
Lidya yang terbaring tak sadarkan diri, akhirnya ia menggerakkan telunjuk tangan nya yang diikuti dengan jari tangan nya yang lain.
"Ampun, nek!!!!," Lalu Lidya berteriak sambil membuka matanya sangat lebar, dengan wajah ketakutan.
Bianca yang melihat dan mendengar Lidya berteriak, ia langsung berlari mendekati Lidya.
"Lid, kamu kenapa?," tanya Bianca kebingungan melihat Lidya ketakutan dengan mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung di keningnya.
Bianca mulai menggoyang-goyangkan tubuh Lidya, Seperti yang Damar lakukan pada Linda mamanya.
Lidya pun akhirnya tersadar, dan Damar yang melihat itu semua. Segera menaruh tubuh mama nya diatas sofa yang ia duduki sekarang.
Damar melangkah menuju Lidya, ia memegang tangan Lidya untuk memberi kekuatan agar Lidya semangat untuk sembuh.
"Ini Lid," Bianca menyodorkan segelas air mineral.
Lidya yang sudah di posisi duduk dengan dibantu Damar, mengambil gelas itu. Lalu Lidya meminumnya.
"Bagaimana keadaan mu sekarang, Lid?," tanya Damar sambil terus memegang tangan adik perempuannya itu.
"Lidya pingin segera pulang, mas. Lidya sudah nggak betah disini. Sepertinya rumah sakit ini angker." ucap Lidya dengan wajah ketakutan.
"Memang barusan kamu mimpi apa, Lid?," Bianca begitu penasaran dengan mimpi yang Lidya alami, sampai Lidya ketakutan seperti melihat setan.
"Nenek itu mengejar ku, mbak. Wajah nenek dan Sarah itu sangat menyeramkan. Aku takut untuk memejamkan mata lagi, mas." Lidya menangis karena ketakutan.
"Kamu sabar ya, kita panggil dokter agar memeriksa mu. Siapa tau kamu sudah diijinkan untuk pelang setelah ini." Damar mencoba menghibur hati Lidya.
Lalu ia berdiri dan berjalan kearah ruangan suster yang berjaga.
"Kamu mau kemana, Mar?," tanya Bianca dengan tatapan mata penuh kecurigaan pada Damar yang saat ini berdiri ditengah pintu kamar.
"Aku mau memanggil suster. Memang ada apa, Bi?" tanya Damar penasaran, karena tatapannya tak seperti biasanya.
"Kamu duduk aja, biar aku yang memanggilkan susternya." ucap Bianca sambil berjalan keluar.
"Tunggu, Memang kenapa? mending kamu duduk di samping Lidya, agar kamu nggak capek mondar-mandir, Bi." Damar menarik tangan Bianca yang sudah melewati nya.
"Tapi, nanti kamu pasti akan bertemu dengan Sarah perempuan udik itu!! Karena tempat suster berjaga kan melewati ruangan anak nya Sarah yang dirawat." Bianca merajuk dengan memonyongkan bibirnya.
Damar yang melihat tingkah Bianca pun, langsung tertawa geli.
Damar langsung memeluk tubuh Bianca dan mengecup keningnya.
"Kamu cemburu ya?," tanya Damar menggoda Bianca.
"Tenang, dihati ku hanya ada kamu. Lagian Sarah itu masalalu ku dan kamu masa depan ku." ucap Damar sambil mencubit hidung mancung Bianca.
"Pokoknya, biar aku yang memanggil suster untuk kesini. Kamu duduk saja didalam." Bianca masih bersikukuh untuk memanggilkan suster.
Damar yang tak ingin mencari ribut karena hal sepele seperti ini, akhirnya ia mengalah. Dan Damar kembali masuk kedalam kamar dan duduk di kursi samping ranjang Lidya.
Beberapa menit kemudian Bianca datang dengan dokter yang di ikuti oleh dua suster. Satu membawa lembaran mungkin untuk mencatat hasil terakhir kesehatan Lidya. Dan yang satu membawa nampan yang berisi suntikan dan beberapa obat yang berbentuk cair.
Dokter mulai memeriksa kondisi Lidya, dan suster yang membawa selembar kertas itu mulai mencatat apa yang di katakan oleh dokter laki-laki spesialis kandungan itu.
Sedangkan satu suster menyiapkan kan beberapa suntikan yang sudah di isi dengan obat-obatan.
Lalu dokter itu melakukan penyuntikan di beberapa titik ditubuh Lidya.
Setelah suntikan mendarat ditubuh Lidya, selang beberapa detik Lidya pun memejamkan mata.
"Bagaimana keadaan adikku, dok?, kenapa ia tak sadarkan diri lagi?," tanya Damar pada Dokter itu, setelah Damar melihat dokter itu sudah selesai melakukan tindakan pada tubuh Lidya.
"Kondisi pasien sudah berangsur membaik, tapi pasien sangat butuh istirahat yang cukup. Agar tubuh kembali fit dengan cepat. Dan itu tadi hanya suntikan beberapa vitamin dan obat tidur." Dokter spesialis kandungan itu menjelaskan kepada Damar.
Lalu dokter dan kedua suster itu berpamitan dan keluar dari ruangan Lidya yang saat ini sedang dirawat.
Damar sangat lega mendengar penjelasan dokter itu tentang kesehatan Lidya sekarang.
Kini giliran Damar yang beristirahat dipangkuan Bianca. Karena tubuh Damar dan pikiran damar saat ini sangat capek.
Tak perlu menunggu waktu lama, akhirnya Damar memejamkan mata dan terdengar dengkuran halus nya.
Bianca terus membelai rambut Damar, dan terus memandang wajah ganteng Damar.
__ADS_1
Sesungguhnya Bianca ingin sekali menjalani rumah tangga yang normal bersama Damar. Namun keadaan lah yang membuat ia harus memiliki dua lelaki yang sama-sama penting di hidup nya.
Keberadaan pak Handoko yang menjadi suaminya saat ini adalah hal paling vital menurut Bianca. Karena kalau Bianca sampai di ceraikan oleh pak Handoko sudah dipastikan dia akan menjadi gembel.
🌸 flashback on
Karena Bianca sama sekali tak punya apa-apa. Setelah papa nya meninggal, semua harta dan perusahaan termasuk rumah telah disita Bank.
Entah hutang yang seperti apa sampai semua kekayaan nya habis tak bersisa, Bianca pun tak tahu.
Yang Bianca tau, dia dan mama nya saat itu sudah tak punya apa-apa lagi. Ia harus kesana kemari untuk mencari tempat kost.
Lalu suatu hari mamanya Bianca berpamitan untuk keluar. Seharian Mamanya tak kunjung pulang.
Dan akhirnya malam itu, ia pulang bersama seseorang. Bianca terkejut dengan kedatangan mama nya dengan pria asing.
"Itu siapa ma?," tanya Bianca dengan wajah ketakutan, karena pria itu memberi tatapan tak biasa pada Bianca. Seperti orang yang sedang berhasrat.
Lalu tangan Bianca diseret kedalam oleh mama nya, dan mama nya pun menjelaskan bahwa dia pria yang akan membeli keperawanan nya dengan harga yang sangat mahal.
Mamanya yakin kalau Bianca masih perawan, walau Bianca hidup diluar negeri cukup lama selama kuliah.
Mamanya Bianca terus membujuk nya. Kalau Bianca mau melakukan nya, dipastikan rumah mewah yang disita Bank itu bisa diambil kembali.
Bianca yang mendengar itu seperti disambar petir disiang hari, kaki nya langsung lemas seperti tak bertulang.
Dipikiran Bianca saat itu, kenapa mama nya setega itu pada nya. Demi harta ia menjual anak nya.
Namun pikiran Bianca terus berputar, ia juga tak mau hidup terlunta-lunta seperti ini. Dan dengan terpaksa Bianca menyetujui permintaan mamanya.
Lalu mama nya mempersiapkan Bianca dengan mendadani nya sangat cantik dengan baju yang begitu seksi.
Bianca keluar dari kamar, dan pria itu tatapannya sangat mengerikan.
Kali ini Bianca terpaksa melakukan nya, demi mamanya dan kehidupan masa depan nya.
Dan Bianca di bawa oleh pria itu ke hotel berbintang lima. Terlihat sekali Bianca sangat tertekan waktu itu.
Sampai di kamar yang sudah di pesan. Lelaki itu mulai melepas kemejanya. Dan lelaki itu mulai mendekati Bianca. Bianca yang ketakutan itu, berlari keluar.
Keberuntungan masih berpihak pada Bianca, ternyata pintu hotel itu tidak terkunci. Mungkin karena pria itu terlalu berhasrat, sehingga ia lupa menutup pintunya dengan benar.
Singkat cerita Bianca ditolong oleh pak Handoko, dan akhirnya Bianca dijadikan istri nya. Karena pada saat itu pak Handoko dalam keadaan menduda.
🌸 Flashback off
Dan Bianca pun saat ini sangat mencintai Damar. Ia tak ingin kehilangan Damar. Karena Damar adalah pemuas nafsu Bianca.
Sedangkan pak Handoko tak bisa memberikan apa yang Damar berikan pada Bianca.
Sekarang Bianca berpikiran untuk merencanakan, bagaimana cara menikah dengan Damar tanpa sepengetahuan pak Handoko. Agar ia bisa menikmati dan memiliki kedua-duanya.
Saat Bianca terhanyut dalam lamunannya, tiba-tiba Linda teriak-teriak dan bergegas bangun dari tidurnya.
Linda langsung duduk dan menata nafasnya yang tersengal-sengal. Terlihat keringat nya bercucuran.
"Ma, mama kenapa?, mimpi buruk lagi?," tanya Bianca. Lalu ia membangunkan Damar.
Damar terbangun dan langsung kaget saat melihat mama nya seperti orang ketakutan.
Ia Bergegas berdiri dan berlari menuju sofa untuk segera memeluk Linda mama nya.
"Mama kenapa lagi, ma?," tanya Damar dengan memeluk erat tubuh Linda.
"Dia datang lagi, Mar. Mereka terus mengejar mama. Mama takut sekali, Mar." Linda terus menangis dan memeluk Damar dengan tangan dan kaki gemetar.
"Sekarang lebih baik mama Istirahat dirumah. Biar Damar yang menunggu Lidya disini. Dan mama bersama Bianca dirumah." ucap Damar pada Linda, lalu Damar menatap Bianca untuk meminta persetujuan pada Bianca.
Tapi kali ini Bianca menolak nya. Ia tak mau meninggalkan Damar sendirian di rumah sakit ini. Bianca sangat takut, kalau ini akan menjadi kesempatan Sarah untuk menggoda Damar.
Setelah mendengarkan alasan Bianca, Damar langsung pusing. Damar bingung, ia harus bagaimana.
"Mama, tenang dulu ya. Pasti nanti akan ada jalan keluarnya." Damar kembali membujuk Linda yang mulai agak tenang.
Linda menganggukkan kepala nya. Menyetujui apa yang Damar katakan.
__ADS_1
"Mama lapar, Mar." ucap Linda.
Damar langsung memesankan makanan di gofood karena ini sudah malam. Damar tak enak kalau harus menyuruh Bianca keluar sendiri.
Sedangkan kalau Damar yang keluar sendiri, Bianca tak akan menyetujui nya. Dan gofood lah solusi yang tepat untuk saat ini.
Setelah makanan datang mereka bertiga makan bersama, terlihat dari cara makannya, Linda seperti orang yang sedang kelaparan.
"Ma, pelan-pelan kalau makan." ucap Damar, ia takut nanti Linda tersedak.
Namun Linda tak menggubris omongan Damar. Linda terus menyuapkan nasi ke mulutnya.
Bianca yang melihat itu, menggelengkan kepala dan langsung menghentikan makannya. Perutnya langsung eneg melihat cara makan Linda.
"Kok udahan, Bi?," tanya Damar yang aneh melihat Bianca.
"Aku udah kenyang, Mar." jawab Bianca sambil memegang perutnya.
Bianca seperti sedang menahan sesuatu. Dan itu sangat terlihat oleh Damar.
"Kamu kenapa, Bianca?, kamu sakit?," tanya Damar lagi. Karena melihat wajah Bianca sangat pucat dan keringat bercucuran.
Belum sempat menjawab pertanyaan Damar, Bianca berlari ke toilet. Bianca sudah tak bisa menahan perutnya.
Di Toilet Bianca terus mengeluarkan isi perutnya. Ia memuntahkan semua makanan yang baru ia makan bersama Damar dan Linda.
Lalu Bianca keluar dengan tubuh yang sangat lemas. Hampir saja ia terjatuh, untung saja Damar sigap menangkap nya.
Damar langsung menggendong Bianca keruangan dokter yang malam ini sedang berjaga.
Dan dokter itu memeriksa keadaan Bianca. "Bagaimana dengan keadaan istri saya dok?," tanya Damar sangat penasaran. Karena tadi sebelum makan Bianca masih baik-baik saja.
"Tidak ada yang serius pada istri bapak, dia butuh istirahat karena terlalu kecapean." ucap dokter itu dengan tersenyum.
"Dan selamat, istri bapak saat ini positif hamil." ucap dokter itu sambil mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat pada Damar.
Damar yang masih terbengong setelah mendengar ucapan dokter itu pun, langsung menyambut uluran tangan dari dokter yang telah memeriksa Bianca.
"Beneran istri ku hamil, dok?," Damar masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Hatinya saat ini antara bahagia dan tidak.
Damar bahagia karena ia yakin Bianca akan minta dinikahi secepatnya dan yang membuat Damar tak bahagia. Ia akan membagi sayangnya untuk Kean dengan bayi yang akan dilahirkan oleh Bianca.
Lalu Bianca keluar dari ruang pemeriksaan bersama satu suster yang mengikuti dari belakang.
"Bi, kamu hamil." Ucap Damar sambil tersenyum pada Bianca.
"Apa, Mar? Aku hamil?." Bianca sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Damar.
Lalu mereka berjalan menuju kamar rawat Lidya.
"Mar, kenapa aku bisa hamil?, aku tak mau hamil Mar." ucap Bianca dengan meneteskan air matanya.
"Kamu tenang, Bi. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan segera menikahi mu." Damar mencoba menenangkan hati Bianca yang mungkin saat ini sedang kaget dengan apa yang ia dengar tadi.
"Tapi Mar....., aku masih belum siap untuk semua ini. Banyak hal yang kamu tak mengerti." Bianca menangis di pelukan Damar.
"Terus mau mu apa, Bi? apa kamu tak ingin menikah dan hidup bahagia bersama ku?," tanya Damar yang masih memeluk Bianca dan membelai rambut panjang Bianca.
Bianca terdiam, ia tak menjawab pertanyaan Damar. Bianca terus menangis, dipelukan Damar.
Dan Damar pun tak melanjutkan pertanyaan nya. Damar membiarkan Bianca menangis, agar rasa sesak yang ada di dada nya bisa hilang jika ia menangis.
"Aku ingin pulang, Mar. Aku ingin istirahat dirumah." ucap Bianca yang melepaskan diri dari pelukan Damar.
"Tapi ini sudah malam, Bi. Malam ini kamu istirahat disini saja. Besok pagi kamu aku antar pulang." Damar melarang Bianca.
Namun Bianca bersikeras untuk pulang malam ini, dan Damar tak bisa menolak kemauan Bianca.
Akhirnya Bianca pulang sendiri, Bianca mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ia tak pulang kerumah keluarga Handoko, namun ia pulang ke apartemennya. Apartemen itu adalah hadiah pernikahan yang diberi oleh Handoko.
Sampai di apartemen, ia langsung masuk kedalam kamar nya. Lalu ia pergi kekamar mandi. Bianca mengguyur tubuhnya dibawah shower.
Bianca terus menangisi nasibnya. Ia merasa takdir mempermainkan dirinya. Bianca menyalahkan takdir hidupnya.
__ADS_1
Mungkin karena ia kurang mendekatkan diri pada sang pencipta. Sehingga ia mempunyai pikiran yang sangat dangkal.
Padahal setiap manusia yang hidup, pasti akan mempunyai masalah. Tak ada orang yang hidup tanpa masalah.