DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Masih Suasana Pengantin Baru


__ADS_3

Cekleeek!! pintu terbuka.


"Assalamualaikum, amma." ucap Kean dan ia berlari kearah ku dan langsung mencium punggung tangan ku.


"Assalamualaikum, Sarah." lanjut mas Bima yang berjalan masuk dibelakang Kean.


"Waalaikumsalam," jawabku, aku langsung berdiri dan berjalan ke arah mas Bima. Yang sebelumnya nya handphone ku matikan terlebih dahulu. Agar ia tak melihat kalau aku sedang mengetik novel. Lalu aku mencium punggung tang mas Bima.


"Amma, Kean mandi dulu ya." Kean berjalan kebelakang setelah menaruh tas sekolah di kamarnya.


"Iya, sayang." jawabku.


"Kamu cantik sekali, Sarah." puji mas Bima sambil memeluk punggung ku.


"Makasih, mas." jawabku tersipu malu karena tatapan dalam mas Bima kepadaku. Lalu mas Bima mengecup kening ku.


Ah... betapa bahagianya aku diperlakukan seperti layaknya seorang istri. Aku sangat bahagia, karena aku bisa merasakan mempunyai suami yang benar-benar mencintai istri nya. Semoga mas Bima selamanya seperti ini.


"Mas, kamu mandi dulu gih!," perintah ku.


"Bau...," candaku sambil menutup hidung ku dan tersenyum pada mas Bima.


"Tapi aku masih mau dekat dengan mu seperti ini, sayang," rengek mas Bima semakin erat memeluk tubuhku.


"Nanti dilanjut ya, mas. Bukannya hari ini kita mau kerumah ibu?," tanya ku.


"Oh iya, aku lupa. Entah kenapa saat dekat dengan mu, aku bisa lupa semua nya?!," jawab mas Bima sambil menepuk jidatnya.


Aku membalas ucapan mas Bima dengan tersenyum. Sungguh mas Bima bisa membuat hati ini melayang dengan kata-kata nya.


Wanita mana yang hatinya tak luluh kalau setiap hari diberikan kata-kata manis. Seperti yang dilakukan mas Bima padaku.


Selain itu, kenapa aku bisa menjatuhkan pilihan pada mas Bima? karena mas Bima mampu mendekatkan diri pada Kean, dan kulihat Kean juga sangat bahagia saat bersama mas Bima. Inilah alasan pertama ku menikah dengan mas Bima.


Dan satu lagi, mas Bima tak pernah memandang derajat ku. Walau aku mengaku hanya seorang pelayan toko roti, tapi ia tetap mau menikahi ku.


Mas Bima terus mencumbui ku, Tangan kirinya memeluk punggung dan tangan kanannya mengelus pipiku.


Untung saja, Kean saat ini sedang mandi, jadi ia tak melihat adegan dewasa seperti ini.


cekleeek!


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, itu tandanya Kean sudah selesai mandinya.


Dengan cepat aku lepas pelukan mas Bima, karena takut Kean melihatnya.


"Mas Bima mandi, gih!," perintah ku dengan tersipu malu.


Jujur masih ada rasa canggung dan malu saat bercumbu dengan mas Bima, mengingat aku baru menikah.

__ADS_1


Namun aku harus tetap bisa melayani suami ku dengan baik, dan harus membuang rasa malu ini jauh-jauh. Karena kewajiban istri adalah melayani suami.


"Iya, sayang." ucap mas Bima lalu mengecup bibir ku sebelum ia berjalan kearah kamar mandi.


Dan lagi, aku hanya bisa tersenyum malu. Namun tak di pungkiri, ada kebahagiaan di dalam hati ini.


"Sebelum kerumah ibu, kita kerumah tetangga dulu ya, mas. Buat antar kue-kue ini." ucapku pada mas Bima yang hendak masuk kedalam kamar mandi.


"Oke sayang ku." jawabnya, lalu ia masuk kedalam kamar mandi.


Segera ku lanjutkan up bab novel yang sudah ku ketik. Mumpung mas Bima masih di dalam kamar mandi.


Setelah up bab, segera ku tutup aplikasi novel online ku. Dan aku berjalan ke kamar Kean.


"Uda selesai ganti baju nya, sayang?," tanyaku ketika melihat Kean sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Uda amma." jawab Kean dengan menoleh kearah ku sebentar lalu kembali lagi menatap cermin yang ada di depan nya.


"Setelah ini, jangan lupa sholat ashar dulu ya, nak." perintah ku. Kean sejak dini sudah aku ajari untuk sholat lima waktu tepat waktu. Karena menurut ku, saat kecil ini lah pondasi yang kuat untuk menjadikan anak yang disiplin.


"Iya, amma." lalu ia berjalan menuju tempat sholat yang ada dirumah ini.


Aku bahagia memiliki anak seperti Kean, dia sangat patuh dan begitu sayang padaku.


"Kean mana, sayang?," tanya mas Bima yang baru keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada, dan bagian bawah tubuhnya terlilit dengan handuk.


Dengan sisa-sisa air yang belum kering di dada bidang nya, nampak tambah seksi dan...


"Hey, kamu kenapa," tanya mas Bima sambil melambaikan tangan di depan wajahku.


Aku pun kaget di buat nya, ah... bisa-bisanya aku terperangah melihat tubuh sixpack mas Bima.


"Apa aku terlalu mempesona?, hingga kamu menatap ku seperti itu sayang?," tanya mas Bima dengan senyum menggoda ku.


Aku semakin malu, karena ketahuan mas Bima saat memandang tubuh seksinya itu.


"Ini, mas Bima ganti baju dulu!," aku menyerahkan baju yang baru saja aku ambil dari almari yang sengaja ku siapkan untuk mas Bima.


Lalu aku membalikkan badan bertujuan keluar dari kamar, karena tak tahan wajah ini menahan malu. Mungkin pipi ku saat ini sudah seperti kepiting rebus.


Namun saat kaki ini akan melangkah, tiba-tiba tangan ku di tarik oleh mas Bima. Sehingga tubuh ku tak bisa menjaga keseimbangan, tak bisa dielakkan tubuh ku jatuh di tubuh mas Bima. Dan mungkin mas Bima tak kuat menopang tubuh ku, akhirnya kita berdua jatuh ke atas ranjang. Dengan posisi aku diatas tubuh mas Bima.


Jantung ini terasa memompa darah lebih cepat, sehingga suara degupan nya terdengar sangat jelas.


Mas Bima yang melihat wajahku semakin memerah, dengan sengaja ia semakin mempererat pelukan nya.


"Aku pingin, sayang." bisik mas Bima tepat di telinga ku, dan itu membuat bulu kuduk ku berdiri. Dan aliran darah dari jantung berdesir semakin cepat.


"Tapi....,"

__ADS_1


Cup!!!


Belum selesai aku bicara, mas Bima langsung membungkam bibirku dengan bibirnya. Ia tak memberiku ruang gerak, sehingga aku susah sekali untuk bernafas.


Permainan bibir mas Bima sungguh luar biasa, ia tak memberiku kesempatan untuk membalas nya.


"Amma....ayah.... ayo, katanya kita kerumah nenek jemput kakak?," teriakan Kean berhasil membuyarkan permainan yang baru saja akan di mulai.


Dengan terpaksa, aku melepas tautan bibir ku di bibir mas Bima.


Dan segera aku berdiri untuk merapikan gamis ku. Aku dan mas Bima saling berpandangan dan kita berdua langsung tertawa. Mengingat apa yak kita lakukan ini.


"Iya, nak. Tunggu ayah ganti baju dulu." jawab ku sambil keluar dari dalam kamar.


"Kalau begitu, Kean nonton tv dulu ya amma?." ucapnya.


"Iya sayang, amma juga mau siap-siap. Karena sebelum kerumah nenek, kita bagikan dulu kue-kue ini ke tetangga-tetangga sebelah rumah." ucapku. Sambil berjalan kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil Khimar.


"Sayang.... yuk dilanjut." tiba-tiba mas Bima memeluk dari belakang saat aku hendak mengambil Khimar di dalam lemari.


"Mas...., di depan ada Kean loh. Lagian kita kan mau kerumah ibu. Nanti aja ya..?," ucap ku membujuk mas Bima.


"Ya,,,, lama donk?!," ucap mas Bima dengan wajah kecewa.


"Sabar donk," ucapku seraya tersenyum pada mas Bima dan melangkah meninggalkan nya.


"Yah, nama nya juga pengantin baru." gerutu mas Bima.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mas Bima, yang seperti anak kecil itu.


Kini aku dan Kean sudah duduk di sofa ruang tamu, menunggu mas Bima selesai ganti baju.


Tak lama kemudian, dia keluar dengan pakaian yang rapi. Sangat terlihat tampan dan gagah, membuat ku semakin terpesona pada mas Bima.


"Ayo kita berangkat!!," ajak mas Bima.


"Tapi kita bagikan ini dulu, ya mas." ucapku sambil menunjuk beberapa kantong tas yang berisi kue-kue.


"Oh... ini mau di bagikan ke tetangga-tetangga?," tanya mas Bima.


"Iya mas. Rasanya tidak enak kalau kita tak memperkenalkan diri, disini kita masih baru. Ya... itung-itung kita bersilaturahmi." ucap ku.


"Baiklah istriku. Ayo kita berangkat!," ucap mas Bima sambil memegang dagu ku.


Sungguh hal kecil seperti ini membuat hati ku sangat bahagia, sebagai wanita aku sangat senang di perlakukan seperti ini.


Aku akui mas Bima memang sangat romantis, ia bisa menciptakan hal-hal yang membuat hati ku bahagia dan membuat aku tersipu malu oleh tingkah dan kata-katanya.


Kami berjalan keluar rumah, dari teras rumah sore ini ada beberapa rumah yang terlihat pintunya terbuka. Mungkin penghuni nya sudah pada dirumah.

__ADS_1


Ada juga yang sedang duduk-duduk santai di teras rumah nya, bercengkrama dengan keluarga dan anak-anak nya.


"Kita kesana dulu aja ya, mas." aku menunjuk rumah yang penghuninya sedang duduk bersantai di teras rumah nya. Disana terlihat si suami sedang duduk bermain handphone dengan secangkir teh di atas meja. Sedangkan si istri sedang menyiram beberapa tanaman bunganya.


__ADS_2