
Mulut Nadira dan teman-temannya langsung berkedut tertahan. Jika mereka tidak melihat ekspresi serius Aish dan kedua sahabatnya, maka mungkin mereka akan berpikir jika ketiga anak kota ini sedang mempermainkan mereka.
Tapi untungnya ekspresi mereka bertiga sangat mendukung sehingga Nadira dan teman-temannya tidak mampu mengatakan apa-apa.
Nadira berusaha mempertahankan senyuman lembut di bibirnya. Dihadapan Aish, saingan cintanya yang paling kuat, Nadira merasa bahwa sikapnya sangat tidak konsisten. Senyuman di wajahnya tidak setulus saat berhadapan dengan orang lain, Nadira tahu itu. Dirinya tiba-tiba merasa sangat melelahkan saat berhadapan dengan rival dari cintanya.
"Aish," Nadira kemudian berpaling menatap Aish.
Aish mengangkat kepalanya membalas tatapan Nadira."Karena kamu dipaksa, bagaimana perasaan mu setelah tinggal di pondok?"
Aish tidak langsung menjawab. Ia menyentuh dagunya berpikir menimbang waktu-waktu yang ia lalui selama satu bulan ini di pondok. Sejujurnya sebagian besar waktu dilalui sangat menyenangkan meskipun ada beberapa bagian-bagian yang tidak menyenangkan. Tapi yah, secara keseluruhan ia sangat senang tinggal di sini.
"Sangat menyenangkan. Apalagi ada kak Khalid di sini yang akan selalu ada untukku." Katanya sengaja pamer.
Baik Nadira dan teman-temannya langsung merinding mendengar sebutan Aish kepada habib Khalid. Pasalnya, Aish adalah satu-satunya orang yang memanggil habib Khalid seperti itu. Mereka semua jelas tidak meragukannya karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri saat bagaimana Aish diperlakukan dengan baik oleh sang habib tadi siang di sekolah tadi.
__ADS_1
Senyuman Nadira menjadi kaku,"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat."
Dira langsung menyahuti,"Benar, hubungan mereka sangat dekat. Aku saja yang melihatnya sampai sakit gigi melihatnya diperlakukan berbeda oleh habib Thalib." Katanya sambil menekankan kalimat terakhir.
Nah perasaan ini tidak hanya dirasakan oleh Dira saja, tapi hampir sebagian besar pengagum sang habib pun merasakan hal yang sama.
Nadira cemburu. Senyumnya Mukai menghilang.
"Habib Thalib adalah orang yang sangat disiplin dan tidak suka terlalu dekat dengan wanita manapun. Tapi dia memperlakukan dengan berbeda dan aku pikir pasti ada alasan. Maukah kamu memberitahuku apa alasannya? Karena aku...aku...kau tahu, kami sama-sama berasal dari nasab yang sama dan kemungkinan akan..." Nadira tidak bisa melanjutkan ucapannya tapi semua orang tahu apa yang ingin dia katakan.
Nadira sengaja mengatakan ini agar Aish tidak terlalu melambung tinggi dan cukup sadar diri dengan situasinya sendiri yang tidak memungkinkan.
Nadira tersenyum malu tanpa menyadari perubahan wajah Aish, mungkin.
"Aku tidak bisa mengatakannya di sini." Katanya malu-malu.
__ADS_1
Melihat ini, Dira dan Gisel langsung panik. Takutnya mental Aish runtuh setelah mendengar kata-kata Nadira. Sebab kata-kata Nadira terlalu mematikan, langsung menikam kelemahan Aish kalau sudah bawa-bawa garis keturunan.
Tapi apa yang mereka berdua takutkan tidak benar-benar terjadi. Bukannya sedih, Aish malah tertantang. Kepercayaan dirinya telah meroket sejak habib Khalid mengizinkannya mengejar.
Huh, aku adalah satu-satunya orang yang diizinkan kak Khalid untuk mengejarnya! Aku istimewa! Batinnya percaya diri.
Tersenyum miring,"Oh. Jika kamu tidak mau memberitahuku maka tidak masalah karena aku bisa bertanya langsung ke kak Khalid apa maksud dari ucapan mu barusan. Ini hanya masalah sepele." Kata Aish dengan senyum main-main.
Nadira tertegun, Aish tidak bermain sesuai dengan kartunya!
"Apa?" Dirinya langsung panik.
Aish tidak perduli dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Aku dan temanku sudah selesai makan. Sudah saatnya kami kembali ke asrama untuk beristirahat. Ayo pergi." Aish memimpin jalan tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
Gisel dan Dira tertawa mengejek melihat betapa shock nya wajah Nadira tadi. Tawa mereka entah disengaja atau tidak, tapi kedengarannya sangat menyebalkan ditelinga Nadira juga teman-temannya.
"Usia segini lagi lucu-lucunya." Kata Dira di sela-sela tawanya dan di dengar langsung oleh Nadira.