
"Aish... Aish rasanya capek banget, Ma. Aish mau istirahat aja tapi enggak bisa. Aish enggak punya rumah untuk kembali dan Aish juga hanya sendirian di dunia ini. Kejamnya...Mama lagi-lagi bertindak kejam meninggalkan Aish di sini sendirian tanpa rumah dan hidup kesepian. Mama... adalah orang yang egois. Hem... egois." Aish mengeratkan pelukannya di kaki, memegang erat kakinya sendiri sebagai sumber kehangatan tubuhnya yang kedinginan.
"Ma... Aish kangen, Mama. Aish pengen banget ketemu sama Mama. Dari kecil Aish selalu bertanya-tanya seperti apa wajah Mama di dunia nyata....Ma, Mama di sana kangen enggak sama, Aish? Mama mau enggak ketemu sama, Aish?" Perlahan bulu matanya yang basah jatuh kembali ke posisinya, menutup mata sinar mata aprikot itu dari sunyi nya dunia.
Tak berselang lama suara nafas teratur Aish mulai menggeser kesunyian malam. Ia jatuh tertidur setelah mencurahkan isi hatinya pada malam yang hanya bisa diam membisu melihatnya menangis kesakitan.
Tidur, ia akhirnya memasuki dunia mimpi- ah, aneh. Dunia mimpi yang ia masuki ternyata tidak seindah yang ia bayangkan. Dunia itu masih dunia yang sama, gelap dan sepi, Aish sudah lama terbiasa.
"Jangan egois Aish," Tiba-tiba dari balik rak tempatnya duduk seseorang muncul.
Seseorang itu, adalah laki-laki tinggi yang memiliki wajah tampan tanpa cela yang menawan. Wajahnya yang dipahat indah bersinar lembut di bawah cahaya rembulan, sinarnya bahkan tidak kalah dengan cahaya yang dipancarkan oleh rembulan di atas awan.
Laki-laki itu berjalan mendekati Aish, duduk di depan Aish sambil memperhatikan wajah basah Aish dengan mata gelapnya yang tajam, gelap hingga malam pun tak mampu menyamainya.
Tangan besar laki-laki itu lalu terulur menyentuh wajah basah Aish, mengusapnya lembut dengan gerakan yang sangat hati-hati. Seolah-olah kulit wajah Aish sangat rapuh dan mudah terluka bila ia tidak berhati-hati.
"Aisha Rumaisha, aku bersyukur Allah membimbingku memberikan nama ini kepadamu saat itu. Sebab nama ini adalah doa yang akan selalu menyertaimu seumur hidup. Gadis yang cantik dan pemberani, kamu benar-benar tumbuh sesuai dengan doa nama ini sendiri. Demi Allah, Aish...aku sungguh bangga dengan perjuangan mu selama ini. Aku bersyukur kepada Allah karena hatimu dikuatkan hingga kita dipertemukan kembali. Kau tahu, hanya Allah yang tahu betapa bahagia dan bersyukurnya hatiku saat bisa melihatmu kembali. Hanya saja Aisha Rumaisha....aku tak suka..." Kata-katanya tertahan.
Sejenak mata gelap itu tampak mabuk melihat betapa indahnya gadis yang kini tengah tertidur lelap di depannya tanpa pertahanan ataupun kewaspadaan. Gadis ini sangat polos dan tampak sangat rapuh bila sedang tertidur. Hatinya yang tadi memendam amarah tanpa sadar dilembutkan oleh ketidakberdayaan Aish.
Mengusap bibir ranum Aish, ada keinginan yang tersamarkan di dalam mata gelap itu.
__ADS_1
"Aku tak suka mendengar kata-kata mu tadi. Aku tak suka mendengar permintaan mu kepada Mama. Karena jika kamu benar-benar pergi mengikutinya pergi, maka untuk apa penantian ku selama ini di dunia ini wahai Aisha Rumaisha? Tidakkah kamu tahu bahwa hatiku lebih sakit saat mendengarkan penolakan mu terhadap dunia ini? Aku sangat terpukul." Bisik suara rendah itu sangat tertekan.
Selama 16 tahun ia menunggu hari ini datang dan selama 16 tahun itu pula ia berusaha memantaskan dirinya menjadi laki-laki yang baik, laki-laki dewasa yang bertanggung jawab, dan terus berusaha mempertahankan kesetiaan hatinya.
Dan setelah semua yang ia lakukan dan perjuangkan ini, Aisha Rumaisha tiba-tiba ingin menyerah?
"Ketahuilah, aku akan sangat marah." Sumpahnya bersungguh-sungguh.
"Maka dari itu hilangkan lah pikiran salah itu dari hatimu sebab kamu tidak pernah sendirian di dunia. Kamu masih memiliki aku yang akan selalu memperjuangkan mu dan kita masih memiliki Allah, Sang Maha Romantis yang telah mempertemukan aku dan kamu di dunia ini. Tanpa ridho dari-Nya, cerita kita tidak akan sampai ke titik ini dan tanpa ridho dari-Nya pula, cerita kita tidak akan pernah terjadi di dunia ini. Jadi berhentilah menangis, Aish. Skenario Allah tidak seburuk yang ada di hatimu. Semua yang terjadi di masa lalu adalah salah satu jalan mengapa kita bisa sampai ke tahap ini wahai Aisha Rumaisha. Apakah kamu mengerti apa yang aku maksud?"
Diam, suara lembut nan hangat laki-laki itu hanya dibalas suara nafas teratur Aish yang masih terbuai dalam tidurnya.
Melihat kebisuan Aish, laki-laki itu sama sekali tak kecewa. Ia malah tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya tidak berdaya melihat betapa manis dan menggemaskan Aisha Rumaisha ketika sedang tertidur.
"Astagfirullah... astagfirullah...jangan sekarang...jangan dulu..." Bisiknya menguatkan hatinya.
Akan sangat curang bila ia melakukannya sekarang. Lagipula ia juga penasaran dengan reaksi Aish jika melakukannya secara terbuka.
Maka untuk hari itu...ia harus menunggu cukup lama.
"Di sini terlalu dingin." Bisik laki-laki itu mengalihkan pikirannya yang sempat terbang jauh tidak pada tempatnya.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa tidur terlalu dekat dengan jendela." Lalu ia menyelipkan tangan kirinya di bawah lutut Aish, sedangkan tangan yang lain di atas punggung Aish.
Beberapa detik kemudian ia mengangkat Aish dengan gaya pengantin. Karena pergerakan tiba-tiba saat laki-laki itu berdiri, wajah Aish langsung miring ke sisi kiri, bersandar sepenuhnya di dada kanan laki-laki itu.
Nyaman, Aish tanpa sadar mencari posisi yang nyaman di dalam pelukan laki-laki itu. Bersandar semakin dekat untuk mendapatkan suhu hangat dari tubuh laki-laki tersebut, mengusir suhu dingin yang sempat menghinggapi tubuhnya.
Di dalam tidurnya Aish tiba-tiba tersenyum dan mengigau, memanggil nama seseorang yang selalu mengisi hatinya disaat terjaga ataupun tidak terjaga.
"Kak Khalid..." Panggilnya rindu.
Laki-laki itu spontan menundukkan kepalanya menatap wajah manis Aish di dalam pelukannya,"Tidurlah." Bisiknya sayang seraya mengusap pipinya di puncak kepala Aish.
Membuat tidur Aish kian nyaman dan damai, seolah-olah ia telah kembali ke rumah yang seharusnya ia datangi.
...****...
Dini hari berikutnya, Aish tiba-tiba dibangunkan oleh Gisel dan Dira. Awalnya Aish tidak mau bangun karena ia masih merasa mengantuk. Namun saat mendengar suara orang mengaji yang familiar di telinganya, ia langsung bangun dengan panik.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Aish buru-buru mengusap matanya yang mengantuk.
Dira menutup mulutnya yang menguap. Dia juga masih mengantuk.
__ADS_1
"Enggak tahu, tapi ini udah waktunya sholat tahajud." Kata Dira masih lemas.