
Tin!!
Tin!!
Tin!!
"Pasti itu ojol yang mengantar makanan." gumam mas Bima sambil berdiri untuk berjalan kedepan melihat siapa yang datang.
"Biar Sarah aja, mas. Kamu duduk saja!," kali ini ku yang mengalah berdiri, karena takut ibu dan bapak marah kepada ku. Karena semua nya telah dikerjakan oleh mas Bima.
Benar!, ternyata itu ojek online yang mengantar makanan yang di pesan oleh mas Bima.
"Berapa totalnya, pak?," tanya ku setelah menjawab pertanyaan pak ojol tentang rumah pemesan.
"Semua seratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah, Bu," jawab ojek online itu dengan tersenyum yang merekah.
"Ini pak!, ambil kembalian nya." aku menyodorkan dua lembar pecahan seratus ribuan.
"Terimakasih banyak, Bu." dua lembar uang pecahan seratus ribuan di terima dengan senang hati oleh tukang ojek online itu.
Setelah makanan sudah diberikan pada ku, aku segera masuk dan langsung menuju dapur. Untuk menyiapkan makanan dan menghidangkan nya di atas meja makan.
"Yuk kita makan bersama," ajakku pada semuanya yang ada disini Tanpa terkecuali.
Ibu, bapak dan mas Bima pun berdiri dari duduknya, sedang Putri masih duduk di sofa dengan memainkan gawai nya.
"Ayo kita makan!," mas Bima terlihat menghampiri Putri yang masih sibuk dengan handphone nya.
"Nggak lapar." jawab Putri dengan jutek.
"Kamu kan belum makan, makan hanya tadi pagi saja. Kok bilang nggak lapar." ucap mas Bima dengan pelan.
"Iya...." jawab Putri lalu mengikuti mas Bima dari belakang.
Kita berlima makan bersama, kecuali Kean yang sudah tertidur pulas.
__ADS_1
"Bu, biar Kean malam ini nginap di sini ya?, karena mulai kemarin ia sangat ingin sekali tidur bersama ibu dan bapak." ucap ku sambil mengunyah makanan yang dipesan oleh mas Bima tadi.
"Iya, Sarah. Biarkan Kean tidur bersama ibu dan bapak mu. Kami juga sangat rindu padanya." jawab ibu dengan wajah yang bahagia.
Kini kami berlima telah selesai makan, dan aku segera berpamitan untuk pulang kepada ibu dan bapak.
Sampai dirumah wajah Putri masih cemberut dan terlihat sekali kalau ia sangat kesal. Entah siapa yang membuat nya kesal, sehingga sampai saat ini mood Putri sangat buruk.
Dengan sengaja Putri menutup pintu kamar dengan kuat, sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Dan membuat jantung ku kaget dengan suara pintu itu.
"Astaghfirullah....!," ucapku sambil mengelus dada.
"Lihat sikap anak mu, mas!!," kali ini aku berani bicara pada mas Bima tentang sikap Putri yang semakin lama semakin menjadi-jadi.
"Tidak sekali ini dia suka membanting pintu, ini sudah ia lakukan berkali-kali." lanjut ku. Karena ada perasaan kesal Putri. Dia pikir ini rumah ayah yang beli, sehingga tingkah laku nya seenaknya sendiri.
"Tegur lah dia, Sarah. Kan kamu sudah aku beri hak untuk mendidik Putri." ucap mas Bima.
"Bukan kah kamu tau sendiri, mas. Kalau aku yang nasehati dia, dia mana mau mendengar nya. Bukankah itu sudah aku lakukan berkali-kali?," ucapku.
"Mas, bukan hanya kewajiban ku. Tapi kewajiban kamu juga. Dan kamu jangan bilang kalau aku hanya diam di rumah saja. Disini aku juga bekerja loh!," ucapku dengan perasaan jengkel, karena mas Bima mengatakan aku hanya diam dirumah saja. Padahal yang dia makan sehari-hari itu adalah hasil dari keringat ku.
"Iya,, sayang. Mas Bima lupa, maafkan aku ya, Sarah." ucap mas Bima sambil memeluk ku.
Aku tak menjawab permintaan maaf mas Bima, karena selalu akan seperti ini. Dia akan bilang maaf, tapi ia selalu mengulang kesalahan nya, yang tak mau menasehati anak nya.
Aku pun pergi meninggalkan nya, aku masuk kedalam kamar dan ku rebahkan tubuhku. Karena seharian perjalanan pulang pergi ke kampung bapak cukup menguras tenaga.
Tak lama mas Bima mengikuti ku, dan ia juga merebahkan tubuhnya di belakang tubuhku. Dia memelukku dari belakang.
Ini sikap mas Bima yang membuat hati ku yang semula marah menjadi meleleh dan amarah itu hilang. Kini aku terlelap di dalam pelukan mas Bima.
...****************...
Seperti biasa, pagi ini kita berangkat ke tempat kerja masing-masing. Aku memang jarang sekali kerja diantar oleh mas Bima, karena jalan kita tak searah.
__ADS_1
Kalau mas Bima harus mengantarkan aku, dia kan menghabiskan waktu di perjalanan.
Jadi mas Bima hanya bisa mengantarkan Putri saja kesekolah. Dan aku yang mengantar Kean hari ini, karena semalam ia menginap di rumah ibu.
Setelah mobil mas Bima tak terlihat dari pandangan mata, aku segera masuk kedalam rumah. Karena malas sekali kalau harus bertatap muka dengan para tetangga yang julid dikomplek ini.
Setelah semua sudah siap dan taksi online sudah datang. Aku segera berangkat, kali ini aku tak langsung ke toko tapi aku mau menjemput Kean di rumah ibu untuk ku antar ke sekolah.
Sampai didepan rumah ibu, aku turun dari taksi. Namun ada hal yang membuat aku kaget. Di depan rumah ibu, tepatnya di depan taksi online yang aku naik tadi. Ada mobil mbak Veni yang terparkir disana.
"Bukankah ini mobil mbak Veni?," gumamku dalam hati.
Lalu tanpa ada pikiran apapun, aku masuk kedalam halaman rumah. Dan saat kulihat di teras rumah ada dua pasang sandal, aku yakin di dalam saat ini sedang ada tamu.
"Masa iya, mbak Veni bertamu kerumah ibu?," tanya ku dalam hati.
"Assalamualaikum," aku mengucapkan salam saat mau memasuki ruang tamu di rumah ibu.
"Waalaikumsalam," jawab ibu.
Dan betapa kagetnya aku, ternyata di ruang tamu saat ini sudah ada ibu mertua ku dan mbak Veni.
Dugaan ku saat ini benar, ternyata mobil yang terparkir di depan pintu halaman itu benar-benar milik mbak Veni.
"Ibu?," panggil ku pada ibu nya mas Bima.
"Ibu ngapain kesini?," tanya ku, karena jujur aku bingung dengan sikap ibu nya mas Bima. Ada tujuan apa dia datang kesini?
Aku hanya takut ia bicara sesuatu yang bisa menyakiti hati bapak dan ibu.
"Kenapa kamu tanya nya seperti itu?!, seakan-akan aku dilarang datang kesini!!," ucap ibu mas Bima dengan wajah juteknya.
"Nggak salah sih, Bu. Tapi sepertinya ini aneh aja." Jawab ku jujur.
"Masa aku datang kerumah yang di beli memakai uang anak ku di bilang aneh." ucap ibu dengan memandang sinis padaku.
__ADS_1
"Enak kamu ya,,, kedua orang tua mu di belikan rumah gedongan dan sangat mewah seperti ini oleh Bima!!," Ucap mama nya mas Bima dengan wajah yang penuh amarah.