DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kepanasan


__ADS_3

Aku dan Sinta berada di satu ruangan yang sama, dan yang menangani kami bukan lah Siska. Namun para pegawainya.


Sedangkan Siska sangat sibuk dengan para tamu yang datang di launching salon nya ini.


Sebenarnya aku masih tak habis pikir kalau salon kecantikan yang sangat mewah ini milik Siska temannya mbak Veni.


Pantas saja dia sangat cantik dan fashionable banget, ternyata dia adalah owner salon kecantikan yang lumayan besar dikota ini.


Sesekali Siska mendatangi kami disela-sela kesibukan nya menjamu tamu undangan atau customer yang akan melakukan treatment disini.


"Maaf ya Sin, Sar, aku nggak bisa menemani kamu ngobrol. Hari ini aku sangat sibuk sekali. Ternyata yang datang di grand opening salon ku ini melebihi dari ekspektasi ku." ucap Siska padaku dan Sinta yang masih menikmati pijatan-pijatan ringan dari terapis pijat yang disediakan di salon ini.


"Santai saja, Sis. Disini kita sudah mendapatkan pelayanan yang terbaik dari semua pegawai mu. Jadi kamu bisa fokus pada tamu-tamu yang lain." jawab Sinta.


Tok!


Tok!


Tok!.


Pintu ruangan ini diketuk, tapi yang di dalam ruangan ini tak perlu membuka nya untuk mengetahui siapa yang sedang mengetuk pintu diluar.


Karena di dalam ruangan ini sudah disediakan monitor untuk melihat siapa yang datang tanpa harus membuka pintu demi kenyamanan pelanggan.


"Maaf, apa Bi Siska ada di sini?," tanya perempuan cantik yang berdiri di depan pintu ruangan ini.


Dari dalam ruangan suara itu sangat terdengar dengan jelas.


"Iya, ada apa? aku ada disini." jawab Siska dari dala ruangan yang saat ini aku dan Sinta melakukan treatment.


"Ibu, ibu Siska disuruh datang pada Bu Veni yang saat ini sedang melakukan treatment creambath." jawab perempuan itu yang masih berdiri diluar.


"Baik, katakan padanya. Setelah ini aku akan datang kesana." jawab Siska dengan sangat ramah.


Kemudian perempuan yang berdiri didepan pintu tadi, segera meninggalkan tempat ini.


"Maaf ya Sinta, Sarah, harus aku tinggal dulu untuk menemui pelanggan yang lain." Siska bergegas berdiri dan melangkah keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


Entah apa yang akan di katakan mbak Veni pada ibu mas Bima, kalau aku melakukan perawatan di salon milik teman nya.


"He Sar? kenapa kamu melamun?," tanya Sinta sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.


Dan lambaian tangan Sinta berhasil membuatku tersadar dari lamunanku.


"Siapa yang melamun?," elak ku.


"Udah ah... aku mau istirahat dulu, sambil menikmati setiap pijatan ini." ucapku mengalihkan pembicaraan dengan Sinta.


Dan Sinta pun melakukan hal yang sama, kami berdua terlelap dengan pijatan-pijatan halus dari para terapis pijat di salon Siska ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Siska


Sempat aku kaget dengan kedatangan Sarah di grand opening cabang salon ku di kota ini.


Tapi ternyata Sarah datang bersama teman ku Sinta, aku yakin kali ini perawatan Sarah semua di tanggung oleh Sinta.


Awalnya sih, aku sempat takut dan tak percaya. Kalau Sarah akan melakukan perawatan tubuh yang ia pilih ini, secara harga dari perawatan yang di pilih Sarah sangat lah fantastis.


Namun aku kembali berpikir lagi, kalau saat ini Sarah datang bersama Sinta teman ku. Yang dimana Sinta sekarang sudah menjadi orang sukses yang berkerja di Perusahaan ternama di kota ini. Pasti semua pembayaran perawatan Sarah disini di tanggung oleh Sinta.


Setelah aku melihat Sinta dan Sarah melakukan treatment massage, kini aku mendatangi Veni yang sedang treatment creambath.


"Kamu ini kemana aja sih, Sis?, harusnya kamu ini berada di sini menemani ku. Aku kan customer mu." ucap Veni saat melihat ku datang.


"Iya kan aku harus beramah tamah dulu dengan customer ku yang lain." jawabku. Aku langsung duduk di kursi sebelah Veni.


"Aku juga kan customer disini." celetuk Veni.


"oh ya, aku yakin si Sarah pasti ia kesini hanya melihat-lihat ya?, Kamu itu jangan terlalu ramah sama dia. Karena itu hanya buang-buang waktu kamu saja!, Dia tidak akan mampu membayar biaya perawatan disini." lanjut Veni.


"Kata siapa Sarah kesini hanya lihat-lihat saja?, jangan salah kamu. Dia kesini juga melakukan perawatan loh." ucapku, sengaja disini aku ingin membuat Veni semakin kepanasan.


Karena aku sangat tahu dengan sifat dia. Dia akan melakukan segala-galanya, agar dia terlihat lebih wow dari orang yang tidak ia sukai. Dan ini sangat menguntungkan bagi salon ku.

__ADS_1


Jadi disini aku harus memanfaatkan situasi ini dengan baik, agar aku mendapatkan untung dari mereka.


"Kamu yakin Sarah melakukan itu?," tanya Veni masih tidak percaya.


"Apa kamu hanya berniat mengompori ku?," lanjut Veni.


"Apa untungnya buat aku untuk berbohong, Ven?," ucap ku.


"Memang dia melakukan perawatan apa saja disini?," tanya Veni terlihat sangat penasaran.


"Sebentar ya, aku akan membuat mu percaya dengan omongan ku." jawab ku.


Lalu aku mengambil gagang telepon yang ada di atas meja, untuk menelepon karyawan ku bagian kasir. Agar ia mengirimkan nota pembayaran yang sudah disiapkan untuk Sarah.


Dan tak menunggu lama, karyawan ku pun datang membawa beberapa lembar kertas yang berisikan berbagai macam treatment yang saat ini sedang di lakukan oleh Sarah dan Sinta.


"Ini, Bu." karyawan ku itu menyodorkan lembaran kertas berwarna putih padaku.


"Iya, terimakasih ya. Sekarang kamu bisa kembali lagi." ucap ku setelah mengambil kertas itu.


Aku memberikan kertas itu pada Veni, setelah karyawan ku sudah keluar dari ruangan ini.


Veni pun menerima nya, dan terlihat membaca tulisan yang ada diatas kertas putih itu secara seksama.


"Aku yakin kali ini uang mu akan keluar banyak untuk perawatan mu." gumamku dalam hati dengan tersenyum penuh kebahagiaan.


"Yakin Sarah perawatan dengan menghabiskan uang sebanyak ini?," tanya Veni dengan mata nya masih menatap lembaran kertas yang ku berikan tadi.


"Kamu lihat saja, nama siapa yang ada di situ." jawabku.


"Apa kamu tidak ingin mengambil treatment yang sama dengan Sarah?," tanya ku.


Veni tak berkata sepatah kata pun. Ia masih terus menatap kertas itu sambil menikmati pijatan halus di kulit kepala nya.


"Veni, kamu lanjutkan ya... aku mau lihat tamu-tamu ku yang lain." ucapku sambil berdiri untuk meninggalkan Veni. Namun aku tak langsung bergegas meninggalkan ruangan itu.


Aku melihat Veni mengeluarkan handphone dari dalam tas nya yang terletak di meja depan ia duduk.

__ADS_1


__ADS_2