
 Setelah kepergian Bima dan Laras dari rumah nya, Sarah pun bernafas lega. Akhirnya pembuat keributan pun pergi dari rumah nya.
"Kamu mau kemana, Sarah," tanya ibunya, saat melihat Sarah sudah bersiap-siap dengan tas nya yang sudah di selempang kan ke tubuhnya.
"Sarah mau keluar sebentar, Bu." jawab Sarah.
Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan ibu nya, Sarah pun keluar rumah. Karena taksi yang sudah di pesan sudah datang.
"Sesuai aplikasi ya, Bu " ucap supir taksi online itu, saat Sarah sudah duduk di dalam taksi.
Sarah pun menganggukkan kepala dan tersenyum ramah pada supir taksi online itu.
Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini Sarah pergi ke salon milik Siska yang sudah menjadi langganan nya itu.
Sarah ke salon kali ini sendirian, tanpa Sinta. Karena tiba-tiba saja melintas di pikiran nya untuk memanjakan diri di salon Siska.
Mau menghubungi Sinta pun, dirasa tidak mungkin. Karena Sinta yang super sibuk itu, tidak mungkin bisa kalau diajak secara mendadak seperti ini.
Taksi pun berhenti di depan pintu gerbang salon milik Siska. Pengunjung kali ini tak begitu banyak. Karena di tempat parkiran mobilnya, terhitung hanya beberapa mobil yang terparkir.
"Alhamdulillah, tidak begitu ramai." gumam Sarah, saat ia memasuki area halaman salon Siska.
Kini Sarah pun langsung masuk kedalam salon melewati pintu yang terbuat dari kaca tebal.
Lalu, ia berjalan menuju bagian pendaftaran. Kali ini, Sarah ingin treatment spa dan massage. Karena tubuhnya sangat capek dan terasa berat. Dan ia juga ingin merelaksasi pikiran nya, yang berkali-kali di gempur oleh orang-orang toxic.
Setelah mendaftar, Sarah pun menunggu di sofa lobby yang sudah di sediakan.
"Sarah!!," panggil Ambar, yang kebetulan ia juga melakukan perawatan di salon ini dengan wajah sinis.
"Mbak Ambar." gumam Sarah dengan pelan, sampai Ambar tak mendengar apa yang dikatakan oleh Ambar.
Namun Ambar tau, apa yang di ucapkan oleh Sarah. Dengan melihat gerak mulut Sarah.
"Ngapain kamu disini??!!," tanya Ambar pada Sarah.
"Ya jelas, aku datang ke salon untuk melakukan perawatan, mbak." jawab Sarah dengan ketus.
"Dasar wanita udik!!, norak banget, baru jadi penulis gitu aja, udah sombongnya minta ampun!," celetuk Ambar.
Walau Sarah mendengar apa yang diucapkan Ambar, Sarah pun tak menanggapinya. Karena sangat malas, kalau Sarah harus bertengkar dengan Ambar, kakak perempuan mantan suaminya itu.
"Dasar!!!, perempuan tak tau diri!!," gumam Ambar dengan suara agak keras, lalu ia duduk di sebelah sofa yang kini di duduki Sarah.
Ambar pun membuang pandangan nya setelah menatap mata Sarah. Dan Sarah tetap tak menghiraukan nya.
"Bu Ambar." setelah beberapa menit menunggu di lobi bersama Sarah. Kini nama Ambar di panggil, karena sudah sampai di giliran Ambar untuk melakukan treatment.
Ambar pun berdiri dan berjalan menuju orang yang memanggil nya. Sebelum meninggalkan Sarah, Ambar menatap kearah Sarah dengan tatapan sinis. Namun, Sarah masih bisa mengendalikan dirinya untuk tak terpancing emosi. Karena menurut Sarah, hanya buang waktu dan tenaga untuk meladeni orang seperti Ambar itu.
__ADS_1
Ambar yang merasa kalau di di cuek'in Sarah, lama-lama ia jengkel sendiri.
Sarah yang melihat kelakuan Ambar yang seperti anak kecil itu. Hanya menggeleng-gelengkan kepala nya sambil tersenyum miring.
Lalu Ambar pun di antar ketempat treatment yang sudah di pilih.
"Bu Sarah." Kali ini panggilan untuk Sarah, karena memang salon ini tak begitu ramai di hari produktif, jadi Sarah tak perlu menunggu lama untuk mengantri.
Kini giliran Sarah diantarkan ke ruangan treatment yang sudah dipilih oleh Sarah.
Dan betapa kagetnya Sarah, ternyata ia satu ruangan dengan Ambar.
"Sarah!!, kenapa sih dunia ini sangat sempit sekali?!!," ucap Ambar saat ia mengetahui Sarah yang masuk keruangan yang sama dengan dirinya.
"Mungkin kita sudah berjodoh, mbak." jawab Sarah dengan santai.
Lalu Sarah berlalu meninggalkan Ambar, untuk segera mengganti pakaian nya di kamar mandi dengan pakaian yang khusus untuk treatment yang akan dilakukan.
Setelah berganti pakaian, Sarah pun keluar dari kamar mandi. Dan sudah melihat Ambar yang sedang melakukan treatment spa.
"Bu, mohon maaf. Petugas spa yang satu nya tidak masuk. Jadi kami mohon ibu bersabar ya untuk menunggu." ucap salah satu pegawai salon itu yang tadi telah mengantarkan Sarah masuk keruangan treatment.
"Apakah aku harus menunggu ibu ini selesai?," tanya Sarah. Karena kalau harus menunggu Ambar selesai, itu akan memakan waktu yang cukup lama.
"Iya, Bu." jawab pegawai salon itu.
"Kalau begitu, maaf sebelumnya mbak. Saya tak bisa menunggu, karena saya tau pasti akan lama. Jadi untuk treatment kali ini, saya cancel saja." ucap Sarah yang memang tidak mungkin kalau ia harus menunggu.
"Ala... itu sih hanya akal-akalan dia saja mbak. Aku tau dia pasti tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan disini." sahut Ambar memotong ucapan pegawai salon itu.
"Ya, ngakunya aja dia seorang penulis. Tapi nyatanya, dia nggak mampukan membayar biaya treatment?, dengan pura-pura tidak mau menunggu?!," lanjut Ambar yang sedang tidur tengkurap dengan punggung nya penuh dengan lulur.
"Oh.. Tidak usah menunggu, Sarah. Biar aku yang melayani mu." ucap Siska yang sedang berdiri tengah pintu masuk ruangan itu.
"Siska!," panggil Sarah.
"Sekarang kamu bersiap-siap untuk naik keatas sana." ucap Siska sambil menunjuk kasur kecil yang di khususkan untuk treatment body spa.
"Baiklah, Sis." jawab Sarah sambil tersenyum, lalu ia berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan itu.
"Tunggu Siska!!!," teriak Ambar memanggil Siska yang tengah berjalan menuju Sarah yang sudah siap untuk melakukan perawatan tubuh.
"Iya, mbak Ambar?!," Siska pun membalikkan tubuhnya kearah Ambar.
"Aku mau kamu yang menangani ku." ucap Ambar.
"Bukankah mbak Ambar sudah ada yang menangani?, jadi satu orang cukup satu yang menanganinya, mbak." jawab Siska sambil tersenyum.
"Kamu menolak permintaan ku?!," Ambar pun terpancing emosi, karena penolakan dari Siska.
__ADS_1
"Bukan menolak, mbak Ambar. Tapi memang prosedur salon ini begitu, satu klien satu orang terapis." jawab Siska dengan senyum ramah.
"Kamu lupa aku siapa?!," ucap Ambar dengan suara yang terdengar emosi.
Siska pun menggelengkan kepalanya, karena Siska memang tak tau dia siapa. Yang ia tau dia adalah kakak ipar Veni. Karena memang pernah satu kali ia datang ke salonnya.
Siska langsung berjalan menuju Sarah yang sudah siap sedari tadi.
"Dasar kurang ajar!!!, ini suatu penghinaan besar yang di lakukan owner salon ini padaku!," gerutu Ambar dengan sangat jengkel.
Ambar segera mengambil handphone nya, untuk menghubungi Veni. Sengaja Ambar menelpon Veni, untuk mengadukan perlakuan Siska, yang tak lain adalah teman Veni itu.
Namun sayangnya, panggilan telepon yang ia lakukan tak ada respon dari Veni.
Kali ini Ambar benar-benar dibuat kesal oleh semua orang.
Lalu mau tak mau, Ambar pun menikmati treatment yang dilakukan oleh pegawai salon itu.
Begitu juga dengan Sarah, Ia benar-benar menikmati pijatan dari tangan Siska yang lembut dan sangat empuk itu.
"Sarah, apa kamu tau kalau Bima sudah keluar dari penjara?," pertanyaan dari Siska memecahkan keheningan ruangan treatment itu.
Sarah pun mengangguk kan kepalanya, ia tak bersuara karena ia tau kalau ada Ambar di samping nya yang juga sedang melakukan perawatan.
Sarah yakin kalau Ambar pasti mendengar apa yang di tanyakan oleh Siska.
Karena memang mereka berdua hanya di pisah kan oleh sehelai kain yang tak tembus pandang.
"Kamu tau?, siapa yang membuat Bima keluar dari penjara?," tanya Siska yang seperti sedang mengajak Sarah main tebak-tebakan.
Benar saja dugaan Sarah, ternyata dari balik kain yang menjadi pemisah dirinya dan Ambar. Ambar sudah memasang telinga untuk mendengarkan percakapan antara Sarah dan Siska.
Ambar benar-benar ingin tahu apa aja yang akan di bicarakan dua perempuan itu dari balik kelambu pemisah itu tentang adik laki-laki nya.
Sarah hanya menggelengkan kepala. Ia pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Bima.
"Asal kamu tau, Sarah. Yang mengeluarkan Bima dari dalam penjara itu Veni. Dengan uang tebusan lima puluh juta!," ucap Siska dengan sangat semangat untuk menceritakan yang ia tahu.
"Oh ya, Sis?, darimana kamu tahu?," tanya Sarah masih pura-pura tidak tahu.
"Kamu jangan mengada-ada, Siska. Nanti malah jadi fitnah dan kamu yang dosa." ucap Sarah memperingatkan Siska.
"Fitnah bagaimana, Sar?, aku tau semua ceritanya." jawab Siska.
Sarah percaya, Siska pasti tau semua cerita Veni dan Bima. Karena memang Siska adalah teman akrab Veni.
Dan Sarah tau, karena Veni sudah menceritakan semuanya pada Sarah, saat ia sering mengirim pesan pada Sarah sebagai penulis favorit nya.
Ambar semakin penasaran dengan pembicaraan yang tengah di lakukan oleh Sarah dan Siska.
__ADS_1
Ia terus siap memasang telinga untuk mendengarkan percakapan mereka. Sampai Ambar rela untuk tidak tidur saat pijatan-pijatan lembut memanjakan tubuhnya.