
Hari ini Damar dan Bianca akan melangsungkan pernikahan, mereka akan melangsungkan pernikahan nya dirumah Damar.
Mereka hanya menikah di bawah tangan atau menikah hanya secara agama saja, banyak juga orang bilang menikah sirih.
Linda terlihat sangat bahagia, karena ia merasa sebentar lagi hidupnya akan kembali seperti dulu, sebelum Damar dan Lidya dipecat dari kantornya.
Malah ia berfikir setelah ini ia akan lebih dari dulu, karena menantunya adalah pemilik perusahaan besar kedua setelah Handoko group.
Tak lupa Linda mengundang beberapa tetangga samping kanan kirinya. Kali ini ia tak mau mengundang teman-teman sosialita nya, disamping karena ia tak ingin menunjukkan pernikahan putra nya yang sangat sederhana itu, Linda juga malu saat kejadian akad nikah Lidya yang gagal dan berujung dengan perkelahian.
Beberapa tetangga yang diundang pun ada yang mulai bisik-bisik menggunjing Linda.
Linda yang melihat dua orang tetangga nya yang saling berbisik, langsung mendatangi nya.
"He, kamu membicarakan aku ya?!," ucap Linda seperti tau apa yang sedang dibisikkan tetangga nya ke tetangga yang lain.
"Aku berani bersumpah, kali ini pernikahan putra ku Damar dan Bianca pemilik perusahaan terbesar nomer dua dikota ini tidak akan gagal!!!!," ucap Linda dengan lantang.
Ucapan itu didengar oleh beberapa tetangga yang saat ini diundang diacara akad nikah Damar dan Bianca.
Salah satu tetangga, sebenarnya ingin sekali mengabadikan acara ini. Namun sayangnya para undangan yang hadir, tidak boleh masuk membawa handphone.
Bianca belajar dari kasus Lidya kemarin, ia tak inginkan berita ini viral. Karena kalau berita ia menikah ini viral, hidup dikolong jembatan taruhannya.
Dan itu sangat tidak terbayangkan oleh Bianca, akhirnya sebelum itu terjadi Bianca harus mengantisipasi nya.
Pesanan nasi kotak pun sudah datang, kali ini Linda sekeluarga atas persetujuan Bianca juga, tidak memakai jasa catering dari Sarah.
Mereka takut Sarah akan menggagalkan pernikahan Damar. Karena menurut Linda, Sarah masih menyimpan rasa pada Damar.
Acara pun segera di mulai, karena semua pihak juga sudah datang. Kali ini Bianca membawa orang bayaran untuk menjadi saksi nikahnya.
Sementara yang menjadi wali Bianca adalah pak ustadz yang Bianca juga yang membawa.
Entah itu ustadz beneran atau gadungan tak ada yang tau. Karena sepertinya Bianca sudah mengatur ini semua sangat detail.
"Saudara Damar bin Santoso, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Bianca binti Anggoro dengan maskawinnya berupa uang sebesar lima ratus ribu rupiah tunai"
Ijab sudah diucapkan oleh wakil wali Bianca.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Bianca binti Anggoro dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."
Qobul pun langsung di ucapkan oleh Damar, Dan segera disahkan oleh para saksi. Yaitu para tamu undangan.
Setelah acara akad selesai, kini Lidya mulai membagi nasi kotak untuk para tamu undangan yang hadir saat ini.
"Katanya menantunya punya perusahaan besar, tapi kok mau mau nya ya, dikasih uang mahar lima ratus ribu?," bisik salah tetangga ketetangga yang lain yang sama-sama menjadi saksi pernikahan Damar dan Bianca.
"Masak iya, menantunya kaya raya, tapi makan nya cuma nasi kotak, hihihi." balas ibu tetangga satunya. Sambil iringi tertawa kecil bersamaan.
"Jangan-jangan menantunya juga istri orang juga, kayak kejadian yang dulu itu." timpal ibu-ibu satunya yang memakai gamis warna kuning menyala.
Linda yang mendengar itupun langsung berkacak pinggang.
"He?! kenapa kalian jadi tetangga kok julid sih?!, Kalau kalian tidak percaya bahwa menantu ku ini pemilik perusahaan besar. Nanti akan aku buktikan!!!," ucapan Linda sangat lantang.
Sehingga menjadi pusat perhatian, termasuk Damar dan Bianca. Damar segera berdiri dan berjalan menuju mama nya. Ia ingin menenangkan mama nya.
__ADS_1
"Sekarang kalian pergi dari sini!!!," Linda mengusir tamu undangan yang ketahuan membicarakan nya.
"Udah ma, malu dilihat keluarga Bianca." Damar mencoba membujuk Linda.
Lidya juga melakukan hal yang sama dengan Damar. Namun yang namanya Linda, tidak akan mudah tenang sebelum membalas semua yang sudah dilakukan oleh tetangga yang menurut Linda julid itu.
"Sekarang kalian pergi dari sini!!!!, cuma bawa amplop lima puluh ribu aja mau minta makanan enak!!, Dasar tetangga tidak tau diri!!," Linda mengusir dan mengumpat ketiga tetangganya itu.
"Syukur-syukur ya kita datang jadi saksi pernikahan anak ku, kalau tidak bisa jadi pernikahan anakmu tidak sah. Karena tidak ada nya saksi." Balas tetangga sebelah kanan nomer dua dari rumah Linda.
"Sebenarnya, aku juga sibuk ada arisan bersama istri teman-teman suamiku. Tapi berhubung ada tetangga ada acara, aku cancel semua nya, eh ternyata tuan rumah nya tak tau terimakasih. Main usir-usir tamu, menyesal aku datang kesini!!," ucap Bu Leni istri anggota TNI itu.
"Iya, aku juga. Rasanya menyesal sekali datang ke acara ini. Mana yang punya rumah sombongnya nggak ketulungan." sahut ibu satunya yang memakai baju kuning.
"Ibu-ibu dan bapak-bapak terimakasih atas kehadirannya diacara pernikahan kami. Kalau sesuatu yang tak berkenan kami mohon maaf. Dan mengenai sikap mama saya, kami sangat meminta maaf." Damar yang juga sangat malu dengan kelakuan mama nya itu juga meminta maaf kepada para tamu undangan yang tak banyak itu.
"He, Mar!!! ngapain kamu minta maaf pada mereka. Seharusnya mereka yang meminta maaf, karena mereka sudah julid sama keluarga kita. Amplop cuma lima puluh ribu aja, mau minta makan enak. Sudah untung aku beri nasi kotak!!!! Dasar tetangga tak tau diri!!!!," Linda semakin emosi setelah mendengar Damar meminta maaf pada para tamu undangan.
Akhirnya semua tamu undangan termasuk pak ustadz serta orang bayaran Bianca pun pergi dari rumah Damar.
Sekarang hanya tinggal Linda, Lidya, Damar dan Bianca yang ada didalam.
Terlihat Linda sudah tenang, wajah nya juga tak angker seperti tadi.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sudah menjadi pasangan halal ya, Bi." ucap Damar saat Bianca mau mengganti gamisnya dengan pakaian santai.
Saat akad tadi Bianca hanya memakai gamis panjang warna putih dan selendang transparan dengan warna senada.
Tak ada kemewahan pada pernikahan nya ini, jangan kan dekorasi ruangan. Make up MUA pun tak ada, Bianca hanya makeup wajahnya sendiri secara tipis-tipis.
"Iya, Mar." jawab Bianca pada Damar, tak ada panggilan khusus pada suami nya itu. Karena mereka berdua dulu nya adalah teman sekolah.
Dan akhirnya Damar menerimanya, tak mempermasalahkan perihal panggilan saja.
"Oh ya, Mar. mungkin akhir-akhir ini aku akan sibuk. Aku ingin menyelesaikan tugas-tugas ku dikantor sebelum perut ku membesar. Bisa jadi aku akan jarang pulang." ucap Bianca pada Damar sambil membersihkan sisa-sisa makeup diwajahnya.
"Kenapa kamu tak istirahat saja dirumah, Bi. Kamu bisa menyerahkan tugas kantor padaku." Damar memoles ucapannya agar tak terlihat kalau ia ingin sekali masuk di perusahaan Bianca.
"Hah?!," Bianca kaget dengan ucapan Damar.
"Kamu ingin aku istirahat, dan kamu yang mau menghandle semua urusan kantor?," tanya Bianca dengan mengulang pernyataan dari Damar tadi.
"Maksud aku, biar kamu ini istirahat dirumah agar kamu nggak capek-capek. Aku hanya kasian sama kamu dan bayi kita, sayang." Damar beralibi lagi, kali ini ia memeluk Bianca dari belakang dan menciumi tengkuk Bianca.
Tapi tak semudah itu, Bianca menyerahkan perusahaan yang ia pegang pada Damar. Karena Bianca sangat tahu kalau perusahaan itu masih di bawah pengawasan suami pertamanya yaitu pak Handoko.
"Tapi ini masih terlalu cepat untuk kamu masuk ke perusahaan ku, Mar. Karena baru saja kita menikah, lagian aku tak mau papa ku tahu hal ini." Jawab Bianca beralasan.
"Kamu tau kan, kalau papa ku tak pernah setuju dengan kamu?, Dan pasti kamu tau konsekuensi apa yang bakal aku terima kalau kita ketahuan menikah. Aku yakin kalau tidak memisahkan kita berdua, pasti ia akan mengeluarkan aku dari ahli waris." Kali ini alasan Bianca berhasil membuat Damar tak berkutik.
Damar tak ingin yang disebut oleh Bianca terjadi pada nya. Karena ia tak mau hidup susah lagi seperti kemarin-kemarin yang sudah ia lalui.
Bianca yang melihat ekspresi wajah ketakutan Damar pun tersenyum pahit. Saat ini ia tau salah satu tujuan Damar menikahi nya.
"Kalau gitu, ayo kita istirahat dulu. Aku sangat capek sekali." ucap Bianca pada Damar.
"Tapi aku mau.........." Damar langsung menyambar Bianca yang duduk di bibir ranjang. Dan melahap bibir merah Bianca.
__ADS_1
Kini mereka berdua bermain di kamar yang pernah di tempati oleh Sarah.
Setelah puas bermain-main, mereka berdua pun akhirnya tertidur pulas dibawah selimut yang sama sebagai sepasang suami istri.
Keesokan paginya, sepasang pengantin baru itu masih belum bangun. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan siang.
Linda keluar kamar dengan rambut acak-acakan, lalu ia menuju kemeja makan. Dan ia membuka tudung saji yang berada di atas meja makan itu.
Namun saat Linda membukanya, ternyata isi nya zonk. Tidak ada masakan apapun disana.
"Bianca......!!!," teriak Linda memanggil Bianca.
Bianca yang saat ini masih bug*l bersama Damar dibawah selimut yang sama, mereka berdua langsung terbangun mendengar Linda teriak sangat kencang.
"Kenapa mama teriak-teriak sih?," Bianca menggaruk kepala nya karena merasa tidurnya sangat terganggu.
"Entahlah, aku juga tak tahu." Jawab Damar sambil mengangkat kedua bahu nya.
Lalu mereka berdua bergegas kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan memakai baju nya. Dan segera keluar dari kamar menuju sumber suara Linda berada.
Mereka menemukan Linda di atas kursi meja makan, ia duduk sambil mengangkat kakinya.
"Ada apa, ma? kenapa mama teriak-teriak memanggilku?," tanya Bianca yang dibuat bingung oleh kelakuan Linda.
"Ini kan sudah siang, tapi kenapa tak ada makanan sama sekali dimeja makan, Bi?, Harusnya sebagai menantu yang baik, pagi itu kamu harus memasak." Linda memberi nasehat pada Bianca, seolah-olah melakukanya sudah benar.
"Hah?! aku masak?! Maksud nya mama menyuruh ku masak?!," Bianca mengulang-ulang pertanyaan nya, ingin mempertegas ucapan Linda.
"Iya lah, ya kamu yang masak. Kamu kan disini istri dari anak ku, Bianca. Sudah punya kewajiban mengurus semua kebutuhan rumah tangga. Termasuk masak, nyapu dan mencuci." Ucap Linda dengan sangat tegas.
"Damar, ini maksudnya apa ya?!," Bianca mencoba bertanya pada Damar, Agar Damar menjelaskan kembali tentang maksud mama mertua nya itu.
Bukan nya Bianca tidak mengerti dengan arti kalimat Linda. Hanya saja Bianca ingin tahu maksud mama mertuanya itu langsung dari mulut anaknya yaitu Damar. Yang saat ini sudah menjadi suami Bianca.
"Gini loh sayang, tapi lebih baik kamu duduk dulu disini." Damar memegang kedua bahu Bianca, lalu Damar mengarahkan secara lembut pada Bianca untuk duduk di kursi makan.
"Maksud nya mama, kalau kamu sudah menjadi istri. Kewajiban nya ya mengurus suami. Berhubung disini juga ada mamaku yang juga sudah menjadi mamamu, karena kamu itu istri ku. Jadi sekalian kamu juga mengurus mama ku yang sudah menjadi mama mu juga." Damar menjelaskan maksud Linda dengan cara halus.
"Trus kamu menyetujui apa yang diminta oleh mama mu?," tanya Bianca lagi, sepertinya kali ini ia sedang menahan emosi.
"Iya donk. Itukan sudah menjadi kewajiban seorang istri. Jadi kamu harus melakukan semua pekerjaan rumah." ucap Damar yang seperti sudah benar saja kelakuannya.
"oh.. jadi kamu menikahi perempuan hanya untuk dijadikan babu yang melayani orang tua mu ini?!," Bianca tak tahan lagi, kali ini emosinya sudah meledak.
"Kamu ngomong nya kok gitu sih, Bi?! Ini itu mama ku yang sudah menjadi mama mu juga. Jadi kamu harus menghormati nya donk. Seperti kamu menghormati mama mu sendiri. Dan satu lagi, kamu itu sudah menjadi istri ku. Kamu tau kan kodrat istri itu apa? kodrat istri itu ya harus nurut sama semua perintah suami!!," suara Damar agak meninggi kepada Bianca.
"Aku bisa menganggap mama mu seperti mama ku sendiri. Asal dia juga harus menganggap aku seperti anak nya sendiri." ucap Bianca.
"Nah itu bagus, jadi kmu harus menuruti semua perintah mama. Kan senang kita terlihat rukun." ucap Damar seperti tak bersalah.
"Iya sih. Tapi mama ku dulu tak pernah tuh menyuruh-nyuruh ku melakukan pekerjaan seperti pembantu. Malah aku selalu dimanjakan, mulai dari uang, makanan dan semua fasilitas terpenuhi. Apa mama mu yang sudah menjadi mama ku juga bisa memberikan dan melakukan apa yang dilakukan mamaku pada ku?!," Bianca tak mau kalah omongan dengan Damar.
"Kamu ini jadi istri kok membangkang, ingat nanti kamu akan menjadi istri yang durhaka." Ucap Linda geram mendengar omongan Bianca yang selalu membantah.
"Lagian kamu ini baru jadi menantu, sudah membantah perintah mertua. Kamu itu tidak seperti Sarah yang sangat nurut padaku." lanjut Linda dengan mengangkat bibir bagian atasnya.
"Hah?! Mama mau menyamakan aku dengan Sarah?!," tanya Bianca yang jelas pertanyaan itu tak memerlukan jawaban. Bianca berucap sambil tertawa meledek.
__ADS_1
"Maaf, ma. Asal mama tau, aku bukan wanita bodoh seperti Sarah yang mau saja di perbudak oleh mertua macam mana ini!!,"
Bianca pun berdiri, dan keluar menuju mobilnya. Dan ia langsung pergi kekantor nya tanpa sarapan dan berpamitan pada Damar suaminya.