DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Semua Aset Diambil #Pov Damar


__ADS_3

Hari ini aku sangat malu. Bagaimana tidak? pernikahan adik ku Lidya, gagal total. Ini semua karena ulah anaknya pak Anton yang ternyata adalah teman kuliah Lidya dulu.


Bukan salah dia seutuhnya juga, sih. Hati anak mana yang tak sakit jika melihat ayah nya menikah lagi dengan temannya sendiri?. Mungkin hal yang sama juga bakal aku lakukan jika aku diposisi Diana.


Aku sangat bingung saat ini, ingin masuk kerja jelas nanti pasti akan ada panggilan dari Bu Rina tentang masalah ini. Belum lagi nanti akan ada pertanyaan-pertanyaan dari teman ku dikantor.


Karena kemarin setelah acara akad nikah Lidya yang gagal, tersebar video Lidya, Diana dan mama saling Jambak menjambak.


Saat aku baca semua isi komentar nya, tak ada yang baik sama sekali. Semua komentar menghujat Lidya. Memang ini salah Lidya, tapi tak seratus persen kesalahan nya. Melainkan juga salah pak Anton sialan itu.


Dan juga aku lah yang paling salah disini, seandainya aku lebih perhatian dan memberi apa yang Lidya minta, pasti ia tak akan sampai menjual keperawanan nya.


Mama ku seperti nya sudah tau akan hal ini, karena ia begitu tenang saat mengetahui Lidya hamil. Bahkan sempat memarahi Lidya, kenapa sampai ia hamil. Seakan-akan mama tau dengan tingkah laku Lidya dibelakang ku.


Sebenarnya waktu Lidya membeli mobil dan sering berlibur keluar kota bahkan keluar pulau. Aku sudah menaruh curiga, kok dia banyak uang untuk itu semua.


Dan ternyata ini lah kenyataan nya, Ia menjual keperawanan nya ke lelaki yang sudah punya istri.


Dan sialnya lagi mobil mewah yang telah di beli Lidya dari hasil menjual keperawanan nya disita oleh perusahaan istri pak Anton.


Karena uang yang dipakai untuk membeli keperawanan Lidya itu adalah uang hasil menggelapkan uang perusahaan. Tak cuma itu, semua rekening milik Lidya langsung dibekukan saat itu juga. Setelah diketahui oleh team audit keuangan perusahaan, bahwa ada penyelewengan dana yang dilakukan oleh pak Anton.


Lidya saat itu dipecat dengan tidak hormat dan pak Anton juga dinonaktifkan dari perusahaan.


Yang paling membuat ku kesal saat ini adalah orang yang menyebarkan video itu, siapa yang berani-beraninya merekam semua kejadian kemarin.


Aku harus cari tau siapa orang itu!!!


Betapa malu nya aku dengan kejadian kemarin yang dialami oleh keluarga ku, disaksikan langsung oleh Sarah istri yang sudah aku talak.


Saat ini Sarah sangat berubah, penampilan nya juga berubah. Terlihat lebih cantik dan anggun.


Memang dasarnya Sarah sudah ayu mulai pertama kali aku kenal.


Sebenarnya hati ini sangat dongkol, ketika aku melihat keakraban Sarah dan Randy. Randy begitu perhatian kepada Sarah.


Saat kulihat dari tatapan Randy saat menatap wajah Sarah, ingin sekali aku menonjok nya. Bisa-bisanya dia mendekati Sarah istri ku. Tapi... aku telah menalaknya sekarang, itu semua juga karena Randy yang selalu mendekati Sarah. Ditambah lagi dengan hasutan mama dan Lidya.


Aaaaaaa......................


Tapi aku tak boleh terus terbawah perasaan pada Sarah. Aku harus menghargai dan menjaga perasaan Bianca. Karena saat ini ada Bianca di sampingku.


Mungkin aku harus benar-benar melupakan Sarah dan segera menikahi Bianca. Agar hidup ku akan terjamin dihari tua dengan mengurus perusahaan milik orang tua Bianca.


Karena aku sudah capek berkerja sebagai staf di kantor orang lain. Kalau aku menikah dengan Bianca, pasti aku akan menjadi direktur di perusahaan orang tua Bianca. Karena Bianca adalah anak satu-satunya dan dipastikan ia adalah pewaris tunggal Kekayaan papa nya.


Aku berjalan ingin melihat mama yang sedang duduk di depan televisi, ternyata dia sudah sedikit tenang. Buktinya dia sudah tertidur dan terdengar dengkuran halus.


Namun mulai dari kemarin Lidya tak mau keluar dari kamarnya. Ia tidak makan sama sekali mulai dari kejadian itu.


tok


tok


tok


Ku ketuk pintu kamar Lidya, namun tak ada jawaban dari nya.


"Lid, keluar lah. Ayo makan dulu!," bujuk ku.


Namun masih tak ada jawaban dari Lidya.


Aku berlalu berjalan menuju kamar, ingin kurebahkan tubuh. Ingin beristirahat, agar semua penat di otak ini hilang.


Sebelum aku merebahkan tubuh ini, aku mengambil handphone yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Kulihat ada dua puluh kali panggilan tak terjawab dari sekertaris Bu Rina.

__ADS_1


Hati ini makin bergemuruh, ada apa ini?


pertanyaan-pertanyaan saling bermunculan di otak.


Ada rasa takut yang tak terhingga, karena pekerjaan lah yang akan menjadi taruhannya.


Ku telepon kembali nomor sekertaris Bu Rina, tak menunggu waktu lama panggilan itu diangkat.


Ternyata Bu Rina menyuruh ku datang ke kantor hari ini. Padahal saat ini aku sedang malas datang ke kantor, malu dengan kejadian kemarin.


Aku pun segera berganti baju, lalu ku hidupkan mobil ku.


Ku lajukan mobil ini dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai dikantor, aku langsung menuju ruangan Bu Rina.


Setelah ku ketuk pintu dan dijawab oleh Bu Rina, aku langsung membuka pintu dan masuk. Duduk setelah di suruh oleh Bu Rina.


"Bu, saya minta maaf tentang kejadian....," belum selesai aku mengucap permintaan maaf. Bu Rina menaruh berkas diatas meja nya dengan sangat kasar.


"Lihat berkas iku!!!!!!, tim audit keuangan kantor telah menemukan penggelapan uang perusahaan." ucap Bu Rina sambil melihat ku tajam.


Deg!


Jangan sampai penggelapan dana yang aku lakukan juga terbongkar oleh tim audit keuangan.


Lalu ku mengambil berkas itu, dan aku membuka nya. Dan..... benar dugaan ku. Tertulis besar nama ku DAMAR SAPUTRA.


Tangan ini gemetar, peredaran darah terasa berhenti sehingga tubuh ini lemas. Jantung berdetak kencang.


"Sekarang tinggalkan mobil dan dompet mu disini, dan sebentar lagi sekertaris ku membawakan surat pemecatan mu!," ucap Bu Rina dengan tegas.


Hidup ku saat ini bagai di sambar petir disiang bolong, bagaimana aku menjelaskan kepada orang-orang dirumah? Ini yang nama nya jatuh tertimpa tangga pula.


Setelah sekertaris Bu Rina menyerahkan surat pemecatan, aku keluar dari ruangan Bu Rina.


Bu Rina juga melarang ku untuk mengambil barang-barang di ruangan ku.


Aku keluar dengan tangan kosong, lalu aku mencoba menghubungi Bianca. Namun Bianca tak dapat dihubungi, handphone nya tidak aktif.


Aku turun setelah menyerahkan uang pada supir taksi online, aku bergegas berjalan mendekat ke arah mama dan tiga lelaki itu.


"Ada apa ini?!," aku bertanya pada mereka.


"Mar, tiga orang ini mau mengambil mobil ku!!," ucap mama.


"Maaf pak Damar, saya kesini untuk mengambil mobil ini dan ini surat kuasa dari Bu Rina," aku mengambil dan membaca nya.


Ternyata mobil yang ku belikan untuk mama kemarin terdeteksi kalau hasil dari penggelapan uang perusahaan.


Dengan pasrah kuberikan mobil itu kepada tiga orang lelaki yang berbadan kekar. Mau banding rasanya juga tidak mungkin. Karena posisi ku memang salah.


"Kamu ini gimana sih, Mar?, kok mobil ku kamu serahkan pada mereka?!," ucap mama berteriak keras kepada ku.


"Mama, tenang dulu. Nanti Damar jelaskan di dalam," lalu aku mengajak mama masuk kedalam rumah. Karena malu kalau sampai tetangga kompleks tau masalah ini.


Mama masuk rumah dengan aku pegang kedua pundaknya. Namun ia terus memberontak sambil mengumpat ketiga orang yang membawa mobil nya.


Didalam rumah terlihat Lidya sudah mau keluar dari kamarnya, ia duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat pucat.


Lalu ku dudukan mama disamping Lidya. Dana aku juga duduk disamping mama. Kini mama diapit oleh kedua anak nya, yaitu aku dan Lidya.


"Sekarang jelaskan apa yang terjadi dengan mobil ku?!," ucap mama dengan penuh emosi.


"Hari ini aku di pecat dari kantor, karena aku ketahuan telah menggelapkan uang perusahaan. Dan semua aset ku di ambil oleh perusahaan. Kalau aku memberontak maka aku akan masuk penjara dan aset tetap akan diambil," ucapku menjelaskan pada mama dana Lidya.


"Hah?? jadi sekarang kita miskin dong, Mar? pokoknya mama nggak mau kalau kita akan hidup miskin, mama nggak mau jadi gelandangan. Mama juga nggak mau kalau mama tinggal dikolong jembatan," mama menangis Histeris.


"Kok bisa-bisanya kmu sebodoh itu, Mar!!!! Seharusnya kamu bermain rapi biar tidak sampai ketahuan oleh tim audit keuangan!!!!!," Mama menyalahkan aku. Padahal aku sudah melakukan Serapi mungkin. Tapi yang namanya bangkai disimpan pun akan tercium bau nya.

__ADS_1


"Pokoknya aku nggak terima semua kekayaan ku diambil. Aku nggak terima kalau aku harus tidur di kolong jembatan," mama terus berteriak.


"Ma, mama!! Dengarkan Damar, aset yang disita itu aset yang terdeteksi hasil penggelapan dana perusahaan. Tenang, kita masih ada rumah, Damar pastikan rumah ini tak akan di ambil. Karena rumah ini ada sebelum aku bekerja di kantor itu. Jadi Damar jamin mama dan Lidya tidak akan pernah tinggal di kolong jembatan," Aku berteriak memberi penjelasan pada mama. Karena mama tak berhenti menangisdan berteriak-teriak.


"Sekarang mama tenang kan diri mama dulu, jangan teriak-teriak. Apa mama nggak malu kalau ini akan didengar oleh tetangga?," ucap ku membujuk mama.


Akhirnya mama langsung terdiam tak bersuara sana sekali. Dan aku memeluk mama dan Lidya.


"Kenapa kamu sampai ketauan begitu, Mar?!, kamu kok bodoh banget sih? harus nya kamu bermain rapi." ucap mama lagi tapi kali ini dengan nada rendah. Tak ada teriak-teriak lagi.


"Kalau begini kita jadi miskin, Mar," lanjut mama.


"Tenang ma, suruh saja mas Damar segera menikah dengan mbak Bianca. Lidya yakin hidup kita akan terselamatkan," tiba-tiba Lidya memberi saran.


Hati ku sangat lega saat mendengar Lidya kembali bersuara. Karena dari tadi aku lihat ia hanya diam dan termenung. Dan itu sangat membuat ku cemas, takut ia terbebani dengan kejadian kemarin.


Jangan kan Lidya, aku pun sepertinya tidak akan bisa melupakan kejadian memalukan waktu itu.


"Kalau begitu secepatnya kamu nikah dengan Bianca, mar. Mama nggak mau hidup kere seperti ini. Apa kata teman-teman mama kalau mereka tau hidupku seperti ini?!,"


Aku mengerti dengan perasaan mama, mungkin mama malu kalau ia terlihat miskin di depan teman-temannya.


"Baik lah kalau itu bisa membuat mama dan Lidya bahagia, aku akan segera menikah dengan Bianca. Hari ini aku akan melamar nya," ucapku agar hati mama dan Lidya terhibur.


Malam ini aku berencana menemui Bianca untuk membicarakan tentang hubungan ini. Aku akan menikahi Bianca secara sah agama dan negara setelah aku resmi bercerai dengan Sarah.


Aku akan segera mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama. Aku harus menata masa depan ku dengan Bianca.


Aku akan bersungguh-sungguh dan fokus mengurus perusahaan papa Bianca yang saat ini sudah di pegang oleh Bianca.


Setelah selesai berganti baju dan sudah sangat rapi serta tak lupa ku semprot kan parfum yang di belikan Bianca saat ia ke luar negeri. Aku mencoba menghubungi nya, namun tetap nomor handphone nya tidak aktif.


"Kemana saja kamu, Bi?," ucap ku lirih sambil menutup panggilan yang tak terhubung itu.


Akhirnya malam ini aku gagal untuk melamar Bianca, lalu dengan perasaan kecewa aku pun tertidur.


Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan agama. Untuk mendaftar dan mengantarkan berkas-berkas persyaratan pengajuan gugatan cerai.


Ternyata proses perceraian tak semudah yang aku bayangkan. Aku pikir dengan daftar sekarang maka keputusan cerai akan selesai sekarang juga. Namun ternyata aku salah, proses nya masih berbulan-bulan baru semuanya selesai.


Aku sudah meminta pada Sarah agar tak hadir di sidang perceraian. Agar proses nya lebih mudah dan cepat.


Dan syukurlah Sarah menuruti semua permintaan ku, Sarah memang wanita yang mudah diajak kerja sama.


Kini aku pulang kerumah, untuk sidang pertama masih di agendakan hari Senin depan.


Sebelum pulang, aku mencoba menghubungi Bianca. Saat ini aku sangat kangen dengan dia, bayangan wajah nya terus muncul di pikiran ku.


Dan panggilan itu akhirnya di jawab oleh nya, aku tak mau banyak bertanya tentang dia yang kemarin sangat sulit untuk di hubungi. Karena aku tak mau memicu pertengkaran.


Lalu kami berjanji bertemu di hotel langganan kami. Aku pun segera memesan taksi online untuk mengantarkan aku ke hotel.


Sampai di hotel aku turun setelah membayar taksi online itu. Aku berjalan menuju resepsionis untuk meminta kunci cadangan.


Ternyata kata petugas resepsionis, Bianca sudah menunggu diatas. Tiba-tiba hasrat ini muncul tanpa di komando.


Ku cepat kan langkah kaki ini saat melewati lorong hotel yang bercahaya remang-remang ini.


Setelah sampai di depan pintu kamar itu, aku pun langsung membuka nya.


Dan Bianca terlihat berdiri dengan memakai lingerie berwarna merah. Terlihat lekukan tubuh seksi dan kulit mulus nya.


Aku yang saat ini sedang di kuasai nafsu birahi yang sudah memuncak. Tanpa berpikir panjang aku sambar tubuh Bianca dengan tubuh ku yang sudah bertelanjang dada.


Karena saat melihat tubuh Bianca yang seksi itu, aku copot satu persatu kancing kemejaku. Lalu kemeja itu terlepas dari tubuh ku dan ku lempar keatas sofa.


Dan Bianca dengan pasrah membiarkan tubuh nya aku cium dan kuremas bok0ng dan dadanya.

__ADS_1


Terlihat ia sangat menikmati nya, karena sudah lama kita tak melakukan ini. Mungkin Bianca juga rindu akan belaian ku seperti aku yang merindukan nya saat ini.


Dan akhirnya pertempuran itu pun tak dapat di elakan. Kami bermain sampai beberapa round. Dan itu membuat tubuh kami terkulai lemas. Kami berdua pun tertidur bersama dengan tubuh telanjang bulat.


__ADS_2