
Jujur pertanyaan Sinta mengingat kan aku pada kejadian, dimana mbak Veni yang pura-pura kesurupan karena tak bisa membayar biaya perawatan waktu itu.
Tiba-tiba di pikiran ku muncul lagi kejadian itu, dan membuat ku semakin tertawa cekikikan sambil berjalan menuju meja pendaftaran.
"Hey, Sarah?!, yakin kamu baik-baik saja?," tanya Sinta dengan wajah cemas melihat ku.
"Tenang Sin, aku baik-baik saja kok. Cuma saat ini aku tak bisa menahan rasa ingin tertawa ku." jawab ku lalu aku pun kembali tertawa lagi dengan mulut aku tutup dengan telapak tangan kananku.
"Tapi kamu sangat menakutkan, Sarah?!." ucap Sinta dengan sangat kesal melihat ku hanya tertawa yang tak kunjung cerita tentang maksud tertawa ku ini.
"Astaghfirullah...." ucapku beristighfar sambil mengelus dadaku. Segera aku hentikan tertawa ku, lalu aku mengambil nafas sangat dalam dan segera aku hempas kan.
"Memang apa yang kamu lihat sih, Sar?. Kenapa sampai begitu kamu tertawa dan tidak seperti biasanya." ucap Sinta dengan menatap aneh pada wajah ku.
Aku pun mulai menceritakan apa yang awalnya membuat ku tertawa, sampai dengan akhir nya tertawa ku semakin menjadi-jadi.
Dan yang membuatku kaget adalah, setelah aku bercerita semuanya pada Sinta. Kini berganti Sinta yang tertawa cekikikan setelah mendengar ucapan ku tadi.
"Sekarang yang kesurupan sudah ganti orang," celetukku sambil melirik kearah Sinta yang tengah tertawa cekikikan.
"Dasar orang aneh!!," lanjutku.
Untung saja pengunjung saat ini sangat ramai, jadi tingkah laku kami tak begitu menjadi sorotan. Karena semua orang yang ada disini sudah sibuk dengan kepentingan masing-masing.
Lalu aku dan Sinta segera mendaftar untuk spa dan massage. Untung saja untuk spa tak begitu antri, jadi aku dan Sinta langsung di tangani saat itu juga.
"Sarah!!!," panggil seseorang dari belakang, dan suaranya sangat aku kenal.
Aku segera menoleh kebelakang, dan benar saja. Ternyata mbak Ambar memanggil ku.
"Ngapain kamu disini?!," tanya mbak Ambar dengan sangat ketus.
"Aku sedang mengantar temanku, mbak. Mbak Ambar sendiri, disini ngapain?," tanyaku dengan sangat ramah mengingat usianya jauh lebih tua dari ku.
"Yang jelas aku ke sini untuk perawatan!! Masa seperti kamu, ke sini hanya untuk mengantar temanmu yang perawatan. Ya memang tak bisa di pungkiri sih, pasti kamu tak punya uang ya untuk perawatan lagi, setelah dicerai oleh Bima adikku?!" ucap Mbak Ambar dengan tatapan penuh hinaan kepadaku.
"Ayo, mbak!," ajak mbak Veni pada mbak Ambar. Seperti mbak Veni tak melihat keberadaan ku, mungkin karena ia sibuk mendaftar paket perawatan yang mereka pilih.
Lalu mbak Veni berjalan ke mbak Ambar, dan tanpa sengaja mbak Veni pun akhirnya menatap ku yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengan mbak Ambar.
"Sarah?!!," mbak Veni memanggil namaku dengan mata melotot dan penuh emosi. Mbak Veni melihat ku, seperti melihat musuh bebuyutan nya. Atau mungkin aku ini memang di anggap musuh bebuyutan oleh mbak Veni?.
Ah... Terserah dia saja, itu urusan dia dengan hati nya. Kalau aku sih biasa aja menganggapnya. Aku tak mau terlalu membenci orang, karena benci berlebihan itu adalah awal dari penyakit hati.
"Ngapain kamu disini?!," tanya mbak Veni masih dengan matanya yang melotot.
"Sabar, Ven. Dia kesini hanya mengantarkan temannya. Mana mungkin sih dia punya uang?, dia kan baru di cerai oleh Bima." celetuk mbak Ambar.
"Ya kalau kita, selalu dimanjakan oleh suami kita dengan uang yang berlimpah." lanjut mbak Ambar.
"Seandainya kamu tau kelakuan suami mu di belakang mu, aku yakin kamu pasti pingsan di tempat, mbak." ucapku dalam hati.
"Iya, sih mbak. Dia nggak bakal punya uang karena sudah di cerai oleh Bima. Tapi kalau saat ini dia menjadi selingkuhan kakak dari mantan suami nya gimana?," ucap mbak Veni, memberi peluang mbak Ambar untuk berfikir yang macam-macam.
"Maksud nya?, memang si Sarah ini selingkuh dengan Awan suami mu?," tanya mbak Ambar yang terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh mbak Veni.
"Coba nak Ambar tanya sendiri pada perempuan ini." ucap mbak Veni sambil menunjuk ku.
"Untuk ibu Sinta dan ibu Sarah, silahkan masuk." Belum sempat mbak Ambar bertanya padaku, petugas salon memanggil ku dan Sinta. Karena tempat untuk treatment sudah selesai di tata.
Setelah mendengar panggilan dari petugas salon, Sinta langsung menarik tangan ku untuk segera masuk kedalam ruang treatment. Aku tahu pasti Sinta sengaja menarik tangan ku, untuk mengindari dua manusia monster itu.
"Sarah!! Tunggu!!," panggil mbak Ambar padaku.
Aku pun tak menghiraukan panggilan nya, karena Sinta terus menarik tangan ku sampai masuk ke dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Duh, aku heran deh dengan hidup mu, Sar." ucap Sinta sambil memegang kepala nya.
"Memang kenapa sih, Sin?, apa ada yang salah dengan ku?," tanya ku yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Sinta.
"Kenapa di hidup mu penuh dengan orang-orang toxic seperti mereka sih?. Padahal kamu itu orang nya baik loh!," Sinta kembali memegang kepala nya dengan keadaan tangan.
"Aku baik di mata orang yang memang menyukaiku, Sin. Kalau mereka tidak menyukai ku, pasti aku terlihat sangat jahat, walau aku sudah melakukan seribu kebaikan sekalipun." jawabku.
Lalu aku dan Sinta memulai perawatan yang sudah kami berdua pilih. Aku sangat menikmati pijatan-pijatan halus dari tangan pegawai salon itu. Tak terasa aku pun tertidur, mungkin karena tubuh dan pikiran ini sangat capek. Sehingga dengan mudah aku tertidur disini.
Drrrttttt
Drrrttttt
Getaran handphone yang ada di genggaman tangan ku, yang membuat ku terbangun dari tidurku yang singkat ini, namun sudah membuat badan dan pikiran ku menjadi lebih fresh lagi.
Ternyata saat kulihat ada notifikasi pesan masuk, dan saat aku lihat nomor yang mengirim pesan kepadaku adalah nomor baru.
Ada rasa malas mau membuka dan membaca pesan itu, takut seperti sebelum-sebelumnya. Takut orang yang sama yang sering sekali mengirimkan pesan tidak jelas kepada ku.
Lalu aku pun tak membukanya, kutaruh lagi handphone ku di samping tangan ku.
Kembali ku pejamkan mata, namun sudah tak bisa lagi untuk tidur seperti tadi.
Saat aku menoleh kearah Sinta, yang melakukan perawatan sama dengan ku. Ternyata ia juga tertidur sangat pulas.
Aku mencoba lagi untuk memejamkan mata, tapi masih belum bisa tertidur pulas seperti tadi.
Apa mungkin aku kepikiran dengan isi pesan dari nomor baru itu?
Akhirnya aku pun memutuskan untuk membuka pesan itu, kalau pun itu pesan dari orang-orang yang iseng. Aku akan segera memblokir nomor nya.
"Assalamualaikum, ibu Sarah. Ini dari platform novel online tempat ibu menghasilkan karya. Selamat novel ibu mendapatkan apresiasi dari kamu sebagai novel terbaik. Maka dari itu, platform kami bekerja sama dengan penerbit untuk mencetak novel online ibu, menjadi sebuah buku yang bisa diperjual belikan. Dan kabar baik berikutnya adalah novel ibu di lirik oleh sutradara film. Untuk di jadikan film layar lebar. Demikian pemberitahuan dari platform novel online kami. Untuk informasi lebih lanjut, ibu ibu bisa melihat nya di platform novel online ini."
Karena novel online, aku bisa hidup selayaknya di kota ini. Yang notabene nya aku orang kampung, dan tak punya apa-apa disini. Yang dulunya hidup hanya menumpang di keluarga mantan suami.
Segera aku membuka platform yang sudah memberikan kehidupan yang layak untuk ku, anak ku dan keluarga ku.
Dan ternyata benar, salah satu novel ku terpilih masuk di bagian penerbitan bersama empat novel karya author lain.
Sungguh kebahagiaan yang sulit untuk aku berkata-kata. Dan terasa air mata bahagia dan hari pun menetes membasahi pipi.
"Ya Allah terima kasih untuk kenikmatan yang engkau berikan ini." gumamku dalam hati.
Tak lama kemudian, nomor ku pun di masukkan kedalam group bimbingan.
Hati semakin berdebar, rasa tak percaya menyelimuti perasaan ini.
Kenapa novel ku yang terpilih? Padahal banyak penulis yang Famous dengan karya yang sangat baik.
Namun kembali lagi, yang namanya rejeki tak akan pernah tertukar.
Dan mungkin ini sudah menjadi rejeki untuk ku dan keluarga ku.
"Selesai, Bu." ucap pegawai salon itu. Tak terasa waktu dua jam seperti sangat cepat saja. Mungkin karena perasaan ku yang saat ini sedang bahagia.
Akhirnya aku dan Sinta segera memakai pakaian masing-masing.
"Kamu kenapa, Sarah?," tanya Sinta memandang aneh pada wajah ku.
"Emang kenapa, Sin?," tanya ku balik dengan memegang wajah dengan kedua tangan ku. Karena tatapan aneh Sinta membuat ku tak percaya diri dengan wajah ku.
"Kenapa kamu terlihat seperti sangat bahagia?," tanya Sinta dengan menautkan alisnya.
"Ah.. Mungkin itu aura kecantikan ku setelah message tadi keluar." jawabku dengan bercanda.
__ADS_1
"Ih... Kamu ini nggak jelas banget sih!!, Jujur deh ada apa?, tak seperti biasanya wajahmu seperti ini." ucap Sinta tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
Aku rasa Sinta termasuk orang yang sangat peka dengan perubahan perasaan ku. Mungkin karena dari kecil kita selalu bersama, jadi chemistry yang kita miliki sangat kuat.
"Kamu itu ya, kepo aja!!," jawab ku menggoda Sinta.
"Awas kamu ya, kalau kamu tak mau cerita. Aku tak akan membayar tagihan perawatan mu!!," Ancam Sinta.
"Bukan kamu tengah di tinggal suamimu yang kaya raya itu?, jadi mana mampu kamu bayar ini semua." canda Sinta menirukan kata-kata mbak Ambar dan mbak Veni tadi.
Lalu kami berdua pun tertawa terbahak-bahak bersama.
Setelah selesai memakai baju, aku dan Sinta keluar dari ruangan ini menuju ruang treatment lain. Kali ini kami berdua akan menjalani treatment untuk mengencangkan kulit wajah.
Dan memang sudah menjadi takdir Allah, diruang ini ternyata ada mbak Ambar dan mbak Veni yang sedang melakukan perawatan wajah juga.
Ku tarik nafas dalam-dalam, dan ku buang dengan sangat kasar. Untuk mengambil ancang-ancang akan terjadi hal-hal yang tak di inginkan.
"Kamu yakin ingin masuk kesini?," tanya Sinta, seperti tau apa yang aku rasakan saat ini.
"Kalau kamu malas bertemu dengan mereka, lebih baik kita mencari treatment lain saja dulu." usul Sinta.
Menurut ku sih benar apa yang di usulkan oleh Sinta. Karena kewarasan hati dan jiwaku sangat penting.
Aku pun memutuskan untuk tak jadi masuk ke ruangan itu. Bukan karena aku takut pada mereka, namun menghindari keributan dan mencari ketenangan hati dan pikiran, seperti nya itu yang lebih penting untuk diriku saat ini.
Kini aku dan Sinta masuk keruangan untuk perawatan rambut. Aku ingin sekali hair mask, untuk memberi nutrisi pada rambut ku. Walau rambut tertutup dengan jilbab, tapi tetap rambut juga butuh vitamin dan nutrisi agar tetap sehat.
Aku pun duduk bersebelahan dengan Sinta, dan dengan di tangani orang-orang yang berkompeten di bidangnya.
Sehingga menghasilkan rasa pijatan yang sangat enak sekali di kulit kepala.
Recommended banget sih menurut ku salon milik Siska ini. Nggak salah Sinta mengajak ku perawatan disini. Ya walau harga nya pun terbilang lumayan, tapi itu setara dengan apa yang di rasakan oleh pelanggan. Itu menurut ku sih.
"Sarah!!, yakin kamu tak mau bercerita tentang apa yang sedang kamu alami sekarang ini, sehingga terpancar kebahagiaan di wajahmu?," tanya Sinta lagi dengan melihat majalah yang saat ini ada di pangkuan nya.
"Sebegitu penasaran nya kah kamu, Sin?," tanyaku menggoda Sinta, yang sudah menjadi sahabat korep ku mulai kita kecil.
"Ya sudah kalau kamu tak mau bercerita , aku nggak maksa kok." Jawabnya dengan wajah marah padaku.
Aku pun tertawa saat melihat ekspresi wajah Sinta yang marah padaku.
"Biarkan saja aku mati karena penasaran." lanjutnya.
"Jangan kamu mati dulu sebelum aku sukses, Sin." ucapku sambil tersenyum padanya.
"Trus kamu menyuruh ku mati setelah kamu sukses?, gitu?, Gila aja kamu!!." ekspresi wajah marah Sinta membuat ku semakin tertawa cekikikan.
"Jangan-jangan, kamu jangan mati. Aku ingin kamu melihat ku sukses dan bahagia selama nya. Dan satu lagi, aku juga ingin melihat mu menikah lalu punya anak dan keluarga yang bahagia." pinta ku pada Sinta.
"Banyak banget keinginan mu, Sarah?!." celetuk Sinta.
"Biarkan saja, bukankah Allah itu baik. Aku yakin Allah akan mengabulkan setiap keinginan ku." ucapku penuh percaya diri.
"Sekarang cepat ceritakan apa yang terjadi pada kamu setelah di message tadi?!," ternyata Sinta masih kekeh ingin tahu yang terjadi pada diriku tadi.
"Ini...," aku sodorkan handphone ku, yang berisi pesan singkat dari platform novel online yang aku naungi itu.
"Ini apa?!," tanya Sinta terlihat kebingungan saat aku sodor handphone padanya.
"Ini ambil, lihat lalu dibaca!." ucapku memberi arahan pada Sinta.
Dia pun segera mengambil handphone yang ada di tangan ku, lalu mengikuti semua arahan yang ku ucapkan tadi.
Terlihat sekali ia sangat seksama saat membaca pesan yang di kirim oleh platform novel online ku.
__ADS_1