DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
323


__ADS_3

Setelah beberapa langkah, Veni menghentikan ayunan kaki nya. Lalu kembali membalikkan tubuhnya menatap Awan.


"Kamu tak usah repot-repot untuk kembali kerumah. Karena paling lambat besok sore. Baju-baju kamu sudah sampai disini, mas." ucap Laras dengan tatapan menyepelekan.


"Kamu cukup urus saja perceraian kita, biar aku tinggal tanda tangan saja." lanjut Veni.


Lalu Veni kembali berjalan menuju mobilnya.


"Lebih kamu pulang dengan naik taksi, Ven. Karena mobil itu aku yang beli!," teriak Awan.


"Kamu membeli mobil itu dengan uang perusahaan, mas. Jadi itu masih milik ku." jawab Veni.


"Kamu salah, Veni. Walau itu aku beli dengan uang perusahaan. Namun mobil itu atas namaku." lanjut Awan dengan senyum licik.


"Oh ya?," dahi Veni berkerut.


"Hah.., ternyata kamu perempuan tak cukup pintar ya, Ven. Dengan sangat mudah di kelabui." ucap Awan sambil tersenyum sengak menatap Veni.


"Lebih baik kita selesai kan semuanya besok, mas. Malam ini aku sangat capek, dan ingin beristirahat." jawab Veni tak menggubris ledekan Awan. Lalu Veni kembali membalikkan badannya dan berjalan lagi menuju mobilnya.


"Silahkan kamu pergi dari sini, tapi tinggalkan mobil itu!!," teriak Awan.


"Biarkan untuk malam ini, aku bawa mobil ini. Karena ada Kay yang tertidur sangat pulas." jawab Veni dengan suara dan tatapan merendah.


"Baiklah, tapi yang kamu harus tau. Ini semua aku lakukan semata-mata untuk Kay, anak perempuan ku!!," ucap Awan'.


Veni pun tersenyum getir, lalu kini ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


Kini, mobil yang ditumpangi Veni sudah hilang dari pandangan. Di teras rumah hanya tinggal Awan dan Laras. Karena Bima dan Ambar memutuskan untuk masuk terlebih dahulu.


Ambar memutuskan untuk masuk kedalam, ia ingin segera mengistirahatkan tubuh nya yang masih terasa lemah, setelah ia di kerjain oleh Veni.


"WN!!, kamu yakin dengan ucapan mu tadi?!," tanya Laras pada Awan,yang kini masih berada di teras rumah.


"Ucapan yang mana, Bu?!" tanya Awan dengan mengerutkan dahinya. Awan berpikir ucapan mama yang di maksud oleh Laras.


"Ucapan talak yang telah kamu jatuh kan pada Veni, wan." jawab Laras.


"oooh... Yang itu?, Jelas Awan sangat yakin seyakin-yakinnya, Bu." jawab Awan dengan sangat yakin.


"Lalu apa kamu sudah siap terdepak dari perusahaan bapaknya Veni?!," tanya Laras, yang sedikit bingung dengan cara berpikir Awan.


"Awan sudah sangat siap Bu!!," jawab dengan senyum licik.


"Aku tak mau di bebani dengan hidup mu, wan. Karena sudah ada Bima yang hanya makan dan tidur tidak punya penghasilan lagi, setelah toko tempatnya ia bekerja disita." ucap Laras dengan melirik sinis pada Awan.


Laras takut, Awan akan menyusahkan nya setelah bercerai dengan Veni. Karena sudah pasti Awan akan di depak dari kantor warisan orang tua Veni.


"Ibu tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya. Aku tak sebodoh yang ibu kira." jawab Awan sambil berjalan masuk meninggalkan Laras yang masih berdiri tertegun mencerna ucapan Awan.


Karena otak nya lagi capek, Laras masih tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Awan.


Laras pun memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya. Karena angin malam semakin dingin menghembus tubuhnya.


"Karena kamar disini hanya ada tiga, sementara kamu tidur di sofa aja!," ucap Laras pada Awan.


"Tunggu Ambar pulang, baru kamu bisa tidur dikamar mu dulu." lanjut Laras sambil berjalan meninggalkan Awan yang sudah merebahkan tubuh nya diatas sofa depan televisi.


Laras pun masuk kedalam kamarnya, untuk segera beristirahat.


Awan yang berbaring di atas sofa, tersenyum-senyum sendiri.


"Sarah, tunggu aku. Tak lama lagi, aku akan menikahi mu. Aku janji akan membahagiakan mu." gumam Awan dengan senyum kasmaran.

__ADS_1


"Wajahmu benar-benar membuat ku tak berdaya." gumamnya lagi.


Tak terasa, akhirnya Awan pun terlelap dalam tidurnya.


****


Jam di dinding sudah pukul sembilan, tapi dirumah Laras belum ada yang bangun satu orang pun.


Mungkin mereka benar-benar lelah dengan kejadian kemarin yang menguras tenaga.


Sedangkan Veni, pagi sekali sudah berangkat mengantar Kay ke sekolah. Karena ia takut Kay terlambat kesekolah.


Setelah mengantar anaknya, Veni langsung menuju kantor nya.


Veni sengaja berangkat sangat pagi, karena ia tak ingin keduluan Awan datang ke kantor.


"Ibu?!,' ucap Lola sekertaris pribadi Awan dengan sedikit terkejut.


"Kenapa kamu terkejut seperti itu, la?," tanya Veni dengan tersenyum sinis.


"Oh maaf, Bu." jawab Lola dengan segera menundukkan pandangan nya, setalah memandang dengan mata melotot karena ia sangat terkejut dengan kedatangan Veni.


"Kamu kaget ya dengan kedatangan, ku?," tanya Veni dengan mendekatkan wajah nya pada wajah Lola yang terlihat sedikit cemas itu.


"Iya, Bu. Saya kaget, karena tidak biasa nya ibu datang ke kantor." jawab Lola dengan mencoba tersenyum untuk menutupi ketegangan nya. Walau sama sekali senyum itu tak dapat mengcover wajahnya yang seperti ketakutan.


"Kamu santai saja." ucap Veni sambil tersenyum miring. Lalu Veni berjalan masuk kedalam ruangan Awan.


Veni mengedarkan pandangan nya kesetiap sudut ruangan itu. Lalu ia berjalan mendekati meja kerja Awan.


"Mulai dari sekarang, kursi ini bukan menjadi tempatmu, mas." ucap Veni sambil menjatuhkan tubuh nya di kursi kerja milik Awan.


Veni mulai mencoba membuka satu persatu laci di meja kerja milik Awan.


Dan betapa kagetnya Veni, saat ia membuka laci meja yang paling atas. Terdapat frame foto dengan ukuran kecil.


"Kamu benar-benar jahat, mas!!!." ucap Veni.


"Apa begitu cinta nya kamu pada Sarah?, sehingga ada foto nya di meja kerja mu. Sedangkan tak ada sama sekali foto ku disini." lanjut Veni sambil mengambil foto yang di dalam frame itu, lalu dengan cepat Veni merobek-robek dan membuangnya di tempat sampah.


"Berarti firasat ku dari dulu itu benar. Kalau mas Awan tertarik kepada Sarah. Bukti nya saja, sampai sebegitu nya ia menyimpan foto Sarah di meja kerja nya." gumam Veni dengan mengangguk-anggukan kepala.


Namun Veni pun segera menyadarkan dirinya, kalau tujuan awal ia kesini bukan untuk mencari tau perasaan Awan kepada Sarah. Veni datang ke kantornya untuk mengambil alih semua kepemimpinan Awan di kantor milik bapaknya itu, yang kini sudah menjadi milik Veni.


Tok...Tok..Tok..


Suara pintu ruangan itu di ketuk.


"Masuk." perintah Veni.


"Selamat pagi, Bu." sapa Lola pada Veni saat pintu nya terbuka.


"Pagi!," jawab Veni.


Lola pun berjalan mendekat ke meja kerja Awan, yang kini berpindah tangan kepada Veni.


"Ada yang mungkin bisa saya bantu, Bu?," tanya Lola pada istri bos nya itu.


"Untuk saat ini masih belum ada hal yang bisa kamu bantu." jawab Veni dengan menatap lekat pada Lola.


Veni melihat penampilan Lola dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Rambut panjang dan sedikit ikal di bagian ujung, membuat wajah Lola sangat imut dan kelihatan sangat cantik.

__ADS_1


Umur Lola jauh di bawah Veni. Itu terlihat sekali dari cara berpakaian nya.


"Lola, kamu betah bekerja sama bapak?," tanya Veni.


"Betah sekali, Bu. Malah sangat betah. Soalnya bapak itu orangnya sangat baik dan loyal." jawab Lola dengan senyum bahagia.


"Kalau misalkan bapak tidak di kantor ini, kamu masih mau tetap disini atau ikut bapak?," tanya Veni dengan melirik Lola.


" kalau memang di ijinkan ikut bapak, lebih baik Lola ikut bapak saja, Bu. Karena Lola yakin bapak sudah sangat cocok dengan Lola. Bapak akan susah beradaptasi lagi dengan orang lain yang akan mencari sekertaris barunya." jawab Lola dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Ooo... Oke oke," jawab Veni sambil menganggukkan kepalanya.


"Hmm... Sekarang kamu bisa kembali ke ruangan mu. Nanti kalau aku butuh sesuatu, aku akan memanggilmu." ucap Veni.


"Baik, Bu." jawab Lola.


"Oh ya, memang pak Awan hari ini tidak kekantor, bum?," tanya Lola sambil berdiri dari duduknya.


"Hari ini bapak lagi tidak enak badan, jadi dia untuk sementara harus istirahat dulu dirumah. Jadi mulai hari ini sampai pak Awan sehat, aku yang menghandle kantor." jawab Veni.


"Oh...baik Bu." jawab Veni. Lalu Lola membalikan tubuhnya dan berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan itu.


"Tumben sekali pak Awan sakit nggak bilang sama aku?," gumam Lola dengan suara yang pelan. Namun suara itu terdengar jelas oleh. Veni.


"Apa kata mu barusan, La?," tanya Veni.


"Apa Bu?!," Lola kaget, dengan spontan ia menghadap lagi kebelakang di mana Veni berada.


Lola terlihat sangat tegang, karena ternyata Veni istri Awan yang tak lain pemilik perusahaan itu mendengar ucapannya.


"Apa perlu atasan sakit nggak masuk kerja, harus memberi kabar dulu pada sekertaris nya?!," tanya Veni dengan tatapan tajam.


"Apa kamu mempunyai hubungan khusus dengan suami ku?!," tatapanku mata yang tajam di berikan pada Lola.


"Tidak Bu, bukan itu maksud saya. Biasanya pak Awan mengabari saya, kalau memang ia tidak ke kantor. Karena beliau takut ada klien yang akan mencari nya." jawab Lola menepis tuduhan yang dituduhkan oleh istri bos nya itu.


"Sudahlah, kamu keluar saja." ucap Veni sambil mengipas-ngipas tangan nya.


"Lagian, walau kamu juga punya hubungan khusus dengan mas Awan. Aku sudah tak peduli, memang karena rasa cinta di hati ini kepada mas Awan sudah hilang tak bersisa." gumam Veni dalam hati sambil tersenyum getir.


"Dan aku tak ada sedikit pun rasa sedih saat ucap talak keluar dari mulut mas Awan." ucap Veni dalam hati.


Kini Lola sudah keluar dari ruangan Awan yang kini kembali menjadi milik Veni.


Veni segera mengambil handphone nya, untuk menghubungi seseorang.


"Dimana?," tanya Veni, setelah sambungan telepon tersambung.


"Aku sudah di lantai bawah, Bu Veni." jawab lelaki yang ada di panggilan telepon Veni.


"Baiklah, saya tunggu." ucap Veni sambil menutup telepon nya.


Beberapa menit kemudian, suara pintu diketuk.


"Masuk!," teriak Veni pada orang mengetuk pintu nya barusan.


"Selamat pagi, Bu." sapa lelaki mudah yang sudah mempunya janji dengan Veni untuk bertemu ditempat ini.


"Silahkan duduk." Veni mempersiapkan lelaki mudah itu untuk duduk di kursi yang letaknya langsung berhadapan dengan Veni.


"Bagaimana hasilnya?," tanya Veni langsung tanpa basa-basi. Karena untuk masalah ini, Veni harus segera menyelesaikan.


"Ini Bu, laporan tentang keuangan perusahaan dalam beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Veni melihat dan mempelajari isi dari dokumen itu. Dan Veni benar-benar di kejutkan dengan nominal angka yang tertera di kolom pengeluaran.


"Uang sebanyak ini di buat apa?," tanya Veni dengan dahi yang berkerut saat melihat nominal yang masuk kedalam rekening yang bernama Lola.


__ADS_2