
Setelah melakukan berbagai treatment di salon Siska, yang selain teman mbak Veni. Ternyata Siska juga teman Sinta.
Entah teman Sinta dari mana, aku juga kurang faham. Namun aku tak butuh ke pahaman itu. Menurut ku Sinta juga punya hak berteman dengan siapapun, tanpa melihat dia teman dari rival ku.
Ya disini aku menyebut mbak Veni adalah rivalku. Karena mbak Veni terlihat ingin sekali bersaing dengan ku. Padahal awalnya aku tak ingin memperlihatkan siapa aku sebenarnya.
Setelah selesai merapikan baju dan Khimar, aku dan Sinta berjalan keluar menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Namun saat sampai di depan kasir, kasir masih antri. Jadi aku dan Sinta kembali duduk diatas sofa yang di sediakan untuk para pelanggan yang sedang menunggu giliran.
"Tubuh dan otak ku terasa lebih fresh, Sin. Pijatan nya juga enak banget. Sepertinya disini recommended banget." ucapku sambil memposisikan duduk ku dengan benar.
"Iya, Sar." jawab Sinta.
Drrrttttt drrrttttt suara handphone ku berbunyi, dan ternyata panggilan telepon dari mas Bima.
"Halo assalamualaikum, mas?," ku ucapkan salam saat tombol jawab aku pencet.
"Sarah, kamu masih ditempat kerja kah?," tanya mas Bima. Dan saat ku lihat arloji di pergelangan tangan, ternyata sudah pukul empat sore. Betapa kagetnya aku, biasa nya sebentar lagi mas Bima datang.
"Iya, mas. Apa kamu sudah pulang?, aku belum masak untuk makan malam, mas," ucapku.
"Aku belum pulang, Sarah. Kamu jangan bingung walau belum masak. Karena nanti kita dapat undangan makan malam di rumah ibu." jawab mas Bima.
"Ibu?, maksudnya ibu nya kamu, mas?," tanyaku.
"Iya Sarah, ibuku adalah ibu mu juga. Jadi tolong jangan berkata-kata seperti itu. Seakan-akan kamu tidak menganggap ibu ku." ucap mas Bima dari sebrang.
"Maaf mas, bukan maksudku seperti itu. Tadi refleks saja aku bilangnya. Karena aku sedikit bingung, ibu ku juga sekarang berada di kota yang sama dengan kita. Jadi aku menanyakan ibu yang mana yang mengundang kita." ucapku memberi alasan pada mas Bima.
"Iya, Sarah. maaf kan aku juga."jawab mas Bima.
"Setelah ini aku mau pulang, apa kamu di jemput di toko?," tanya mas Bima.
__ADS_1
"Kamu nggak usah jemput aku, mas. Cuma Sarah mau minta tolong, jemput Kean ya di sekolah." ucapku minta tolong mas Bima, karena hari sudah sore dan pasti Kean sudah menunggu jemputan nya.
"Baiklah." ucap mas Bima.
Setelah telepon ditutup, ternyata kasir pun sudah lumayan tidak begitu antri seperti tadi.
"Yuk Sin, kita ke kasir. Itu sudah nggak seantri tadi." ucapku sambil menunjuk meja kasir yang terletak di hadapan ku itu.
"Ayok!," ajak Sinta yang langsung berdiri dari duduknya.
Kami berdua berjalan menuju kasir yang sudah tidak ada pelanggan yang mengantri untuk membayar tagihan perawatan.
Saat aku sudah ada di depan meja kasir. Tiba-tiba mbak Veni datang dan langsung berdiri tepat didepan ku. Ia mendahului ku, dia datang tanpa menunggu antrian.
"Dasar nggak punya attitude." ucapku dalam hati sambil terus menatap tubuh bagian belakang. Karena saat ini ia berdiri didepan ku.
"Mbak, maaf antri dulu di belakang," ucap Sinta sambil menepuk halus pundak mbak Veni.
"Kamu berani mengaturku?, kamu belum tau siapa aku?!," jawab mbak Veni dengan membalikkan badannya ke belakang, kearah ku dan Sinta yang berdiri di belakang nya.
"Mana aku tau siap kamu!, yang aku tau kamu orang yang tak punya sopan santun. Main terobos antrian aja!," jawab Sinta.
"Asal kamu tau, aku ini teman dekat dari pemilik salon ini!!!," ucap mbak Veni sambil melototi Sinta dan tangannya berkacak pinggang.
"Oh ya?! terus kalau kamu teman dekat pemilik salon ini, apa berarti menerobos antrian itu di benarkan?," Sinta juga tak mau kalah dengan mbak Veni. Sepertinya ia terpancing emosi dengan sikap mbak Veni.
Disini aku sengaja berdiam diri, ingin melihat bagaimana kelanjutan drama yang ada di depan ku. Namun drama baru saja di mulai, terlihat Siska datang dari dalam ruangan nya.
"Ada apa ini, Sin?," tanya Siska pada Sinta yang terlihat sedang bersitegang dengan mbak Veni.
Namun Sinta hanya diam saja sambil terus menatap mbak Veni.
"Sis, sepertinya pelanggan mu yang satu ini belum tau siapa aku." ucap mbak Veni dengan penuh percaya diri dengan melirik sinis pada Sinta.
__ADS_1
"Memang nya ada apa, Ven?," tanya Siska.
"Dia melarang ku berdiri disini, padahal aku di sini mau bayar tagihan perawatan ku." ucap mbak Veni dengan suara yang lembut, seakan-akan disini dia lah korban nya.
"Benarkah, Sin?," tanya Siska yang kini beralih tatapan pada Sinta. Melihat Siska, jadi seperti melihat guru taman kanak-kanak yang sedang melerai dua siswa nya yang sedang berkelahi.
"Sudahlah, aku malas berdebat. Suruh teman mu itu untuk segera membayar tagihan perawatan nya." ucap Sinta yang seperti nya sudah malas menghadapi mulut lamisnya mbak Veni.
"Sudah silahkan kamu selesaikan administrasi nya, Ven." perintah Siska pada mbak Veni.
"Hahahaha... kamu menyuruh ku duluan karena disuruh dia kan?!," ucap mbak Veni sambil menunjuk ku tepat di kata dia.
"Pasti dia takut aku mengetahui, kalau perawatan nya kamu yang bayarin." lanjut mulut nyinyir mbak Veni berkomentar sambil menunjuk ke arah Sinta diakhir kalimat nya.
"Hah?!, Aku bayari dia?!," ucap Sinta melotot kaget dengan apa yang ia dengar dari mulut mbak Veni.
"Memang kamu nggak tau dia siapa?!," tanya Sinta penuh dengan ketidak percayaan nya.
"Aku nggak tau dan nggak mau tau dengan nya. Yang jelas, yang aku tau dia hanya perempuan kampung yang hanya bisa menghabiskan uang suaminya." ucap mbak Veni dengan panjang lebar ingin menjatuhkan ku di depan orang lain.
"Terus kenapa kamu yang marah, kalau dia menghabiskan uang suaminya?, kalau dia menghabiskan uang suami mu, baru kamu boleh tidak terima." mbak Veni pun langsung terdiam dengan ucapan Sinta.
"Sudah ya Ven, nggak enak kita ribut disini. Banyak mata memandang kita." ucap Siska.
"Sekarang lebih baik kamu menyelesaikan administrasi mu." lanjut Siska.
Mbak Veni kembali memutar tubuhnya untuk menyadap ke meja kasir.
"Berapa semua total biaya perawatan ku?," tanya mbak Veni pada kasir yang ada di depan nya itu.
"Sembilan juta lima ratus tiga puluh lima ribu rupiah, ibu." jawab kasir yang bertugas saat ini setelah melihat layar monitor yang ada di meja kasirnya.
"Oke, itu sangat kecil untuk ku." ucap mbak Veni sambil mengeluarkan kartu ATM nya dari dalam dompet.
__ADS_1