DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Postingan Mas Damar


__ADS_3

Malam ini kubiarkan Kean tidur bersama bapak dan ibu. Setelah melihat Kean terlelap tidur diantara bapak dan ibu. Aku pun segera masuk kedalam kamar, untuk beristirahat.


Ku lihat jam di handphone sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mayang dan pengasuh Kean sudah tertidur.


Jam delapan malam disini, suasana nya sudah sangat sepi dan sunyi. Tak ada kendaraan bermotor yang melintas di jalan depan rumah. Hanya terdengar suara jangkrik dan hewan-hewan malam lain nya yang mengiringi kesendirian didalam kamar ini.


Ku buka handphone, berharap ada pesan masuk dari Randy. Yang sudah dipastikan kalau ia sudah berangkat dan berada dalam pesawat.


Benar dugaan ku, ternyata Randy mengirim pesan setengah jam yang lalu. Yang isi nya dia berpamitan dan memberi sa


"Sarah, aku sudah masuk kedalam pesawat. Aku harap kamu bisa jaga diri sendiri dan Kean baik-baik ya, jangan lupa titip salam ku pada kedua orang tua mu. Sekali lagi jaga diri kamu dan Kean untuk ku."


Pesan singkat ini dikirim setengah jam yang lalu, dan maaf baru aku baca. Karena memang daritadi aku tak memegang handphone di tangan.


Namun yang membuat hatiku terenyuh adalah kalimat terakhir yang ada di pesan singkat itu.


Kenapa dia bilang jaga diri ini untuk nya? Apa memang dia ada rasa untuk ku?


Tapi... kenapa ia sama sekali tak mau mengungkapkan perasaan nya langsung padaku?


Aku pun segera membalas pesan itu, walau saat ini balasan pesan ku tak masuk. Namun aku yakin, saat ia sudah tiba di benua yang berbeda dengan ku. Pesan itu akan terbaca oleh nya.


Pesan telah terkirim, kini kurebahkan tubuh diatas dipan yang berlapis kasur busa.


Ingin segera memejamkan mata, tapi hati dan pikiran ini masih teriang tentang kalimat terakhir yang ditulis Randy di pesan singkat yang Randy kirim padaku.


Apa memang dia ada rasa padaku?, apa dia takut kehilangan ku dan Kean? apa aku kebaperan? apa itu sebatas perhatian pada seorang teman? apa, apa, dan apa..... terus muncul di otak ku.


Malam semakin larut, tapi aku masih belum memejamkan mata.


Ku putuskan untuk membuka Facebook, siapa tau dengan berselancar di dunia, kantuk akan datang menghampiri ku.


Namun saat pertama kali aku buka aplikasi Facebook, ada akun mas Damar yang muncul.


Tumben sekali ia membuat status di Facebook, karena setau ku ia lelaki yang tak begitu suka mengumbar apapun di dunia maya.


"Dasar!! Perempuan tak tau diri, sudah beruntung kamu aku beri kesempatan untuk rujuk dengan ku. Eh... malah jual mahal pura-pura tak mau!!.Sudah punya penghasilan sedikit saja sudah belagu!!! Dasar perempuan egois, tak pernah memikirkan perasaan buah hati kita!!."


Status mas Damar berhasil membuat mata ini semakin melek, sama sekali tak ada rasa kantuk yang datang padaku. Serasa habis minum kopi lima cangkir sekaligus. Mata langsung terang benderang, gara-gara membaca postingan mas Damar.


Membaca postingan mas Damar membuat darah terpompa lebih cepat. Ada rasa kesal dan kecewa dengan sikap mas Damar. Kenapa sekarang ia suka mengumbar semua masalahnya di sosial media.


Di postingan itu terlihat beberapa komentar, dan aku pun mencoba membuka nya. Ingin tau, apa dan siapa saja yang berkomentar di postingan mas Damar yang menurut ku seperti anak kecil.


"Dia memang perempuan tak tau diri, mas! Sok kaya, padahal juga kampungan!!," komentar dari akun @Lidyacantiq.


Aku yakin banget kalau itu akun facebook milik Lidya, mantan adik ipar ku. Yang manjanya minta ampun. Terakhir ketemu kemarin sebelum berangkat kesini. Ia menemui ku di ruko milik ku.


"Bener, Lid. Emang dasar perempuan kampungan, ya pasti otak nya dangkal," kali ini mas damar membalas komentar dari adiknya itu.

__ADS_1


Bisa-bisanya dia berkomentar seperti itu. Aku tau postingan itu ditujukan untuk ku. Karena saat aku lihat waktu ia posting, setelah ia pergi dari rumah ini.


"Wahh... yang mana nih orangnya? tag donk akun orang nya yang nggak mau diajak rujuk?," akun bernama @lambeluber juga ikut berkomentar di postingan mas Damar. Kali ini ia meminta mas Damar meng tag Facebook wanita yang dimaksud dalam postingan itu.


Jangan sampai mas Damar menyebut akun Facebook ku. Karena akun Facebook ku ini banyak sekali pembaca setia novel online ku dan sahabat-sahabat pena ku.


Walau aku tak pernah sama sekali promosi novel online ku di akun Facebook. Tapi para readers setia ku dan para teman-teman author ku berteman di akun Facebook ku.


Sebenarnya, aku sudah berencana untuk membuat Facebook baru khusus untuk promosi novel-novel online ku. Namun karena kesibukan ku setiap hari, jadi ke lupaan deh.


Lalu ku coba skrol lagi ke bawah, karena rasa penasaran ini semakin membuatku tak bisa tidur. Biarkan saja sekalian tidak tidur semalaman, gara-gara postingan mas Damar diakun sosial media nya.


"Kalau bisa diperbaiki, perbaiki lah hubungan kalian. Demi anak kalian." kali ini komentar dari akun yang bernama @bundasahaja.


"Tega kamu, Mar! Dikondisi ku yang seperti ini. Kamu mau rujuk sama @Sarah123?!!," Betapa kagetnya aku saat membaca komentar dari akun @Biancalove. Aku yakin itu akun Bianca.


Dan yang membuat ku semakin kesal, Bianca memanggil akun ku di komentar nya.


Dan banyak sekali balasan komentar pada komentar Bianca.


"Apa ini istrinya?," komentar akun mawarberduri mengomentari komentar Bianca.


"Cuss donk ke akun @Sarah123." lanjut komentar akun @Inginbahagiadenganmu.


"Wah tega ya, padahal ia sudah beristri tapi si laki ini mau minta rujuk lagi sama mantan istrinya. Dasar serakah banget!!, bagi aku aja salah satu nya. aku jomblo nih." komentar dari akun @priakesepian.


Namun dari komentar-komentar ini tak ada satu pun balasan dari mas Damar. Mas Damar hanya membalas komentar dari Lidya saja yang ada diawal.


Dan doa ku saat ini, semoga para pembaca novel ku tak mengetahui tentang postingan ini.


Aku tak mau memunculkan diri ini ke postingan mas Damar. Aku takut nama pena ku tercoreng oleh postingan mas Damar.


Karena aku yakin, orang yang tak tau cerita asli di kehidupan ku dengan mas Damar. Mereka pasti akan menyalahkan ku. Karena aku menjadi perempuan egois yang tak memikirkan perasaan anak semata wayang ku dengan tak mau rujuk dengan bapak kandungnya.


Segera aku buka aplikasi WhatsApp. Ku cari nama mas Damar.


"Mas, apa maksud mu membuat postingan seperti itu di Facebook?! Sekarang juga hapus postingan itu!!," pesan ku kirim. Aku tak mempedulikan sudah jam berapa ini, karena emosi ku terpancing oleh postingan mas Damar.


Tanpa menunggu lama, notifikasi pesan masuk pun berbunyi.


"Cepat sekali mas Damar membalas pesan ku, mungkin ia belum tidur." gumamku salam hati. Ku buka notifikasi pesan itu, dan ternyata benar pesan masuk dari mas Damar.


"Punya hak apa kamu memerintah ku?, sedangkan kamu bukan istri ku! Jadi suka-suka aku dong mau posting apa aja!!,"


Balasan pesan mas Damar semakin membuat hati ku geram. Bisa-bisanya ia seperti orang yang tak bersalah.


"Tapi aku sangat terganggu dengan postingan mu itu, mas!!!," kukirim balasan pesan untuk nya.


"Apa yang membuat mu terganggu?! Kenapa kamu terlalu percaya diri, kalau postingan itu ku tujukan padamu?!, memang ada di-postingan itu aku menyebut nama mu?,"

__ADS_1


Kali ini balasan pesan mas Damar membuat ku tak berkutik. Karena apa yang dikatakan.as Damar memang ada benarnya. Ia tak menyebut namaku di-postingan nya.


"Tapi postingan mu, membuat orang lain berasumsi kalau aku lah orang yang kamu maksud di-postingan mu!," aku masih terus membalas pesan mas Damar. Karena aku merasa postingan itu memang tertuju padaku.


"Persetan dengan asumsi orang lain. Yang jelas aku tak pernah menyebut mu di-postingan itu!!,"


Kali ini aku tak meneruskan berbalas pesan pada mas Damar. Karena percuma saja aku mengingatkannya, karena ia tak pernah sadar dengan kesalahan nya.


Kini ku coba kupejamkan mata ku, karena kulihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Siapa tau aku bisa beristirahat walaupun hanya sebentar, karena selepas sholat subuh aku harus berangkat pulang. Handphone pun


ku taruh di atas nakas samping dipan tidurku.


Tetap saja mata ini terbangun sebelum subuh, walau aku hanya tidur beberapa jam saja. Mungkin karena sudah terbiasa kali ya?.


Seperti biasanya kulakukan rutinitas ku sebelum subuh. Ku lihat ibu juga sudah bangun dan sudah sibuk di dapur.


Sedangkan bapak masih menemani Kean yang masih terlelap, walau bapak sendiri sudah terbangun. Sepertinya bapak tak ingin menyia-nyiakan waktu bersama Kean.


Setelah sholat malam, aku pergi ke dapur untuk menemani ibu yang sedang mempersiapkan bekal untuk perjalanan ku ke kota sambil menunggu datangnya waktu subuh. Karena kami tak mau sarapan, menurut ku terlalu lagi kalau aku sarapan diwaktu subuh. Akhirnya ibu membuatkan ku bekal, agar bisa dimakan di dalam mobil.


Adzan subuh berkumandang sangat merdu di iringi dengan suara air sungai bergemericik di belakang rumah, membuat makin betah tinggal disini. Namun apa daya, kami harus tetap pulang ke kota, karena pekerjaan lah yang menuntut kita agar kembali ke hiruk pikuk nya kota besar.


Setelah sholat Subuh, aku kembali ke dapur untuk membantu ibu menata bekal kami.


Mayang dan pengasuh Kean juga sudah bangun. Mereka bergegas mandi dan sholat. Setelah itu mereka mempersiapkan yang akan di bawa pulang.


Setelah semua nya beres, aku segera berganti pakaian. Kini tinggal menunggu kedatangan Sinta yang akan menjemput kami disini.


Semua tas dan koper aku siapkan di teras rumah. Ibu dan bapak menemani kami yang sedang menunggu jemputan Sinta.


"Pak, Bu, Sarah harap bapak dan ibu mau tinggal di kota. Karena rencana nya, Sarah akan membeli rumah lagi." ucapku memecah kejenuhan saat menunggu jemputan dari Sinta.


"Kalau bapak dan ibu tinggal di kota, bapak ibu bisa dengan mudah bertemu dengan Kean." bujuk ku. Kali ini aku gunakan Kean sebagai peluluh hati kedua orang tua ku.


"Bukan nya bapak tak mau tinggal di kota Sarah, tapi bapak sudah sangat nyaman disini. Tapi kalau kamu ingin membeli rumah lagi, beli lah. Biar nanti bapak akan mencoba membagi waktu agar bisa menginap disana agak lama." ucap bapak memberi alasan.


"Sebenarnya kalau bapak sangat rindu pada Kean, rasanya sulit sekali dibendung. Tapi bapak dan ibu selalu mencari kesibukan, agar hati ini tidak terlalu bersedih." lanjutnya sambil mengecup kepala Kean. Yang saat ini Kean berada di dalam gendongannya.


Tak lama, mobil Sinta pun datang. Dan kami berangkat untuk kembali ke kota Setelah berpamitan dengan bapak dan ibu.


Tak bisa di elakan, pertemuan yang singkat ini berhasil membuat uraian air mata saat berpisah.


Seandainya jarak kampung ku denga kita dekat, mungkin setiap hari aku akan kesini. Atau mungkin setiap malam aku akan pulang kesini, dan paginya kembali kekota untuk bekerja.


Namun nyatanya itu tidak mungkin, karena perjalanan ke kampung ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai dirumah ibu.


Tangan ku lambaikan pada kedua surga dunia ku. Wajah keriput itu lah yang sudah berhasil membesarkan aku dan Mayang dengan kerja kerasnya.


Mobil pun berjalan menjauh dari rumah orang tua ku. Kini rumah itu sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


Dan karena semalam aku hanya tidur sekitar satu setengah jam. Kini kantuk mulai menyerang ku, dan aku pun tertidur didalam mobil yang dikendarai oleh Sinta.


"Gila, si Sarah. Baru aja naik Uda main tidur aja!," terdengar samar-samar suara Sinta mengejekku. Tapi aku tak menghiraukan nya, karena mata ini sangat berat sekali untuk di buka.


__ADS_2