DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Baju Itu?


__ADS_3

"Kamu sudah dibutakan oleh cinta, Sarah!!, Sehingga dengan mudah ia mempengaruhi Kean untuk membenci ku!!!!,"mas Damar menunjuk pak Randy yang saat ini sedang memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tonjokan Damar.


Kenapa mas Damar menyalahkan orang lain atas akibat yang disebabkan oleh kesalahan nya sendiri. Kenapa mas Damar tak pernah sadar atas kesalahannya yang saat itu tak pernah peduli pada Kean.


Padahal pak Randy tak pernah sedikitpun mempengaruhi aku dan Kean untuk membencinya. Mungkin sikap Kean begini karena ia jarang sekali bertemu dengan ayah nya.


Ini sih bukan kesalahan Kean, seratus persen ini adalah kesalahan mas Damar sendiri.


Aku juga tak melarang jika mas Damar mau mendekati Kean. Karena ia adalah anak kandungnya sendiri.


Namun sikap emosional mas Damar seperti saat ini lah yang membuat aku was-was untuk mengijinkan Kean dibawa sementara oleh mas Damar. Aku taku sikap seperti itu mempengaruhi psikis Kean.


"Asal mas Damar tau, pak Randy tak pernah mempengaruhi apapun pada aku dan Kean. Malah beliau lah yang menolong aku sampai di titik ini." ucap ku pad mas Damar sambil ku tatap kedua mata nya.


"Hah??, memang kamu sudah mencapai apa dititik saat ini?!," ucap mas Damar dengan wajah yang menyepelekan ku.


Namun aku tak mau menyombongkan diri ini, karena aku sadar bahwa semua yang aku punya saat ini adalah titipan dari Tuhan. Dan bisa sewaktu-waktu diambil kembali oleh Nya.


"Kamu tak tau mas, pencapaian ku saat ini?, asal kamu tau ya, aku saat ini sudah bisa sabar, sudah bisa melupakan mu dan saat ini aku sedang menyembuhkan luka hati yang telah kamu dan keluarga mu lakukan kepada ku saat kita masih berumah tangga. Dan itu tak lain karena banyak nasehat yang aku dengar dari pak Randy," ucap ku pada mas Damar.


"Heh?!, jadi selama ini benar apa yang dikatakan Lidya. Kalau kamu selingkuh selama masih menjadi istriku. Jadi sekarang tak ada sedikitpun penyesalan di hatiku karena sudah menceraikan mu!," ucap mas Damar yang berhasil menusuk hati ku.


Namun aku tak menjawab nya, karena merasa percuma berdebat sama orang yang emosi dan maunya menang sendiri.


Lalu aku alihkan pandangan ini ke gundik mas Damar yang saat ini berdiri disampingnya dan memeluk erat lengan mas Damar.


"Baju ku?!," aku menatap baju yang ia pakai, dan baru sadar kalau itu baju kesukaan ku.


Jadi ingat kejadian malam itu, yang aku datang kerumah mas Damar untuk mengambil beberapa barang Kean yang ketinggalan dan bermaksud untuk mengambil baju yang dipakai oleh gundik mas Damar itu. Namun apa yang aku lihat malam itu membuat hatiku sangat sakit.


Jadi Ia tak hanya mengambil hati mas Damar namun ia juga mengambil posisi ku di ranjang ku sendiri. Dan saat ini ia juga mengambil baju kesukaan ku.


"Kenapa dengan baju itu?! Kamu tak terima?! Asal kamu tau baju itu aku yang beli, jadi sudah menjadi hak ku memberikan nya pada siapapun, termasuk pada Bianca." ucap mas Damar yang semakin membuat hati ini ingin sekali menjerit.


"Aku tak mempermasalahkan tentang baju itu. Cuma yang aku tak abis pikir kenapa perempuan yang katanya kaya raya ini lebih suka memungut bekas ku," ucap ku dengan tatapan sinis pada Bianca si gundiknya mas Damar.


Bianca yang mendengarkan ucapan ku seketika melotot kan matanya pada ku. Dan aku sama sekali tak pernah takut. Karena aku sudah memegang kartu As nya.


Sedangkan mas Damar lelaki yang pernah berada di hati ku ini, ia terlihat semakin emosi mendengar kan ucapanku. Dan ia langsung mengangkat tangan nya seperti nya ingin menampar pipi ku. Karena tak terima gundiknya aku hina.


Namun tak semudah itu mas Damar mau memukul ku, karena saat tangan akan di arahkan ke wajah ku. Seketika pergelangan tangan mas Damar di pegang erat oleh pak Randy.


"Kalau kamu memaksa Kean untuk mau digendong oleh mu, aku tak bisa melarang mu. Karena kamu adalah ayahnya. Namun kalau menyakiti Sarah, itu akan menjadi urusanku. Karena kamu sudah bukan suami Sarah!!," ucap pak Randy sambil melepas tangan mas Damar dengan kasar. Saat ini Kean sudah terdiam dari nangisnya dan digendong oleh pak Randy.


"Kamu nggak tau malu ya, Ran. Kamu selingkuh istriku, sahabatmu waktu SMA dan kuliah," ucap mas Damar seperti memutar balikkan fakta. Padahal fakta nya ia lah yang menyelingkuhi ku.


"Terserah dengan asumsi mu sendiri!!!!," ucap pak Randy, ia langsung memegang pergelangan tangan ku dan membawa ku pergi dari hadapan mas Damar.


Terlihat sekali wajah mas Damar sangat emosi, saat melihat pak Randy memegang pergelangan tangan ku.


Aku pun mengikuti langkah pak Randy yang saat ini menuntun ku dan menggendong Kean.

__ADS_1


"Ingat ya!!!! jangan pernah kamu pengaruhi anak ku!!!!! itu anak ku, bukan anak mu, Randy!!!!," mas Damar berteriak seperti tak punya malu. Ia menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe.


Lalu terlihat Bianca sang gundik pujaannya itu membawanya keluar dari cafe ini.


Dan setelah mas Damar dan gundiknya pergi, aku pun juga berpamitan pada pak Randy untuk pulang.


Aku tak langsung pulang, karena masih ada urusan. Aku berniat kerumah Sinta. Dan tadi sebelum aku pulang sudah mengirim pesan pada Sinta untuk memberi tahu kalau aku akan datang kerumahnya.


Sinta membalas nya dan ia memang saat ini sedang berada dirumahnya.


Aku pun melaju dengan kecepatan sedang, agar bisa dinikmati dengan santai oleh Kean.


Sesekali kulirik Kean yang saat ini ku pindah duduk nya didepan disebelah ku. Dan ternyata bayi mungil yang tampan ini sudah tidur dengan nyenyak sambil memegang botol susunya.


Saat mau masuk ke gang arah rumah Sinta, aku melihat dua orang perempuan yang berpakaian sangat menyedihkan. Dengan wajah yang belepotan dan berdebu. Seperti satu Minggu ia tak mandi.


Saat mobil ini mendekati kedua wanita itu, betapa kagetnya nya hati ku ini.


Ternyata mereka adalah mantan mama mertua ku dan Lidya.


"Kenapa mereka?,"


"Kenapa berpakaian seperti itu? tidak mencerminkan kan mantan mama mertua dan Lidya banget,"


"Kenapa ia bisa jalan kaki disini? Padahal daerah sini sangat jauh dari rumah mereka,"


Pertanyaan kenapa, kenapa, kenapa sangat memenuhi otak ku.


Karena hati ini masih punya sisi baik, kalau seandainya aku membiarkan mereka seperti itu. Trus aku apa bedanya dengan mereka?


Setelah ku menepi, aku parkir mobil setelah kulihat posisi mobil ini sudah aman. Karena aku masih dalam tahap belajar, jadi agak sedikit takut untuk memutar-mutar kan setir mobil.


Lalu aku turun dari mobil dan meninggalkan Kean yang saat ini masih tidur di dalam mobil.


"Lidya!!! Mama Linda!!," panggilku dan ku lambaikan tangan ku.


Mereka yang melihat ku melambaikan tangan tak membalas lambaikan tangan. Namun sepertinya mereka berjalan menuju tempat ku berdiri saat ini.


Dan benar saja, sekarang mereka berdua berada tepat di depan ku.


"Mama Linda darimana?," tanya ku dengan nada sangat sopan, Karena sejahat apapun dia, dia tetap orang tua yang harus di hormati.


"Kamu jangan banyak tanya, sekarang antar aku pulang," ucap mantan mama mertua dengan wajah juteknya.


Aku mempersilahkan mereka untuk masuk di mobil ku, tapi saat Lidya melewati ku tercium bau yang sangat anyir sekali dari tubuh nya.


Dan yang aku lihat wajah Lidya sangat pucat sekali.


Seperti orang yang telah mengeluarkan banyak darah.


"Lid, kamu kenapa? kenapa wajahmu sangat pucat sekali?," tanyaku saat ia sudah duduk di jok belakang.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, kamu itu jangan banyak bertanya. Tugas mu sekarang adalah mengantarkan kita pulang!!!," jawab mantan mama mertua, Lidya yang terlihat sangat lemas sepertinya sudah tak mampu lagi berkata-kata.


"Baik, ma. Apa kita makan dulu ma?," tanya ku menawarkan makanan, karena kulihat wajah mereka sangat mengenaskan.


"Ya sudah terserah kamu, asal bukan kami yang meminta!!!," ucap mantan mama mertua dengan wajah sinis nya saat menatap ku.


Ku jalan kan mobil ini dengan sangat pelan, karena didepan aku lihat ada warung lesehan pinggir jalan.


Rencana aku mau mengajak mereka makan disitu. Bagiku makan dimana saja kalau perut lapar tetap akan terasa nikmat.


Namun tidak untuk mantan mama mertua ku, ia tak terima saat mobil ini ku hentikan didepan warung lesehan ini.


"Kamu berniat untuk menghina ku dengan mengajak makan aku dan Lidya ditempat kumuh seperti ini?!," ucap mantan mama mertua ku dengan ketus.


"Kalau begitu mama mau makan dimana? Sebut saja biar saya antar," tanya ku dengan menyalakan mobil.


"Tapi Lidya sudah nggak kuat lagi ma, Lidya sangat lapar dan saat ini tubuh Lidya sudah sangat lemas tak bertenaga," ucap Lidya dengan suara sangat lemah.


Akhirnya kita putuskan untuk makan ditempat ini, dan aku mematikan mobilnya lagi.


Dan kita keluar dari dalam mobil bersama. Namun saat kami berjalan menuju warung itu banyak mata memandang ke arah kami.


Aku yang tau itu tak memperdulikan nya, karena saat ini yang mereka berdua butuhkan adalah mengembalikan tenaga nya dengan makan yang banyak.


Sekarang kami berempat, aku, Kean, mantan mama mertua dan Lidya duduk di satu meja yang kosong. Dan saat kami lewat di beberapa orang yang sedang duduk, mereka menutup hidungnya dengan sangat erat. Ada juga yang muntah-muntah.


Ku duga karena bau yang keluar dari tubuh Lidya. Dan di baju Lidya juga ada bekas darah yang sudah mengering.


Mungkin itu yang membuat bau anyir di. tubuh mantan adik ipar ku itu.


Aku pun segera memesan kan makanan sesuai permintaan mereka masing-masing.


Ayam goreng dua, lele goreng dua, bebek goreng dua dan nasi empat porsi. Serta es teh empat gelas.


Dan aku tak memesan makanan, karena perut ku sudah kenyang.


Setelah semua pesanan datang, mama dan Lidya pun memakan nya.


Melihat dari cara makannya, mereka berdua sangat kelaparan. Seperti belum makan selama tiga hari.


Dalam hitungan detik makanan yang terhidang di meja ludes tak bersisa.


Dan mereka melanjutkan dengan meminum es teh yang sudah mereka pesan.


"Heeeeekkk....," suara sendawa mama Linda sangat keras sekali, sehingga semua pengunjung warung ini memandang nya. Dan tak sedikit di buat eneg oleh suara sendawa mantan mama mertua ini.


Namun mantan mama mertua pun tak ambil pusing dengan pandangan negatif para pengunjung lain nya.


Yang aku lihat, saat ini ia sudah lega dan kenyang. Seperti hal nya Lidya, saat ini sudah terlihat wajahnya sudah tak pucat lagi.


Dan mereka berdua mengajak ku untuk mengantarkan nya pulang. Setelah membayar nya, aku berjalan di belakang mantan mama mertua dan Lidya.

__ADS_1


__ADS_2