
"Jangan berbicara omong kosong! Aku tidak semampu yang kamu pikirkan. Daripada meminta bantuan kepada ku, lebih baik meminta bantuan kepada Bibi saja." Dokter Ira tidak bisa membantu dan bahkan jika dia bisa, dia juga tidak akan mau membantu Khalisa.
"Aku juga akan meminta bantuan kepadanya..."
Mungkin karena sakit, Khalisa jadi jauh lebih cengeng dan manja. Mulutnya tidak berhenti bicara dan terus menerus merengek memohon bantuan kepada dokter Ira. Membuat kuping dokter Ira panas karena muak mendengarkan permintaan yang sama.
"Khalisa, berhenti! Jika tidak, aku akan menelpon Mama mu dan memberitahunya apa yang terjadi kepadamu di sini." Ancam dokter Ira kesal.
Mendengar ancaman dokter Ira, Khalisa langsung menutup rapat mulutnya sambil menatap kakak sepupunya itu dengan ekspresi tidak puas.
Khalisa takut orang tua dan keluarga yang lain tahu apa yang terjadi di sini, terutama untuk kakek dan nenek, dia tidak sanggup mereka tahu karena merekalah satu-satunya harapan agar bisa dekat dengan habib Thalib. Sebab kakek dan nenek memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pemilik pondok pesantren ini.
"Kak Ira tega..."
Dokter Ira memutar bola matanya malas. Dia merapikan selimut adik sepupunya itu, mengecek pergelangan tangan kirinya untuk memastikan bahwa jarum infusnya tidak kenapa-kenapa dan tidak ada pendarahan lagi di selang infus.
"Tidur. Aku akan membangunkan mu lagi ketika waktu minum obat tiba." Katanya lembut.
Setelah itu dia menutup pintu kamar Khalisa dan berjalan kembali ke meja kerjanya. Duduk lesu di tempat, dokter Ira melihat layar ponselnya yang dipenuhi banyak pesan, namun tak satupun pesan balasan dari orang yang dia tunggu-tunggu.
Sigh,
Dia kecewa. Sudah satu minggu lebih dia tidak mendengar kabar dari orang itu dan sudah satu minggu lebih orang itu tidak membalas pesannya. Jika bukan karena orang itu tiba-tiba menghilang, maka dia mungkin tidak akan berani mengirim pesan kepadanya.
"Coba lagi."
Dia mengambil ponselnya lagi dan mencari kotak pesan orang tersebut yang masih tidak kunjung di balas.
Assalamualaikum, habib Thalib. Ini Ira, dokter klinik pondok. Ira sudah lama tidak melihat habib Thalib di pondok pesantren dan Ira khawatir terjadi sesuatu kepada habib. Ira tidak tahu bagaimana kabar habib Thalib sekarang....yah, Ira ingin tahu apakah habib Thalib baik-baik saja?
Send.
__ADS_1
Jempol dokter Ira meng-klik send, dan pesan pun akhirnya terkirim. Setelah mengirim pesan jantungnya tidak bisa berhenti berdebar kencang menunggu balasan habib Khalid selanjutnya.
Menunggu. 5 menit sudah berlalu. Lalu 3 menit lagi. Dan kemudian 5 menit lagi, tidak ada balasan.
"Hemph..." Dia meletakkan ponselnya di atas meja.
Duduk bersandar di kursi sambil menatap langit-langit klinik pondok yang monoton dengan suasana hati yang monoton pula, dia kecewa.
Tangannya yang ramping terangkat di depannya lalu perlahan jatuh di atas dadanya, merasakan kekecewaan yang telah menjamur semenjak hatinya menumbuhkan perasaan kepada sang habib.
Matanya terpejam lemah,"Padahal aku sudah di sini demi kamu..." Gumamnya sedih.
...****...
"Bagaimana? Apakah Aish belum menghubungi kakak?" Tanya Bibi kepada Ayah.
Hari ini libur di pondok dan biasanya di hari libur para santri ataupun santriwati akan berbaris di depan kantor untuk meminjam telepon agar bisa menghubungi pihak keluarga di kampung halaman.
"Tidak, dia pasti sangat sibuk." Jawab Ayah tenang.
Bibi memutar bola matanya kesal.
"Sudah ku duga dia tidak akan menghubungi kakak. Dia memang terlahir kurang ajar dan durhaka. Bahkan pondok pesantren pun kesulitan mendidiknya!" Marah Bibi membenci Aish.
Dia sangat marah dan selalu menatap kesal apapun yang Aish lakukan. Entah baik atau buruk, baginya Aish tidak pernah benar. Aish selalu salah, selalu buruk, dan selalu tidak berguna. Kehadirannya adalah momok untuk keluarga yang harus disingkirkan. Sekarang dia telah berada di pondok pesantren tapi bibi masih tidak tenang dan belum puas. Dia tidak tenang sebelum Aish tidak lagi melibatkan keluarga mereka!
"Dia pasti sangat marah makanya enggak mau nelpon ke rumah." Ujar bibi yang lain menimpali.
Ini hanya masalah sepele. Tidak perlu dibesar-besarkan sebenarnya.
"Bahkan walaupun dia marah, dia-"
__ADS_1
"Jangan terlalu bias." Suara tenang kakek langsung menarik perhatian semua orang.
Kakek berdiri lemah di depan pintu masuk bersama nenek. Matanya yang tua menatap putra dan putrinya yang telah dengan susah payah dia besarkan. Kemudian menatap para menantu yang duduk bersama pasangan masing-masing.
"Luka Aish tidak mudah untuk disembuhkan. Kita sudah merampas kebahagiaannya sejak mamanya meninggal dan sekarang kita juga mendorongnya tanpa ampun ke tempat yang dia benci," Menghela nafas panjang, mata tuanya lalu beralih menatap wajah nenek.
Nenek sangat malu dan tidak kuasa mengucapkan sepatah katapun. Sejak mereka mengirim Aish ke pondok pesantren, kakek selalu menatap nenek dengan tatapan rumit dan ada kekecewaan di sana. Dan sejak itu pula, kakek agak menjaga jarak dari nenek dan semua orang. Bersikap menyendiri dan membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman.
"Kakek dan nenek dari keluarga mamanya mengatakan bila kehidupan Aish tidak akan menjadi tanggung jawab keluarga kita lagi. Dengan kata lain dia sudah terlepas dari kita meskipun kita menolak..." Mata kakek sangat merah karena sedih.
"Jadi jangan membuat masalah lagi...jangan membuat masalah lagi..." Kakek mengulangi kata-kata ini sampai ia akhirnya masuk ke dalam kamar.
Meninggalkan anak-anak juga istrinya perasaan tidak nyaman.
Khususnya untuk ayah yang telah lama mengabaikan kasih sayangnya kepada putri pertamanya. Baru setelah Aish pergi dari rumah ini dia menyadari betapa sepinya rumah ini tanpa kehadiran putri pertamanya.
"Aku akan keluar." Ayah langsung bangkit dari duduknya dan pergi keluar rumah untuk menenangkan suasana hatinya yang berat.
...****...
Pukul 9 pagi Aish, Dira, dan Gisel dipanggil ke rumah Umi untuk menjalankan tugas yang telah ustazah tugaskan kepada mereka. Mereka berangkat bersama kakak senior yang tidak dikenal namun memiliki sikap yang sangat ramah dan lembut. Mereka langsung nyaman saat berkomunikasi dengannya.
"Masuklah ke dalam. Umi sudah menunggu kalian di dapur." Kata gadis itu memberikan arahan.
"Okay, kak. Terima kasih atas bantuannya hari ini." Ucap Gisel sopan.
Gadis itu tersenyum, mengangguk ringan kepada mereka dan kemudian pergi ke halaman depan untuk membantu yang lainnya membersihkan halaman.
"Ayo pergi." Kata Aish seraya memimpin jalan dengan percaya diri.
Di antara mereka bertiga, satu-satunya orang yang pernah bertemu dan berbicara dengan umi adalah Aish. Jadi Aish memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi saat ini.
__ADS_1