
Malam ini anak-anak sudah pada tertidur semua. Kini tinggal aku dan mas Bima yang sedang duduk sambil menonton televisi.
Aku duduk bersandar pada sofa yang berwarna pink, dan mas Bima tidur dengan kepala berasa di pangkuan ku.
"Bagaimana pekerjaan mu hari ini, sayang?," tanya mas Bima yang tatapan matanya diarahkan padaku. Dengan wajahnya yang berada di bawah wajahku.
"Alhamdulillah lancar, mas." jawab ku dengan tersenyum manis pada mas Bima.
Kini wajah ku menghadap ke bawah, yaitu kepada wajah mas Bima.
"Kalau kamu capek, kamu tidur saja." ucap mas Bima dengan menggenggam jemariku dengan kuat.
"Sarah belum ngantuk, mas." jawabku sambil membalas remasan lembut tangan mas Bima.
"Mas, kamu belikan Putri handphone ya?," tanya ku.
"Handphone?," tanya mas Bima, lalu ia bangkit dari tidur nya. Lalu ia mengatur posisi yang enak buat duduk dan menyandarkan punggung nya.
"Iya, sayang. Kemarin dia menangis minta dibelikan handphone. Karena semua teman di sekolah nya sudah punya handphone, hanya Putri saja yang belum." jawab mas Bima.
"Apa kamu keberatan jika aku membelikan handphone untuk Putri, Sarah?," tanya mas Bima.
"Aku tidak keberatan sama sekali kok, mas. Toh yang kamu pakai juga uangmu. Dan Putri juga anak mu." jawab ku.
"Cuma kenapa kamu tidak omong padaku terlebih dahulu?," tanyaku.
"Karena kemarin Putri sudah nangis-nangis minta di belikan saat itu juga." jawab mas Bima.
"Ok, mas. Tak masalah kok." jawabku enteng.
Ya memang itu sudah menjadi kewajiban mas Bima, untuk memenuhi kebutuhan Putri karena dia anak nya.
Namun ada sedikit kekecewaan dalam hati ku, karena dalam hal ini aku tak diajak untuk bermusyawarah.
"Dan mas mau bicara dengan mu, Sarah." ucap mas Bima sambil menatap ku dan kedua tangan nya memegang kedua tangan ku dan kita duduk saling berhadapan.
"Ada apa, mas?," tanyaku.
"Uang yang aku kasih kemarin masih adakah?," tanya mas Bima.
"Masih, mas. Kenapa?," tanyaku. Memang uang yang di beri mas Bima kemarin masih utuh, tidak berkurang sama sekali, karena untuk belanja setiap hari aku memakai uang pribadi ku.
"Mas mau pinjam untuk mengganti uang mbak Ambar." jawab mas Bima.
"Mengganti uang mbak Ambar? uang apa mas?," tanyaku karena penasaran kenapa mas Bima bisa punya hutang pada kakak perempuan nya itu.
"Kemarin Putri menangis histeris meminta handphone, dan kebetulan aku tak ada uang. Beberapa hari ini toko sepi, Sar. Karena Putri histeris aku pun bingung, akhirnya mbak Ambar menawarkan pinjaman padaku. Dan mbak Ambar meminta besok untuk di kembalikan, karena kalau lusa uang itu akan berbunga." jawab mas Bima.
Aku kaget saat mendengar penjelasan mas Bima, kok mbak Ambar tega sama adiknya. Pinjam uang aja ada bunga nya.
"Kalau memang waktu itu kamu tak ada uang, kenapa dipaksakan untuk pinjam mbak Ambar, mas? Kalau ujung-ujungnya uang itu beranak Pinak." tanyaku. Lalu aku berdiri untuk mengambil segelas air putih di meja makan. Karena tiba-tiba kerongkongan ku terasa kering saat mendengar mas Bima bicara tentang kakak perempuan nya itu. Setelah meneguk segelas air putih, aku segera duduk disamping mas Bima lagi.
Dari penjelasan mas Bima, aku tahu ternyata mbak Ambar seorang rentenir. Yang suka meminjamkan uang dengan bunga tinggi.
__ADS_1
"Waktu itu Putri menangis histeris, Sarah." jawab mas Bima.
"Putri kan sudah besar, mas. Harus nya kamu memberi pengertian padanya." ucapku lagi dengan suara pelan. Karena ini sudah malam, takut anak-anak nanti terganggu dengan suara kedua orang tuanya yang dengan kekuatan super.
"Waktu Putri menangis histeris, disitu ada ibu yang terus mendesak ku untuk segera membelikan Putri handphone." jawab mas Bima dengan muka sedihnya.
Terlihat tak ada kebohongan diwajah mas Bima. Sepertinya ia berkata jujur dengan apa yang ia lakukan kemarin.
Aku berdiri lagi dan berjalan menuju kamar untuk mengambil dompetku yang ada didalam tas.
Kucari tas yang tadi ku gantung di gantungan baju. Setelah ketemu ku keluarkan dompetku. Dan amplop putih yang masih rapi dan bersih, kuambil dari dompet ku yang berwarna merah.
"Ini, mas!." ku sodorkan amplop itu kepada mas Bima.
"Uang ini aku pinjam dulu ya, sayang?," mas Bima segera mengambil amplop berwarna putih itu.
"Uang itu pas mas, tidak kurang dan tidak lebih." lanjut ku.
Kini aku dan mas Bima pindah kedalam kamar. Mas Bima terlihat sangat capek sehingga dengan waktu singkat ia sudah tertidur pulas.
Sedangkan aku tak bisa memejamkan mata, mungkin efek minum kopi di rumah Sinta tadi masih terasa sampai sekarang.
Saat mas Bima terlelap, aku segera mengambil laptop di dalam lemari baju. Sengaja laptop ku, ku sembunyikan disana. Agar mas Bima tidak mengetahui nya.
Dengan pelan, aku membuka pintu kamar dan keluar dari kamar dengan berjalan pelan agar tak menimbulkan suara sedikit pun.
Aku nyalakan lampu LED yang pencahayaan tak begitu terang, agar tak begitu kelihatan dari luar.
Setelah sudah memperoleh beberapa bab, terdengar suara mobil berhenti didepan rumah.
Ada rasa penasaran di hati ini, karena saat aku melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Siapa yang datang malam-malam begini?," gumamku dalam hati.
Aku segera berdiri dan berjalan menuju jendela, ku coba mengintip dari balik korden.
Ternyata benar mobil itu berhenti tepat didepan rumah ku ini. Dan ternyata itu mobil yang biasa terparkir di garasi rumah mas Edi.
"Darimana mas Edi malam-malam begini?," gumamku lirih.
"Dan kenapa dia berhenti dan parkir mobilnya di depan rumah ku?," tanya ku dalam hati.
Terlihat mas Edi turun dari pintu depan di bagian pengemudi. Lalu mas Edi berlari kecil ke arah pintu depan sampingnya.
Dan ia membuka pintu itu, dan betapa terkejutnya aku. Dari dalam mobil ada wanita yang keluar dengan keadaan mabuk.
Dari postur tubuhnya aku familiar dengan sosok perempuan itu. Tapi siapa?
Mas Edi tengah membopong wanita yang sedang teler itu dan membawanya masuk kedalam rumah nya.
Aku rasa itu bukan istri mas Edi yang biasa nya aku temui. Tapi kenapa mas Edi membawa perempuan itu kerumahnya?
Aku curiga mas Edi tengah berselingkuh, dan sekarang selingkuhannya di bawa kerumahnya, sungguh kasian istri mas Edi. Mengingat apa yang pernah aku alami saat aku di selingkuhi oleh mas Damar, hari ini sungguh sangat sakit.
__ADS_1
Setelah mereka masuk, mereka lama tak muncul keluar lagi. Begitu juga mas Edi, ia tak terlihat keluar untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di depan rumah ku.
Aku putuskan untuk kembali mengetik, karena hanya kurang beberapa kata untuk mencapai target.
Setelah aku up beberapa bab, ku matikan dan ku tutup laptop ku. Dan ku bawa masuk kedalam kamar, dan ku kembalikan lagi ketempat semula. Kulakukan semua dengan sangat hati-hati dan tidak menimbulkan suara sedikit pun, agar mas Bima tidak terbangun.
Kini kurebahkan tubuh di samping tubuh mas Bima, lalu ku pejamkan mata ku yang sudah mulai terasa kantuk.
Adzan subuh berkumandang, dan aku baru membuka mata. Mungkin tubuhku sangat capek sehingga aku tak bangun lebih awal.
"Mas, sholat subuh dulu yuk!," aku bangunkan mas Bima dengan berbisik ditelinga nya.
"Udara begitu dingin, sayang." ia menarik ku kedalam pelukan nya.
"Iya, tapi lebih baik kita sholat subuh dulu." ucapku dengan mencoba membuka dekapan tangan mas Bima.
"Baiklah." ucap mas Bima dengan pelan membuka matanya.
Lalu ia melepas pelukan nya setelah mencium kening ku. Dan aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dan di ikuti oleh mas Bima, dia berjalan dengan mata terpejam. Mungkin dia masih mengantuk.
Setelah sholat subuh berjamaah, aku melepas mukenah dan merapikan nya. Begitu juga dengan mas Bima. Ia mengganti pakaian nya dengan pakaian santai. Dan kembali ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dan segera ia menarik selimutnya.
Aku berencana untuk masak, walau hari ini hari libur sekolah. Tapi sudah menjadi kebiasaan ku, untuk masak pagi-pagi sekali.
Namun saat hendak keluar, tiba-tiba mas Bima menarik tangan ku. Dan lagi aku terjatuh kedalam pelukan nya.
Mas Bima segera menutupi tubuh ku dan tubuhnya dengan selimut yang sama. Sehingga tak dapat di elakan terjadilah peristiwa pertempuran di pagi hari di dalam selimut.
Untung saja pintu kamar masih terkunci, jadi tak ada kekhawatiran kalau Kean tiba-tiba masuk kedalam kamar ku.
Mas Bima sangat semangat melakukan itu, dalam waktu sepagi ini dia bisa melakukan nya berkali-kali.
Aku pun tak bisa menolak nya, karena tugasku memang harus memuaskan nya. Ditinggal selingkuh di pernikahan terdahulu membuatku belajar kalau kepuasan suami harus tetap diprioritaskan.
satu jam kami masih berada di dalam kamar, kami berdua terkapar lemas dengan telanj4n9 bulat. Tak ada sehelai benang satu pun yang menempel di tubuh ku dan mas Bima.
"Terimakasih, sayang." bisik mas Bima dengan nafas yang berangsur-angsur. Mungkin dia terlalu menikmati permainan yang telah ku sajikan.
"Sama-sama, mas." jawab ku, dengan wajah yang berdekatan.
"Kamu hebat, Sarah. Aku pu4S dengan permainan mu." puji mas Bima lalu ia mencium keningku Dan memelukku erat.
"Sudah siang mas, aku mau masak buat sarapan." ucapku seraya mencoba melepaskan tangan mas Bima yang mendekap ku dengan erat.
Lalu mas Bima melepaskan tangan nya, dan aku segera beranjak dari pelukan tubuh mas Bima.
Aku masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku. Dan mas Bima mengikuti masuk kedalam kamar mandi.
Kita berdua mandi bersama didalam satu guyuran shower. Tak bisa ku pungkiri, mas Bima melakukan nya lagi di dalam kamar mandi.
Sungguh pagi ini aku dihujam dengan kenikmatan surga dunia. Sungguh itu membuat seperti wanita paling bahagia di dunia ini.
__ADS_1