
"Siapa yang telpon , mas?," tanya Veni pada Teguh yang kini kembali mendekat pada Veni.
"Biasa, relasi bisnis." jawab Teguh dengan santai nya berbohong pada Veni.
Bukan Teguh tak ingin memberi uang lagi pada Lidya, tapi untuk saat ini uang Teguh memang sudah habis untuk membayar tas milik Veni.
Mereka berdua masih menikmati jalan-jalannya sambil terus melihat barang-barang branded. Hati Veni sangat bahagia, karena ia mendapatkan perhatian lebih dari seorang lelaki.
Awan dan Bima tak sebegitu perhatian seperti Teguh. Awan dan Bima itu hampir sama. Menurut Veni, Awan dan Bima akan baik dan perhatian padanya kalau mereka ada butuhnya saja.
Berbeda sekali dengan Teguh, ia benar-benar penuh perhatian. Sehingga hati Veni sangat nyaman lama-lama bersama Teguh.
Tiba-tiba suara handphone Veni yang ada didalam tas berbunyi. Saat dilihat, panggilan telepon dari Ambar.
Veni pun langsung menolak panggilan itu, lalu ia mematikan handphone nya. Veni benar-benar tidak ingin di ganggu oleh siapapun, termasuk mertua nya, apalagi Ambar. Membuat mood nya hancur, saat membaca nama Ambar.
"Kenapa nggak diangkat, Ven?," tanya Teguh.
"Tidak begitu penting, mas." jawab Ambar sambil tersenyum manis pada Teguh. Teguh pun membalas senyuman Veni. Lalu mereka melanjutkan jalan-jalan memutari isi mall ini.
Beda dari Teguh dan Veni, kini Ambar, Laras dan Lidya menjalani hukuman nya. Yaitu mengepel lantai dasar mall itu.
Dengan rasa terpaksa mereka bertiga melakukan itu semua.
"Veni kemana sih, Mbar?," tanya Laras dengan alisnya bertaut, yang merasa jengkel kepada Veni. Karena Veni tak mau bertanggung jawab atas dirinya dan Ambar.
"Tadi panggilan ku di tolak, Bu. Dan sekarang handphone nya tidak bisa dihubungi." jawab Ambar.
"Kurang ajar si Veni, dia main tinggal saja!!, harusnya ia bertanggung jawab tentang ini semua. Karena dia yang mengajak kita kesini." Laras sangat emosi pada Veni.
Menurut Laras, gara-gara Veni mengajak nya kesini. Akhirnya ia kena hukuman seperti itu.
__ADS_1
"Hey, nenek tua!!!, jangan marah-marah terus!!!, cepat kerjakan, biar kita cepat pulang!!," teriak Lidya, yang melihat Laras sedang mengobrol dengan Ambar.
"Diam kamu!!!, kamu aja yang ngerjain sendiri. Aku tidak terbiasa dengan hal ini!!!," jawab Laras sambil berteriak pada Lidya dan membanting alat pel yang di pegangnya.
"Enak saja, aku di hukum begini itu karena kamu!!!, kok sekarang kamu yang nyuruh-nyuruh aku!!," Lidya menunjuk-nunjuk Laras dan bergantian dengan Ambar.
"Kamu semakin kurang ajar ya!!!, orang tua kamu tunjuk-tunjuk!!!, apa kamu tidak pernah diajari sopan satun sama orang tua mu!!," Laras berkacak pinggang.
"Aku yakin orang tua nya juga gila seperti dia, Bu!!, Sukanya teriak-teriak!!!," sahut Ambar sambil melirik sinis pada Lidya.
"Hey!!!, jaga ucapan mu ya!!!, jangan sekali-kali kamu menghina ibuku. Ibu ku tidak gilaaaa!!!," teriak Lidya dengan air mata nya mengalir di pipi. Dan Lidya pun berlari menuju Ambar, lagi-lagi Lidya menarik rambut Ambar.
"Auw...," teriak Ambar kesakitan.
"Lepas tangan mu!!!," Laras berusaha membatu Ambar melepas cengkraman tangan Lidya di rambut Ambar.
Ambar semakin menjerit kesakitan, karena cengkraman tangan Lidya semakin keras. Semakin Laras mencoba melepas tangan Lidya, semakin keras juga Lidya mencengkram rambut Ambar.
"Lepaskan!!!," teriak Ambar yang memang sangat kesakitan dengan cengkeraman tangan Lidya.
Dengan sedikit keras, Lidya mendorong kepala Ambar. Lalu Lidya melepaskan cengkraman tangan nya yang melekat di rambut Ambar.
"Auw..." pekik Ambar yang tubuhnya ikut sedikit menghempas, akibat dorongan dari Lidya.
Lidya pun meninggalkan Ambar yang saat ini sedang kesakitan yang ditemani oleh Laras ibu nya.
Lidya berjalan membelakangi mereka berdua, untuk kembali melaksanakan hukuman nya.
"Dasar, anak orang gila!!!," umpat Ambar yang masih sakit hati dengan apa yang sudah dilakukan oleh Lidya pada nya.
"Kalau bukan anak orang gila dan bapak seorang preman pasar, aku yakin dia tak akan Spikopat seperti itu." Ambar melanjutkan umpatan nya.
__ADS_1
Lidya yang mendengar apa yang di katakan oleh Ambar. Ia langsung menghentikan langkahnya dan mengepalkan kedua tangannya.
Dan Lidya membalikkan tubuhnya, menghadap kearah Ambar yang sedang mengadu kesakitan pada Laras.
Dengan langkah cepat, kini Lidya sudah berdiri di depan Laras dan Ambar. Mereka berdua tak menyadari kedatangan Lidya. Tanpa banyak kata dan banyak bicara, bogem mentah mendarat sempurna di wajah Ambar.
"Auw..." teriak Ambar, seketika tubuhnya roboh kebelakang. Akibat kerasnya tinjuan tangan Lidya.
Pojok bibir Ambar pun keluar sedikit darah. Laras yang melihat anaknya sedang terkapar itu pun, dengan refleks menjambak rambut panjang sebahu milik Lidya.
Laras mengamuk seperti orang yang sedang kesetanan, sehingga Lidya pun tak mampu membalas apa yang telah di lakukan Laras pada nya. Ambar yang melihat itu pun, langsung bangun dari duduknya. Ambar langsung ikut menyerang Lidya.
Ambar tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya. Menurut Ambar, ini lah saat yang tepat ia balas dendam pada perempuan yang sudah berkali-kali menganiaya nya.
Keributan tak bisa di hindarkan, kini mereka bertiga kembali ribut di di tempat yang sama. Dan lagi-lagi menjadi tontonan para pengunjung mall itu.
Satpam kembali memisah mereka bertiga. Kali ini tindakan tegas dari satpam dilakukan. Sehingga mereka bertiga menghentikan aksinya.
Hukuman tetap hukuman, jadi mereka bertiga tetap harus menjalankan hukuman itu.
Namun bedanya, kali ini tempat mereka di pisah. Ambar dan Laras di hukum untuk membersihkan toilet. Dan Lidya membersihkan lantai yang saat ini mereka pakai untuk bergulat.
Awalnya Laras dan Ambar menolak dengan hukuman yang mereka dapat. Mereka merasa kalau itu tidak adil untuk mereka. Karena disini yang salah menurut Ambar dan Laras adalah Lidya.
Namun keputusan yang sudah di buat oleh kepala keamanan mall, sudah tidak bisa di ganggu gugat. Dan Akhirnya mereka, mau tak mau harus mengerjakan apa yang sudah di putuskan oleh kepala keamanan itu.
Ambar dan Laras berjalan dengan membawa ember dan alat pel menuju toilet. Banyak mata yang memandang ke arah mereka berdua dan itu membuat risih Laras.
"Apa yang kalian lihat?!!," ucap garang Laras pada pengunjung mall yang sedang melihat nya berjalan membawa ember dan alat pel.
Seketika mereka membubarkan diri, mereka takut dengan keselamatan nya. Karena menurut mereka, Laras bisa lebih garang dari itu dengan menyakiti para pengunjung lain yang sedang melihat nya.
__ADS_1
Sedangkan Lidya, kembali mengepel lantai, dimana ia mengepel tadi. Ia tak memperdulikan tatapan dan cibiran orang padanya. Kini ia fokus pada hukuman nya, agar segera selesai dan segera pulang kerumahnya. Rasa capek tubuh nya meminta untuk segera di istirahat kan.