
"Masuk lah Bima." Sepertinya mbak Veni dengan sengaja merebahkan tubuh langsing nya itu di atas sofa dengan posisi yang sangat menggodaku.
Pemandangan apa ini?, saat masuk sudah disambut dengan keseksian tubuh mbak Veni yang di balut dengan lingerie berwarna merah yang sangat transparan.
Dan kali ini, saat kaki melangkah masuk. Tiba-tiba Mbak Veni merubah posisi nya. Yang awalnya ia hanya duduk biasa, kini ia merebahkan tubuhnya yang langsing dan seksi itu diatas sofa. Dengan posisi yang berhasil membuat hasrat ini muncul.
Glekkk!!
Dengan sendirinya, tenggorokan ini menelan ludah saat melihat pemandangan indah yang ada di depan mata ini.
"Kenapa kamu seperti canggung seperti itu, Bima. Aku Veni, Bima. Bersikap lah biasa saja padaku, kamu jangan kaku seperti itu." mbak Veni tersenyum sangat manis padaku.
Membuat kelaki-lakian ku pun tiba-tiba mengeras dengan sendirinya. Terasa sesak sekali celana yang aku pakai saat ini.
Mbak Veni berhasil memancing nafsu birahiku. Ingin sekali aku segera menyambar tubuh langsing dan seksi mbak Veni. Tapi jujur aku masih canggung untuk melakukan nya. Karena dia adalah Kakak ipar ku, istri mas Awan kakak kandung ku.
"Kenapa kamu malu-malu seperti ini, Bima?," mbak Veni berjalan menghampiri ku yang masih berdiri di dekat pintu. Lalu dengan sengaja, mbak Veni menutup dan mengunci pintu itu.
"Ayo, Sekarang lah saat nya kamu tunjukkan padaku ke kegagahan mu di atas ranjang." bisik mbak Veni tepat di belakang telinga ku, dengan tangan nya memeluk ku dari belakang.
"Apa kamu tak menginginkan aku malam ini, Bim?," tanya mbak Veni dengan tangan nya yang bergerilya ke area yang sangat sensitif ini.
"Aku rasa kamu juga menginginkan nya." lanjut mbak Veni setelah tangan itu memegang kejantanan ku yang sudah mulai menger4s.
Sungguh aku sudah tak bisa menahan diri untuk tak melakukan nya. Rasa canggung pada mbak Veni karena ia adalah istri mas Awan pun sudah hilang di benakku.
Rasa nya kewarasan pikiran ku sudah tertutupi oleh hawa n4fsu yang begitu besar.
Mbak Veni berhasil membuat hasrat ini semakin memuncak.
Tanpa disuruh pun, tangan mbak Veni sudah sangat lihai untuk memainkan bagian-bagian tubuhku yang sangat sensitif.
Aku mencoba untuk berdiri berdiam diri untuk tak membalas sentuhan-sentuhan kenikmatan dari mbak Veni.
Namun aku tak bisa untuk itu, dengan segera aku membalas apa yang telah mbak Veni lakukan padaku.
Dengan sangat kasar aku membuka lingerie yang membalut tubuh mbak Veni. Karena hasrat ini sangat menggebu-gebu.
Dan pertempuran pun terjadi walau hanya diatas sofa. Kini kita berdua telah terkapar diatas sofa. Dengan tubuh yang polos tanpa sehelai benang di atasnya.
Permainan Mbak Veni sangat hebat. Dia berhasil memuaskan ku, disaat aku sangat menginginkan itu, tapi tak diberi oleh Sarah dan gagal bersama Areta karena ketahuan terlebih dahulu.
Kini ada rasa lega dan puas setelah menyalurkan hasrat pada kakak ipar.
"Mbak, apa mbak Veni tidak takut ketahuan sama mas Awan?," tanyaku sambil menyelimuti tubuh ku dan tubuh mbak Veni yang bug*l dengan selimut yang sudah disediakan oleh hotel ini.
"Kalau kamu tak membocorkan rahasia ini, aku yakin mas Awan tak akan pernah tahu." jawab mbak Veni dengan jari telunjuknya di taruh tepat di bibirku.
"Aku janji tak akan pernah membocorkan rahasia besar kita berdua ini pada siapapun mbak. Termasuk pada mas Awan." ucapku meyakinkan mbak Veni. Agar aku bisa mendapatkan kenikmatan ini berkali-kali dari mbak Veni.
"Kamu hebat, Bim. Aku suka dengan permainan mu." bisik mbak Veni dengan jari telunjuk nya terus bermain-main di bibirku.
Kini kulit tubuhku dan kulit tubuh mbak Veni menempel tanpa ada pembatas. Dan itu membuat hasrat ku muncul lagi.
Aku rasa mbak Veni juga merasakan hal yang sama dengan ku. Lalu tanpa menunggu lama, akhirnya permainan itu pun terjadi lagi.
Namun di permainan kali ini, aku mengangkat tubuh langsing yang berisi milik mbak Veni keatas ranjang yang berukuran king ini.
Aku taruh tubuhnya dengan sangat hati-hati, dengan mencumbui nya.
Terlihat sekali mbak Veni sangat menikmati cumbuan ku ini.
Kini kita berdua melakukan pertempuran yang kedua diatas ranjang. Dan kali ini kita sudah benar-benar kehabisan tenaga, sehingga setelah mencapai puncak kenikmatan surga dunia ini. Kita berdua sama-sama terkapar diatas ranjang dengan tubuh yang masih dalam keadaan polos.
__ADS_1
***
Aku terbangun dari tidur ku, saat kulihat ternyata tak ada mbak Veni di samping ku.
Aku mencari keberadaan nya, ku edarkan pandangan keseluruh ruang kamar hotel ini. Namun tak terlihat batang hidungnya.
Aku segera berdiri dan tubuh polos ku sengaja ku tutup dengan selimut. Aku berjalan menuju kamar mandi, tapi tak ada seorang pun di dalam nya.
"Kemana mbak Veni?," gumam ku.
Lalu karena tubuh ini masih terasa lemas, karena permainan mbak Veni sungguh menguras tenaga. Aku pun merebahkan tubuhku lagi diatas ranjang.
Aku mengambil handphone yang ada diatas nakas, ternyata ada pesan singkat dari mbak Veni.
"Bim, aku keluar dulu. Karena pagi ini aku harus mengantarkan Kay kesekolah. Nanti kamu akan ku kabari lagi. Maaf aku tak membangunkan mu, karena kamu terlihat sangat lelah sekali." pesan mbak Veni segera aku hapus setelah aku membacanya. Aku takut Putri atau Areta membuka handphone ku tiba-tiba.
Aku harus bisa nutup rapat rahasia besar ini, karena ini menyangkut nama baik ku dan keluarga ku. Aku tak habis pikir, kalau seandainya perselingkuhan ini di ketahui semua orang. Bisa-bisa mas Awan tak menganggap ku menjadi adik dan pasti ia akan menghajar ku.
Setelah beristirahat sebentar diatas ranjang, aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh ini. Perut juga terasa sangat lapar, sebelum pulang aku berencana untuk sarapan dulu di resto hotel ini.
Drrrttttt
Drrrttttt
Suara handphone yang sengaja aku mode getar itu berbunyi. Ternyata panggilan telepon dari Areta.
"Kamu dimana, Bim?. Aku ada dirumah ibu tapi kamu tak ada?!, kemana saja kamu sepagi ini?!," Belum aku menyapa nya, namun Areta sudah mencerca ku dengan banyak pertanyaan setelah panggilan telepon nya terhubung dengan ku.
"Aku ke luar untuk mencari sarapan, Reta." aku beralasan pada Areta. Karena tak mungkin aku jawab dengan jujur kalau aku semalam menginap di hotel.
"Kenapa harus mencari sarapan diluar, disini mbak Ambar juga sudah masak?!," terdengar dari suaranya, Areta sedang kesal dengan ku.
"Kamu kenapa marah-marah gitu sih, Reta?!. Suka-suka aku dong mau makan apa!!," ucapku dengan nada sedikit tinggi. Karena aku sangat tak suka kalau di bentak-bentak oleh perempuan.
"Kok kamu jadi bentak-bentak aku sih, Bim?, harusnya aku yang marah karena kamu sepagi ini tak ada dirumah." jawab Areta dengan nada suara yang lebih rendah dari sebelumnya.
"Maafkan aku Bim, aku begitu karena aku sayang sama kamu. Dan lagi aku sedang bingung saat ini." jawab Areta dengan suara yang seperti nya ia sedang ada masalah.
"Bingung kenapa?," tanya ku dari balik sambungan telepon.
"Aku tak bisa bercerita disini, Bim. Lebih baik kamu pulang sekarang." jawab Areta membuatku semakin penasaran.
Aku urungkan untuk sarapan di hotel ini, aku segera berlari ke arah tempat parkiran mobil. Ku lajukan mobil dengan kecepatan sedang, aku tak berani mengambil resiko. Aku takut terjadi apa-apa, karena mata ini masih terasa ngantuk dan perut ini sangat lapar sekali.
Aku sengaja lewat di depan toko roti tempat Sarah bekerja. Dan aku segera memarkir mobilku tepat di depan toko roti itu, agar Sarah melihat mobil ku ini.
Aku memutuskan untuk membeli roti disini, selain untuk pengganjal perut. Aku sengaja membeli roti disini untuk memberi pelajaran pada Sarah yang sudah mempermalukan aku di depan penghuni kompleks waktu itu.
Namun yang membuat ku kecewa, saat aku masuk kedalam. Aku tak melihat keberadaan Sarah.
Kali ini aku gagal untuk memberi pelajaran pada wanita kampungan itu. Kemana dia sekarang? Apa dia sudah berhenti bekerja disini?
Akhirnya aku hanya membeli beberapa potong kue dan bolu disini. Aku sangat suka dengan kue dan bolu toko ini. Rasanya sangat enak sekali, tak ada yang menandingi di kota ini.
Kini aku kembali kedalam mobil dengan perasaan kecewa. Karena tujuan awalku untuk membuat Sarah malu gagal.
Aku memakan beberapa potong kue untuk mengganjal perut ku yang sudah keroncongan sedari tadi.
Dan segera ku hidupkan mesin mobil dan ku tancap gas dengan kecepatan sedang. Karena dari tadi handphone di dalam saku jaket sudah beberapa kali berbunyi. Dan aku tau, itu panggilan dari Areta.
Setelah memarkir mobil di depan rumah, aku segera masuk. Dan disana terlihat Areta sedang duduk dengan memainkan gawai nya.
"Kamu darimana, Bim?," tanya Areta saat ia melihat ku masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Itu apa?!," tanyanya sambil menunjuk paper bag bungkus kue yang aku beli tadi.
"Jangan bilang, kamu habis bertemu dengan Sarah, Bima!." lanjut Areta dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya ia cemburu kalau aku bertemu dengan Sarah.
"Siapa yang bertemu dengan Sarah?!," suara ibu terdengar marah saat mendengar nama Sarah di ucapkan.
"Itu, Bu." jawab Areta dengan menunjuk tas yang ada di tangan kanan ku ini.
"Ngapain kamu menemui perempuan kampungan itu, Bima!!!," mata ibu melotot dan ibu terlihat sangat marah padaku.
"Ibu, ini tidak seperti yang ibu lihat. Aku tak menemui Sarah, aku datang kesana selain untuk membeli kue-kue ini. Aku juga berencana untuk mempermalukan Sarah, agar Sarah di pecat dari situ. Tapi sayang nya, aku tak bertemu dengan nya." Aku menjelaskan tujuan ku datang ke tempat kerja Sarah.
"Ya syukurlah kalau begitu, hati ibu jadi tenang." jawab ibu dengan nada bicara yang berubah menjadi lembut dan tatapan nya tak melotot lagi padaku. Lalu ibu kembali ke belakang. Kini tinggal aku dan Areta berdua di ruang tamu.
"Ada apa, Areta? apa yang ingin kamu katakan padaku?," tanyaku pada Areta. Karena seperti nya sangat penting, sehingga berkali-kali ia menghubungi ku.
"Aku lagi butuh uang, Bim. jawab Areta.
"Kamu butuh uang berapa?," tanyaku.
"Lima juta, Bim." jawab Areta dengan sangat cepat.
"Lima juta?! Buat apa uang sebanyak itu, Areta?!," tanyaku dengan wajah terkejut.
"Untuk bayar kost, listrik dan air. Sudah dua bulan aku nunggak, Bima. Dan beberapa hari ini aku dilarang masuk kerja oleh Putri. Ia memintaku untuk menemani nya di kost." jelas Areta.
Memang Areta bekerja di salah satu bar di kota ini. Ia bekerja setiap malam dan pulang pagi. Ini lah pekerjaan yang ia tekuni setelah bercerai dengan ku.
Mungkin Putri melarang nya bekerja, karena kalau malam ia tak berani sendirian di kostan ibunya itu.
"Baiklah, aku akan mentransfer nya." jawabku sambil mengambil handphone di dalam saku jaket.
"Sudah masuk, Reta. Kamu bisa mengambil nya." lanjutku setelah notifikasi sukses muncul di handphone ku.
"Terimakasih banyak , Bim." ucap Areta.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu." Areta pun berdiri dari duduknya. Setelah berpamitan dengan ku, ia segera pergi dari rumah ini.
"Dasar perempuan yang satu ini, masih saja seperti dulu. Setiap abis dapat uang dia akan pergi." gumamku sambil berjalan menuju kamar untuk beristirahat, setelah Areta hilang dari pandangan mataku.
Tas yang berisi kue-kue itu, aku taruh diatas meja makan. Agar ibu dan mbak Ambar memakannya.
Lalu ku rebahkan tubuhku diatas ranjang, hari ini aku tak pergi ke toko. Karena rasa capek dan lemas masih menghinggapi tubuhku.
Biar toko para karyawan ku yang menghandle nya. Aku ingin beristirahat dulu, untuk memulihkan stamina tubuh yang sudah aku pakai untuk bertempur dengan mbak Veni.
Mata masih belum terpejam, aku pun memainkan handphone, Ku buka aplikasi Facebook untuk sekedar melihat status dan foto teman-teman di dunia maya.
Namun saat aku mescroll ke bawah, ada akun mbak Veni yang memposting foto nya didalam mobil dengan pakaian yang ia pakai semalam.
Ia mengunggah foto nya dengan caption "Terimakasih sudah memberikan kenikmatan."
Aku yakin unggahan foto dengan caption yang ia ketik itu di tujukan padaku.
Karena ia mengambil foto disaat ia pulang dari hotel bersama ku.
Aku sengaja tak memberi komentar pada foto yang diunggah mbak Veni. Aku takut banyak orang yang curiga, kalau aku memberi komentar di unggahan foto mbak Veni. Aku hanya memberi jempol di unggahan itu.
"Ciee....habis di beri apa tuh oleh Awan?," komentar dari akun mbak Ambar yang ada di barisan paling atas.
"Ada deh... rahasia donk." balas mbak Veni pada komentar mbak Ambar.
"Ah.. Sosweet. Pingin deh di sisain satu seperti mas Awan." aku rasa kali ini komentar dari teman nya mbak Veni. Karena Sepertinya ia sangat mengenal mas Awan dan mbak Veni.
__ADS_1
"Yang seperti mas Awan di dunia ini sudah habis, Sis. Jadi hanya tinggal mas Awan saja. Kalau kamu mau, kamu ambil aja." Terkejut aku membaca balasan komentar mbak Veni.
Aku nggak boleh berpikir buruk tentang balasan komentar dari mbak Veni. Mungkin itu hanya candaan biasa.