DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kelakuan Yang Semakin Menjadi-jadi


__ADS_3

"Apa maksudnya, Sarah?," tanya Teguh tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Sarah.


"Tanyakan mbak Veni, dia lebih tua." jawab Sarah, lalu ia berjalan pergi meninggalkan Teguh yang masih berdiri mematung dengan mencerna ucapan Sarah.


Setelah tubuh Sarah hilang dari pandangan mata Teguh. Teguh pun kembali ke meja di mana ia duduk makan bersama Veni.


Veni yang melihat kedatangan Teguh ke meja nya, dengan segera memasukkan handphone nya kembali ke dalam tas.


Veni telah berhasil merekam Teguh dan Sarah saat mereka sedang berdebat.


Ada pikiran jahatnya mulai bekerja, saat ia mendapat kesempatan untuk mengambil video mereka berdua.


"Ven, bukankah kamu tadi bilang kalau kamu datang bersama ibu dan Ambar?," tanya Teguh.


Veni pun menganggukkan kepala nya, membenarkan ucapan Teguh.


"Lalu dimana mereka sekarang?," tanya Teguh sambil terus kepala menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Ambar dan mertua nya.


Kalau pun saat ini, Teguh bertemu dengan Ambar, Teguh tak takut ketahuan Lidya.


Karena saat Lidya meminta Teguh untuk menjemput nya di kantor satpam.Teguh sudah beralasan kalau saat ini dia sedang di kantor karena ada pekerjaan mendadak yang di berikan oleh atasan nya. Dan Teguh sudah menyuruh Lidya pulang sendiri dengan taksi online.


Jadi saat ini Teguh dengan bebas, walau bertemu dengan Ambar disini.


"Mbak Ambar dan ibu sekarang masih ada di ruang security, mas." jawab Veni.


"Memang apa yang terjadi dengan mereka?, apa mereka mencuri?," tanya Teguh dengan sangat penasaran. Veni pun menggelengkan kepala nya.


"Lalu?," tanya Teguh dengan menautkan alisnya.


"Mereka beradu jotos dengan perempuan muda, akhirnya mereka diamankan oleh satpam." jelas Veni.


"Sudahlah, mas. Ngapain sih kamu memikirkan mereka berdua?, yang ada Mereka berdua hanya bikin malu saja." ucap Veni sambil memegang lagi tangan kiri Teguh, dengan tatapan mata yang menggoda.


"Kamu yakin mereka tidak apa-apa, Ven?," tanya Teguh dengan membalas pegangan tangan Veni.


"Mereka sudah dewasa, mas. Sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Kita tidak perlu ikut campur." ucap Veni sok bijaksana.


"Kamu benar, Ven. Memang seharusnya mereka mandiri." jawab Teguh menyetujui ucapan Veni.

__ADS_1


Veni tersenyum jahat saat mendengar apa yang di katakan Teguh itu. Veni bahagia, akhirnya Teguh menuruti semua omongannya.


"Mas, aku pingin jalan-jalan. Kamu mau menemaniku?," tanya Veni dengan manja.


Dan Teguh pun, mengiyakan permintaan istri adik iparnya itu.


Setelah habis semua makanan yang ada di meja, kini mereka berjalan masuk ke dalam untuk berbelanja kebutuhan Veni.


"Mas, aku mau beli tas ini. Tapi harga nya mahal, aku tak ada uang." ucap Veni dengan suara manja.


Teguh pun tak langsung mengiyakan untuk membayar tas pilihan Veni. Ia melihat dulu bandrol harga nya.


"Kenapa harus melihat harga sih, mas ?," tanya Veni sambil memeluk pinggul Teguh.


Dan pelukan tangan Veni, berhasil membuat darah Teguh berdesir cepat.


Tiba-tiba tubuhnya terasa panas, dan ada sesuatu yang sedang bereaksi di dalam tubuhnya.


Tanpa berpikir panjang, Teguh mengiyakan apa yang di minta oleh Veni.


"Kapan lagi dapat tas gratis dari mas Teguh dengan harga yang lumayan." gumam Veni dalam hati.


"Terimakasih, mas." ucap Veni sambil memeluk tubuh Teguh tanpa rasa canggung.


Teguh yang seperti ketiban bulan karena dapat pelukan hangat dari Veni itu, sangat menikmati nya. Tak khayal Teguh pun membalas pelukan perempuan yang tak lain adalah adik ipar nya itu.


Dan tiba-tiba, handphone Teguh berbunyi. Teguh segera melepaskan tangan yang memeluk Veni. Diambilnya handphone dari dalam saku celana nya


"Lidya?!," gumam Teguh sangat lirih, sehingga Veni tak mendengar apa yang di ucapkan oleh Teguh.


Teguh segera menjauh dari tempat Veni berdiri, ia tak ingin Veni ataupun Lidya tau tentang hal yang terjadi saat ini.


"Halo sayang?, Apa kamu sudah dirumah?, maaf ya sayang,mas tak bisa mengantarkan mu pulang. Karena mas harus buru-buru ke kantor." ucap Teguh di panggilan telepon dari Lidya.


"Terserah kamu, mas. Yang penting sekarang transfer aku uang lima juta rupiah ke rekeningku." ucap Lidya.


Teguh pun sangat bingung, karena masih tadi ia memberikan uang sepuluh juta pada Lidya. Sekarang uang itu sudah habis, dan Lidya meminta lagi lima juta.


"Buat apa, Lid?," tanya Teguh.

__ADS_1


"Bukankah tadi aku sudah memberi mu sepuluh juta?, apa uang itu sudah habis?" lanjut teguh.


"Uang itu masih ada lima juta, mas. Dan aku saat ini butuh sepuluh juta. Jadi aku minta ke kamu lima juta lagi, Biar uang ku genap sepuluh juta." jawab Lidya seperti sedang terburu-buru.


"Iya, tapi katakan untuk apa yang sebanyak itu?," Teguh sangat ingin tahu di gunakan untuk apa uang yang Lidya minta.


"Aku sedang ada masalah, mas. Dan aku harus membayar sepuluh juta, agar aku bisa keluar dari masalah ini." Lidya tak menjelaskan secara detail masalah apa yang sedang ia hadapi saat ini.


"Sekarang juga, kamu transfer ke aku lima juta. cepetan ya mas, aku menunggu nya." lanjut Lidya dengan penuh harap pada suami Ambar itu.


"Tapi, lid....,"


"Jangan tapi-tapian, mas. Aku sangat butuh uang itu. Ya sudah aku tutup telepon nya." ucap Lidya memotong ucapan Teguh.


"Tunggu, tunggu... Lid!!, jangan tutup telepon nya, tunggu penjelasan ku dulu, Lidya." Teguh menahan Lidya agar tidak menutup panggilan nya, sebelum ia menjelaskan.


"Apa sih, mas?," tanya Lidya.


"Masalah nya itu, uang nya sudah tidak ada Lidya. Uangnya Uda aku kasih kamu semua nya." jelas Teguh.


"Terus nasib ku bagaimana donk?," tanya Lidya dengan penuh kekhawatiran.


Teguh pun menutup telepon nya secara sepihak tanpa berpamitan pada Lidya. Lalu dengan sengaja Teguh mematikan handphone nya.


"Halo... Halo..., mas kok malah di matikan sih telepon nya?!!," teriak Lidya geram.


Saat melihat kelakuan Lidya yang saat ini sedang emosi, secara spontan dua orang ibu dan anak itu menertawakan tingkah laku Lidya.


"Kenapa kamu menertawakan aku?!!," Tanya Lidya dengan mata melotot pada kedua perempuan itu.


"Mbar, jangan-jangan suaminya diambil pelakor juga, ha ha ha." ledek Laras di ikuti tertawa bersama oleh Laras dan Ambar.


"Diam kalian!!!!," Lidya yang saat ini sedang emosi karena Teguh, sekarang ia semakin emosi dengan kelakuan dua musuhnya itu.


Mereka berdua semakin menjadi-jadi kalau menertawakan Lidya.


"Tuhan,,,,, mana mungkin aku mengerjakan hukuman ini," teriak Lidya sambil menangis.


Akhirnya mereka bertiga pun di hukum dengan membersihkan lantai dasar mall ini.

__ADS_1


__ADS_2