DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#311


__ADS_3

"Sepertinya di depan ada klinik, kita kesana dulu, Ven!!," perintah Laras pada Veni.


"Iya," jawab Veni dengan datar dan memutar kedua bola matanya. Veni sangat jengah dengan mertua nya yang suka ngatur-ngatur itu.


"Ini semua gara-gara kamu, Ven!!,"Laras menyalahkan Veni.


"Jangan suka menyalahkan orang lain, Bu!!," jawab Veni.


"Gimana kau nggak menyalahkan kamu?!, memang jelas kok kamu yang salah. Kalau kamu membawa mobil ini dengan benar, aku yakin Ambar tak akan seperti ini!!," ucap Laras yang sangat jengkel pada Veni.


"Bukan nya tadi ibu yang minta, agar aku menambah kecepatan laju mobilnya?!," Veni sangat tidak mau kalau dirinya selalu di salahkan.


"Aku rasa bukan karena kesalahan kecepatan mobil ini, karena memang mbak Ambar yang kampungan tak pernah naik mobil mewah seperti ini, ha!!," lanjut Veni sambil tertawa di akhir kalimat yang di ucapkan nya. Tertawa Veni itu pun penuh dengan hinaan pada Ambar.


"Diam kamu ya!!, berani sekali kamu menghina anak ku?!!," keributan dan percekcokan pun tak dapat di hindari. Laras terus menghujat Veni dengan kata-kata kotor. Dan itu membuat Veni sangat sakit hati.


Dengan sangat disengaja Veni menginjak rem sampai dalam. Sehingga kedua orang yang belum siap di belakang itu pun terjungkal ke depan.


"Veni!!, apa kamu sudah gila?!!," ucap Laras dengan mata melotot, karena ia benar-benar emosi dengan tingkah laku Veni.


"Iya!!, aku sudah gila!!, kenapa??, ibu mau protes??!!, protes aja, tapi dengan terpaksa aku akan menurunkan kalian disini!!!," ancam Veni.


Laras pun menoleh kearah kanan dan kiri nya. Ia melihat daerah yang sangat sepi, hanya ada kebun milik petani. Dan sangat jauh dari pemukiman.


Laras merasa sangat aneh. Setau nya untuk menuju ke salon Siska, tidak harus melewati jalan yang sepi sekali seperti ini.


"Ini kita mau kemana, Ven?," tanya Laras dengan suara yang berganti lembut dan sangat pelan. Laras takut Veni akan melakukan hal-hal yang tak di inginkan.


"Kenapa, Bu? Ibu takut?," tanya Veni dengan melirik Laras lewat kaca spion. Yang pasti nya lirikan itu sangat menakutkan bagi Laras.


Lalu Veni menepikan mobilnya, dan berhenti di samping semak-semak.


"Ven....kamu mau apa disini?," tanya Laras dengan sangat ketakutan.


"Kenapa, Bu?, ibu takut aku akan membunuh kalian?," tanya Veni menatap langsung mata Laras. Terlihat sekali, kalau Laras sangat ketakutan pada tatapan Veni.


"Veni!!, ibu harap kamu jangan macam-macam!!," teriak Laras sambil memeluk Ambar yang sedang mabuk perjalanan.


"Hah!!, ternyata cuma segini nyali mu, Bu?, sungguh jauh sekali dengan ucapan-ucapan pedas yang sering kamu lontarkan pada ku!!," ucap Veni sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya. Veni pun membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi. Veni semakin lihai membawa mobil karena jalanan disini sangat sepi. Laras semakin takut, hingga ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Hah???!!, dasar tua bangk* kenapa pakai pingsan segala sih?!!," gerutu Veni yang mengetahui Laras yang tiba-tiba tak sadarkan diri itu.


Kecepatan mobil pun semakin kencang, Veni mencari klinik yang paling dekat. Sebenarnya Veni melakukan ini, karena Veni ingin memberi pelajaran pada Laras dan Ambar.


Dan ternyata nyali mereka berdua sangat cetek, sungguh tidak seimbang dengan omongan nya yang sangat tinggi itu.


Kini di dalam mobilnya, Veni membawa dua orang yang sedang terkapar tak berdaya. Ada perasaan puas di hati Veni, mengingat ia selalu sakit hati dengan setiap omongan yang di lontarkan oleh Laras kepada nya.


Dan akhirnya, ada tulisan puskesmas di petunjuk jalan. Karena Veni sendiri tidak tau daerah ini. Ia sengaja membelokkan arah, agar ia tak sampai ke salon Siska.


Veni takut kalau Laras akan menjebloskan dirinya kedalam penjara. Terkait tuduhan pencurian sertifikat tanah yang telah ia curi dari rumah Laras.


Veni pun mengikuti petunjuk jalan menuju puskesmas, yang jalan nya masih masuk kedalam gang sempit. Gang yang hanya cukup satu mobil saja.


Dan di sekitar sini masih ada beberapa pemukiman penduduk, walau tak begitu padat.


Mesin mobil sudah di matikan saat sudah sampai di parkiran puskesmas.


"Sus!!," panggil Veni dari dalam mobil pada suster yang bertugas di dalam. Yang kebetulan pintu puskesmas terbuka lebar, jadi Veni dan suster itu bisa langsung kontak mata.


"Ada yang bisa di bantu, Bu?," tanya suster yang berlari mendekat kearah mobil Veni.


Terlihat dua orang ibu dan anak sedang tak sadarkan diri, akibat ketakutan.


Dalam hati Veni, ia tertawa puas saat melihat mertua dan kakak iparnya terkapar tak berdaya.


Suster dan dibantu beberapa perawat laki-laki itu pun langsung mengangkat Laras dan Ambar.


Mereka berdua di bawa masuk ke dalam ruang IGD. Untuk mendapatkan pertolongan.


Veni semakin dibuat tertawa oleh tingkah kedua perempuan yang tak lain mertua dan saudara iparnya itu. Bagaimana tidak, Veni melihat saat dua orang itu diangkat, mereka ngompol di dalam mobil.


"Sebegitu ketakutan nya mereka." gumam Veni dalam hati. Sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Maka nya jangan pernah macam-macam padaku." ucap Veni.


Veni yang sedang menunggu Laras dan Ambar di periksa. Ia mencoba menghungi Sarah, untuk menanyakan Kay, anaknya.


Namun sayang nya, di sini sangat susah signal. Karena memang sudah masuk daerah pedesaan yang sangat pelosok sekali.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara dua manusia bedebah!!!," ucap Veni.


"Tapi aku yakin, Sarah akan menjaga Kay dengan baik." gumam ya lagi.


"Kenapa suster yang menangani dua orang ini tak keluar-keluar?," tanya Veni pada dirinya sendiri.


Apa seserius itu ketakutan yang dialami ibu dan mbak Ambar?," Veni terus berbicara sendiri dengan dirinya sendiri.


"Biar saja, itu imbalan yang pantas untuk mulut-mulut yang pedas seperti mereka." ucap Veni lagi.


Sedangkan Sarah saat ini sedang bingung, apa yang harus ia lakukan. Karena Kay terus mencari Veni mami nya.


"Pokoknya Kay mau pulang Tante, Kay mau sama mami." rengek Kay saat pulang sekolah didalam taksi online.


"Sayang, mami nya Kay sedang sibuk. Kay dititipkan pada Tante. Jadi kita pulang kerumah Tante ya. Nanti kalau mami udah datang, Tante janji akan langsung antar Kay pulang." bujuk Sarah pada Kay.


"Iya, Kay. Lebih baik kita main dirumah aja. Enak disana ada akung dan uti." sahut Kean yang ikut membujuk Kayla.


"Pasti uti kamu seperti nenek ku." ucap Kay dengan wajah cemberut.


"Kenapa sama?," tanya Kean dengan menautkan kedua alisnya.


"Iya, pasti uti kamu sama dengan nenek ku. Sama-sama jahat ke aku, pasti tidak akan sayang padaku." jawab Kay dengan polosnya.


"Memang nenek nya Kay tidak sayang sama Kay?," tanya Kean penasaran.


"Iya, neneknya aku sayangnya ke mbak Putri aja." jawab Kay dengan wajah sedih.


"Sayang Kayla, uti nya Kean itu sangat baik. Dan Tante pastikan uti nya Kean akan sayang sekali sama Kay, seperti sayang nya pada Kean." ucap Sarah memberi pengertian pada Kayla.


"Iya, deh. Aku mau main kerumah Kean. Tapi Tante bisa nggak telepon mami?, karena Kay ingin pamitan dulu sama mami." ucap Kay dengan sangat polosnya.


"Oke, Tante akan mencoba menghubungi mami nya Kay." Sarah pun mengambil handphone nya yang berada dalam tas selempang yang bermerek kremesan itu.


Sarah memulai mencari nama kontak Veni. Lalu memencet tanda panggil setelah ia menemukan kontak milik mami nya Kay itu.


Namun sayangnya, panggilan yang di lakukan Sarah tidak bisa.


"Kenapa Tante?," tanya Kay, saat melihat ada kegelisahan di wajah Sarah.

__ADS_1


"Mami nya Kay, tidak bisa di hubungi. Mungkin handphone nya mati karena low bat." jawab Sarah sambil menunjukkan layar handphone nya. Agar Kay percaya kalau dirinya benar-benar menghubungi mami nya


__ADS_2