
"Andin.... Andin...." Aku berteriak memanggil sekertaris ku, saat aku melihat barang-barang ku sudah berada di luar ruangan kerja ku.
Walau aku sudah berteriak, tapi Andin sama sekali tak muncul.
Lalu aku berjalan menuju ruangannya, dan ternyata ia tak ada diruangan nya.
"Apa-apaan ini?, siapa yang melakukan ini semua?!," Aku berjalan kembali menuju depan ruangan ku.
Aku melihat semua barang ku yang ada didalam ruangan ini dikeluarkan tanpa kecuali.
Dengan sangat penasaran aku masuk kedalam ruangan ku ini. Dan ternyata kulihat Andin berada di dalam ruangan ini.
"Andin!!!!, ternyata kamu disini?!!!, coba sekarang kamu jelaskan maksud semua ini?!!," Saat ini emosi ku sudah sampai di ubun-ubun.
Karena kesal dengan tingkah laku Andin yang seperti mengabaikan ucapan ku.
Aku lihat ia sendiri disini, seperti sedang membersihkan sisa barang-barang ku.
"Andiiiiiiiiinnn.....!!!!! kenapa kamu diam saja?!!! jawab pertanyaan ku!!!," aku berjalan menuju Andin yang tengah berdiri.
Namun apa yang aku lihat?
"Papi?!!," ucap ku kaget melihat Pak Handoko suami ku ternyata juga ada didalam.
"Ngapain dia disini?, bukan kah kata mbok sumi ia sekarang ke Singapura?," Gumam ku salam hati.
"Papi? Kenapa papi ada disini? bukan kah papi ke ....."
"Kemana? Ke Singapura?," Belum aku selesai kan ucapku, dia sudah memotong dengan pertanyaan.
Dan kulihat suami ku memberi isyarat pada Andin untuk keluar dari ruangan ini. Dan Andin menganggukkan kepala pada kita seperti berpamitan.
"Papi, ini ada apa? kenapa papi mengeluarkan semua barang-barang ku? Apa mau papi ganti semua dengan yang baru?," tanyaku, Aku tak punya pikiran buruk apa-apa pada dia.
__ADS_1
"Menurut ku sih ini masih sangat layak untuk di pakai, jadi mendingan pakai yang lama aja, Pi. Biar tak menambah pengeluaran tak terduga pada perusahaan." Ucap ku sambil berjalan menuju suamiku yang berada di belakang meja kerja ku.
Bukan jawaban yang aku terima, tapi senyum getir yang aku lihat menghiasi wajah nya.
Aku yang melihat ada hal yang tak seperti biasanya pada suami ku itu.
"Papi kenapa?, Apa papi punya masalah?," tanya ku penuh perhatian pada suami pertama ku yang usia nya sangat jauh berbeda dengan ku.
Namun lagi aku melihat ada senyum yang tak biasa di wajah nya. Lalu ia menyodorkan laptop pada ku, yang saat ini aku sedang duduk berhadapan dengan nya.
Laptop itu dihadapkan padaku, lalu ia memutar sebuah video.
Dan betapa terkejutnya aku melihat video itu, mata dan mulut ku membulat bersamaan. Dan seketika ku tutup mulut ku dengan telapak tangan kanan ku.
Tubuh ku terasa lemas, kaki terasa gemetar tak kuat menopang tubuh ku ini.
"Ada apa ini?, kenapa si tua Bangka ini mempunyai video itu?," gumamku dalam hati. Walau aku berani berucap seperti itu dihati, sebenarnya aku sangat takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kenapa kamu terkejut melihat video itu?," ucapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi apa-apa.
Lagi tak ku dengar perkataan nya, tapi yang kulihat adalah senyum penuh arti yang ia beri pada ku.
Pak Handoko memberitahu aku semua foto dan video syur milik ku bersama Damar. Dan yang aku tak habis pikir dari mana ia dapat ini semua.
Dan aku tak bisa mengelak lagi, saat aku melihat video akad nikah ku dengan Damar.
"Bukan kan setiap tamu yang datang waktu itu, tidak ada satu pun yang membawa handphone?," ucapku dalam hati.
"Mau beralasan apa kamu setelah melihat video itu?," tanya pak Handoko sambil menunjuk laptop yang sedang memutar video Bianca dan Damar melangsungkan pernikahan.
"Apa benar yang kamu katakan kalau ada yang mau menjebak mu?," kali ini senyumnya sangat sinis kepada dan itu sangat menakutkan.
"Tapi, Pi... Aku bisa menjelaskan semuanya." jawabku masih mencoba membela diri. Tak mungkin rumah tangga ku akan berakhir seperti ini dengan pak Handoko.
__ADS_1
Aku tak ingin berakhir seperti ini, kalau ini berakhir sekarang bisa jadi aku tak akan mendapatkan apapun.
"Sebenarnya video itu hanya pura-pura, Pi. Dan lelaki yang ada di video itu adalah saudara dari teman ku Pi. Ibu nya sakit keras, dan ibu nya ingin sekali anak nya menikah. Pacar anak nya masih belum siap untuk menikah dengan nya. Akhirnya temanku meminta tolong pada ku untuk berpura-pura menikah dengan lelaki itu." Aku beralasan panjang kali lebar, dan Semoga saja pak Handoko mempercayai ku.
Aku tak sanggup kalau aku harus cerai darinya. Aku tak mau hidup susah, aku tak mau jadi gembel, aku tak mau hidup tanpa barang-barang branded. Pokok nya aku tak mau tak mau tak mauuuu........
"Kamu yakin aku akan percaya dengan semua ucapan mu setelah melihat ini semua?,"
"Apa kamu menyepelekan ku? Dan apa kamu lupa kalau aku bisa melakukan apapun?,"
"Jadi tak usah banyak kata, lebih baik kamu pergi sekarang dari sini!!! kapak perlu bawa semua barang-barang mu itu!!! Aku tak ingin disini ada bekas barang mu!!,"
Sungguh dunia ku terasa gelap saat mendengar pak Handoko yang saat ini masih berstatus suami ku mengusir ku.
"Tapi Pi, apa salah ku?, Sehingga kamu mengusir ku seperti ini?," tanya ku, aku masih berharap ia merubah keputusan nya.
"Udahlah, jangan kamu tambah membuat malu dirimu sendiri dengan bertanya apa salah mu!!! Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!! Karena aku jijik melihat perempuan murahan seperti mu!,"
"Kalau kamu tak mau mengangkat kaki mu dari sini, aku akan memanggil sekuriti untuk menyeret mu keluar!!!,"
Ini yang aku takutkan, kalau dia sudah marah. Pasti hatinya sangat sulit untuk di lunakan lagi.
Jadi sebelum ia semakin marah, aku memutuskan untuk pergi dari sini. Dan besok-besok kalau hatinya sudah tenang aku akan kembali lagi padanya. Karena aku masih sah menjadi istrinya. Tak ada talak yang aku dengar saat ini.
Aku berjalan keluar dari ruangan ini, dan saat aku melewati tumpukan barang-barang ku, aku hanya bisa melihat nya. Karena tak mungkin aku membawanya sekarang.
Aku berjalan menuju parkiran, banyak pasang mata yang melihat ku. Mungkin mereka sudah diberitahu oleh pak Handoko tentang skandal'ku di video itu.
Bukan hanya tatapan sinis padaku, semua orang terlihat saling berbisik-bisik sambil melihat ku.
Ah... rasanya aku sudah tak ada harga diri lagi didepan mereka. Aku yakin kalau aku masih tetap jadi atasan nya, pasti mereka tak akan punya rasa hormat padaku.
Aku terus berjalan sampai diparkiran mobil, dan segera ku lajukan mobil ini dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Tujuan ku saat ini adalah rumah Damar. Dan aku berencana tak akan bilang masalah ini pada Damar, takut ia merasa aku bohongi nanti. Dan akan mengusir ku juga.