
Sebelum subuh aku sudah bangun, aku melakukan rutinitas seperti sebelum aku menikah dengan mas Bima. Namun kini yang membedakan setelah sholat subuh, aku tak membuat adonan kue.
Yang aku lakukan sekarang setelah sholat subuh adalah memasak untuk keluarga kecilku.
"Ternyata mas Bima semalam tidak pulang." gumamku saat aku masuk kedalam kamar. Karena semalam aku tidur bersama Kean di kamar Kean.
Setelah melepas mukenah, aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Kean serta mas Bima. Walau mas Bima semalam tak pulang, sarapan pun tetap aku siapkan. Siapa tau pagi ini sebelum ke toko ia pulang dulu.
Tak lupa sebelum aku memulai masak, aku bangunkan lelaki kecilku yang Sholeh untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh
Walau dengan berat hati, karena rasa kantuk masih bergelayut di matanya serta rasa dingin udara pagi menusuk tulang nya. Kean terbangun dan segera pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah itu ia melaksanakan kewajiban sholat subuh nya. Sungguh pemandangan yang sangat indah di mata ku. Memang sengaja'aku mengajarkan melaksanakan sholat wajib sejak dini pada Kean.
Agar kelak saat ia dewasa, ia sudah terbiasa dengan kewajiban. Walaupun sudah tanpa pengawasan ku.
Aku segera memulai bergelut dengan dunia masak memasak. Masak dan membuat kue, memang sudah menjadi hobi ku. Dan sampai saat ini, hobi ku sudah menjadi ladang penghasilanku.
Sungguh aku bersyukur, dengan hobi ku. Aku bisa memperbaiki perekonomian ku, mulai dulu saat aku ditinggal oleh mas Damar.
Dan modal membuat kue-kue, kudapat dari hasil hobi ku menulis. Hingga sampai sekarang kedua hobi ku, aku jalani dengan selaras dan berkesinambungan.
Dari dua hobi ku ini, aku sudah punya beberapa investasi seperti rumah, ruko, mobil dan beberapa perhiasan emas. Dan juga sudah bisa merenovasi rumah orang tua ku di kampung. Serta hasil dari hobi ku ini, aku bisa membelikan satu hektar sawah untuk kedua orang tuaku.
Sungguh aku sangat bahagia, bisa membuat kedua orang tuaku bahagia. Walaupun itu semua belum seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah di beri oleh kedua orang tua ku.
Aku membeli sawah satu hektar di kampung itu, uangnya patungan dengan Mayang. Alhamdulillah, sekarang Mayang dan Celvin sudah menikah. Namun mereka memutuskan hidup di Singapura, karena Celvin harus menghandle perusahaan pak Handoko yang ada di sana.
Masak pun sudah selesai, dan sekarang sudah terhidang di atas meja makan. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tapi mas Bima dan Putri masih belum pulang juga.
Aku berjalan kekamar Kean, untuk melihat Kean dan menyuruh Kean agar segera mandi.
Cekleeek,
__ADS_1
"Kean sudah mandi?," tanyaku sambil membuka pintu kamar Kean.
"Sudah amma." jawab Kean sambil menoleh kebelakang, kearah ku yang sedang berdiri di tengah pintu kamar.
"Sekarang lagi ngapain?,"
Betapa senangnya hati ku ini, melihat Kean yang masih duduk di TK A sudah mandiri seperti itu. Tanpa di perintah, ia sudah berinisiatif sendiri untuk mandi.
Dan tanpa merengek, ia memakai baju sendiri. Walau cara pakai nya juga harus di betulkan lagi. Namun itu sudah membuat ku bangga mempunyai anak seperti Kean. Ia sudah berusaha menunjukkan kalau ia sudah bisa memakai baju sendiri.
"Kean lagi memasukkan buku kedalam tas, ma." jawab Kean.
" Sudah selesai, nak?," tanyaku.
"Ini tinggal dikit." jawabnya sambil mengangkat satu buku terakhir yang akan dimasukkan kedalam tas sekolah nya.
"Sini!!," panggilku setelah ia memasukkan buku terakhir kedalam tas nya.
Kean berjalan menuju ku, lalu aku berjongkok mensejajarkan diri dengan tubuh Kean yang berdiri. Ku rapikan seragam Kean yang sedikit agak miring.
"Sekarang, anak Sholeh nya amma sarapan dulu." aku mencubit pelan hidung mancungnya Kean.
"Siap, amma." jawab Kean dengan mengangkat tangan, dan meletakkan di depan keningnya. Kami berdua berjalan menuju meja makan.
Sudah pukul enam pagi mas Bima masih belum pulang juga.
"Ayah dan kak Putri kemana, ma?, kok nggak sarapan bareng kita?," celetuk Kean sambil menyendok nasi di piring lalu ia masukkan ke mulutnya.
"Ayah dan kak Putri, semalam nginep dirumah nenek. Mungkin ayah dan kak Putri berangkat sekolah nya dari rumah nenek." jawab ku. Ku letakkan gelas yang berisi susu di depan Kean yang sedang sarapan.
"Makasih, amma." ucap Kean setelah aku menaruh segelas susu di depan nya.
"Sama-sama, sayang." jawab ku.
__ADS_1
"Kalau ayah dan kak Putri berangkat dari rumah nenek, Kean ke sekolah bareng siapa, ma?," tanya Kean dengan wajah gelisah. Terlihat sekali kalau ia ketakutan.
"Kenapa wajah Kean ketakutan gitu, nak?," tanyaku. Aku tak menjawab pertanyaan Kean, karena aku khawatir dengan ekspresi yang di berikan Kean saat tau mas Bima dan Putri berangkat dari rumah ibunya mas Bima.
"Kean takut kalau harus bolos sekolah, ma. Kean takut di marahi Bu guru." ucap Kean dengan polosnya. Aku tersenyum saat mendengar jawaban polos Kean.
"Siapa yang bilang kalau Kean harus bolos?, Kean tenang saja, kalau ayah dan kak Putri berangkat dari rumah nenek. Kan masih ada amma yang antar Kean sekolah." jawabku menenangkan hati Kean anak lelakiku yang Sholeh.
"Bukan kah amma harus kerja?," tanya nya lagi untuk menyakinkan kebenaran tentang omongan yang ku sampaikan tadi.
"Iya, memang sekarang waktunya amma kerja. Tapi Kean tenang saja, mama yang akan mengantar Kean ke sekolah. Setelah mengantar Kean, baru mama berangkat ke tempat kerja amma." bujuk ku.
"Kalau gitu, ok deh ma!, makasih ya, ma." ucap Kean sambil mencium pipi ku.
"Sama-sama Soleh nya amma." aku juga mencium pipi Kean.
Kean melanjutkan sarapan nya, sementara aku berganti pakaian untuk bersiap-siap pergi ke ruko sambil mengantar Kean kesekolah.
Rencana hari ini aku mau pergi ke toko perhiasan, untuk membeli emas buat investasi. Agar kelak saat aku memerlukan uang untuk pendidikan Kean, aku tak susah-susah mencarinya.
Jadi dari sekarang aku sudah menabung untuk masa depan Kean serta untuk biaya sekolah Kean nantinya.
Setelah selesai berganti pakaian, aku segera memesan taksi online.
Aku lihat Kean juga sudah selesai sarapan nya, dia juga sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Kotak bekal nya sudah dimasukkan, nak?," tanyaku saat aku melihat Kean sedang duduk santai menunggu ku di kursi teras rumah.
"Sudah, amma." jawabnya.
"Ok. Tunggu sebentar ya, taksi yang amma pesan belum datang." ucapku sambil mengunci pintu rumah.
"Itu taksinya sudah datang, ma." tunjuk Kean pada taksi yang berhenti di depan rumah.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat, sayang!," ajak ku.
Kami berdua berjalan bergandengan tangan keluar dari halaman rumah.