
"Bu, Bima malu untuk turun menemui Sarah dan kedua orang tuanya." ucap Bima, saat mobil nya sudah berhenti tepat di depan pagar rumah Sarah.
"Kenapa harus malu, Bim!. Kita kesini kan dengan niat baik. Untuk mempererat tali silaturahmi kita." jawab Laras dengan bercermin di depan spion mobil Bima, sebelum ia memutuskan untuk turun.
"Lagian, aku yakin Sarah akan senang melihat pengorbanan lelakinya yang sangat tulus ingin menikahinya lagi." lanjut Laras.
"Mana enak sih orang sendirian?, kalau ada suami kan membuat beban terasa ringan, karena dua orang yang menanggung nya.
"Begitu ya, Bu?," tanya Bima dengan seperti orang yang tak punya pikiran. Yang seperti wayang kulit saja, tak bisa membuat keputusan sendiri. Hanya bisa melakukan sesuatu apapun karena arahan dari seorang terdekatnya.
Laras dengan percaya dirinya turun dari mobil Namun berbeda dengan Bima, rasa nya masih ada rasa tidak enak. Ia seperti maju mundur untuk melangkah kerumah Sarah.
"Bim!!, ayo buruan turun!!!," panggil Laras, dengan suara pelan tapi penuh dengan penekanan.
Dengan ragu kaki Bima menuruni mobilnya, jujur jantung di dalam dada nya berdegup dengan sangat kencang.
"Tapi, Bu....," ucap Bima terpotong.
"Udah, kamu sekarang ikuti ibu. Biar ibu yang mengurus semuanya." gumamku Laras.
Mau tak mau, walau ia sangat berat hati untuk melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah Sarah. Akhirnya Bima pun mengikuti Laras dari belakang.
Laras berjalan masuk ke halaman rumah Sarah dengan membalas sekantong buah-buahan segar. Sebelum sampai dirumah Sarah, Laras meminta pada Bima untuk berhenti di kios buah-buahan.
"Assalamualaikum...," ucap salam Laras dengan suara yang renyah hingga nyaman di dengar oleh telinga. Tidak seperti biasanya, yang suaranya selalu gas tinggi saat bertemu Sarah.
"Waalaikumsalam," jawab ibu Sarah dari dalam rumah.
Lalu daun pintu pun terbuka, ibunya Sarah pun terkejut saat melihat Bima dan Laras datang kerumah nya.
__ADS_1
"Bu Laras?!," ucap ibu nya Sarah dengan mata melotot.
"Maaf, jeng. Kedatangan kami berdua membuat jeng kaget." ucap Laras saat melihat ekspresi mantan besan nya itu terkejut.
"Silahkan masuk, Bu." ibu nya Sarah mempersilahkan Laras untuk masuk kedalam rumah nya dengan sedikit ada kecanggungan.
Bukan hanya canggung, ibu nya Laras pun merasa aneh dengan kedatangan Laras kerumahnya. Rasa aneh melihat perubahan sikap yang tak biasa di diri Laras.
Laras di ikuti Bima di belakang nya pun berjalan masuk kedalam rumah Sarah.
"Rumah nya enak ya, jeng. Bersih, adem dan yang pasti nyaman kalau di tempati. Jadi betah tinggal disini." ucap Laras saat masuk kedalam ruang tamu.
"Bu Laras bisa aja, lebih nyaman rumah ibu Laras sendirilah." jawab ibu nya Sarah dengan ekspresi wajah yang datar. Ibu nya Sarah sudah membaca gelagat buruk dari sikap Laras yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat itu.
Laras pun hanya tersenyum saat mendengar jawaban dari ibu nya Sarah dengan ekspresi wajah datarnya.
"Kenapa ibu repot-repot saja?, seharusnya ibu tak perlu begini." ucap ibu nya Sarah mencoba menolak pemberian Laras.
"Tidak merepotkan kok jeng," jawab Laras sambil memaksa menyodorkan bungkusan buah itu. Sehingga ibu nya Sarah, tak bisa lagi menolak, Dengan terpaksa ibu nya Sarah pun menerima nya.
"Kedatangan saya kesini itu untuk tujuan baik, jeng. Saya mau menyambung tali silaturahmi." ucap Laras penuh basa-basi.
Ucapan Laras membuat ibu nya Sarah semakin berpikir kalau kedatangan Laras dan Bima ini ada maksud lain.
"Tapi tumben ya, Bu. Tumben sekali ibu datang kesini dengan baik-baik, setelah anak-anak kita sudah resmi bercerai." ucap ibu nya Sarah secara gamblang. Ia sengaja berbicara seperti itu, agar Laras merasa kalau kedatangan nya sangat tidak diharapkan.
"Jeng bisa saja, mereka hanya bercerai secara agama, jeng. Jadi Bima masih bisa di sebut sebagai suami Sarah dan masih menjadi menantu jeng." jawab Laras dengan senyum yang renyah, sudah seperti kerupuk yang baru saja di goreng.
"Cerai secara agama bagaimana sih, Bu?!. Bima dan Sarah sudah sah bercerai secara agama dan negara!!," Ucap ibu nya Sarah.
__ADS_1
"Jeng, ini kok sok tau sih?, siapa yang bilang kalau mereka berdua sudah sah bercerai secara negara?," senyum Laras selalu mengembang di bibirnya.
"Saya tidak sok tau, Bu. Memang yang saya katakan itu benar. Kalau memang Sarah dan Bima belum sah bercerai secara negara, mana mungkin anak ibu itu keluar menghirup udara segar!!," ibu nya Sarah sangat jengkel pada Laras yang sok tau dan sok paling benar itu.
"Ah... jeng ini bisa-bisanya berpikiran seperti itu. Bima keluar memang karena aku yang menebusnya lima puluh juta." jawab Laras dengan wajah penuh kebanggaan pada dirinya sendiri.
"Jadi jeng jangan berpikiran aneh-aneh, karena Bima keluar murni dari uang yang ku buat jaminan di kantor polisi." lanjut Laras.
Bima yang mendengar ucapan ibunya itu pun, berkali-kali menarik dan membuang nafas dengan kasar. Bima salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu, saat ia mendengar ke sok tahuan Laras tentan masalah rumah tangganya.
Dalam hal ini, memang Bima belum bercerita pada Laras dan Ambar. Karena saat pulang dari penjara, bukan sambutan hangat yang ia terima dari Laras. Namun kebangkrutan usahanya yang dikarenakan oleh ulah Laras.
Sehingga selain tak ada waktu untuk bercerita, Bima juga tak ada rasa ingin bercerita tentang rumah tangganya.
Yang ada, bukannya menyemangati Bima yang patah hati. Laras akan terus menyalahkan Bima. Bukti nya, saat Laras tau tentang kehidupan Sarah yang sebenarnya, Laras terus menyalahkan Bima karena sudah menceraikan Sarah.
"Lalu apa tujuan Bu laras kemari?," tanya ibunya Sarah tanpa basa-basi.
"Siapa tamunya, Bu?," suara Sarah terdengar dari arah dapur, sehingga pertanyaan dari ibunya Sarah tak sempat di jawab oleh Laras.
Sarah pun berjalan ke ruang tamu, karena memang ia ingin tau siapa tamu yang datang di pagi menjelang siang itu.
"Sarah!!," ucap Bima dengan mata berbinar penuh kebahagiaan di wajah Bima.
Hati Bima sangat bahagia saat menatap wajah Sarah yang alami dan tak penuh dengan make up itu.
"Mas Bima?, ibu?!," gumam Sarah sambil menautkan kedua alisnya, dengan menatap bergantian pada kedua orang yang sedang bertamu di rumah nya itu.
Sarah pun tak kalah kaget dengan ibunya tadi, saat melihat kedatangan Laras dan Bima kerumahnya.
__ADS_1