
Aku bangun sebelum subuh, seperti biasa aku tak lupa sholat di sepertiga malam, yang dilanjutkan dengan sholat subuh.
Begitu juga dengan Mayang, ia juga bangun sebelum subuh. Semenjak datang dari Singapura, Mayang tidurnya di ruko bersama ku. Betapa bahagianya aku, akhirnya saudara ku bisa tidur dirumah ku sendiri.
Karena kalau mau pulang ke kampung Mayang membutuhkan waktu yang cukup lama. Mungkin setelah acara konferensi pers yang akan di gelar oleh pak Handoko, kami bertiga akan berkunjung ke kampung untuk melihat ibu dan bapak.
Entah kapan pak Handoko akan menyelenggarakan konferensi pers yang ia janji kan. Karena aku sudah tidak nyaman dengan berita-berita miring tentang video itu.
Setelah sholat subuh, aku dibantu oleh Mayang melakukan aktivitas seperti biasanya. Yaitu menyiapkan bahan-bahan untuk kue-kue yang akan aku jual di toko.
Ku dengar handphone ku berdering, aku pun berlari untuk mengambil nya. Karena handphone ku saat ini berada di tempat tidur, jadi suara dering handphone takut mengganggu Kean yang sedang tidur.
"Untung aja dia tidak terbangun" ucapku lirih sambil mengambil handphone yang berada di nakas samping tempat tidur. Karena bunyi handphone ku sangat nyaring.
Ternyata panggilan dari Sinta, "Tumben dia telepon sepagi ini? mungkin dia kangen, karena sudah lama kita nggak bertemu. Semenjak ia di alih kan tugasnya dari menjadi asisten Bianca ke kantor lagi."
"Assalamualaikum, Sinta." Sapa ku saat telepon sudah tersambung.
"Waalaikumsalam, Sarah. Sarah aku mau memberi kabar, nanti jam setengah sembilan pagi kamu datang di hall resto XX. Karena jam sembilan pas, konferensi pers akan di mulai. Jadi kamu jangan sampai telat ya, Sar. Biar habis ini aku share lokasinya, agar kamu tidak nyasar. Dan konferensi pers ini di buka untuk umum." ucap Sinta dari sebrang telepon.
"Baik, sin. Aku akan datang tepat waktu bersama Mayang. Tapi kenapa aku grogi ya sin?," ucap ku pada Sinta, karena baru kali ini kehidupan ku akan di sorot dan menjadi konsumsi publik.
"Kamu tenang saja Sarah, ada aku di sana. Lagian kamu dan pak Handoko tak melakukan apa-apa, jadi santai saja," Sinta mencoba menenangkan diri ku ini.
"Iya, Sin. Aku bahagia karena nanti aku bisa ketemu kamu, aku kangen sama kamu. Udah lama kita tidak bertemu." ucap ku lagi.
"Sama Sarah, aku juga kangen. Nanti kita bertemu disana ya..." Telepon pun ditutup setelah mengucapkan salam.
"Telepon dari siapa, mbak?," tanya Mayang sambil mengaduk-aduk adonan kue.
"Dari Sinta, may. Nanti kita harus datang ke hall resto XX, karena pak Handoko menggelar konferensi pers." jawab ku.
"Oh ya mbak?, semakin cepat, semakin baik mbak. Karena nama baik itu penting, apalagi pak Handoko orang terkenal di kota ini." ucap Mayang sambil berdiri dan berjalan ke kamar.
Lalu ia keluar, rupanya Mayang mengambil handphone nya yang ada di kamar.
"Iya mbak, ini semalam Celvin menelpon ku berkali-kali tapi nggak ku angkat. Mungkin aku ketiduran, dan dia juga kirim pesan. Memberi tahu kalau hari ini akan diadakan konferensi pers." ucap Mayang, ternyata semalam Celvin sudah memberi tahu Mayang.
"Ya sudah May, sekarang kita kebut bikin kue-kue ini. Agar segera selesai dan kita bisa segera pergi ke acara itu." ucapku sambil memasukkan adonan kue kedalam oven.
Mayang menganggukkan kepala dan mulai mengaduk adonan kue.
Kita berdua sangat menikmati waktu bersama seperti ini. Karena sudah sangat lama kita berdua tidak pernah meluangkan waktu untuk sekedar sharing-sharing, semenjak aku menikah dengan mas Damar dan Mayang kuliah keluar Negri.
Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh, sebagian kue sudah ada yang matang. Dan para karyawan-karyawan ku juga sudah datang.
"Bu, hari ini akan diadakan konferensi pers ya?," tanya Reni sambil menata kue yang sudah matang di atas nampan, karena mau di pindah ke depan untuk di taruh di etalase.
"Iya, Ren. Kok kamu tau?," tanya ku sambil terus mengaduk adonan kue dengan mixer, kali ini Mita yang bagian menaruh kue kedalam oven.
Toko buka jam delapan, jadi sebelum mereka ada di depan. Mereka membantuku produksi dulu di belakang.
"Kan udah dishare di semua sosial media, Bu. Dan konferensi pers nya pun di buka untuk umum, jadi siapapun boleh datang. Dan juga akan live di semua media sosial." ucap Reni sangat detail, aku saja tidak tahu tentang itu. Tahu ku hanya hari ini diadakan konferensi pers. Itupun karena Sinta yang telepon, mungkin aku terlalu sibuk jadi untuk membuka media sosial pun aku sangat jarang.
Aku hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Reni.
"Uh... aku yakin kali ini Bu Bianca tak akan bisa berkutik karena akan lebih dipermalukan lagi oleh pak Handoko." Mita ikut berkomentar.
"Iya Mit, lagian jadi istri nya orang terkaya di kota ini kok banyak tingkah. Harusnya dia itu bersyukur punya suami yang kaya raya, yang sudah mencukupi semua kebutuhan nya. Ini malah main selingkuh dengan lelaki lain." Reni semakin Lancar untuk menggosip.
__ADS_1
Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar mereka asyik bergosip, sedikit banyak mereka sudah mengetahui cerita masalalu kehidupan ku.
Jujur aku terhibur dengan ulah mereka, karena mereka bisa menghilangkan kesedihan dan kejenuhan. Aku tak pernah merasa kesepian saat ada mereka.
Karena mereka disini sudah seperti keluarga kedua bagi ku, begitu juga bagi mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sekarang aku juga sudah tak perlu setiap pagi ke outlet cabang, karena mbak Indah sudah aku tugaskan disana. Jadi aku kesana hanya untuk mengecek saja.
Bersyukur punya karyawan yang berkompeten seperti mereka, walau dengan ijazah yang tak tinggi.
Kini pembuatan kue sudah hampir selesai, tinggal memasukkan kedalam oven. Aku pun menyerahkan pada para karyawan-karyawan ku. Dan sebagian ada yang sudah membuka toko karena jam sudah menunjukkan jam delapan.
Aku dan Mayang segera bersiap-siap untuk pergi ke acara yang konferensi pers yang di selenggarakan oleh pak Handoko.
Setelah aku selesai mandi kini giliran Mayang yang mandi. Karena di sini kamar mandi hanya ada satu. Jadi kalau mau mandi harus bergantian.
Kami berdua pun sudah siap, dan beriringan melangkah menuju mobil yang terparkir. Namun sampai didepan ruko, ternyata Celvin sudah datang untuk menjemput kami.
"Kamu baik mobil bersama Celvin aja, May. Biar mbak bawa mobil sendiri." ucapku pada Mayang.
"Sekalian mbak Sarah juga, yang naik sini mbak.Jadi mbak Sarah nggak perlu repot setir sendiri." sahut Celvin.
Akhirnya aku dan Mayang naik mobil Celvin. Karena ada perasaan tidak enak kalau aku menolak permintaan nya.
Sampai ditempat acara, sudah banyak wartawan dari beberapa stasiun Tv dan surat kabar.
Masyarakat yang ingin tahu tentang kebenaran berita ini pun juga tak sedikit yang datang.
Saat kami bertiga turun dari mobil, banyak wartawan yang menyodorkan mikrofon dan melemparkan beberapa pertanyaan padaku.
Namun sesuai arahan Celvin tadi sewaktu kita di mobil, aku sama sekali tak memberikan klarifikasi apapun pada awak media saat ini. Karena nanti pasti akan ada waktunya.
Aku tersenyum padanya sat ia melihat kearah ku. Dan ia juga membalas senyumanku dengan mengangkat tangan nya yang mengepal di depan dadanya. Ia memberi semangat padaku.
Aku berlalu masuk kedalam tempat acara, Karena para warga yang yang datang ternyata tidak di ijinkan masuk. Mereka hanya melihat di halaman resto yang sudah disediakan layar yang sangat besar.
Aku, Mayang, Celvin dan pak Handoko sudah standby di tempat yang di sediakan. Dan terlihat Sinta sangat sibuk menyiapkan beberapa hal, sebelum acara di mulai.
Kami berempat duduk di depan para awak media yang standby dengan kameranya. Dan beberapa mikrofon pun berjajar rapi di atas meja depan kami duduk.
Tak lupa beberapa handphone yang di buat untuk siaran langsung juga sudah di tata sedemikian rupa. Agar bisa mengambil gambar yang pas.
Handphone yang dipakai pun bukan handphone kaleng-kaleng. Melainkan handphone yang mata kameranya ada empat.
Aku dan Mayang saling berpegangan tangan, karena ada rasa grogi dan degdegan. Maklumlah ini pertama kali aku tampil di depan kamera.
Apalagi ini akan disiarkan di semua stasiun televisi swasta. Dan yang membuat hati ini tidak enak adalah masuk kedalam berita yang menurut ku adalah berita yang tidak baik.
Berita klarifikasi video yang dituduhkan berselingkuh. Ini yang membuat aku sedikit malu. Ada rasa takut akan kehilangan para pembaca novel ku.
Karena mulai kemarin di group sahabat pena ku sudah membahas tentang video ku itu. Dan alhamdulilah mereka juga akan menyaksikan konferensi pers ini secara virtual. Karena tempat mereka menyebar dari Sabang sampai Merauke.
Dengan begini mereka akan tau tentang kebenaran dari video yang tersebar itu.
Banyak pula pesan WA dari pelanggan roti ku, mereka juga memberi dukungan padaku. Inilah yang bisa menguatkan aku untuk duduk di depan kamera seperti ini.
Acara pun sudah dimulai, dan kini pak Handoko yang pertama kali bicara di depan publik. Tak lupa aku menghidupkan handphone ku, untuk melihat siaran langsung lewat Facebook.
Pak Handoko menjelaskan semuanya tentang fakta yang sebenarnya terjadi. Setelah pak Handoko berbicara banyak, kini giliran Celvin yang berbicara.
__ADS_1
Celvin juga berbicara apa yang terjadi sesungguhnya. Sampai ia menunjukkan isi pesan wa nya pada Mayang untuk mengundang ku makan siang bersama papi nya. Yang tujuannya untuk bersilaturahmi dengan dua keluarga. Karena orang tua ku dan Mayang berada di kampung, akhirnya aku yang menjadi wakil nya.
Sesekali aku melihat handphone ku yang aku pegang untuk melihat siapa saja yang menonton live ini.
Ternyata tak sedikit yang menonton, sudah beribu-ribu orang yang menonton. Termasuk mas Damar, dan Lidya. Karena di situ ada tulisan namanya.
Dan terlihat juga akun para sahabat pena ku dan teman-teman sesama author. Hati ku sangat lega dengan ini semua. Tak sedikit juga yang berkomentar baik pada ku, rata-rata semua berkomentar yang baik tentang ku.
Bukan karena aku ingin disanjung, karena memang kenyataannya aku tak melakukan apa yang dituduhkan oleh Bianca. Tak sedikit pula dari komentar itu memanggil nama Bianca dengan nge tag nama akun sosial media nya.
Namun Bianca tak ada muncul kepermukaan, mungkin kali ini dia sudah kena mental dengan berita ini.
Kini giliran ku yang memberi penjelasan, aku pun berbicara dengan apa sesungguhnya yang terjadi tanpa di tambah-tambahin dan di kurang-kurangi. Semua sesuai yang terjadi disana. Begitu juga dengan Mayang. Dia juga melakukan hal yang sama.
Dan kini waktu nya sesi tanya jawab yang akan dilakukan oleh para awak media.
Dan pertanyaan yang dilontarkan tentang siapa Bianca dan hubungannya seperti apa. Dan yang berhak menjawab adalah pak Handoko.
Dan betapa terkejutnya aku, saat pak Handoko mengaku telah menyewa detektif untuk mengikuti istri nya itu.
Dari hasil kamera detektif sewaan nya, ia tahu kalau ternyata Bianca selingkuh dan menikah dengan mas Damar.
"Pantas saja Bianca sangat membenciku dan sering berkata dan bertindak kasar padaku, ternyata ini yang Bianca maksud." ucapku dalam hati.
Setelah acara tanya jawab sudah selesai, diakhir acara Sinta memutar video yang di peroleh dari kamera cctv yang ada diruang makan rumah pak Handoko.
Disitu terlihat jelas kalau aku tak hanya berdua dengan pak Handoko. Namun ada Mayang dan Celvin Dudu di sampingku.
Saat aku melihat handphone, banyak yang berkomentar Bianca play victim. Seakan-akan dialah yang tersakiti dan ternyata dia lah sesungguhnya pemain unggulnya yang menyakiti.
Tak sedikit juga, orang yang berkomentar menyebut kalau aku owner SKcake.
Lalu ada satu akun yang yang bernama @LidyaDanisha.
Dia berkomentar " Hah? jadi mbak Sarah itu owner SKcake?,"
Aku yakin itu adalah akun Lidya adiknya mas Damar. Akhirnya dia sekarang sudah tau semuanya. Tapi tidak dengan profesi ku sebagai penulis novel online.
Kini acara sudah selesai, para wartawan juga sudah pergi dengan kamera dan mikrofon nya masing-masing. Disini hanya tinggal aku, Mayang, Celvin, pak Handoko dan Sinta.
Kami sedang menikmati makan siang, saat ini aku kepikiran Randy yang berada diluar. Mungkin saja dia menunggu ku keluar.
"Sin, besok kamu urus surat perceraian ku dengan Bianca! Dan hari ini kamu tugaskan Jodi untuk mengambil mobil dan kunci apartemen Bianca." perintah pak Handoko pada Sinta.
"Baik, pak." jawab Sinta dengan menganggukkan kepalanya.
Lalu pak Handoko berdiri untuk pergi ke toilet. Dan aku mencoba menghubungi Randy untuk menanyakan posisinya saat ini.
"Kamu kenapa Sarah?, kok kelihatannya sedang bingung?," tanya Sinta yang mungkin melihat gelagat ku sedang bingung.
"Enggak ada apa-apa kok Sin, cuma tadi di depan aku lihat Randy datang. Aku takut dia menunggu ku saat ini," ucapku berbisik ditelinga Sinta yang kebetulan kami duduk berdampingan. Aku berbisik agar Mayang dan Celvin tak mendengar yang aku katakan.
"Apa perlu aku memanggil nya untuk kesini, Sarah?," tanya Sinta.
"Nggak usah, Sin. Aku nggak enak sama pak Handoko dan Celvin." bisikku.
Lalu aku mau mengetik pesan WA, ternyata Randy mengirim WA dulu padaku.
Aku pun tersenyum melihat ini, seakan-akan ia merasa kalau aku sedang memikirkan nya.
__ADS_1
"Aku sekarang masih makan siang di resto ini, kalau kamu mau kamu kesini ya. Temani aku makan." Pesan dari Randy aku baca, dan aku tersenyum saat membaca nya. Namun aku tak bisa datang padanya karena tak enak hati harus meninggalkan keluarga Handoko.