
Tiiiiin....
Tiiiin....
Bunyi klakson mas Damar mengagetkan tidurku, ku lihat jam di dinding kamar sudah jam 1 dini hari. Aku bergegas keluar untuk membuka pintu.
Cekleeek....
Ku buka pintu, dan mas Damar baru turun dari mobil. Terlihat Lidya juga baru turun dari mobil dengan dandanan yang begitu lusuh. Mungkin mereka berdua lagi capek karena terlalu banyak pekerjaan di kantor.
"Sarah, buatkan teh hangat ya, mas?," tanyaku sembari mengambil tas kerja mas Damar dari tangan nya.
"Nggak usah, aku langsung istirahat aja. Karena udah capek banget", jawab mas Damar.
"Kalau kamu Lid?,mau dibuatkan teh hangat?," ucapku sembari menoleh kan badan ke arah nya.
"Nggak usah deh mbk, Lidya juga udah ngantuk banget", jawabnya dengan menguap.
Mas Damar pun masuk kamar, langsung pergi ke kamar mandi. Terdengar dia sedang membersihkan diri, aku mempersiapkan kan piyama untuk nya.
"Ini mas," ku sodorkan setelan piyama yang baru aku ambil dari lemari.
Setelah ganti baju, mas Damar merebahkan dirinya.
"Oya, Sarah. Besok aku ada kerjaan di luar kota," ucapnya memberitahu ku.
"Berapa hari, mas?."
"Mungkin semingguan."
"Kok lama mas? Bukannya besok hari Sabtu? Biasanya kan kantor libur," tanyaku pelan.
"Tau apa kamu sama dunia perkantoran?!! Kamu aja cuma lulusan SMA, jadi jangan sok tau!!," jawabnya agak ketus dan dengan tatapan hinaan.
"Kamu itu jangan berfikir aneh-aneh, aku keluar kota juga bersama Lidya," sambungnya lagi.
"Jangan cari gara-gara buat ribut deh!!!, ucapnya sambil tidur membelakangi aku.
Tak ada maksud di hati ini untuk cari keributan. Aku hanya takut mas Damar kecapean. Tapi kenapa akhir-akhir ini mas Damar terlihat terlalu sensitif.
Tapi aku tak ambil pusing, dengan mas Damar dan Lidya ke luar kota. Aku semakin leluasa untuk menjalankan bisnis ku ini. Kalau urusan mama, itu hal mudah. Karena mama tak pernah masuk dapur sama sekali.
__ADS_1
Ku pejamkan mata, tak ku sia-siakan waktu yang sedikit ini untuk beristirahat. Karena jam 3pagi aku juga harus bangun lagi, untuk mempersiapkan orderan-orderan yang sudah masuk.
Alarm handphone berbunyi, aku pun bergegas bangun langsung membersihkan muka di kamar mandi. Terlihat mas Damar masih pulas tertidur dengan dengkuran halusnya.
Tak buang-buang waktu lama, aku segera ke dapur. Aku harus berpacu dengan waktu. Agar semua berjalan dengan lancar.
Setelah semua orderan dan masakan untuk sarapan udah siap, kulihat jam masih pukul setengah 6 pagi. Aku sempatkan untuk mandi, sebelum membangun kan mas Damar.
Untuk pengambilan orderan, aku atur di jam yang sama. Itu bertujuan mengurangi kecurigaan mama. Setelah selesai mandi, masih ada waktu untuk santai. Kalau mama tak dirumah hidup ku bisa sesantai ini. Ku gunakan waktu yang tak lama ini untuk promo makanan di Facebook dan WhatsApp.
Ada notifikasi dari Facebook. Kulihat satu persatu ternyata ada beberapa komentar dari customer ku kemarin. Semua berkomentar kalau masakan ku enak dan banyak yang suka.
Bersyukur sekali kalau masakan ku diterima di lidah para customer ku. Ini membuat semangat memasak ku bertambah.
Aku beranjak ke kamar untuk melihat mas Damar, ternyata mas Damar sudah bangun dan sudah dikamar mandi. Menyiapkan baju untuk nya itu sudah menjadi salah satu tugas ku, mulai awal kita menikah dulu.
"Sarah!!, tolong packing baju-bajuku ya. Jam 8 aku harus berangkat." ucap mas Damar menyuruh ku.
"Iya mas," ku ambil koper dan beberapa baju milik mas Damar daan ku masukkan satu per satu.
"Sarapan nya uda siap, mas," ucapku saat kulihat mas Damar sudah selesai mandi dan ganti baju.
Dan ia pun berlalu ke luar kamar menuju meja makan. Terlihat Lidya sudah siap untuk berangkat.
Kini mereka berdua sudah berangkat keluar kota. Dan aku dirumah sendirian.
"Ini saatnya aku untuk berkreasi, kamu pasti bisa sukses Sarah," ucapku mesugesti diri.
Aku mempersiapkan semua orderan yang akan diambil oleh ojol-ojol langganan para customer ku. Ku taruh semua di teras rumah, karena sebentar lagi sudah jam pengambilan, dan aku sudah meminta pada customer ku untuk tepat waktu.
Tak harus menunggu lama semua orderan pun ludes tak bersisa.
"Alhamdulillah, untuk rejeki hari ini." Ucapku lirih sambil ku pegang uang yang ku dapat hari ini.
Ku berjalan masuk rumah dan ku lirik jam dinding di ruang tamu sudah jam 10 siang, tapi mama masih belum pulang. Dan aku berinisiatif untuk mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan nya.
Tapi tiba-tiba perut ku terasa sakit yang teramat sangat. Rasa nya tak ber jedah sama sekali dan bersamaan keluar cairan putih bening dari jalan lahir.
Aku merintih kesakitan dan teriak minta tolong, tapi apa daya dirumah tak ada seorang pun. Dan kompleks perumahan yang aku tempati ini termasuk kompleks perumahan elit. Keadaan lingkungan nya begitu sepi, karena tak ada yang saling bersosial dengan tetangga lain.
Hidup disini tak seperti hidup di desa, yang jiwa sosial antar tetangga itu masih di junjung tinggi.
__ADS_1
Segera aku memesan gocar, karena mau pake ojek sepertinya aku tak sanggup.
Untung saat ini aku memegang uang hasil jualanku dua hari ini, jadi aku tak perlu bingung untuk bayar ongkos gocar.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung di bopong beberapa perawat dan diantar sopir gocar. Sepertinya ia kasian melihat ku merasakan sakit sendirian tak ada suami atau sanak saudara yang mengantar.
Setelah aku terbaring di IGD, aku mencoba menelpon mas Damar. Sudah beberapa kali memanggil tapi tak ada jawaban. Kucoba menghubungi Lidya, tak diangkat malah telepon ku di matikan.
Ku telpon lagi mas Damar, berharap dia mengangkat telepon ku kalo ini. Tapi apa daya, nomer nya sudah tidak aktif lagi.
Kecewa, iya itu yang ada di hati ku saat ini. Di saat aku berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati kita berdua, dia tak ada disamping ku.
Mau menghubungi ibu di kampung, itu akan menambah beban pikiran nya. Selain jauh untuk kesini, nanti beliau akan bertanya tentang mas Damar dan keluarga nya. Aku masih belum sanggup bercerita semuanya pada ibu dan bapak.
Sinta, iya Sinta. Aku ingat ibu pernah bilang kalau Sinta sekarang kerja kantoran di kota. Siapa tau sekarang dia tidak sibuk, karena ini hari Sabtu. Biasanya kalau hari Sabtu semua kantor itu libur.
Untung saja waktu itu ibu memberiku nomernya Sinta, jadi aku bisa menghubungi nya sekarang.
tuuuut
tuuuut
"Halo,,,,, dengan siapa ini?," tanya Sinta dari sebrang telepon.
"Assalamualaikum, Sinta? ini aku Sarah. Kamu ingat aku kan Sin?," tanya dari sambungan telepon.
"Waalaikumsalam, ya Allah Sarah. Akhirnya kamu menghubungi ku. Sengaja kemarin aku ninggalin nomerku pada bibi, agar kamu bisa menghubungi ku. Gimana kabar mu, Sarah?."
"Alhamdulillah aku baik Sin. Sinta apa aku bisa minta tolong padamu?," tanyaku hati-hati karena tak enak aja sekali menghubungi nya karena ada butuhnya.
"Katakanlah Sarah, jangan sungkan-sungkan. Kamu kan teman baik ku." Jawab Sinta.
"Sekarang aku ada di rumah sakit, aku mau melahirkan. Tapi suami ku lagi ada kerjaan di luar kota. Bisa nggak kamu temani aku disini? nggak mungkin aku meminta ibu kesini, kasian jaraknya terlalu jauh sin," ucapku pada Sinta.
"Ya Allah Sarah, kasian sekali kamu. Maafkan aku, untuk kali aku juga tak bisa bantu kamu. Aku juga ada kerjaan di luar kota, luar pulau tepatnya. Emang sih ini bukan kerjaan tentang kantor. Tapi tau sendiri lah kamu, aku hanya bawaan. Kalau bos sudah ngomong, aku bisa apa?. Sekali lagi maafkan aku ya Sarah," ucap sinta dengan penuh sesal.
"Iya Sinta, nggak apa-apa. Maaf ya aku sudah mengganggu waktu kerja mu," ucapku. Dan panggilan pun terputus.
"Mungkin mama harus berjuang sendiri untuk melahirkan mu, nak." ucapku lirih dengan air mata yang menetes.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
jangan lupa mampir ke karya temanku yagesya