
"Pak, bisa sedikit agak kenceng?!," perintah Sarah, yang memang hatinya sangat tidak tenang. Ia ingin sekali segera bertemu dengan Kean anak semata wayangnya.
"Maaf, Bu. Ini sudah sangat kencang." jawab pak supir itu, karena memang laju taksi ini sudah berada di atas rata-rata.
"Tapi pak, aku harus sampai di tempat itu dengan tepat. Karena ini menyangkut keselamatan anak ku." ucap Sarah dengan penuh kekhawatiran.
"Sabar, Bu Ini sudah saya usahakan. Dan jangan lupa banyak-banyak berdzikir dan meminta pada Allah atas keselamatan anak ibu." Supir taksi itu menasehati Sarah, agar ia tak terlalu khawatir.
Sarah pun langsung melantunkan kalimat dzikir dari dalam hatinya. Berkali-kali juga ia meminta dan memohon pada Sang Khalik untuk keselamatan Kean.
Dan suara handphone Sarah pun berbunyi, memecahkan kesunyian yang ada di dalam taksi itu.
Sarah pun segera mengambil handphone nya dari dalam tas selempang miliknya.
"Bapak?," gumam Sarah saat melihat nama orang yang saat ini menelponnya.
"Assalamualaikum, pak." sapa Sarah saat ia selesai menggeser tombol warna hijau di layar handphone nya.
"Waalaikumsalam. Sarah!! Gawat Sarah!!," ucap bapaknya Sarah, suara nya terdengar seperti ketakutan dan sangat panik.
"Ada apa pak?, kenapa kok gawat?," tanya Sarah dengan perasaan khawatir.
"Sarah, Kean tak ada di sekolah. Ini semua salah bapak, karena bapak telat menjemput nya." suara bapaknya Sarah terdengar sangat ketakutan. Ia menyalahkan diri nya atas kelalaian menjemput Kean.
"Bapak, bapak tenang ya. Ini bukan salah bapak, ini semua salah Sarah." Sarah mencoba menenangkan hati bapaknya, karena ia tak mau terlalu memikirkan Kean dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Sarah yang salah, Sarah lupa tak memberi kabar pada bapak kalau Sarah sudah menjemput Kean dari sekolah." Sarah terpaksa berbohong pada bapak nya, agar bapaknya bisa tenang tidak kepikiran dengan masalah ini.
"Beneran Sarah?!," tanya bapaknya Sarah, dengan suara penuh kelegaan. Terdengar sekali suara lega dari bada bicaranya.
"Iya, pak. Ini dia sudah di dalam taksi bersama Sarah." lagi Sarah berbohong pada bapaknya. Namun ia lakukan semua ini demi kebaikan bapaknya.
__ADS_1
"Lebih baik, sekarang bapak pulang aja. Sarah dan Kean mau jalan-jalan dulu." Lanjut Sarah.
"Kamu tidak membohongi bapak kan, Sarah?," tanya bapaknya Sarah seperti tidak percaya.
"Beneran, pak. Sarah tak berbohong." Sarah terus mencoba meyakinkan bapaknya.
"Biar hati bapak yakin dan percaya, sekarang berikan handphone itu pada Kean. Biarkan bapak bicara dengan nya."
Deg!
Permintaan bapak Sarah saat ini sangat berat untuk di kabulkan. Karena memang tak ada Kean di dalam taksi itu.
"Mmm... Pak, maaf. Kean mungkin kecapean, jadi dia malah tertidur di dalam taksi. Kasian pak, kalau Sarah bangunin." jawab Sarah memberi alasan pada bapaknya.
"Sekarang handphone nya Sarah tutup ya pak. Takut suara Sarah mengganggu Kean yang sedang tidur di pangkuan ku ini." Sarah sengaja menyudahi panggilan telepon yang dilakukan oleh bapak nya. Karena Sarah tak bisa kalau harus terus-menerus membohongi orang tuanya.
Panggilan telepon pun di tutup oleh Sarah, setelah saling mengucapkan dan menjawab salam.
"Masih jauh tempat yang aku tuju, pak?," tanya Sarah pada sopir taksi itu, karena di rasa ia sudah lama di dalam taksi itu. Namun masih belum sampai di tempat yang ia maksud.
"Sabar, Bu. Sebentar lagi kita sampai. Lebih baik ibu banyak-banyak berdoa untuk keselamatan anak ibu." jawab sopir taksi itu. Yang seperti nya ia juga khawatir dengan apa yang saat ini menimpa pada anak penumpang nya itu.
Sarah pun hanya diam, tak menjawab apa yang sudah dikatakan oleh supir taksi itu. Namun ia tetap melakukan apa yang dikatakan oleh supir itu.
Memang tak ada salah nya kita terus beristighfar dan berdoa pada Allah untuk keselamatan anaknya.
Dan akhirnya taksi itu sampai di depan tempat yang ia tuju.
"Rupanya mereka sedang makan," gumam Sarah dalam hati, saat ia membaca neon box yang bertuliskan nama makanan yang di jual.
"Makanan ini adalah favorit Kean." gumam nya lagi. Lalu ia turun dari taksi setelah ia membayar nya.
__ADS_1
"Kembalian nya, bu.'?" ucap sopir itu pada Sarah yang saat ini melangkah turun dari taksi nya.
"Ambil saja pak." jawab Sarah dengan wajah penuh kekhawatiran. Sarah sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anaknya.
"Makasih, Bu." jawab sopir taksi itu. Lalu menancap gas taksinya setelah Sarah turun dan menutup pintu taksi nya.
Sarah berjalan dengan sedikit berlari, ia sudah sangat ingin menemui dan mengetahui keadaan Kean.
Saat ia masuk kedalam rumah makan yang khusus menjual ayam crispy dan minuman cola itu, Sarah mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut ruangan. Namun ia tak mendapati Kean yang bersama Veni disana.
Jantung Sarah makin berdegup kencang, rasa takut semakin menyelimuti hatinya. Sekali lagi Sarah mencoba mengedarkan pandangan nya. Namun hasilnya tetap sama, tak ada Kean anak nya di setiap sudut ruangan ini.
"Jangan bermain-main dengan ku kamu, mbak." gerutu Sarah sambil mengepalkan tangannya.
Lalu ia mengambil handphone nya, dan mencari kontak telepon Veni.
Sarah pun memencet tulisan panggil saat sudah menemukan nama Veni di layar handphone nya. Panggilan pun masuk tapi belum diangkat.
"Cepat angkat, mbak!!," gumam Sarah tidak sabar.
Panggilan pertama pun tak ada respon dari Veni. Lalu Sarah mencoba untuk menelpon lagi. Dan yang kedua kakinya juga tak ada jawaban dari Veni.
Hati dan perasaan Sarah semakin tak karuan, rasa khawatir semakin menyelimuti dirinya. Pikiran buruk menghantui nya.
"Sekali ini kamu tak mengangkat telepon ku, akan ku pastikan kamu di penjara dengan pasal berlapis, mbak!!," ucap Sarah dengan wajah penuh amarah.
"Aku bisa menerima semua perlakuan mu padaku, tapi tidak pada anakku. Karena dia lah nyawaku. Jadi apa pun itu akan ku lakukan untuk nyawaku." Suara gertakan gigi Sarah terdengar, Sarah benar-benar di buat emosi saat ini oleh Veni.
Sekali lagi, ia mencoba menghubungi Veni. Ini sudah yang ke beberapa kalinya. Namun ini akan menjadi yang terakhir, kalau panggilan ini masih di abaikan oleh Veni. Maka urusan selanjutnya adalah Veni dengan pihak yang berwajib.
Dan benar saja, Veni mengabaikan telepon dari Sarah. Dan itu membuat Sarah semakin kesal. Sarah tak pernah semarah dan sekesal ini pada orang, juga pada Veni. Namun kali ini Veni berhasil membuat emosi Sarah naik. Karena keselamatan anaknya lah yang menjadi taruhannya.
__ADS_1