DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#333


__ADS_3

 Keesokan hari nya, sesuai janji nya pada Kean.Sarah pun menjemput Kean di sekolah.


Saat Sarah sudah berdiri di gerbang sekolah, terlihat Kean berlari kepadanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Hati Sarah teras tenang melihat senyum anak semata wayang nya itu kembali seperti semula.


"Amma," Kean langsung menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Sarah.


"Bagaimana hari ini disekolah, sayang?," tanya Sarah sambil berjongkok mensejajarkan diri nya dengan Kean.


"Hari ini hati Kean sangat senang sekali." jawabnya dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


"Oh ya?," tanya Sarah sambil mengerutkan dahinya.


"Biar amma tebak, apa yang membuat hati Kean saat ini bahagia." ucap Sarah.


"Ok!!, tebak aja!!," ucap Kean sambil tersenyum.


"Pasti tadi di dalam kelas, Kean dapat nilai seratus?!," tebak Laras, pura-pura tidak mengerti dengan isi hati anaknya.


"Salaaah.....," ucap Kean sambil menggelengkan kepalanya.


"Mmmm,,,,pasti karena Kay pulang masuk sekolah lagi. Iya kan?," tanya Sarah dengan telunjuk jari nya menyentuh perut Kean. Sehingga Kean terasa geli, jadi tubuh nya goyang dan tertawa sampai. Keras.


"Stop amma, stop!!," teriak Kean saat di gelitik Sarah sambil tertawa.


"Benarkah tebakan amma?," tanya Sarah.


"Masih salah, amma!!," ucap Kean dengan berkacak pinggang.


"Lalu apa yang membuat Kean sangat bahagia?, apa karena amma menjemput Kean tidak telat?," tanya Sarah lagi.


Kean menggelengkan kepalanya, dan wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Kok cemberut?," tanya Sarah.


"Kita pulang aja yuk!!, pasti Kean sudah apek." lanjut Sarah sambil memegang tangan nya Kean.


Namun Kean hanya diam saja tanpa ekspresi, dan pasrah berjalan mengikuti Sarah.


Kini mereka berdua masuk kedalam taksi, Kean duduk di sebelah Sarah tanpa sepatah kata pun.


"Kita kemana Bu?," tanya sopir taksi online.


"Ke alamat tadi ya pak!," jawab Sarah.


"Baik, Bu." ucap sopir taksi itu.

__ADS_1


Sopir taksi itu pun menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang.


Disepanjang perjalanan, Kean hanya diam saja. Wajah yang tadi nya ceria, kini berubah menjadi cemberut.


"Kok Kean tiba-tiba diam?," tanya Sarah.


"Kean marah sama, amma?," Sarah mencoba untuk menebak-nebak.


Kean menggelengkan kepala, dengan tak bersuara.


"Lalu?, kenapa Kean seakan-akan sedang mendiamkan amma?," tanya Sarah.


"Kean kecewa sama amma." ucap Kean.


"Kecewa?," tanya Sarah dengan mengerutkan dahi nya.


Kean menganggukkan kepalanya, dengan bibirnya yang manyun. Terlihat sekali wajah nya menggemaskan.


"Kecewa kenapa, sayang?, coba Kean cerita!," ucap Sarah.


"Amma lupa dengan janji Amma kemarin!!," jawab Kean.


"Bukankah kemarin amma sudah merencanakan berangkat setelah pulang sekolah? Tapi kenapa saat ini kita pulang kerumah?!," ucap Kean dengan menundukkan kepalanya.


Sarah pun tersenyum, ia tau kenapa dia kecewa. Sarah sengaja menggoda Kean.


Dan kekecewaan makin terlihat jelas di wajah Kean, ia kecewa kepada Sarah.


Namun, Kean tak ingin memaksakan kehendak amma nya. Ia takut kalau karena keinginan nya, Sarah akan sedih.


Jadi mulai saat ini Kean berusaha mengubur keinginan nya untuk bertemu dengan Damar, ayahnya.


"Amma, kok kita lurus?, bukankah rumah uti harusnya belok kanan?," tanya Kean saat mengetahui taksi yang ia tumpangi itu berjalan lurus di pertigaan dekat kompleks rumah Sarah.


"Memang siapa yang bilang kita akan pulang?," tanya Sarah menggoda Kean.


"Lalu, kita mau kemana amma?," tanya Kean dengan wajah penasaran.


"Katanya Kean mau ketemu Tante Lidya?!," jawab Sarah.


"Hah?? Kita jadi kerumahnya Tante Lidya?," tanya jawab dengan antusias. Terlihat kembali wajah ceria Kean, kini wajah cemberut hilang seketika saat ia tau akhirnya Sarah mengajaknya ke rumah Lidya.


Sepanjang perjalanan Kean tersenyum bahagia, sesekali ia berkata kalau ia ingin sekali bertemu dengan ayah nya.


Ia ingin melihat wajah ayah nya, Kean ingin sekali memeluk ayah nya dengan sangat erat.


Kean berkata kalau dirinya sangat merindukan sosok ayah nya yang sudah lama tidak ia temui.

__ADS_1


Dan masih banyak sekali keinginan-keinginan Kean saat ia bertemu dengan Damar.


Tak terasa air mata Sarah jatuh membasahi pipinya. Saat ia mendengar celoteh keinginan dan harapan Kean pada ayah nya.


"Semoga semua harapan mu terwujud, nak. Agar tak ada kekecewaan dihati mu tentang ayah mu kelak." gumam Sarah.


"Amma?!," panggil Kean dengan wajah nya terangkat keatas sambil menatap Sarah.


Dengan sangat cepat, Sarah langsung menyeka air mata haru yang membasahi pipinya.


"Apakah amma bersedih?," tanya Kean.


"Enggak kok, amma nggak sedih sama sekali." jawab Sarah dengan suara yang terisak.


"Lalu kenapa amma menangis?, apakah amma tidak suka kalau Kean akan bertemu dengan ayah?," tanya Kean lagi.


"Kalau memang amma bersedih karena Kean akan bertemu dengan ayah. Lebih baik, kita balik aja amma. Biarlah Kean tak bertemu dengan ayah, asalkan amma tidak bersedih dan menangis seperti ini." lanjut Kean.


"Kean, amma sama sekali tidak bersedih. Tapi amma menangis ini karena terharu, karena di hati amma bahagia melihat anak amma ini yang sedang bahagia." jawab Sarah. Lalu tubuh kecil Kean langsung di peluk oleh Sarah.


Tak terasa taksi sudah masuk ke pintu utama kompleks perumahan rumah Damar, dimana Sarah pernah tinggal disana kurang lebih satu tahunan.


Jantung Sarah berdegup kencang, ada banyak rasa yang ada di dalam hati Sarah saat ini.


Entah perasaan seperti apa yang dirasakan oleh Sarah saat ini. Padahal Sarah tau, kalau saat ini dirumah itu hanya ada Lidya.


Taksi semakin dekat dengan rumah Lidya, jantung Sarah semakin berdegup dengan kencang.


"Kean sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Tante Lidya, amma." ucap Kean penuh dengan harapan.


Saat harapan Kean besar untuk bertemu dengan Lidya, tiba-tiba hati Sarah muncul keragu-raguan. Terbesit dalam ingatan Sarah, tentang sikap Lidya pada dirinya dan Kean sewaktu Kean masih kecil.


Sarah yakin, Kean sudah lupa dengan perlakuan Lidya dan Laras padanya sewaktu dia masih kecil.


"Kean yakin mau bertemu dengan Tante Lidya?," tanya Sarah menyakinkan anaknya.


Sarah berharap Kean merubah keinginan nya, karena Sarah takut sikap Lidya pada Kean masih seperti yang dulu.


Sarah tak ingin Kean merasakan sakit hati saat bertemu dengan Lidya.


"Sangat yakin, amma. Karena dari Tante Lidya Kean bisa bertemu dengan ayah." jawab Kean penuh keyakinan dengan senyum yang lebar.


"Semoga saja, nak." gumam Sarah dalam hati sambil memeluk Kean.


Taksi pun berhenti tepat di depan rumah Lidya. Dimana di rumah itu mengukirkan banyak kenangan ku bersama Damar. Yang teringat jelas di dalam pikiran Sarah, saat ia diselingkuhi oleh Damar dengan Bianca.


"Bagaimana keadaan mu sekarang, bi?," ucap Sarah dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2