Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 25.3


__ADS_3

Pada malam harinya, tepat setelah shalat isya keluarga Ayah datang ke rumah sakit setelah mendapatkan arahan dari Abah. Karena terlalu panik memikirkan bagaimana keadaan Aira di rumah sakit, mereka bahkan tidak sempat mengisi perut dan datang ke rumah sakit dalam keadaan lapar serta haus. Tidak ada yang memperdulikan situasi perut karena pikiran semua orang tertuju pada Aira. Apakah Aira baik-baik saja, apakah dia merasa aman sendiri, apakah dia tidak menangis, dan apakah dia tidak terluka?


Semua pertanyaan ini bertemu di dalam kepala Ayah dan Bunda. Di depan mereka berdua Aira selalu menampilkan eksistensi gadis yang lemah lembut dan rapuh. Dia mudah sakit, mudah kelelahan, dan mudah terluka. Di kepala mereka Aira bagaikan vas bunga yang mudah pecah jika tidak dijaga dengan hati-hati.


"Di sini?"


Ayah mengangguk,"Abah bilang kamarnya nomor 37 lantai 3. Berarti memang ini."


Bibi mendesak masuk.


"Jangan ragu-ragu, sebaiknya kita langsung masuk, kak."


Bunda menganggukkan pelan, mengambil nafas, lalu menarik gagang pintu hingga pintu terbuka lebar.


"Assalamualaikum... Aira! Nak, apakah kamu baik-baik saja?" Begitu masuk ke dalam kamar, Bunda langsung berteriak ketakutan sambil berlari menghampiri putrinya yang terkapar tidak berdaya di atas ranjang.


Aira terlihat pucat kehilangan warna dan terlihat sangat lemah. Melihat Bunda datang, Aira sontak menangis keras sambil mengeluarkan kedua tangannya meminta pelukan hangat. Aira menangis dan membuat hati Bunda sakit. Terakhir kali putrinya menangis sekeras ini saat dia dikirim ke rumah sakit setelah meminum obat terlarang yang Aish berikan. Dia pikir setelah kejadian itu dia tidak akan pernah melihat Aira menangis keras ini, tapi dia salah karena tidak butuh waktu lama pemandangan menyakitkan itu kembali menusuk matanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Bunda sembari mengelus punggung kurus putrinya.


Awalnya Aira hanya menangis keras dan tidak mengatakan apa-apa. Sikapnya yang penakut dan ragu-ragu semakin membuat semua orang penasaran sekaligus bertanya-tanya apa yang telah membuat Aira seperti ini. Karena air yang enggan membuka mulut, mereka terus-menerus mendesak hingga akhirnya ingin menelpon pihak pondok pesantren untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


"Tunggu... tunggu, Aira akan menceritakannya...ini tentang habib Thalib.." Di sela-sela tangisannya dia berbicara.


Semua orang bingung dan saling menatap.


"Apa hubungannya dengan habib Thalib, Nak?" Tanya Ayah selembut mungkin kepada putrinya.


"Iya, Nak. Apa hubungannya dengan habib Thalib? Bibi pikir Aish yang datang mengganggu kamu." Celetuk bibi kecewa.


"Memang ada hubungannya juga...tapi, ini... terjadi karena kesalahan habib Thalib. Tadi siang di rumah Umi.." Dengan nada ragu-ragu dia mulai menceritakan kejadian tadi siang di rumah Umi. Menambahkan bumbu-bumbu pahit dan asam untuk mengundang simpati keluarganya. Melebih-lebihkan cerita dengan tampilan menyedihkan yang menyentuh hati seolah itu benar-benar terjadi, Aira berhasil membangkitkan kemarahan semua orang. Semakin dia berbicara maka semakin jelek ekspresi keluarganya. Mereka geram mendengar apa yang Aira ceritakan dan berharap bisa pergi mencari habib Khalid untuk meminta pertanggungjawaban.


Tapi Aira langsung menghentikan mereka. Tidak seru ceritanya kalau keluarganya langsung meminta pertanggungjawaban di pondok pesantren. Dia ingin menunjukkan ******* yang luar biasa untuk orang-orang di pondok pesantren jadi karena itulah dia menghentikan keluarganya untuk pergi menuntut.


"Bunda, Ayah dan bibi. Abah sudah memberitahuku bahwa besok ada sidang di pondok pesantren setelah aku kembali ke pondok pesantren. Saat sidang aku yakin Abah akan memberikan keadilan untukku dalam masalah ini sehingga kalian tidak perlu khawatir dan pergi menonton habib Thalib sekarang. Serahkan saja semuanya kepada pondok pesantren, karena aku yakin mereka tidak akan mengecewakan aku. Paling tidak keputusan akhir yang mereka berikan adalah aku menikah dengan habib Thalib."

__ADS_1


Dada Ayah sangat sesak,"Dia memang harus menikahi kamu! Kalau tidak, Ayah sendiri yang akan pergi menuntutnya ke kantor polisi!" Marah Ayah semarah-marahnya.


Bagaimana tidak dia tidak marah melihat putri tercintanya yang telah dibesarkan dengan hati-hati dan lemah lembut, dinodai oleh orang lain. Sekalipun dia mengharapkan dan menyetujui habib Thalib menjadi suami Aira, dia sama sekali tidak setuju dengan cara curang ini. Kalau habib Thalib memang serius kepada putrinya, maka datang saja ke rumah dan berbicara baik-baik. Tidak perlu menggunakan cara ini karena nama baik putrinya bisa tercemar.


"Aku tak menyangka, habib Thalib adalah seorang habib! Tapi perilakunya sangat bejad dan keterlaluan. Besok kalian harus menikah untuk menyelesaikan masalah ini. Bibi tidak mau nama kamu rusak, dan bibi ingin habib Thalib memberikan kompensasi kepada kamu dengan cara memberikan pernikahan yang meriah juga besar untuk memperbaiki nama baik kamu!" Bibi juga tak kalah marahnya dengan Ayah.


Walaupun sedang marah dia tidak bisa menghilangkan keserakahan di dalam hati. Dia sudah lama mendengar bahwa jika seorang habib menikah, maka pernikahannya akan luar biasa besar dan mewah. Memangnya orang mana yang tidak mau melihat keluarganya menikah dengan cara yang megah dan mewah? Bibi juga seperti itu, dia malah ingin mereka agar secepatnya menikah untuk menaikkan kembali kelas keluarganya sempat turun karena masalah perusahaan kemarin. Agar semua orang melihat bahwa menantu keluarga mereka bukanlah orang sembarangan karena berasal dari darah yang mulia.


Dia yakin orang-orang yang merendahkannya pada saat itu akan menatap cemburu melihat Aira bersanding dengan laki-laki luar biasa.


"Tenanglah semuanya. Kita tunggu saja keputusan dari pondok pesantren besok. Jika habib Thalib menolak menikahi air kita, maka kita semua tidak akan tinggal diam. Tapi kemungkinan ini sangat kecil mengingat kasus ini sudah tersebar luas. Karena habib Thalib berani melakukan ini kepada putri kita, maka Bunda yakin dia pasti memiliki perasaan kepada Aira. Meskipun caranya salah untuk mendapatkan Aira, namun itu tidak bisa mengurangi restu Bunda kepada hubungan mereka berdua. Selama Aira bahagia dengan habib Thalib, Bunda tidak akan ragu menyetujuinya. Bagaimana denganmu, Nak? Apakah kamu bersedia menerima habib Thalib setelah apa yang dilakukan kepadamu tadi siang?" Bunda melemparkan pertanyaan kepada 'korban' yang telah membuat hati mereka sakit dan sesak menahan amarah.


Pipi Aira langsung memerah malu. Tak perlu ditanyakan lagi, dia sangat bersedia.


"Bunda...tidak perlu menanyakannya. Aku pasti bersedia menikah dengan habib Thalib. Terlepas dari kesalahan yang telah dilakukan kepadaku, hatiku tetap hanya untuknya."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


MAAF HARI INI ENGGAK BISA NULIS DARI TADI PAGI KARENA ADA SESUATU 😬, INSYAA ALLAH BESOK YAH


__ADS_2