DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Tetangga Genit


__ADS_3

"Sepertinya itu suara mas Bima." celetuk Dewi dengan wajah yang berbinar. Entah apa yang ada di perasaan perempuan yang ada di depan ku ini.


Sepertinya perempuan ini memang tak punya otak. Bisa-bisanya ia mengagumi suami orang di depan istrinya.


"Waalaikumsalam," jawabku seraya berdiri untuk membuka pintu.


"Amma... ," Kean berlari padaku dan langsung mencium punggung tangan ku. Di ikuti di belakang Kean ada Putri. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Kean, tapi dengan mimik muka yang berbeda.


Lalu mas Bima ada di paling akhir barisan. Aku langsung mengambil tangan nya dan mencium punggung tangan nya.


"Mas Bima, mau minum kopi atau mandi dulu?," tanyaku sambil mengambil tas u


yang ia bawa.


Sedangkan Kean dan Putri sudah masuk kedalam kamar nya masing-masing setelah bersalaman dengan Dewi yang masih anteng duduk di sofa ruang tamu.


"Aku mandi dulu, sayang. Gerah ini." jawab mas Bima sambil menunjuk tubuhnya.


Lalu ia berjalan masuk, "rupanya ada tamu?," tanya mas Bima saat melihat ada Dewi di ruang tamu. Mas Bima terlihat tersenyum ramah pada Dewi. Karena Dewi adalah tamu disini.


Namun apa yang aku lihat, Dewi membalas senyum ramah mas Bima dengan senyum kecentilan sok kecakepan. Ingin sekali ku layangkan tas kerja milik mas Bima ke muka Dewi.


"Mas Bima baru pulang ya?," tanya Dewi dengan tatapan mata yang intens pada mas Bima.


"Iya, Wi." jawab mas Bima sambil berjalan meninggalkan aku dan Dewi menuju kamar.


"Mas Bima!!," panggil Dewi. Mas Bima pun berhenti ditengah pintu kamar. Lalu menoleh kearah Dewi.


"Iya, ada apa Wi?," tanya mas Bima.


"Tadi Dewi kesini sengaja membawakan mas Bima ubi rebus. Semoga mas Bima suka, karena ubi nya rasa nya manis." ucap Dewi dengan logat bicara nya dibuat agar terdengar merdu dan kelihatan imut. Bukan imut-imut yang kulihat, tapi amit-amit.


"Oh ya?, terimakasih ya, wi." ucap mas Bima lalu ia masuk kedalam kamar dan mas Bima membiarkan pintu kamar terbuka. Mungkin ia lupa menutup nya.


"Mas Bima lagi mandi ya mbak Sarah?," tanya Dewi dengan mata jelalatan ke arah kamar yang pintunya terbuka lebar.


"Oh ya, wi. Sebelum nya aku mohon maaf. Aku sedang sibuk menyiapkan makan malam, dan kamu sendiri sudah mendapatkan uang yang kamu pinjam. Jadi sekarang kamu bisa kembali kerumah kamu. Karena aku mau melanjutkan masak." ucap ku pelan namun dengan ketegasan.


"Oh ya... ini piring nya. Dan terima kasih ya untuk ubi rebus nya yang rasanya manis itu." ucapku dengan menaruh piring bekas tempat ubi rebus di tangan Dewi.


"Tapi mbak... aku masih betah loh bermain disini." ucapnya dengan enteng nya seperti tak ada dosa.


"Iya, tapi maaf aku sedang sibuk." kali ini aku berjalan ke pintu dan dengan sengaja membuka pintu itu. Bertujuan agar Dewi mengerti dengan maksud pengusiran ku.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, mbak Sarah. Dan jangan lupa tolong bilang ke mas Bima aku pulang." ucapnya lagi. Aku rasa dia memang sedikit gila, saat dilihat dari ucapan dan tingkah lakunya.


"Iya...iya...iya..." aku iya'in aja semua ucapan nya agar ia cepat-cepat pergi dari rumah ku ini.


"Dan satu lagi, ubi rebus nya jangan dihabiskan sendiri mbak. Kasih juga buat mas Bima."


Aku mendengus kesal dengan tingkah laku Dewi kali ini. Sepertinya ia sengaja membuatku emosi. Namun aku harus tetap bisa menahan emosi ini. Karena percuma saja meladeni perempuan gila seperti Dewi ini, hanya buang-buang tenaga saja.


Saat Dewi sudah berada di luar pintu, dengan sengaja aku tutup pintu dengan sangat keras sehingga menimbulkan suara yang tinggi.


"Dasar!!!! tidak punya sopan santun, tamu belum pulang pintu sudah ditutup. Mana nutupnya dengan kencang. Sampai hati ini mau copot mendengar suaranya?!!," dengus Dewi dengan kesal.


Dan akhirnya ia pergi meninggalkan halaman rumah ku saat aku mengintipnya dari balik korden.


"Amma lagi lihat siapa?," tanya Kean dari belakang dan berhasil membuat aku kaget.

__ADS_1


"Itu, amma lagi lihat teman mama yang tadi." jawabku.


"Memang kenapa dia amma?," tanyanya lagi.


"Tadi teman nya amma pamit pulang, jadi amma intip dari dalam untuk memastikan dia baik-baik saja sampai rumah." aku beralasan pada Kean.


"Kean udah mandi?, kok udah keliatan ganteng?," tanyaku. Padahal aku juga sudah tau kalau dia sudah mandi.


"Sudah, amma. Kean juga udah sholat. Sekarang Kean sangat lapar." ucapnya sambil memegang perutnya.


"oke, emang Kean mau makan dulu atau nunggu kita semua?." tanyaku. Disini sengaja aku membuat pilihan agar Kean bisa memilih. Dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi sendiri-sendiri. Karena dia adalah lelaki yang nanti nya akan menjadi kepala rumah tangga. Dimana kelak ia akan menjadi yang memutuskan setiap keputusan didalam rumah tangga nya.


"Kean nunggu makan bersama saja, amma." ucap Kean memutuskan pilihan nya.


"Baik, kalau mau makan bersama konsekuensi yang di dapat adalah rasa lapar yang semakin menjadi." ucapku.


"Baik, amma. Kean bisa kok menahan rasa lapar ini." jawabnya dengan sangat mengerti dengan ucapan ku tadi.


"Baiklah, kalau begitu amma mau mandi dulu." ucapku.


Dan Kean menganggukkan kepalanya. Sebelum ke kamar untuk mandi, aku menuju kamar Putri. Dia sedang tiduran dengan bermain handphone.


"Sudah mandi, Put?," tanya ku.


"Belum." jawab nya dengan singkat dan tetap matanya menatap layar handphone nya. Dia tak membalikkan badannya untuk melihat ku sama sekali.


"Mandi dulu gih, udah sore loh!," perintah ku.


"Iya," jawabnya. Dan lagi tatapan nya tetap menatap layar ponsel nya. Sepertinya ia sedang berbalas pesan dengan seseorang. Karena sesekali ia tertawa kecil dan terlihat bahagia.


Aku sangat jengkel dengan sikap Putri padaku, sepertinya ia melakukan itu dengan sengaja. Sikapnya seperti tak punya sopan santun. Karena diajak bicara tak menatap lawan bicara nya, malah asyik bermain handphone.


"Apa mas Bima yang membelikannya?," tanyaku dalam hati.


Aku segera berlalu ke kamar mandi, karena aku baru ingat Kean yang sedang menunggu dengan menahan rasa lapar demi keinginan nya untuk makan bersama.


"Kamu sudah selesai, mas?," tanyaku pada mas Bima yang baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh bagian bawahnya terlilit handuk berwarna putih. Sungguh terlihat begitu seksi dan mempesona. Ditambah dengan rambutnya yang basah, sungguh aku tak bisa menahan hasrat.


Namun kembali teringat Kean yang sedang menunggu kami untuk makan bersama, seketika hasrat itu hilang. Aku segera masuk kedalam kamar mandi.


Kini aku dan mas Bima sudah berpakaian santai dan aroma tubuh pun harum. Hilang semua keringat yang menempel di tubuh ini.


"Ayo kita makan, sayang!," ajak ku pada Kean yang saat ini sedang duduk sambil nonton TV acara kartun kesukaan nya.


Ia pun segera berdiri dan berjalan mengikuti ku menuju meja makan.


Tak lupa aku juga menghampiri Putri yang masih saja dikamar dengan handphone nya. Dan masih belum mandi juga.


"Ayo kita makan, Put!," ajak ku.


"Nggak, masih kenyang," jawab nya tanpa menoleh kearah ku.


Daripada aku sakit hati dengan sikap Putri yang semakin menyebalkan, aku pun segera meninggalkan nya dan menyusul mas Bima dan Kean yang sudah ada di meja makan.


"Mana Putri, Sar?," tanya mas Bima sambil menyendokkan nasi ke piring Kean.


"Ada dikamar nya," jawabku dengan wajah datar. Karena memang mood ku hilang dengan sikap Putri padaku.


"Kok nggak kamu panggil?," mas Bima terus melayani Kean.

__ADS_1


"Sudah mas, coba kamu yang panggil. Katanya masih kenyang." ucapku.


Setelah selesai melayani Kean, mas Bima berdiri dan berjalan menuju kamar Putri.


"Put, ayo kita makan!." terdengar suara ajakan mas Bima.


"Iya, ayah." jawab Putri dengan suara ramah. Jelas ada rasa sakit di hatiku. Karena sikap Putri pada ayah nya sangat berbeda dengan sikap nya padaku.


Terlihat Putri berjalan mengikuti ayahnya dari belakang menuju ke meja makan.


Ku tahan emosi ini, karena mungkin ia masih menyesuaikan diri hidup dengan ku, yang notabene nya aku adalah ibu sambung nya.


Tapi walau aku bisa menahan emosi, tetap saja mood makan ku seketika rusak melihat sikap Putri yang berwajah dua.


"Kok makannya sedikit, Sarah?," tanya mas Bima.


"Udah kenyang," jawabku singkat.


"Tambah donk, nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit, trus yang masakin kita siapa donk?," ucapan mas Bima berhasil membuat hati ku meleleh. Seketika mood ku langsung kembali baik lagi. Aku segera menambah nasi di atas piring ku.


"Masakan amma enak, Kean suka." ucap Kean sambil mulutnya terus mengunyah.


"Ah masa sih? pasti Kean bohong?," tanya ku dengan tersipu malu.


"Beneran kok, Kean udah jujur." sahut mas Bima.


"Benarkah Put, kalau masakan mama enak?," tanya mas Bima kepada Putri.


Putri hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi. Ia tetap menundukkan kepala sambil terus makan.


"Put, ayo bantuin mama beresin meja makan. Nanti mama yang cuci piring." perintah ku pada Putri yang sedang bermain handphone.


"Kenapa harus aku sih, ma?!," tanya Putri dengan alisnya bertaut.


"Kan ada adek?," ucapnya dengan membuang muka.


"Kan adek masih kecil, sebagai kakak kamu harus memberi contoh." ucapku dengan hati-hati karena memang sedikit susah menjalin komunikasi dengan anak yang status nya anak sambung.


"Ih... nggak mau ah!!," Putri berdiri meninggalkan ku, lalu ia masuk kedalam kamar nya.


"Mama mana, Put?," terdengar suara mas Bima bertanya pada Putri.


"Di belakang," jawabnya dengan suara tinggi.


"Sayang... lagi ngapain?," tanya mas Bima, ia memelukku dari belakang dan membuat aku kaget.


"Lagi cuci piring, mas." jawabku sambil mencoba melepas pelukan mas Bima.


"Mas, malu. Ada anak-anak loh." ucapku dengan terus mencoba melepaskan tangan mas Bima yang melingkar di perutku.


Segera mas Bima melepas tangan nya saat ia sadar kalau disini masih ada anak-anak yang belum tidur.


"Kenapa kamu tak menyuruh Putri untuk membantu mu, sayang?," tanya mas Bima.


"Coba kamu yang menyuruh nya, mas. Karena kalau yang menyuruh pasti dia akan membantah." ucapku jujur, karena masalah seperti ini memang harus dibicarakan. Agar tak menjadi bom waktu kalau terus di diamkan.


Lalu mas Bima terlihat berjalan ke kamar Putri. "Put, ada mama sibuk cuci piring kenapa kamu tak membantu nya?," tanya mas Bima.


"Iya yah....," jawab Putri dengan berat berjalan ke dapur. Lalu ia membantu ku membersihkan meja makan.

__ADS_1


__ADS_2