
Dan akhirnya taksi itu pun sampai didepan salon milik Siska.
Salon nampak sepi dari luar, mungkin karena sudah malam. Jadi sudah tidak ada pengunjung.
Lampu-lampu pun sudah ada beberapa yang mati. Pintu gerbang juga sudah tertutup, namun tak tertutup semuanya.
"Tante, ini rumah siapa?," tanya Kay dengan wajah ketakutan. Jelas, kalau anak seusia Kay ketakutan. Karena bangunan besar ini sangat sepi, tidak ada orang yang berlalu lalang sana sekali, dengan pencahayaan yang remang-remang.
Kay terbangun dari tidurnya, setelah taksi berhenti, karena sudah sampai ditujuan.
"Bukankah Tante bilang mau antar Kay, pulang?, ini kan bukan rumah Kay." lanjut Kay.
"Kita turun dulu yuk, sayang. Nanti Tante bakal jelasin di dalam." ucap Sarah.
"Tapi Kay takut Tante." rengek Kay, menolak untuk diajak turun dari taksi.
"Kay g boleh takut.Kqn ada Tante. Yuk, kita turun." ajak Sarah.
Mau tak mau, Kay pun turun dengan terpaksa. Tangan mungil itu tak mau lepas dari tangan Sarah. Kay menggenggam erat tangan Sarah.
"Ibu yakin mau turun?," tanya sopir taksi itu.
"Kelihatan nya salon ini sudah tutup, Bu. Lihat saja banyak lampu yang sudah mati." lanjut sopir taksi itu.
"Iya, pak. Kami tetap turun, karena didalam ada teman ku." jawab Kay dengan tersenyum. Lalu Sarah menyodorkan uang untuk ongkos taksi nya.
"Kalau begitu, saya tinggal ya Bu. Dan ibu hati-hati," ucap pak sopir taksi.
"Terimakasih,Bu." lanjut sopir taksi itu setelah menerima ongkos dari Sarah.
Kini Sarah dan Kay berjalan menuju pintu gerbang yang hanya terbuka sedikit. Sarah berharap masih ada satpam yang berjaga.
Sarah mencoba untuk mengintip kedalam, untuk melihat keadaan didalam.
Hati Sarah terasa lega, saat ia melihat ada mobil Veni di dalam.
"Berarti benar mbak Veni ada di dalam." gumam Sarah sambil mengelus dada nya. Tak di pungkiri, sebenarnya Sarah juga takut dan was-was. Ia takut ini hanya akal-akalan Veni dan Laras untuk menjebak dirinya.
"Ada apa Tante?," tanya Kay, yang melihat Sarah sedang mengelus dada nya.
"Tidak ada apa-apa, Kay. Itu mobil mami ada didalam." ucap Sarah sambil menunjuk mobil Veni yang terparkir dihalaman salon Siska.
__ADS_1
Dengan langkah yang pasti, Sarah memegang tangan Kay sambil berjalan masuk ke dalam salon.
Namun langkah Sarah kali ini menuju pos satpam. Karena saat ia mengedarkan pandangan ke pos satpam, terlihat di dalam pos itu masih ada orang.
Semakin dekat dengan pos satpam, semakin jelas Sarah melihat ada dua orang yang sedang berjaga.
"Assalamualaikum, pak." sapa Sarah mengucap salam.
"Waalaikumsalam," jawab dua orang lelaki gagah itu secara bersamaan.
"Ada yang bisa kami bantu, Bu?," tanya satpam yang tengah duduk di bangku. Sedangkan yang satunya sedang berjongkok dilantai lalu berdiri karena kedatangan Sarah.
"Saya mau bertemu bu Siska, pak. Apa Bu Siska ada didalam?," tanya Sarah dengan senyum sopan.
"Oo... Bu Siska?," ucap satpam yang kini berdiri dari jongkoknya.
"Seperti nya malam ini Bu Siska tidak bisa di temui, Bu. Karena malam ini Bu Siska ada pertemuan penting " lanjut satpam itu.
"Apa yang membawa mobil itu tamu nya Siska?," tanya Sarah lagi, sambil menunjuk mobil Veni. Sarah memang benar-benar bertanya dengan jelas, karena semua ini dilakukan semata-mata demi Kay kecil.
"Iya, Bu. Namun Bu Siska sudah berpesan pada kami, Kalau tidak boleh ada pengunjung salon yang masuk karena .ada pertemuan ini." Jawab salah satu satpam itu.
"Tapi sebenarnya, saya datang kemari, hanya ingin bertemu dengan pemilik mobil itu, pak. Apa bapak bisa mengantarkan ku kesana?,' tanya Sarah dengan suara yang sangat sopan.
Sambil membawa senter kecil, satpam itu berjalan menuju pintu utama salon.
Lalu saat membuka pintu, didalam sudah ada beberapa orang yang sedang berkumpul.
Yang pasti nya, orang-orang itu sedang menyidang Veni. Karena Veni lah yang saat ini sedang duduk di tengah-tengah beberapa orang yang sedang melingkarinya.
Veni sudah seperti pesakitan yang sedang di adili. Seperti pesakitan yang sedang di mintai pertanggung jawaban.
"Sekarang, aku tak mau tau Ven!!, kamu harus mengembalikan sertifikat rumah ku." ucap Laras dengan suara sangat lantang, sehingga Sarah pun mendengar nya.
"Tapi sertifikat rumah itu tidak ada di aku, Bu!, sertifikat itu ada pada Siska." ucap Veni tak kalah lantang dengan Laras.
Veni memang sangat berani melawan Laras, ia seperti tidak ada takut nya melawan mertua nya itu.
"Ya kamu lah bertanggung jawab atas semua itu. Ambil sertifikat itu dari Siska." jawab Laras.
"Masalahnya, mana mungkin Siska memberikan sertifikat itu kalau tidak ada uang tebusan." ucap Veni dengan lancar.
__ADS_1
Sedangkan Kay, sangat ketakutan melihat dan mendengar suara keras yang saling bersahut-sahutan memojokkan dan menyalahkan mami nya.
"Mami....," rengek Kay memanggil Veni sambil air mata nya yang mengalir di pipi.
Sebenarnya Sarah tidak tega melihat Kay menyaksikan kejadian yang tak patut di tonton anak seusianya. Karena ini bisa membuat trauma seumur hidupnya. Namun bagaimana lagi, Kay terus memintanya agar ia mau mengantarkan nya ke mami nya.
"Kay...!," ucap Veni saat ia menoleh kearah suara yang memanggilnya.
Semua mata kini tertuju pada Sarah dan Kay.
"Sarah...," gumam Awan. Bukan anak nya yang di panggil, namun nama Sarah lah yang keluar dari mulutnya.
"Ngapain kamu berada disini?!!," suara Laras sangat melengking di telinga orang yang berada di tempat itu.
"Apa kamu kesini mau menertawakan ku?!," Laras selalu berburuk sangka pada Sarah. Padahal kedatangan Sarah kesini tak ada sama sekali niat seperti itu.
"Saya kesini hanya mau antar Kay." jawab Sarah dengan mulut bergetar. Sarah sangat marah mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh mantan mertua nya itu.
"Itu hanya alasanmu saja!!, aku tau kamu kesini hanya ingin bertepuk tangan kan melihat yang terjadi pada keluarga ku?!," Laras terus-menerus menuduh Sarah.
"Tapi asal kamu tau, Sarah!!. Aku ini tidak miskin, uang segitu tidak ada apa-apanya." lanjut Laras sambil tersenyum sombong pada Sarah.
"Syukurlah kalau begitu, Bu. Aku kesini pun sebenarnya malas. Kalau bukan karena Kay, tak ada sedikitpun terbesit di pikiran ku untuk datang kesini!!," jawab Sarah dengan tatapan jutek.
"Mbak, ini Kay. Aku kesini hanya mau mengantarkan Kay. Sekarang Kay sudah bersama kamu, mbak. Jadi aku pamit." ucap Sarah pada Veni.
Lalu Sarah berjalan menuju pintu keluar. Sarah tak ingin berlama-lama disitu.
"Sarah tunggu!!," panggil Awan.
Veni yang melihat dan mendengar Awan memanggil Sarah, terasa hatinya sangat sakit.
Sarah pun menghentikan langkah nya, lalu menoleh kebelakang dimana sumber suara itu berasal.
"Kamu pulang bersama siapa?," tanya Awan.
"Sendiri mas." jawab Sarah singkat lalu kembali membalikan badan nya dan berjalan menuju pintu.
"Tunggu!!," lagi-lagi Awan menghentikan langkah kaki Sarah.
"Apa perlu aku mengantar mu?," tanya Awan.
__ADS_1
"Mas ..!!," panggil Veni dengan perasaan yang penuh Cemburu dan amarah.