
"Ha?!, Sarah pemilik toko roti yang besar dan terkenal itu?!, ha ha ha, aku rasa bapak sama anak sama saja. Sama-sama suka mimpi di siang bolong!!!," ucap ibu nya mas Bima sambil tertawa penuh hinaan di ikuti oleh Areta.
Mereka berdua tertawa tak percaya dengan ucapan bapak.
"Pak, kalau mau mimpi jangan tinggi-tinggi, takutnya jatuh. Dan kalau jatuh rasanya sakit pak!! Ha ha ha...," sahut Areta dengan tertawa lagi.
"Dasar memang orang kampung, baru hidup di kota besar aja sudah main ngaku-ngaku pemilik toko kue yang terkenal dan besar itu!!!," ibu nya mas Bima masih terus menghina bapak. Ia berkata sambil melirik kearah bapak. Lirikan matanya itu terlihat sangat menghina dan merendahkan bapak.
"Sarah!! kok kamu diam saja?! pasti kamu malu kan karena kebohongan mu terbongkar?! ha ha ha..." ucap Areta. Areta ikut-ikutan mengumpat ku dan bapak.
"Makanya, hanya jadi pelayan saja ngaku nya pemilik toko!, harusnya kamu itu ngaca!!!," lanjut Areta terus mengumpat ku.
"Asal ibu tau, aku kenal kok sama owner toko roti SKcake itu!. Aku yakin, kalau dia tau salah satu dari pelayan nya ini mengaku menjadi pemilik toko roti sebesar dan seterkenal SKcake miliknya itu, pasti si Sarah yang kampungan ini langsung dipecat secara tidak hormat!!," lagi-lagi Areta berucap dengan ke sok tau'an nya.
Sejak kapan aku kenal dengan dia?, dia datang ke toko ku aja hanya sekali saat aku melihat dia bersama ibu nya mas Bima.
Dasar perempuan penjilat yang sok kenal!!, sungguh sangat geram aku pada perempuan berhati ibl*s ini. Kalau seandainya tak takut dosa, ingin sekali ku kruwes itu mulut lamis nya. Dan alhamdulilah aku masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan nya.
"Oh ya, Reta?, kalau begitu segera kamu telepon dia, bilang sama owner nya toko roti SKcake itu. Kalau ada salah satu pelayan nya yang bernama Sarah dan keluarga mengaku-ngaku kalau dia lah pemilik toko roti yang besar dan terkenal itu!!," jawab ibu sangat semangat menyuruh Areta melaporkan hal ini pada pemilik SKcake, yang pemilik sebenarnya adalah aku.
__ADS_1
Aku jadi pingin tau, apa yang akan dilakukan oleh Areta pada pemilik SKcake uang katanya ia mengenal nya.
"Iya, Bu. Tenang saja, nanti aku pastikan si perempuan udik ini akan dipecat dari toko roti yang terkenal itu." ucap Areta dengan sangat yakin.
"Sudahlah Bima, sebagai seorang lelaki kamu itu harus tegas pada istri mu yang kampungan ini!!, Apa kamu nggak malu, kalau seandainya semua orang, termasuk pelanggan mu tau. Kalau istri mu yang seorang pelayan ini mengaku menjadi pemilik toko roti SKcake itu?!. Kalau menurut ibu, ceraikan saja dia sekarang. Toh, dia juga minta cerai darimu." ucap ibu nya mas Bima kembali menghasut mas Bima.
"Kamu jangan diam saja, Bim!!. Ini masalah harga diri, kamu jangan mempermalukan keluarga Bima. Apa kata kolega mas Awan dan mas Teguh, kalau mereka tau punya ipar yang suka menghayal seperti orang gila kayak Sarah ini!!," umpat ibu nya mas Bima dengan matanya memandang jijik padaku dan pada bapak secara bergantian.
"Sudah!!!! Cukup kalian menghina anak dan keluarga ku. Kalau begitu, segera kamu talak Sarah sekarang juga, Bima!!. Kamu ini jadi lelaki kok seperti banci, hanya bisa diam saja tidak bisa mengambil keputusan!!," ucap bapak dengan tegas pada mas Bima.
"Ayo lah, mas. Talak dia sekarang, dengan begitu kita bisa rujuk lagi. Ingat semua ini demi kebahagiaan Putri anak kita berdua mas Bima." rengek Areta tak punya malu, sudah seperti perempuan yang tak laku saja tingkah nya.
"Huuuufft....," terdengar mas Bima membuang nafas besar, mungkin ia sedang memutuskan sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu keputusan apa yang akan ia ambil.
Menceraikan aku sekarang atau tidak. Tapi yang pasti kalau mas Bima tak menceraikan aku sekarang, nanti aku yang akan menggugat cerai langsung ke pengadilan dengan bukti yang sudah ada ditangan.
"Baik lah, setelah penuh banyak pertimbangan dan ini demi kebaikan semua. Terutama untuk kebahagiaan ibu ku yang menjadi surga ku, dan ini juga karena permintaan mu Sarah. Aku talak kamu sekarang Sarah, jadi mulai detik ini kamu sudah bukan istri ku!." Bagai kejatuhan bulan, akhirnya mas Bima menalak ku di depan kedua orang tua ku serta di depan ibu nya mas Bima dan mantan istrinya.
"Aku yakin kamu pasti menyesal setelah aku talak kamu, dan aku pastikan kamu akan bersujud meminta ku untuk rujuk dan menjadi suami mu lagi." lanjut mas Bima dengan kepercayaan diri nya yang tinggi.
__ADS_1
"Mumpung aku masih baik hati padamu, sekarang minta lah maaf pada ibu ku dan ijinkan Areta untuk menjadi adik madu mu. Aku akan mencabut talak yang aku ucap tadi." mas Bima masih saja mempunyai pikiran konyol seperti itu. Main cabuk kata talak, memang dia pikir talak itu seperti gigi apa bisa di cabut?!. Dasar keluarga isinya kok orang aneh semua.
"Alhamdulillah, terimakasih mas. Akhirnya kamu menalak ku." jawabku dengan senyum yang sumringah. Tak ada sedih atau drama air mata yang berderai mengalir dipipi.
"Aku yakin senyuman mu itu penuh kepalsuan untuk menutupi penyesalan mu karena sudah tak menjadi istri ku, Sarah!!, jadi jangan buang kesempatan untuk menjadi istri sah ku lagi. Maka cepat lakukan dua permintaan ku tadi. Setelah kamu lakukan itu, aku akan segera menikahi mu lagi." ucap mas Bima.
Aku semakin muak dengan kata-kata mas Bima yang sudah seperti orang g*la.
"Aku sudah sangat bahagia setelah kamu talak, mas. Seperti sudah keluar dari lubang buaya, jadi kenapa aku harus masuk kedalam lubang buaya yang sama dengan menjadi istri mu lagi?!," ucapku dengan sangat tegas.
"Jadi, urusan kita sudah selesai. Sekarang bawa tas dan koper yang berisi baju-baju mu itu pergi dari sini!!!!, karena kamu sudah tidak punya hak tinggal dirumah ini!!!," ucapku sambil menunjuk arah keluar rumah ini.
Lalu Aku berjalan kedalam kamar untuk mengambil tas dan koper yang berisi baju-baju nya mas Bima. Koper dan tas itu segera aku bawa ke teras depan rumah.
Mereka, ibu, bapak, Areta dan ibu nya mas Bima serta Putri yang awalnya duduk di sofa ruang tamu, ngikuti ku ke teras rumah.
"Apa maksud mu, Sarah?!. Kamu mengusir kami?. Kamu mengusir Bima?!," tanya ibu nya mas Bima dengan mata melotot pada ku dan tangan nya di lipat di depan perut nya.
"Kamu harus ingat!! ini rumah siapa, Sarah??. Kamu jadi perempuan jangan ngelunjak." lanjut ibu nya mas Bima. Kali ini ibu mas Bima berbicara dengan jari telunjuknya menunjuk padaku.
__ADS_1
Namun aku mencoba untuk diam dan mendengar apa yang akan di katakan oleh ibu nya mas Bima. Aku biarkan saja ia berbicara seenak hati nya, sebelum ia malu sendiri.