
"Sekarang kalian mencoba mencari solusinya, berunding bagaimana enaknya. Saya tinggal dulu." ucap kepala keamanan sambil berdiri dan meninggalkan mereka berempat di dalam ruangan itu.
"Sarah....," panggil Laras dengan suara yang lembut. Kali ini tak ada urat nadi yang timbul di leher Laras saat memanggil Sarah. Tidak seperti biasanya, yang selalu dengan suara yang keras sampai otot lehernya keluar.
Sarah yang mendengar suara Laras yang memanggil nya itu sangat aneh. Karena rasanya suara seperti itu sangat asing di telinga Sarah.
"Bu, kenapa ibu memanggil Sarah seperti itu, sih?!," bisik Ambar yang juga merasa ada yang aneh pada sikap ibu nya yang tiba-tiba berubah.
Namun Laras tak menghiraukan dan tak menjawab bisikan dari Ambar.
"Ada apa, Bu?," tanya Sarah dengan sangat datar. Wajahnya pun sangat datar saat bertanya maksud Laras memanggilnya.
"Ibu tau, kalau kamu pasti tidak akan tega membiarkan ibu ini melakukan hukuman yang sudah di tetapkan oleh pak security ini." ucap Laras dengan wajah memelas.
"Lantas?," tanya Sarah singkat. Walau dia sudah tau jawabannya, yaitu sudah di pastikan Laras akan meminta uang padanya.
"Aku tau, selama ini sikap ku memang salah padamu, Sarah. Selalu membanding-bandingkan kamu dengan Veni dan Ambar. Tapi ibu tau, kalau kamu itu sebenarnya sangat baik." ucap Laras dengan mimik wajah yang memelas.
"Lalu?," tanya Sarah lagi dengan tatapan mata yang sangat datar. Sarah sangat tau isi hati mertuanya itu, yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
"Ibu mau kamu membantu kami untuk membayar uang itu, nak Sarah." Laras merayu Sarah dengan suara yang memelas.
"Hah??, sangat terlihat sekali kalau ibu nya mas Bima ini baik kalau ada mau nya saja." ucap Sarah dalam hati.
"Mbak Sarah, memang mbak Sarah kenal dengan mereka?," tanya Lidya pada Sarah, karena Lidya melihatnya sangat aneh sekali. Setelah tadi mencaci maki dan menghina Sarah, kini Laras memohon pada Sarah untuk menolong nya.
Sarah hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Lidya, tak penting juga Lidya tau tentang masalah pribadi nya.
__ADS_1
"Asal kamu tahu!!, Sarah itu menantu ku!!," bukan Sarah yang menjawab, tapi Laras lah yang menjawab dengan rasa bangga.
Laras sengaja membanggakan Sarah, karena hanya Sarah lah satu-satunya orang yang saat ini bisa membantunya.
"Hah??, bener mbak??, bener dia adalah mertua mu?!," tanya Lidya dengan kaget, ia sangat ingin tahu, kebenaran yang di ucap perempuan paruh baya itu.
Sarah pun membuang nafas besar dengan kasar, sebenarnya ia tak ingin kehidupan rumah tangga nya terlalu di publish. Karena Sarah sangat malu dengan kegagalan untuk kedua kali nya dalam membina rumah tangga.
Dengan berat hati, Sarah pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Laras pada Lidya tadi.
"Jadi yang di katakan perempuan itu benar, mbak?," tanya Lidya.
"Malang sekali nasib mu, mbak. Dapat mertua dan ipar yang seperti mereka." ucap Lidya sambil melirik ke arah Laras dan Ambar.
Seperti nya dengan tiba-tiba Lidya jadi lupa ingatan. Lidya lupa kalau dirinya selama jadi saudara ipar Sarah juga sangat kejam dan sangat jahat pada Sarah.
"Suami ku tak bisa datang, mbak. Tiba-tiba bos nya menelpon nya, jadi mau nggak mau dia harus kembali ke kantor." jawab Lidya, setelah membaca pesan singkat dari Teguh.
"Aku rasa, kamu bisa menyelesaikan masalah mu sendiri Lid. Karena hari sudah sore, aku harus segera kembali ke outlet." pamit Sarah.
"Tapi mbak, aku mohon temani aku disini." rengek Lidya sambil memegang tangan Sarah.
Laras yang melihat tingkah manja Lidya pada Sarah itu langsung mencebikkan bibirnya.
Sarah jadi serba salah, ia juga tak tega kalau harus meninggalkan Lidya sendiri disini. Namun bagaimana pun juga, Sarah harus segera pergi dari tempat itu. Karena masih banyak urusan yang harus di kerjakan oleh Sarah.
"Sarah,,,,kamu mau kan menolong ibu dan mbak mu untuk kali ini saja?," Laras masih terus berusaha untuk mendapatkan kepastian jawaban dari Sarah.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Aku hanya orang kampung, darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sekejap." jawab Sarah dengan halus dan merendahkan diri, tapi tetap pasti nylekit di hati Laras.
"Maksud mu?!, kamu menolak permintaan tolong ku, Sarah?!," suara lembut Laras kini berubah menjadi suara yang sangat keras seperti biasanya. Yang awalnya berubah menjadi malaikat, kini berubah lagi menjadi Iblis lagi. Namun kali ini iblis yang lebih jahat lagi dari yang pertama.
"Begitu balasan mu padaku?!, Selama kamu menjadi menantu ku, kapan kamu pernah menyenangkan hati ku sebagai mertua mu!!," Laras benar-benar sangat marah pada Sarah. Matanya melotot, nafasnya menggebu-gebu seperti singa akan menerkam mangsa nya.
"Kenapa kamu bisa bersikap baik pada perempuan ini yang hanya orang lain untuk mu,dan kamu tak bisa membantu kami yang tak lain kami ini mertua dan ipar mu?!!," lanjut Laras semakin emosi.
"Wow, kenapa tiba-tiba berubah drastis seperti ini?," gumam Lidya saat melihat Laras marah-marah pada Sarah.
"Dari yang lemah lembut menjadi ganas seperti ini," lanjut Lidya.
"Sudahlah jangan memperpanjang masalah ini, aku tak ingin menambah keributan lagi," ucap Sarah sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Dan kamu Lidya, maaf aku tak bisa berlama-lama disini. Karena sebenarnya urusan mu bukan urusan ku lagi. Dan asal kamu tau, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Namun karena hal ini, semua nya jadi ke pending." ucap Sarah tegas. Sarah sangat malas berhubungan dengan mereka lagi.
Kali ini Sarah melangkahkan kaki nya untuk keluar dari ruangan yang tak luas itu. Ruangan yang panas dan lumayan pengap.
"Mbak, mbak Sarah... Lidya mohon temani Lidya disini. Lidya tak mau di makan oleh dua singa betina ini." rengek Lidya. Namun langkah Sarah sudah mantap untuk meninggalkan mereka bertiga.
Kini Sarah kembali ke outlet nya, ia ingin segera pulang. Karena ia sudah terlalu lama di sini. Sarah takut keduluan Kean dan kedua orang tuanya pulang kerumah.
Karena hari ini mereka pulang dari liburan di kampung halaman nya.
Namun saat langkah kaki ini memasuki pintu outlet nya, betapa kagetnya Sarah saat melihat Veni sedang duduk bersama dengan seorang lelaki. Di lihat dari belakang, bukan postur tubuh mas Awan. Tapi, Sarah juga sangat familiar dengan postur tubuh lelaki yang bersama Veni saat ini.
Duh.... siapa lagi lelaki itu🤭🤭🤭
__ADS_1