
Sore ini aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampung. Kangen sudah sangat melanda hati. Ingin segera bertemu dengan ibu dan bapak.
Tentang masalah Lidya, aku tak ambil pusing. Kalau pun nanti mas Damar datang dan meminta apa yang dikatakan oleh Lidya. Aku sudah siap untuk itu.
Aku akan mempermudah semua nya. Karena saat ini kewarasan jiwa ku lah yang lebih penting.
Kulihat Mayang juga sibuk mempersiapkan bawaan nya untuk pulang ke kampung halaman. Kita hanya menginap satu malam, tapi yang di bawa seperti mau menginap satu Minggu saja.
"Mbak, aku kok geli ya lihat sikap Lidya tadi. Kok bisa-bisanya dia minta uang ganti selama mbak Sarah tinggal disitu sebagai istrinya mas Damar. Bukankah itu sudah kewajiban mas Damar sebagai suami mbak Sarah?," ucap Mayang dengan terus membereskan barang bawaan nya.
"Ya itulah namanya orang yang tak berilmu, ngakunya lulusan S1 tapi otak masih dangkal." ucapku.
"upss!!, kok mbak jadi nyinyir gini ya?," lanjut ku sambil menutup mulut ku. Lalu kita berdua tertawa bersama.
Toko sudah tutup mulai dari tadi, karena stok kue sudah habis terjual hari ini.
Untuk besok toko akan tutup satu hari, karena memang ini waktu akan di buat untuk quality time dengan ibu dan bapak.
Tin!
__ADS_1
Tin!!
Tin!!
"Sepertinya itu suara mobil mbak Sinta deh, mbak!," ucap Mayang yang telah selesai packing-packingnya.
Aku pun juga sudah siap untuk berangkat, Khimar dan kaos kaki sudah terpasang sempurna. Kini tinggal angkat koper dan segera berangkat.
Aku dan Mayang berjalan keluar, sedangkan Kean sudah digendong oleh pengasuhnya berjalan lebih dulu didepan ku.
Kali ini aku sengaja mengajak pengasuh Kean. Karena Kean sudah super aktif. Kalau aku sendirian tanpa pengasuhnya, aku akan kewalahan.
Perjalanan terasa menyenangkan, karena kita bersama-sama. Jadi tak ada kata lelah walau harus menempuh jarak yang lumayan jauh.
"Mbak Sinta, kapan-kapan Mayang nginep dirumah kamu ya mbak?," ucap Mayang. Entah kenapa tiba-tiba ini anak pingin nginep dirumah kontrakan Sinta.
Mungkin ia ingin tau tentang seluk beluk kota ini, Mayang seperti aku. Ia tak pernah kemana-mana waktu sekolah.
Hanya saja karena bea siswa ia bisa melanjutkan S2 di luar negeri. Itu karena kecerdasan nya ia bisa sampai di negera orang. Dulu waktu kuliah S1 nya dia hanya kuliah di universitas swasta di kabupaten kami.
__ADS_1
"Daripada kamu nginep dirumah kontrakan ku, lebih baik nunggu aku menempati rumah baru aja, sekalian datang diacara tasyakuran nya." jawab Sinta dengan terus fokus menyetir mobil.
"Apa sin??, kamu beli rumah baru? dimana? moga saja tidak jauh dari rumahku. Biar kita bisa sering bertemu." ucapku panjang lebar.
"Ih pertanyaan kamu kayak kereta aja, mbak. Panjang sekali." celetuk Mayang.
"Iya nih May, kayak sedang di sidang saja pertanyaan sangat panjang." sahut Sinta tanpa menoleh padaku ataupun Mayang.
Untung saja Kean tertidur sangat pulas, jadi ia tak terganggu sama sekali walau kita disini bicara keras dan sangat berisik.
"Ya karena itu bentuk dari kebahagiaan ku mendengar teman ku ini sudah punya rumah sendiri dikota besar ini." ucapku sambil tersenyum sangat manis pada Sinta. Namun Sinta hanya melirikku saja. Lalu ia kembali fokus pada jalan yang ada didepannya.
"Sebenarnya sih, ini bukan pencapaian ku seratus persen si Sar. Ini itu hadiah yang diberi oleh pak Handoko." jawab Sinta.
"Maksud mu hadiah dari pak Handoko? Apa kamu akan di nikahi oleh pak Handoko untuk mengganti posisi Bianca di sisi nya?," Kali ini niat sekali aku menggoda Sinta. Aku tau pasti ia akan marah-marah padaku karena ucapan ku itu.
"Hey, gila kamu ya!! Kamu kira aku akan mau dengan pak Handoko? walaupun dia kaya, pak Handoko sudah aku anggap seperti ayahku sendiri. Kamu tau kan, kalau aku tak pernah merasakan kasih sayang sosok ayah mulai aku duduk di sekolah dasar?," kini mata Sinta berkaca-kaca, dan itu membuat aku merasa bersalah. Karena candaan ku, kini ia harus mengingat kembali pahitnya masa lalu saat ia ditinggal pergi untuk selamanya oleh ayahnya.
Namun karena almarhum pak Karmin ayah nya Sinta termasuk orang yang berada di desa ku. Jadi dengan peninggalan beliau Sinta bisa melanjutkan ke bangku kuliah. Sekarang giliran Sinta membiayai adiknya kuliah.
__ADS_1
"Maafkan ucapan ku ya, Sin?! ," aku meminta maaf atas kesalahan ucapan dari mulut ku ini. "Bukan maksud ku untuk menyakiti hati m, aku hanya ingin bercanda dengan mu. Kurasa kalo ini bercanda ku keterlaluan." lanjut ku.