DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Bertemu Lagi Dengan Tetangga Julid


__ADS_3

Tapi kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu, Sarah?, membuatku takut saja." ucap Sinta yang menatap aneh pada temannya yang sudah menjadi janda dua kali itu.


"Ini, lihat." aku menyodorkan handphoneku, memperlihatkan foto yang ada di layar handphone nya.


"Loh, bukankah ini suami Lidya?," ucap Sinta.


"Suami?, bukan kah Lidya hanya simpanan mas teguh?," tanya ku dengan wajah terkejut.


"Mereka sudah menikah, Sar. Mungkin seminggu yang lalu mereka menikah di rumah Lidya." jawab Sinta sambil menatap rumah yang saat ini berhadapan dengan rumahnya itu.


"Aku kira, suami kakak ipar mu itu sudah resmi bercerai. Karena setiap hari dia terlihat selalu ada dirumah itu bersama Lidya." lanjut Sinta.


"Aku rasa mas teguh dan mbak Ambar belum bercerai, Sin. Buktinya semalam mereka berdua pergi ke restoran mewah yang ada di kota ini." ucap ku berasumsi.


"Mungkin saja seperti itu, Sar." ucap Sinta sambil menganggukkan kepala.


"Lebay banget, sudah tua juga." gerutu Sinta sambil melihat foto mbak Ambar dan suaminya itu.


"Kenapa, sin?," tanya ku yang mendengar ucapan Sinta.


"Ini loh mantan kakak ipar mu, sangat lebay. Seperti lupa saja kalau usianya sudah sangat tua." cibir Sinta.


"Memang kenapa, Sin?," tanya ku lagi dengan sangat penasaran.


"Baca tuh caption nya." Sinta menunjuk tulisan yang terletak di atas foto yang di posting oleh mbak Ambar.


Disitu tertulis " Terimakasih suami ku, kamu selalu memberiku yang terbaik. Jangan lupa hadiah mobil untuk ku di hari ulang tahun ku."


Aku pun tertawa setelah membaca apa yang di tulis mbak Ambar di caption foto yang dia unggah.


"Gimana kalau kakak iparmu itu tau, kalau suaminya ternyata disini juga punya istri?," ucap Sinta sambil di ikuti tertawa besar di akhir kalimat nya.


"Biarkan saja itu menjadi urusan nya mereka sendiri, Sin. Aku sudah sangat malas berhubungan lagi dengan keluarga konslet seperti keluarga mas Bima itu." jawab ku, aku sudah tak mau tau tentang kehidupan keluarga mantan suami ku itu.


Setelah banyak ngobrol dengan Sinta, perasaan ku pun sudah sedikit lebih tenang. Kali ini berencana menjual rumah dan mobil itu.


Kalau di rasa semua sudah baik-baik saja, dan mas Bima sudah menceraikan ku secara sah di mata hukum negara. Aku akan membeli lagi mobil dan rumah sebagai investasi jangka panjang untuk Kean anakku.


Kali ini aku dan Sinta berencana pergi ke rumahku yang saat ini kosong, untuk memberi tau kalau rumah itu di jual.


"Setelah dari rumah mu itu, kita langsung perawatan di salon Siska yuk!!," ajak Sinta.


"Tapi sin...." ucap ucap ku terhenti, jujur aku malas harus bertemu Siska. Karena aku tau dia adalah teman dekat mbak Veni.


"Ayolah Sarah, sudah lama aku tak perawatan. Rasanya tubuhku sudah sangat capek sekali." paksa Sinta pada ku. Dan akhirnya aku pun mengikuti ajakan Sinta.


"Baik lah, Sin." jawab ku.


"Nah gitu donk," ucap Sinta dengan di ikuti tertawa bahagia, mungkin karena aku akhirnya ikut dengan ajakannya.


Kini kami berdua keluar dari rumah Sinta, menuju mobil ku yang terparkir di pinggir jalan.


Namun dari sebrang jalan, terlihat mas Teguh yang keluar dari dalam rumah menunju mobil yang berada di garasi rumah nya.


"Sarah!!," teriak mas Teguh saat melihat ku akan masuk kedalam mobilnya. Padahal semaksimal mungkin aku menutupi wajah ku, agar ia tak tau kalau aku ada disini sedang melihat nya.


"Mas teguh?!," gumam ku sambil menoleh kearah sumber suara yang memanggil ku itu.


Melihat aku menoleh kepadanya, mas Teguh pun berlari kearah ku, yang saat ini aku sedang berdiri di samping mobil ku.


"Kenapa kamu ada disini, Sarah?," tanya mas Teguh.


"Iya, mas. Disini rumah teman ku." jawab ku sambil menunjuk Sinta yang juga sudah berdiri di samping mobil. Sudah siap untuk masuk kedalam mobil untuk pergi ke komplek perumahan rumah ku.

__ADS_1


"Oh...jadi mbak Sinta ini teman kamu, Sarah?," tanya mas Teguh.


"Iya, mas. Mas Teguh sendiri disana ngapain?," tanya ku sambil menunjuk rumah yang pernah aku tinggali dulu. Sengaja aku pura-pura tidak tahu dengan kisah hidup mas Teguh dengan Lidya mantan adik iparku itu.


"Mmmmm.....," mas Teguh tak menjawab pertanyaan ku. Sepertinya ia kebingungan untuk menjelaskan semua nya pada ku. Dalam hati ku, aku sangat puas melihat wajah mas Teguh yang kebingungan untuk menjelaskan apa yang aku tanyakan itu.


"Aku mohon jangan katakan ini pada Ambar, Sar." ucap mas Teguh dengan menangkupkan kedua telapak tangan yang diangkat di depan dadanya.


"Memang ada apa, mas?," tanya ku dengan wajah polos, pura-pura tidak mengerti dengan tingkah pola mas Teguh di luar rumah.


"Mas!!, Mas Teguh!!?, ayo!!!." Suara Lidya dari sebrang jalan terdengar memanggil mas Teguh yang saat ini berdiri di depan ku.


"Itu siapa, mas?," tanyaku sambil menunjuk Lidya yang sedang berdiri memanggil nya.


"Itu istriku, Sarah. Jadi aku mohon, kamu menyimpan rapat rahasia ini." pinta mas Teguh dengan posisi tangan yang masih menangkup di depan dadanya.


"Jadi mas Teguh sekarang menikah lagi?," tanyaku dengan sengaja pura-pura tidak tahu.


"Iya, Sarah. Sebenarnya aku sudah tidak betah dengan rumah tangga yang aku bangun bersama Ambar. Dia dan keluarga nya terlalu menuntut padaku." ucap mas Teguh beralasan.


Namun menurut ku, dengan alasan apapun. Aku tak membenarkan perselingkuhan. Seharusnya diselesaikan dan di bicarakan dulu masalah yang terjadi di dalam rumah tangga. Kalau memang tak ada jalan keluar lagi selain perceraian. Ya sudah, cerai dulu baru mencari yang baru.


Kalau memang alasan mas Teguh sudah tidak ada kecocokan, tapi dia tetap bertahan dan menyelingkuhi istri nya. Aku rasa itu bukan tidak cocok dengan istrinya, tapi memang dia nya aja yang ingin punya dua wanita.


"Kamu kenal sama dia, mas?!," tanya Lidya sambil menunjuk ku. Lidya saat ini sudah berada di belakang mas Teguh.


"Iya, sayang. Dia adalah.....," mungkin mas Teguh sudah berbicara yang sebenarnya pada Lidya, sehingga ia tak bisa meneruskan ucapannya.


"Dia siapanya kamu, mas?!," bentak Lidya pada mas Teguh.


"Dia teman adik ku, sayang. Dulu dia sering sekali ke rumah ku. Karena dia adalah teman sekolah adik ku." jawab mas teguh berbohong pada Lidya.


"Kamu yakin dia itu teman sekolah adik mu, mas?!, dia kan dari kampung yang sangat jauh dari sini mas. Kalau memang dia teman adik mu, berarti kamu dan dia adalah dari kampung yang sama dong?!," ucap Lidya dengan tatapan menghina pada mas Teguh.


Lidya dari dulu memang sangat anti dengan kampung halaman ku. Ia berfikir orang yang dari kampung pasti miskin dan memalukan.


"Udah lah mas, nggak usah di bahas lagi. Kita sudah telat nih!!," ucap Lidya sambil melihat arloji di pergelangan tangan nya.


huuuufft....


Mas Teguh membuang nafas secara kasar. Terlihat kelegaan di wajahnya.


"Baiklah, sayang. Ayo kita berangkat." ajak mas Teguh pada Lidya.


"Ingat ya, mas!!. Jangan pernah dekat-dekat dengan perempuan itu. Aku tidak suka!!." terdengar Lidya memarahi mas Teguh sambil berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah nya.


"Baiklah sayang." jawab mas Teguh dengan sangat pasrah tanpa bertanya alasan nya kenapa.


Aku dan Sinta yang melihat itu pun langsung berpandangan dan saling tertawa.


Lalu setelah mobil yang mereka tumpangi sudah tak terlihat dari pandangan ku. Aku dan Sinta pun segera berangkat ke tujuan awal ku. Yaitu rumah yang saat ini aku kosongkan dan akan segera aku jual.


Sampai di depan rumah ku itu, aku dan Sinta turun dari mobil.


Terlihat di teras rumah Dewi, ada beberapa ibu-ibu komplek yang sedang duduk bersantai.


Saat aku turun dari mobil, beberapa pasang mata itu pun langsung menatap ku. Apalagi tatapan sinis Dewi padaku. Sudah seperti tatapan istri sah pada pelakor saja.


Sepertinya mereka sedang berbisik-bisik membicarakan aku, terlihat sekali gelagatnya yang sesekali menatapku sambil berbicara satu dengan yang lain. Dan aku tak mempedulikan itu.


Aku dan Sinta pun segera masuk kedalam rumah, untuk melihat keadaan di dalam rumah. Sebelum kesini aku sempatkan untuk mampir ke tukang printing, untuk memesan banner.


Lalu aku keluar lagi dari dalam rumah, untuk memasang banner itu di pagar depan rumah ku.

__ADS_1


Dan kumpulan manusia-manusia julid itu masih ada di tempat yang sama seperti tadi. Mereka terus memandang kearah ku dan Sinta.


Sinta segera memasang banner yang bertuliskan rumah di jual.


"Mbak Sarah, rumah nya mau di jual ya?!," tanya Dewi dari teras rumah nya.


"Iya, wi. Kalau ada yang tanya-tanya, suruh langsung menghubungi nomor yang tertera disini ya..!," jawabku sambil menunjuk ke banner yang saat ini tengah di pasang oleh Sinta.


"Iya, mbak. Yang penting ada komisi nya untuk ku." celetuk Dewi.


Aku tak mengiyakan ucapan Dewi, karena manusia seperti Dewi itu matanya akan hijau kalau melihat uang.


"Kenapa di jual mbak Sarah?," tanya salah satu orang yang ada disitu.


"Mungkin dia lagi butuh uang, mbak." celetuk perempuan muda yang saat ini ada disamping Dewi.


Seketika ucapan nya disambut dengan tertawa bersama oleh para sekumpulan manusia julid itu.


Dan aku hanya membalas nya dengan senyum getir pada mereka.


"Kamu ini bisa saja, Sit." jawab Dewi setelah selesai menertawakan ku.


"Bukankah dia sudah dicerai oleh mas Bima?, bisa jadikan dia saat ini butuh uang untuk perawatan wajah nya biar cantik dan kinclong. Dengan begitu dia bisa menggaet cowok kaya lagi seperti mas Bima ganteng itu." jawab perempuan itu dengan ke sok tau'an nya.


"Bisa jadi benar yang dikatakan sito, wi." sahut perempuan satunya lagi.


Omongan-omongan julid mereka sama sekali tak ku respon. Kalau sekali aku merespon nya, mereka akan Semakin menjadi-jadi.


"Sudah selesai, Sin?," tanya ku pada Sinta yang terlihat sedang membenarkan posisi banner yang ia pasang itu.


"Sudah, Sarah." jawab nya sambil memandang lagi banner itu.


"Kalau begitu, yuk buruan kita pergi dari sini." ajak ku pada Sinta, setelah ku kunci lagi pintu rumah ini.


"Bu,,, asal ibu tau ya. Sarah ini sudah kaya raya sebelum dia menikah dengan lelaki yang bernama Bima!!!," ucap Sinta dengan berteriak pada manusia-manusia yang saat ini sedang berkumpul diteras rumah Dewi.


"Ha ha ha, memang benar mbak Sarah itu kaya, tapi sayang nya dia hanya kaya di dalam mimpi. Dengan mengaku pemilik toko roti SKcake." Ucap Dewi tak kalah keras suara nya dengan Sinta. Lalu semua manusia yang ada disitu pun menertawakan aku secara serempak.


Sinta pun tersenyum melihat tingkah laku mereka yang suka sekali mengurus urusan orang lain.


"Kamu betah juga ya tinggal disini dengan orang-orang seperti mereka?," tanya Sinta sambil mengendalikan setir mobil yang ia kendarai.


"Ya gimana lagi, betah nggak betah sih. Tapi untung saja setiap harinya aku jarang sekali ada dirumah. Waktu ku sering kali ku habiskan di toko ku." jawab ku.


"Kok ada ya, manusia-manusia julid seperti mereka. Bagaimana kalau suatu saat mereka tau, kalau kamu memang pemilik toko SKcake?!, ah... Aku jadi penasaran dengan ekspresi mereka." ucap Sinta dengan tersenyum sendiri.


"Kenapa kamu jadi memikirkan mereka sih, Sin?," tanya ku.


"Trus kenapa kamu tenang dan diam saja saat mereka julid kepada mu?," Sinta balik tanya padaku.


"Ya karena buat apa orang-orang seperti mereka di ladeni. Tipe orang seperti mereka itu, kalau di ladeni makin melunjak. Jadi lebih baik ya di diamkan saja. Ntar kalau capek, pasti mereka akan diam sendiri." jawab ku.


"Ih...Kalau aku jelas panas telinga ini mendengar hinaan mereka. Aku heran deh sama kamu, sebenarnya hati mu itu terbuat dari apa sih?, kok sepertinya tidak punya uang namanya sakit hati sama sekali?," tanya Sinta lagi.


"Sebenarnya sih sama saja dengan semua orang, aku juga punya kok sakit hati dengan ucapan mereka yang dengan jelas menghina ku. Tapi aku lebih suka diam dan membalas nya dengan prestasi dan kesuksesan ku." jawabku dengan sangat percaya diri.


"Nah, itu yang aku suka darimu Sarah. Dari dulu itu lah prinsip yang kamu pegang, sampai saat kamu sukses seperti ini." jawab Sinta yang tengah menginjak pedal rem mobil ku.


Tak terasa akhirnya kita sudah sampai di halaman parkir salon milik Siska, yang tak lain teman Sinta dan mbak Veni.


Setelah mobil terparkir, aku dan Sinta pun berjalan menuju pintu masuk salon ini.


Tanpa menggunakan tangan, saat kami sudah mendekat pada pintu. Pintu itu sudah terbuka sendiri, aku sangat takjub melihat nya. Namun saat aku sudah masuk melewati pintu itu, ternyata di dalam ruangan itu ada orang yang bertugas untuk membuka dan menutup pintu itu. Melihat itu, aku pun tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa sendiri, Sarah?," tanya Sinta yang melihat ku cekikikan.


"Kamu baik-baik saja, kan?, kamu nggak kesurupan kan?," tanya Sinta.


__ADS_2