
Handoko pun mengambil handphone nya yang dia taruh di saku kemejanya.
"Waduh kenapa banyak pesan masuk seperti ini, Vin?," tanya Handoko pada Celvin.
Lalu ia membuka satu persatu pesan yang dikirim oleh kolega bisnis nya.
Dan dari semua kolega bisnis nya mengirim link sebuah video. Karena Handoko juga penasaran dengan Links yang di kirim oleh partner bisnis nya itu. Ia memutuskan untuk membukanya.
"Kurang ajar Bianca!!," ucapnya geram. Handoko sangat kaget melihat video yang diunggah oleh Bianca.
"Ada apa, Pi?," Tanya Celvin saat melihat wajah papinya itu penuh emosi.
Lalu Handoko menyodorkan handphone nya yang masih memutar video hasil rekaman Bianca.
Celvin segera mengambil handphone itu dan melihat video yang masih terputar itu.
"Dasar perempuan gila!!," umpat Celvin.
"Ini bisa mencoreng nama baik perusahaan, Vin. Papi harus secepatnya menyelenggarakannya konferensi pers untuk membersihkan nama baik keluarga kita dan juga perusahaan." ucap Handoko.
Lalu ia mengambil handphone nya ditangan Celvin, lalu ia menghubungi Sinta.
"Sin, segera atur tempat dan waktu untuk acara konferensi pers tentang video yang tersebar di sosial media." ucap Handoko saat panggilan pada Sinta sudah tersambung.
"Baik, segera laksanakan pak." ucap Sinta dari sebrang telepon.
Pak Handoko pun langsung mematikan telepon nya setelah mendengar jawaban dari Sinta.
Kini Sarah dan Mayang sudah berhenti di depan ruko nya. Terlihat masih banyak orang disana.
Sarah yakin kalau Bianca masih ada didalam karena mobil nya terlihat terparkir rapi di depan ruko.
"Stop!!!," ucap Sarah menghentikan keributan yang terjadi di toko kue miliknya.
"Akhirnya ibu Sarah datang, sekarang kita harus meminta penjelasan pada Bu Sarah." ucap salah satu bapak-bapak yang berkumis tipis dengan rambut tersisir sangat rapi.
Sarah melirik kearah Bianca yang menundukkan kepala dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Maksud bapak penjelasan apa ya?," tanya Sarah pada bapak-bapak tadi yang menyuruh Sarah untuk memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Ini lihat, Bu." satu ibu menyodorkan handphone pada Sarah dan disitu ada video yang sudah diputar.
Sarah pun memperhatikan video itu secara seksama. Lalu ia mengerti tentang video itu. Itu video yang diambil Bianca tadi siang saat ia berada di ruang makan bersama pak Handoko, Celvin dan Mayang.
"Apa maksud mu dengan video ini Bianca?," Sarah berjalan mendekat pada Bianca yang masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Sarah? Aku punya salah apa sama kamu sehingga kamu mau merebut suami ku?," kali ini Bianca berhasil memojokkan Sarah didepan orang banyak.
"Apa maksud mu dengan bicara seperti itu, Bi?!," Sarah sangat kesal dengan sikap Bianca yang seakan-akan ia adalah korban. Selain itu Sarah sangat malu dengan apa yang di lakukan Bianca didepan langganan kue nya.
"Apa benar yang dikatakan oleh perempuan ini, Bu Sarah?," tanya ibu yang memakai baju berwarna kuning itu.
"Semua yang dikatakan oleh perempuan ini tak ada yang benar sama sekali!!," ucap Sarah mengklarifikasi berita itu.
"Trus dengan video itu?," celetuk ibu disampingnya.
"Video itu adalah rekayasa perempuan gila itu!! Asal kalian tau didalam video itu sebenarnya ada aku dan Celvin putra semata wayangnya pak Handoko." ucap Mayang memberi pembelaan pada kakaknya yang saat ini sedang tersudut kan.
"Memang kamu siapa?," tanya ibu yang sedang hamil tua itu.
"Dia tunangan ku dan adik dari pemilik toko roti ini," kalo ini Celvin yang menjawab pertanyaan customer itu. Celvin berjalan mendekat kepada Mayang. Dan dibelakang nya di ikuti oleh pak Handoko.
"Wah bukanya itu pak Handoko?," tanya seseorang yang ada dibarisan paling belakang sambil terus menunjukkan muka nya kepermukaan.
"Silahkan bapak mengklarifikasi tentang video itu, pak." celetuk salah satu orang yang ada di barisan paling depan.
"Saya rasa, saya tak perlu mengklarifikasi semua ini disini. Saya akan segera menyelenggarakan konferensi pers, dan menunjuk bukti-bukti yang valid tentang video itu. Jadi tunggu saja waktu dan tempat nya, dan yang pasti juga akan di siarkan secara live di semua sosial media." pak Handoko berbicara sangat terlihat berwibawa. Tak ada emosi yang meledak-ledak saat ia menjelaskan mengenai konferensi pers.
"Dan satu lagi, karena penyebaran video hoaks ini salah satu tindakan kriminal. Saya pastikan bagi siapapun yang mengunggah video dan menyebarkan nya termasuk yang membagikan video itu akan mendapatkan sanksi dari saya!," ancam pak Handoko sambil melirik kearah Bianca.
Kini semua orang yang berada disitu langsung terdiam tak bersuara sama sekali. Suasana di toko roti milik Sarah seketika menjadi hening.
"Sekarang kalian bubar, kalau memang ingin menyelesaikan pembayaran kue yang sudah kalian beli. Silahkan lakukan, dan segera pergi tinggalkan tempat ini." ucap Pak Handoko.
Mereka pun segera melakukan transaksi, dan segera pergi dari toko roti itu.
Sedangkan Bianca diam-diam mengambil tasnya yang berada di atas etalase kaca. Dan dengan langkah sangat pelan namun pasti, ia meninggalkan Handoko, Celvin dan Mayang yang masih berdiri ditempat semula. Sedangkan Sarah sudah masuk kedalam tokonya untuk mengambil Kean.
"Hay, tunggu!!!! Mau kemana kamu?!!!," panggil Celvin kepada Bianca yang mencoba untuk kabur dari sini.
__ADS_1
Seketika Bianca menghentikan langkahnya, karena mau lari pun percuma kalau sudah ketahuan seperti ini. Pasti mereka akan mengejarnya sampai ke lubang semut sekalipun.
Handoko melihat Bianca yang mencoba melarikan diri itu, lalu ia melangkah menuju Bianca yang masih berdiri mematung.
"Mau kemana kamu?," tanya Handoko pada Bianca.
"Aku... Aku tak mau seperti ini, Pi. aku ingin rumah'tangga kita tetep utuh seperti dulu. Asal kamu tau, aku melakukan ini juga karena aku ingin mempertahankan rumah tangga kita," ucap Bianca sambil menangis.
"Aku sudah tak mempercayai air mata buaya mu! Jadi percuma kamu menangis begini di depan ku," ucap Handoko sambil membuang muka tak ingin menatap Bianca.
"Tapi Pi....asal kamu tau saat ini aku hamil," ucap Bianca sambil memegang perutnya.
"Hamil?, kamu kira aku akan mempercayai itu? Sekali pun itu benar kalau kamu hamil, aku yakin itu bukan anak ku." Kali ini Handoko tak mau tertipu dengan akal bulus wanita licik itu.
Karena berani-beraninya ia mengunggah video itu ke halaman sosial media, yang pastinya teman Bianca adalah rekan kerja dan partner bisnis Handoko. Dengan cepat video itu akan tersebar.
"Kalau kamu ingin pergi dari sini, silahkan kamu pergi. Ingat jangan mengganggu hidup Sarah lagi. Dan tunggu sanksi yang akan aku berikan padamu setelah bukti yang aku punya akan memberangkatkan mu!," Handoko kembali mengancam Bianca, karena hati nya saat ini masih diliputi emosi gara-gara tingkah laku Bianca.
Bianca pun berjalan keluar dari ruko Sarah, lalu dengan langkah cepat ia mendekati mobilnya yang terparkir di depan toko roti milik Sarah.
Kini Bianca menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kurang ajar!!! niat hati ingin mempermalukan Sarah namun aku sendiri yang di buat malu!!!," gumam Bianca sambil memukul setir mobilnya.
Kruuukkk!
"Duh perut ku sangat lapar, mana dari pagi sampai sore begini belum makan sama sekali!!! yang ada hanya masalah yang datang silih berganti??," gerutu Bianca
Lalu ia membelokkan mobilnya, ia ingin makan di warung kecil yang sangat sederhana dengan menu yang tak banyak. Karena terpaksa Lidya pun tak menjaga gengsinya.
"Nasi pecel satu Bu, pakai peyek udang ya Bu. Sekalian minum nya teh manis hangat." Bianca memesan nasi.
Setelah nasi dan teh pesanannya datang, tak usah menunggu lama. Nasi satu piring habis tak bersisa, hanya meninggalkan piring dan sendok saja.
Bianca pun pergi setelah membayar nasi yang ia makan itu. Kini ia masuk mobil, dan segera menghidupkan mesin mobilnya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku kenyang." Gumamnya dalam hati.
Lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kali ini tujuan nya adalah rumah Damar. Tubuh dan pikirannya sangat capek, dia butuh istirahat dengan cukup.
__ADS_1