
"Memang ini semua kamu kan yang memulai?!," ucap mas Bima pada Areta.
"Tapi kamu juga terlihat sangat menikmati nya, mas. Jadi sangat tidak adil kalau kamu hanya menyalahkan aku saja." teriak Areta yang juga tak mau disalahkan begitu saja oleh mas Bima.
"Tapi kalau kamu tak menggoda ku, mana mungkin aku akan melakukan itu padamu." mas Bima berkata sambil menunjuk Areta.
"Sudah... Kalian tak perlu saling menyalahkan satu sama lain. Toh kalian juga sama saja, perempuan nya g*tal tak tau malu dan lelaki nya juga mata keranjang. Jadi kalian itu sudah satu kesatuan yang saling melengkapi." ucapku dengan senyum yang menghina pada mereka berdua.
"Ini kenapa gaduh disini, sih?," tanya ibu nya mas Bima yang sedang berlari ke arah kami bertiga.
Aku rasa ibu nya mas Bima mendengar suara Areta yang dari tadi teriak-teriak penuh dengan emosi, karena selalu di salah kan oleh mas Bima.
"Ini ada apa, Sarah?!, kenapa kamu selalu membuat keributan dirumah anak ku ini?."ibu berkata sambil menunjuk-nunjuk ku. Seakan-akan keributan ini aku lah pemicu nya.
"Kenapa ibu menunjuk-nunjuk ku seperti itu?!, coba saja ibu tanya pada anak lelaki ibu yang tak tau malu itu dan kepada mantan istrinya yang mata duitan." perintah ku pada ibu mas Bima, yang tak lain ia adalah mertua ku.
"Apa yang telah terjadi, Bim?, coba ceritakan pada ibu!," sepertinya ibu nya mas Bima sangat penasaran dengan apa yang di lakukan oleh mas Bima.
"Aku tak melakukan apa-apa, Bu. Percaya lah padaku." ucap mas Bima pada ibu nya.
"Hemm... Kamu yakin tidak melakukan apa-apa disini,? Di ruang makan ini?," tanyaku dengan penuh penekanan.
"Maksud kamu apa, Sarah?!," tanya ibu mas Bima dengan matanya melotot menatap ku.
"Sekarang lihat saja, Bu!. Kalau mereka berdua tak melakukan apa-apa, mana mungkin kancing kemeja Areta terlepas separuh seperti itu!." aku menunjuk pada Areta yang kancing kemeja nya masih terbuka lebar seperti saat awal aku melihat nya.
Sengaja aku bilang seperti itu, karena aku ingin tahu bagaimana ibu nya mas Bima menyikapi saat anak nya punya masalah. Apalagi masalahnya saat ini bukan lah masalah kecil.
"Apa yang kalian lakukan bersama di tempat ini, Bima??," tanya ibunya mas Bima sekali lagi.
"Bima tak melakukan apapun, Bu." jawab mas Bima membela diri.
"Kamu masih tak mau mengakui nya, mas?, apa perlu video ini aku kirim ke WhatsApp ibu?," ancam ku sambil mengangkat handphone ku keatas.
"Maksud kamu apa, Sarah?," tanya mas Bima.
"Disini, di handphone ini ada video yang berdurasi beberapa menit, Yang menunjuk seorang lelaki dan seorang perempuan sedang bermesraan." ucapku sedikit memberi pelajaran pada mas Bima dan Areta.
"Cepat katakan padaku, Sarah!!!!, jangan banyak basa basi kamu!!!!," bentak ibu nya mas Bima padaku. Sepertinya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Lalu aku memutar sepenggal video mas Bima dan Areta sedang memadu kasih di meja makan.
"Apa kamu sudah mengerti, Bu?," tanya ku.
__ADS_1
"Cukup, Sarah!!!, hapus semua video itu!!, kalau tidak, aku akan memberi mu pelajaran!!." ucap Mas Bima sangat emosi dan ketakutan padaku.
"Aku mohon talak aku sekarang, mas!!," ucap ku tak mau kalah dengan ancaman mas Bima.
"Damar!! Ini kesempatan mu untuk kamu berpisah dengan nya perempuan ini!!, maka cepatlah talak dia!!," ibu nya mas Bima terlihat bahagia, saat mendengar apa yang aku katakan ini.
"Ibu?!, tidak semudah itu!," ucap mas Bima.
"Mas, ini itu kesempatan mu. Talak lagi dia, dan setelah ini kita menikah dan hidup bahagia bertiga bersama Putri anak kita." tak mau kalah, Areta pun angkat bicara. Bak mendengar kabar bahagia, mereka berdua berlomba-lomba untuk menghasut mas Bima.
"Tapi aku tak bisa, jika aku harus berpisah dengan Sarah!!," ucap mas Bima masih dengan pendirian nya.
"Apa alasan mu tak bisa menceraikan perempuan itu, Bim!?," tanya ibu sambil menunjuk ku kearah ku.
"Karena aku sangat mencintai nya, Bu." ucap mas Bima sambil menatap tajam padaku.
"Alaaaa..... Jangan lebay seperti itu, Bima. Di usia seperti mu ini berumah tangga bukan tentang cinta. Tapi kita harus mengedepankan logika. Kalau kamu menikah dengan dia tidak bahagia, kenapa harus di teruskan?," ucap ibu nya mas Bima.
"Dan satu lagi, perempuan seperti ini hanya bisa menjadi benalu!! Tidak bisa menghasilkan apapun, yang ada dia menggrogoti harta mu!!," lanjut ibu nya mas Bima terus menghina dan mencaci ku.
"Lebih baik ceraikan dia sekarang dan kembali rujuk dengan Areta, karena dia adalah ibu dari anak kandung mu." ucap ibu masih belum berhenti, dia masih terus berusaha mencuci otak mas Bima.
"Mas, bukan kah kamu tadi bilang kalau kamu akan menikahi ku?," kali ini perempuan ****** itu bersuara sambil tangannya mengait kan kancing bajunya satu persatu.
"Sarah, aku tak akan menceraikan mu. Tapi kamu harus mau jika aku akan memberikan madu untuk mu." ucap mas Bima dengan percaya diri yang tinggi.
Dia sangat percaya diri kalau aku akan menerima semua yang ia ucapkan salah satu nya untuk memberikan aku madu.
"Kamu yakin madu yang akan kamu berikan padaku, mas?," tanya ku lagi.
"Kenapa kamu tak percaya dengan ucapan ku, Sarah?!," tanya mas Bima.
"Bukan tak percaya, hanya saja aku takut bukan madu yang akan kamu berikan padaku, tapi racun!," jawab ku sambil melirik sinis pada Areta.
"Sudah lah Bima, bukankah dia yang meminta cerai padamu?, itu sudah menjadi keberuntungan mu bisa bercerai dengan nya. Dan kamu tak perlu ribet untuk bersikap adil, karena beristri dua." hasut ibu nya mas Bima.
Dan hasutan itu memberi ku keberuntungan, aku tak perlu merengek minta di cerai oleh mas Bima.
"Kalau kamu tak mau menceraikan aku, aku yang akan menggugat mu, mas. Aku rasa video mesum kamu ini cukup lah sebagai bukti di persidangan nanti. Dan itu akan memudahkan hakim untuk memutuskan perceraian kita." ancam ku.
"Kamu berani mengancam ku, Sarah?!," mas Bima terlihat marah padaku. Mata nya melotot dan memerah, sudah seperti monster yang siap memakan ku sewaktu-waktu.
"Dasar!!! Wanita tak tau dir!!," lagi mas Bima menampar ku.
__ADS_1
"Bima!!!!," suara lelaki yang memanggil mas Bima itu sangat aku kenal.
"Apa yang kamu lakukan pada anak ku?, jadi seperti ini perlakuan kamu kepada anakku?," ternyata benar, itu suara bapak yang berbicara.
"Bapak?," ucap ku lirih saat aku menoleh kearah belakang ku. Ternyata bapak sudah berdiri tegak bersama ibu.
"Apa benar kamu telah berselingkuh dengan perempuan lain seperti yang dikatakan oleh Sarah tadi?," tanya bapak pada mas Bima.
Kenapa bapak berbicara, seolah dia tau pertengkaran ku dengan mas Bima?, apa bapak sudah datang sedari tadi, tapi aku tak menyadari nya?
Pertanyaan banyak muncul dalam fikiran ku. Dan ibu langsung mendekat padaku, dan mengelus punggung ku, untuk menguatkan aku.
"Ibu..," aku memeluk ibu, dan ku tenggelam kan wajah ku di bahu ibu. Aku menangis seperti mengadu pada ibu, kalau beban yang aku pikul saat ini sangat lah berat.
Hati ini terasa lebih tenang saat melihat kedua orang tua ku datang. Mungkin merasa diri ini ada yang membela.
"Asal bapak tau, aku melakukan ini juga karena anak bapak. Dalam kesalahan yang aku lakukan ini ada Sarah anak bapak yang ikut andil. Jadi jangan terus menghakimi ku, karena aku melakukan kesalahan yang Sarah lah sebagai penyebab utama nya." jawab mas Bima dengan lantang dengan tatapan tajam pada bapak.
"Kalau kamu mau melayani ku dengan baik, dengan kodrat seorang istri. Aku tak akan melakukan ini!," lanjut mas Bima menyalahkan aku.
"Kalau begitu segera saja cerai kan dia, Bima!," ibu terus mengompori mas Bima untuk menceraikan aku.
"Jadi begini perlakuan mertua mu pada kamu, Sarah?, Bukan nya mendinginkan suasana, tapi seperti berniat memperkeruh masalah." ucap bapak sambil menatap tajam ibu nya mas Bima.
"Kamu jangan sok ngajari aku, coba kamu ajari anak mu dan kamu sendiri ngaca di cermin yang besar itu". ibu menunjuk cermin yang menempel di dinding ruang makan ini.
"Siapa kamu? Kamu hanya orang kampung yang hidup di kota dengan semua biaya hidup mu, anak ku yang tanggung!!," lanjut ibu nya mas Bima. Ia berkata seakan-akan ia tahu semua.
"Dan lagi, anak mu ini sudah keterlaluan. Menikah dengan anak ku, hanya ingin hartanya saja." ibu nya mas Bima semakin menjadi-jadi.
"Stop, Bu!!!!. Ibu berbicara seperti itu, seakan-akan ibu tau semuanya. Tau bahwa semua biaya hidup kedua orang tua ku, mas Bima yang tanggung, tau bahwa semua harta mas Bima aku yang menguasai. Sekarang aku tanya pada ibu, apa semua tuduhan yang ibu tuduhkan pada ku itu ada buktinya?," aku sudah sangat geram menghadapi manusia yang tak punya otak ini.
"Ya jelas aku tahu! Sekarang di pikir secara logika, kamu dapat uang dari mana bisa membeli rumah yang di tempati kedua orang tua mu, dan rumah yang kamu tempati ini. Belum lagi mobil yang kamu pakai, kalau bukan dari uang anak ku mana mungkin kamu mampu membeli itu semua?!," ucap ibu tanpa jeda sudah seperti yang paling benar saja.
"Dan asal kamu tahu, biaya perawatan anak mu ini sudah mencapai puluhan juta setiap minggunya. Kalau satu bulan, sudah berapa ratus juta yang ia habiskan untuk biaya perawatan kecantikan nya saja?!. Trus, kalau bukan uang anak ku yang di habiskan, lalu uang siapa lagi yang ia pakai?, uang hasil ia kerja sebagai pelayan toko roti? Kecuali ia punya sampingan menjadi l*nte!." ucap ibu sambil melirik ku sinis.
"Jaga ucapan mu!!, anak ku ini bukan seorang l*nte yang seperti kamu tuduhkan. Dan asal kamu tahu juga!!, anak ku juga bukan pelayan toko roti itu." ucap bapak dengan mata melotot.
Sungguh terlihat kalau bapak tidak terima dengan apa yang dituduhkan ibu nya mas Bima padaku.
"Lalu kalau bukan pelayan toko roti, trus jadi apa dia di toko roti yang besar dan terkenal itu?, jadi cleaning service?!," ucap ibu dengan nada mengejek.
"Sarah ini adalah pemilik toko roti itu!!," ucap bapak dengan sangat geram melihat tingkah laku ibu nya mas Bima.
__ADS_1