DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#334


__ADS_3

"Yang mana rumah Tante Lidya, amma?," tanya Kean sambil mengedarkan pandangannya pada rumah-rumah yang berjajar rapi itu.


"Yang itu." jawab Sarah sambil menunjuk rumah yang ada mobil parkir.


Wajah Kean berseri bahagia, impian yang selama ini ia ingin kan akan segera ia dapat.


"Sebentar lagi Kean bakal bertemu dengan ayah." gumam Kean dengan senyum mengembang di pipi nya.


Hati Sarah semakin tak karu-karuan mendengar harapan anak nya itu.


"Semoga saja semua sesuai dengan ekspektasi mu, nak." ucap Sarah dalam hati.


Kini mereka berjalan menuju pintu gerbang. Dan rupanya pintu gerbang tidak di kunci. Itu artinya sang pemilik rumah ada didalam.


Sarah dan Kean pun langsung membuka pintu pagar itu, karena memang bell berada di pintu rumah.


"kenapa hati ku berdebar-debar amma?," bisik Kean pada Sarah.


"Kamu santai ya, nak. tenangkan hati mu." ucap Sarah menenangkan hati anaknya sambil tersenyum.


Kini tangan Kean menggenggam erat jari jemari Sarah. Dan mereka berdua melangkah bersama menuju pintu rumah Lidya.


"Apakah Tante Lidya ada dirumah ya Amma?," tanya Kean, dengan sangat fasih nya memanggil Lidya dengan sebutan Tante, seperti sudah mengenal lama dan seperti sudah akrab. Padahal Kean belum pernah melihat nya.


"Ada, itu mobilnya ada." jawab Sarah sambil menunjuk mobil Lidya yang terparkir di halaman rumah nya.


Sesekali, Sarah menoleh kearah rumah Sinta. Namun rumahnya saat ini sedang kosong, karena Sinta sekarang ada proyek di luar negeri.


"Amma, mencari siapa?," tanya Kean yang melihat Sarah menoleh kerumah Sinta.


"Amma hanya melihat rumah Tante Sinta. Tapi ternyata rumah tertutup. Pasti Tante Sinta masih di luar negeri." jawab Sarah.


"Memang rumah Tante Sinta dimana?," tanya Kean.


"Itu...," jawab Sarah sambil menunjuk rumah Sinta yang berada tepat di depan rumah Damar.


"Wah, ternyata rumah Tante Sinta dekat dengan rumah tantenya Kean ya, amma?," tanya Kean.


Sarah pun tersenyum pada Kean. Lalu Sarah mendekati pintu rumah Lidya.


Tok Tok Tok

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Sarah mengucapkan salam setelah mengetuk pintu.


"Kean sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Tante Lidya amma." bisik Kean pada Sarah.


"Sebentar lagi, Kean bakal ketemu kok. Sabar ya," jawab Sarah.


"Waalaikumsalam....!, siapa ya?," tanya Lidya dari dalam sebelum membuka pintu rumahnya.


Cekleeek...


Gagang pintu ditarik, dan daun pintu pun terbuka.


"Mbak Sarah?!," mata Lidya terbelalak saat melihat Sarah ada di depan pintu rumah nya.


"Mbak Sarah, tumben?," tanya Lidya dengan sedikit canggung. Karena dulu nya ia sering menghina dan menganggap Sarah seperti seorang pembantu di rumah nya.


"Lid, aku kesini ada yang ingin aku tanya Kana padamu." jawab Sarah.


"Mmm,,,,, kalau gitu. Yuk mbak silahkan masuk!," Lidya mempersilahkan Sarah untuk masuk.


"Yuk kita masuk," ajak Sarah pada Kean sambil mengulurkan tangannya. Dan uliran tangan Sarah disambut oleh tangan mungil Kean.


"Iya, Ini Kean anaknya mas Damar, Lid." Jawab Sarah.


"Ini Kean mbak?!, Kean sudah besar, sini sayang peluk Tante!," ucap Lidya sambil membuka lebar kedua tangan nya.


Kean pun langsung berlari, dan menghancurkan tubuh kecilnya di pelukan Lidya.


"Sudah lama banget tante tidak bertemu dengan mu, Kean." ucap Lidya sambil memeluk erat tubuh mungil Kean.


"Kenapa tante tidak mencari Kean?, padahal kita ada di satu kota." jawab Kean.


Ucapan Kean berhasil membuat mulut Lidya membisu. Memang tak ada alasan buat Lidya untuk tak mencari dan bertemu dengan Kean. Karena selain satu kota, Lidya juga tahu dimana toko roti Sarah berada.


"Maafkan tante ya, Kean. Itu karena Tante sangat sibuk." jawab Lidya beralasan.


"Ayah Kean dimana Tante?," tanya Kean yang tiba-tiba.


"Ayah?, ayah nya Kean. Mmmm.....,"


"Kean ingin bertemu dengan ayah, tante. Kean ingin melihat wajah ayah." belum selesai Lidya bicara, Kean sudah memotong nya. Hal itu dilakukan, karena Kean sudah sangat ingin bertemu dengan Damar. Kean berharap Damar saat ini ada di rumah Lidya. Agar ia bisa segera bertemu dengan Damar.

__ADS_1


"Kean, kalau tante Lidya belum selesai bicara, Kean tidak boleh memotong pembicaraan nya. Apa Kean sudah lupa dengan apa yang diajarkan amma?," ucap Sarah menasehati Kean dengan pelan dan hati-hati. Takut Kean malu dan tak percaya diri lagi.


"Iya, amma. Maafkan Kean." jawab Kean.


"Minta maaf juga sama tante Lidya." ucap Sarah.


"Tante, maafin Kean ya. Itu Kean lakukan, karena Kean benar-benar ingin sekali bertemu dengan ayah." ucap Kean sambil memasang wajah sedih. Sehingga membuat orang yang melihat nya ikut bersedih.


",Iya, sayang." jawab Lidya sambil menganggukkan kepalanya.


"Hebat didikan mu mbak Sarah. Sudah menjadikan Kean anak yang baik dan sangat disiplin." ucap Lidya sambil mata nya menatap Sarah dengan tatapan sangat kagum.


" Terimakasih ya, mbak. Kamu sudah menemani ku di saat kejadian di mall waktu itu." lanjut Lidya mengingat kejadian di mall, karena hanya Sarah lah yang menemani Lidya pada saat dirinya dikeroyok oleh Laras dan Ambar.


"Setelah kejadian itu, akhirnya aku tau kalau Mas Teguh bersama perempuan lain." ucap Lidya .


"Perempuan lain?, istrinya maksudmu?," tanya Sarah penasaran, karena ia tak tahu kalau akhirnya Lidya memergoki suami nya yang tak lain adalah suami Ambar juga.


"Istri?, maksud kamu mas Teguh punya istri, mbak?," Lidya terkejut dengan ucapan Sarah.


"Jadi kamu belum tau kalau mas Teguh itu sudah punya istri, lid?," tanya Sarah.


Lidya pun menggelengkan kepala nya, "Kata mas Teguh, ia seorang duda yang di tinggalkan istri nya yang selingkuh dengan lelaki lain." Jawab Lidya.


"Lalu sekarang hubungan mu dengan dia bagaimana?," tanya Sarah.


"Waktu itu juga, aku mengusir nya dari sini Mbak." ucap Lidya.


"Mungkin seperti itu lebih baik." jawab Sarah.


"Bagaimana keadaan mas Damar sekarang, Lid?," tanya Sarah.


"Dari kemarin Kean ingin sekali bertemu dengan ayah nya." lanjut Sarah.


"Mmmm... Mas Damar..." Lidya tidak melanjutkan omongan nya. Dan itu membuat buat Sarah penasaran.


"Mas Damar baik-baik saja kan?," tanya Sarah, menyakinkan kalau memang Damar sedang baik-baik saja. Ia tidak ingin mendengar kabar yang buruk tentang Damar, apalagi kabar yang mengabarkan kalau Damar sudah mati. Itu akan membuat hati nya akan kacau, bukan karena i masih cinta atau masih ada tempat di hati nya untuk Damar.


Tapi karena ia tak ingin anaknya kecewa lantaran tak bisa bertemu dengan ayah nya lagi.


"Alhamdulillah, kabar mas Damar baik-baik saja, mbak. Dia ada di kampung, ia bekerja keras untuk pengobatan ibu, mbak." jawab Lidya.

__ADS_1


__ADS_2