
Besoknya semua orang bangun seperti biasanya dan berangkat sekolah seperti biasanya.
Hari ini cuaca sangat cerah. Aish, Gisel dan Dira berjalan ringan menapaki jalan setapak pondok yang menuju ke arah sekolah mereka. Udaranya sangat menyegarkan. Dada rasanya sangat plong setiap kali menghirup udara dingin ke dalam paru-parunya.
"Gis, kamu masih enggak sehat, yah?" Dira menyadari ada sesuatu yang salah dengan Gisel karena sejak bangun tidur sahabatnya ini diam terus seperti sedang banyak pikiran.
Padahal tadi malam sahabatnya ini baik-baik saja.
Gisel tersenyum malu. Dia tidak akan menceritakan masalah ini kepada sahabatnya.
"Agak, tapi udah lebih baikan." Katanya berbohong.
"Oh." Dira merasa jika Gisel sedang berbohong, tapi dia tidak terus bertanya agar tidak menekan sahabatnya itu,"Maka kamu harus lebih banyak beristirahat di sekolah nanti."
Gisel tersenyum lembut. Hatinya menghangat melihat perhatian sahabatnya.
"Tentu."
Sesampai di kelas, semua orang duduk di masing-masing bangku sambil menunggu kedatangan ustazah. Kabarnya Nadira juga akan masuk hari ini jadi beberapa orang sangat bersemangat menanti kedatangannya. Beda dengan keinginan Aish dan Dira. Mereka berdua sama sekali tidak antusias dengan kedatangan Nadira. Malah, mereka berharap tidak satu kelas dengan orang itu.
"Gisel kayaknya lagi banyak pikiran." Dira mengangkat topik pembicaraan ini.
Aish awalnya ingin membicarakan masalah ini sebelumnya tapi masih menunggu waktu yang tepat. Tak disangka Dira malah mengangkatnya lebih dulu.
Aish mengubah posisi duduknya menyamping ke arah Dira.
"Iya, tapi dia enggak mau cerita sama kita." Kata Aish tidak senang.
"Mungkin dia enggak mau nyusahin kita." Dira menebak.
Tapi Aish masih tidak puas karena menurutnya mereka bertiga adalah keluarga sekarang dan sudah sewajarnya mereka berbagi suka duka bersama-sama.
"Tetap saja, kita adalah keluarganya dan enggak sepatutnya dia nyembunyiin masalah apapun dari kita." Kata Aish marah.
Kalau soal ini, ia langsung marah karena Aish tahu bagaimana sakitnya memendam masalah sendiri tanpa ada tempat untuk melupakannya. Ia sudah memiliki banyak pengalaman, bertahun-tahun malah. Dan rasanya itu sangat menyiksa.
Dira mengangguk setuju. Dia juga punya pikiran yang sama dengan Aish.
__ADS_1
"Pulang sekolah ayo ajak dia bicara." Dira memutuskan dan Aish dengan mudahnya setuju.
"Aku juga-"
"Ustazah, datang! Ustazah, datang!" Ketua kelas berlari masuk memberitahu yang lain.
Aish langsung memperbaiki posisi duduknya dengan benar dan menutup mulutnya serapat mungkin. Mata aprikot nya berkedip ringan memandangi pintu kelasnya. Selang beberapa detik kemudian, sosok cantik nan lembut ustazah masuk ke dalam kelas bersama gadis cantik yang sudah tidak asing lagi untuk semua orang di kelas. Malahan sosok cantik itu sudah menjadi buah bibir anak santri beberapa waktu ini.
Aish menatap gadis itu hati-hati. Memandangi setiap jengkal dari tubuhnya dengan tatapan menyelidik. Sinar matanya seperti obor, sangat mencolok dan mencuri perhatian. Gadis itu mau tidak mau menatap Aish karena merasa risih dengan tatapannya yang menyeluruh.
Mata mereka bertemu. Aish tidak tersenyum atau bahkan menganggukkan kepalanya untuk menyapa. Sikapnya sangat cuek kepada gadis itu.
Gadis itu malah sebaliknya. Dia menyapa Aish dengan senyuman lembut yang menyenangi mata. Harus Aish akui bahwa gadis ini memiliki pesona yang sangat tajam. Baik laki-laki ataupun perempuan yang melihat senyuman ini pasti akan melunak hatinya. Aish pun merasakan itu tapi ia tetap berpikiran jernih.
Dia adalah rival cintamu, Aish! Jangan terpesona dengan senyumnya! Batinnya menekankan.
Tidak tersinggung dengan sikap cuek Aish, gadis itu lalu mengalihkan pandangannya menatap teman-teman kelas barunya. Dia lalu memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Arab, bahasa kalbu yang tidak akan pernah Aish mengerti hingga detik ini.
"السلام عليكم للجميع. تقديم اسمي نادرة سمية ، يمكنك الاتصال بناديرا. أنتقل من مصر وآمل أن يصبح أصدقائي أصدقاء معي. شكرًا لك."
Dia memperkenalkan diri dengan sopan dan hangat. Bahkan senyuman hangatnya tak pernah berpendar dari wajah cantiknya.
Wajah secantik dan secerdas ini, mana mungkin habib Khalid tidak tertarik. Terutama darah mereka yang berasal dari garis yang sama, Aish tahu jika Nadira adalah pilihan terbaik.
"Jangan sedih." Bisik Dira di samping.
Dia menepuk lengan Aish ringan untuk menghiburnya.
"Dia pintar banget bahasa Arab, Dir." Kata Aish minder.
Gimana enggak minder, habib Khalid aja ngomong sama orang tuanya pakai bahasa Arab seolah-olah tidak ingin Aish mengetahui isi pembicaraannya. Aish sedih.
Dira memutar bola matanya tidak habis pikir.
"Ya iyalah dia pintar bahasa Arab. Dia kan sekolah di Mesir dan latarbelakang keluarganya juga keluarga yang baik-baik. Beda sama kita. Terlahir terlantar dengan kehidupan yang terlantar pula." Katanya bercanda.
Aish bukannya marah malah tersenyum. Benar memang. Mereka sejak awal tidak berada di dunia yang sama.
__ADS_1
"Yah, kita anak terlantar." Katanya bercanda.
"Nadira duduk di bangku nomor 3, yah." Instruksi ustazah.
Nadira mengangguk sopan kepada ustazah.
"Baik, ustazah. Senyumannya sangat manis.
Hati ustazah melunak, seperti ada seember madu yang ditumpahkan ke dalam hatinya. Rasanya manis.
"Cih." Gigi Dira rasanya gatal.
Aish menggelengkan kepalanya geli dan mulai fokus mendengarkan pelajaran. Mungkin karena kehadiran Nadira sangat kuat di kelas ini membuatnya terpacu untuk serius belajar.
Sepanjang pelajaran muka Aish selalu lempeng. Dira merasa kagum dengan semangat belajar sahabatnya itu tapi di sisi lain dia merasa bosan sendiri karena tidak punya teman bicara.
Tak tahan lagi.
"Aku mau ke kamar mandi." Kata Dira kepada Aish.
Aish mengangguk singkat sambil menundukkan kepalanya fokus menulis tulisan Arab gundul di papan.
Saat bangun dari duduknya Dira iseng melihat buku Aish. Matanya langsung berkedut tertahan. Tulisan Arab sahabatnya ini sungguh tidak mampu didefinisikan dengan apapun. Dira hanya berkata di dalam hati agar sahabatnya ini jangan menyerah berlatih agar tulisannya 'sedikit' manusiawi.
Setelah diberikan izin keluar, Dira langsung pergi ke toilet untuk mencuci muka nya agar tidak mengantuk lagi. Setelah merasa jauh lebih segar, dia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kelas.
Brak
Ada suara benda jatuh.
Langkah Dira terhenti. Dia melirik tembok belakang sekolah. Ragu, dia lalu membawa langkahnya ke sana dan mengintip dari sisi tembok sekolah apa yang sedang terjadi.
"Ngapain kamu di sini?!" Tanya Dira jutek saat melihat seorang anak laki-laki duduk jongkok di samping jendela kelas nya.
Laki-laki ini mungkin 3 atau 4 tahun lebih muda darinya tapi keberaniannya sangat besar. Beraninya dia mengintip sekolah santriwati?!
Bukankah dia tahu kalau santri laki-laki tidak diizinkan masuk ke sekolah ini!
__ADS_1
"Pengganggu." Ucap laki-laki itu kesal seraya berjalan ke arah tembok luar.