"Kamu yakin dengan apa yang telah kamu katakan, mas?," tanya ku pada mas Bima dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa aku harus nggak yakin, Sarah?, toh ini rumah milik kita berdua, jadi aku masih punya hak dalam rumah ini!!," ucapnya sambil mata melotot padaku.
"Seharusnya kamu jangan bikin keruwetan dalam masalah ini, Sarah!!!. Kamu harus sadar diri kalau ini itu memang bukan rumah kamu!!," sahut ibu nya mas Bima.
Aku heran dengan ibunya mas Bima, dia selalu ikut campur. Seakan-akan apa yang ia katakan itu benar adanya.
"Aku nggak mau tau, mas!!! Sekarang juga kamu pergi dari sini, sebelum aku mempermalukan mu didepan warga komplek sini!!!," aku mencoba memberanikan diri untuk mengancam mas Bima.
"Kamu mengancam anak ku, Sarah?!!!!. Punya bekal apa kamu mau mempermalukan anakku?!," sahut ibu nya mas Bima.
"Sebelum kamu mempermalukan anakku, kamu yang akan aku buat malu dan aku pastikan hidup mu akan sengsara seumur hidup!!!," ancam ibu nya mas Bima tak kalah menakutkan.
Keributan dan perang mulut pun tak bisa di hindari, dan tak ada jalan keluar. Karena aku dan mas Bima masih tetap kukuh dengan argumennya masing-masing.
Akhirnya ada salah satu warga kompleks ini memanggil pak RT. Mungkin ia juga sudah bosan menonton drama yang saat ini sedang tayang di komplek ini.
__ADS_1
"Ada apa ini bapak Bima dan ibu Sarah?," tanya pak RT dengan sangat ramah dan sopan.
"Usir perempuan kampungan ini dari rumah anak saya, pak!!," sahut ibunya mas Bima dengan nada suara yang sangat tinggi.
"Maaf, Bu. Aku tidak bertanya pada ibu. Jadi saya mohon ibu jangan ikut menjawab nya. Biarkan pak Bima dan Bu Sarah lah yang menjawab nya secara bergantian." ucap pak RT sangat bijaksana.
Biarkan saja perempuan tua yang ada di depan ku itu kena mental dengan jawaban yang pak RT berikan pada nya didepan banyak orang warga komplek yang sedang berdiri menonton kejadian yang aku alami di depan rumah ini.
" Sekarang, lebih baik kita selesaikan didalam rumah saja, agar tak menjadi konsumsi publik. Kita bermusyawarah secara kekeluargaan saja." pak RT memberikan usul yang tepat menurut.
"Kami tak setuju, kalau masalah ini di diselesaikan secara kekeluargaan!!, Karena aku dan mereka bertiga bulan keluarga!!," ucap ibunya mas Bima dengan sangat sombong nya.
"Terserah ibu saja mau di selesaikan dengan kekeluargaan atau tidak, yang penting dan sangat lebih baik kalau kita semua masuk kedalam!!," ucap pak RT terlihat sangat jengkel dengan ucapan ibu nya mas Bima.
Akhirnya kita semua masuk kedalam ruang tamu, dan yang membuat aku tak habis pikir dengan sikap Areta adalah sepanjang jalan saat masuk kedalam ruang tamu. Dia memeluk erat lengan tangan mas Bima.
Kini aku duduk dengan diapit oleh bapak dan ibu, sedang kan di sofa yang berhadapan dengan sofa yang saat ini aku duduki. Mas Bima dan ibu nya duduk disana.
Dan pak RT duduk di singgle sofa, beliau menjadi penengah antara kubu ku dan kubu mas Bima.
"Pokoknya, Sarah lah yang harus keluar dari rumah ini?!!!," ucap ibu nya mas Bima masih kokoh dengan kemauan nya tanpa melihat asal usul rumah ini yang sebenarnya.
"Kamu harus menjelaskan tentang rumah ini pada ibu mu, mas!!," aku meminta mas Bima tegas pada ibunya.
"Walau ini rumah kamu yang beli, tapi kamu harus ingat masih ada bagian ku dirumah ini." ucap mas Bima yang akhirnya secara tidak langsung mengakui bahwa aku lah yang membeli rumah ini.
__ADS_1
Tapi yang membuat ku tak habis pikir, kenapa mas Bima meminta hak nya. Padahal aku membeli rumah ini sebelum menikah dengan nya.
"Apa maksud mu, Bima?!," tanya ibu nya mas Bima dengan wajah yang terlihat sangat terkejut dengan ucapan mas Bima.
"Jangan bilang kalau rumah ini benar Sarah yang membelinya?!," tanya ibunya mas Bima pada mas Bima dengan suara agak rendah namun penuh dengan penekanan.
Wajah ibu nya mas Bima terlihat sangat tak terima dengan jawaban mas Bima yang membenarkan pertanyaan ibu nya.
"Kamu jangan sombong dulu, Sarah!!. Kamu harus ingat Bima ini suamimu, jadi dia juga berhak atas rumah ini. Walaupun kamu yang membelinya!!," ucap ibu nya mas Bima.
Aku rasa memang urat malu ibu nya mas Bima ini sudah terputus. Sehingga tidak punya rasa malu sedikit pun setelah memaki-maki aku dan ibu bapak ku.
"Apa, mas?!. Jadi benar ini rumah, Sarah yang beli?!," tanya Areta dengan mata melotot pada mas Bima. Saat mendengar ucapan ibunya mas Bima.
"Tapi kamu harus meminta hak mu, mas. Karena kamu juga suaminya." ucap Areta dengan pengetahuan ilmu yang ia punya.
"Hak yang mana yang kalian maksud?!," tanyaku dengan sangat santai.
"Bukankah mas Bima sudah menalak ku?, dengan begitu, aku sudah sah bukan istri mas Bima." lanjut ku.
"Tapi kamu hanya ditalak, masih belum proses di pengadilan agama, Sarah!!. Jadi perceraian kamu dengan Bima masih belum sah!!," ucap ibu nya mas Bima dengan kepintaran yang ia miliki.
"Sejak kapan ucapan talak yang sudah dijatuhkan pada seorang istri itu tidak sah?," tanya ku.
"Apa sejak kalian tahu kalau rumah ini adalah rumah yang ku beli dengan hasil keringat ku sendiri?!," lanjutku. Kali ini aku sengaja berkata sangat pedas, karena mereka pantas mendapatkan ucapan itu dari ku.
__ADS_1
Yang membuat aku ingin tertawa geli saat mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya mas Bima. Entah dia dapat ilmu dari mana sehingga dengan mudah nya bilang kalau talak yang sudah di ucapkan oleh anak nya itu tidak sah. Aku rasa bekal ilmu yang dia punya sangat lah dangkal.
"Kamu jangan berkata kurang ajar seperti itu pada ibu ku, Sarah!!. Kamu kira kami ini dari keluarga miskin yang berharap pada harta mu yang tak seberapa ini?," mas Bima terlihat sangat emosi setelah mendengar apa yang aku ucapkan tadi.