DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#Bab 308


__ADS_3

Jam di dinding toko kue Sarah, sudah menunjukkan saat nya menjemput Kean.


Sarah segera menyiapkan diri untuk menjemput Kean di sekolah. Sebisa mungkin Sarah berusaha untuk tidak telat. Jadi sengaja Sarah tidak ikut membantu karyawan nya di toko walau hanya sekedar duduk di kasir.


"Ren, aku berangkat jemput Kean dulu ya." pamit Sarah pada Reni.


"Apa taksinya sudah datang, Bu?," tanya Reni.


"Belum, Ren. Biar aku tunggu saja di depan. Masih ada waktu kok, jadi nanti tak akan telat sampai di sekolah Kean." jawab Sarah.


"Hati-hati ya, Bu." ucap Reni.


"Makasih, Ren. Kalau Kitu aku berangkat ya, assalamualaikum." pamit Sarah sekali lagi pada Reni.


"Waalaikumsalam," serentak semua karyawan Sarah menjawab salam dari Sarah.


Kini Sarah berdiri di tepi jalan tepat depan toko nya. Ia berdiri beberapa menit, dan orderan taksinya belum juga datang.


Saat menunggu taksi online yang sudah di pesan, tak sengaja Sarah melihat satu mobil yang berjalan melintas di depan nya.


Jendela kaca mobil itu terbuka. Dan betapa kagetnya Sarah, saat melihat orang yang berada di belakang setir mobil itu. Lelaki dengan wajah yang sangat familiar sekali di mata Sarah.


"Benarkah dia?," ucap Sarah dengan suara lirih.


"Tapi mana mungkin?," ucapnya lagi menepis pikirannya.


"Dengan ibu Sarah?," tiba-tiba suara sopir taksi online membuyarkan lamunan Sarah.


"Oh hmmm iya..." jawab Sarah kebingungan karena dia sangat kaget dengan suara sopir taksi online yang datang secara tiba-tiba.


Sarah pun langsung masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan.


"Sesuai aplikasi ya, Bu." ucap sopir itu.


"Iya, pak." jawab Sarah.


Taksi itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam taksi, Sarah masih memikirkan lelaki yang baru saja lewat di depan nya itu.


"Apa benar dia itu Randy?," tanya Sarah dalam hati nya. Banyak pertanyaan yang didalam hati Sara, karena perpisahan itu.


Bisa-bisanya Randy pergi hanya berpamitan lewat pesan singkat saja. Yang kebetulan, saat itu Sarah masih berada di kampung.


"Kalau benar lelaki tadi adalah Randy, aku yakin dia akan berhenti di toko ku. Setidaknya ia akan mencari ku, walau hanya sekedar untuk menyapa saja." ucap Sarah lagi dalam hati bersama lamunannya di dalam taksi.


"Aku rasa Randy tak akan lupa dengan alamat toko ku. Jadi bisa dipastikan orang tadi itu hanya mirip saja dengan nya." lagi Sarah mencoba menenangkan hati nya.

__ADS_1


Sarah melamun sepanjang jalan menuju sekolah Kean. Sampai tak terasa kalau ternyata taksi yang ia tumpangi itu telah sampai dan berhenti di depan sekolah nya Kean.


"Sudah sampai, Bu." ucap sopir taksi pada Sarah yang sedari tadi hanya melamun dengan menatap kearah luar jendela. Sopir taksi sudah dari tadi menghentikan mobilnya, namun Sarah masih belum sadar dari lamunannya. Sehingga si sopir itu memberanikan diri untuk berbicara pada Sarah.


Sarah pun sedikit terkejut mendengar suara sopir taksi yang mengingatkan nya itu.


"Oh .. Iya..," ucap Sarah dengan wajah kebingungan.


"Maaf, ya pak." ucap Sarah dengan menyodorkan uang pecahan lima puluh ribuan pada sopir taksi itu.


"Maaf, sudah menunggu lama." ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, Bu." jawab sopir taksi itu.


"Ini kembalian nya, Bu." sopir taksi itu menyodorkan kembali uang pada Sarah yang sudah keluar dari dalam taksi.


"Itu untuk bapak saja." tolak Sarah.


"Tapi, Bu. Bukankah ini terlalu banyak?," ucap sopir taksi itu.


"tidak apa-apa, pak. Itu untuk bapak yang sudah mau menunggu saya." jawab Sarah. Lalu Sarah berjalan masuk kedalam halaman sekolah Kean.


"Alhamdulillah, ternyata aku masih belum telat." gumam Sarah yang melihat belum ada anak-anak yang sudah pulang.


"Sarah!!," panggil Veni sambil melambaikan tangannya.


Biasa nya jangankan untuk menyapa, senyum saja rasa nya sangat berat dilakukan oleh Veni pada Sarah.


"Ada apa dengan mbak Veni?, kenapa dia berubah baik seperti itu padaku?," gumam Sarah pada dirinya sendiri.


"Biasanya tatapan kebencian yang selalu ia lakukan padaku. Tapi kenapa tidak dengan kali ini??," ucap Sarah lagi dengan penuh keheranan.


Veni pun berjalan menuju Sarah yang sedang duduk di bangku taman sekolah yang sudah di sediakan oleh sekolahan.


"Baru datang kamu, Sarah?," tanya Veni dengan suara lembut dan enak sekali di dengar. Senyum yang mengembang di bibirnya membuat Sarah semakin aneh melihat nya. Tidak seperti biasa nya, yang suaranya seperti radio rusak dengan kedua alis yang selalu bertaut.


"Iya, mbak." jawab Sarah dengan membalas senyum pada Veni.


"Sarah kira tadi Uda telat jemput nya. Eh ternyata sampai sini mereka masih belum keluar." ucap Sarah lagi, mencoba untuk mencairkan suasana. Karena rasanya ada rasa aneh pada diri Sarah saat melihat perubahan Veni yang sangat signifikan itu. Sarah sudah terbiasa dengan sikap Veni yang selalu marah-marah padanya.


Jadi rasa nya Sarah masih membutuhkan meyakinkan dirinya, untuk mempercayai perubahan yang ada di dalam diri Veni.


"Kebetulan siang ini, kata miss masih ada kegiatan yang harus dilakukan. Jadi kemungkinan nya, Pulang anak-anak akan telat." jawab Veni. Karena Veni sudah datang terlebih dahulu, jadi ia tau pengumuman yang telah disampaikan Miss pada anak-anak.


"Oh ya?, kira jam berapa ya pulang nya anak-anak nanti?," tanya Sarah lagi."Entahlah, aku juga tidak tau." jawab Veni sambil mengangkat kedua bahu nya.

__ADS_1


Sarah pun menganggukkan kepala, ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Veni.


Kini mereka berdua saling diam, Sarah diam karena memang dia tidak ada hal yang untuk di bincang kan. Sarah bingung harus berbicara apa dengan Veni.


Karena dari awal ia kenal Veni, Sarah tidak begitu dekat dengan Veni. Itu karena Veni yang suka menghina dan selalu marah-marah pada Sarah.


"Mmm, Sarah." panggil Veni memecah keheningan dan kecanggungan yang saat ini dirasakan Sarah dan juga Veni.


Veni pun sangat canggung pada Sarah, setelah banyak ke nyinyiran yang telah dilakukan Veni pada Sarah. Veni pun tak enak hati setelah ia sadar kalau ia pernah curhat pada Sarah kalau dia punya hubungan khusus dengan Bima, yang saat itu masih menjadi suami Sarah.


"Iya, mbak?," sahut Sarah, sambil menatap wajah Veni.


"Apa kamu sudah melihat video klarifikasi dari ku di akun sosial media ku?," tanya Veni.


"Sudah, mbak. Terimakasih, mbak sudah mau melakukan itu." jawab Sarah.


"Aku minta maaf ya Sarah. Selama ini aku sering sekali membuat mu sakit hati, entah itu dengan ucapan ku atau pun dengan tingkah laku ku. Dan untuk mengenai aku dan Bima, aku....,"


"Untuk masalah itu, sudah tidak perlu dibahas lagi, mbak. Karena aku sudah tau semuanya, dan lagi pula sekarang aku dan mas Bima sudah resmi bercerai. Jadi hal apapun tentang mas Bima tidak perlu di diceritakan, karena aku sudah tak mau dan tak ingin tau semua tentang mas Bima." jawaban Sarah cukup membuat Veni terkejut. Karena selama ini yang Veni tau, Sarah orang yang pendiam dan mau menerima semua perlakuan apa saja dari dirinya dan semua anggota keluarga Bima.


Namun pikiran Veni salah, ternyata Sarah begitu sakit hati pada semua orang yang telah bertindak tidak baik padanya.


"Maafkan aku ya Sarah, karena selama ini aku sudah bertindak tidak baik padamu." ucap Veni.


"Mbak Veni yakin meminta maaf padaku itu tulus?, atau mbak hanya melakukan ini karena mbak Veni takut aku akan membawa kasus pencemaran nama baik itu ke pihak yang berwajib?!," Kini Sarah makin berani bersuara. Sengaja ia melakukan ini, karena ia sudah sangat muak dengan penindasan yang selama ini di lakukan oleh Veni pada nya.


Sarah ingin membuat senam jantung Veni. Menurut Sarah, Veni harus di beri pelajaran. Agar dia tidak lagi semena-mena pada orang lain. Dan agar tidak membeda-bedakan orang dari asal usul nya dan keadaan ekonomi nya.


"Aku sangat tulus, Sarah. Aku mengakui kalau selama ini aku salah padamu." jawab Veni dengan wajah memelas.


"Lalu, apa yang membuat mbak Veni benci padaku?." tanya Sarah. Sarah ingin menyamakan alasan Veni dulu saat Veni sering curhat padanya sebagai author favorit nya.


"Aku dulu sangat iri padamu, karena kamu mempunyai wajah yang cantik dan postur tubuh yang ideal. Dan semua yang di sukai lelaki itu ada pada dirimu. Dan itu yang pertama kali membuat ku tidak suka padamu. Di tambah lagi, mas Awan selalu memuji mu saat kita sedang berdua. Dan disitulah rasa benci padamu itu muncul." jawab Veni, jawaban yang di berikan Veni saat ini masih sama dengan jawaban yang dulu.


"Di tambah lagi waktu itu, kelihatannya ibu juga tidak begitu menyukai mu. Di situlah aku mulai mempengaruhi ibu, dengan mengatakan kalau kamu suka menghambur-hamburkan dan menghabiskan uang Bima. Karena aku tau, ibu tak akan tinggal diam kalau ia tau istri Bima bisa belanja dengan bar-bar." jawab Veni.


Kali ini Sarah percaya dengan ucapan Veni, karena melihat dari raut wajah nya. Veni benar-benar jujur untuk kali ini.


"Kalau kamu ingin membalas sakit hati mu pada ibu, karena sudah sering kali menghina dan mencaci mu. Aku janji aku akan membantumu." ucap Veni yang siap menjadi anggota kubu Sarah.


Dari ucapan Veni, Sarah tau apa maksud dan tujuan Veni. Ia ingin bersekutu dengan nya untuk membalas sakit hatinya pada Laras.


Namun tidak mudah untuk Sarah menerima Veni menjadi teman, apalagi sekutu. Karena di hati Sarah tak ada terlintas pikiran untuk membalas dendam pada Laras dan Ambar.


"Aku harus tetap menjaga jarak dengan perempuan ini." ucap Sarah dalam hati.

__ADS_1


"Sarah, kenapa kamu diam saja?, apa kmu sudah memaafkan ku dan mau menerima ku menjadi teman mu?," tanya Veni dengan wajah penuh harap.


__ADS_2