Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.12


__ADS_3

Habib Khalid mengangkat kepalanya, mengamati wajah merah Aish termenung ketika melihat ikan lele di dalam ember. Walaupun Aish tidak mengatakan kekhawatirannya, akan tetapi semua isi pikiran Aish telah tertulis di wajahnya sendiri. Keningnya mengerut terganggu dengan bibir cemberut tampak tidak nyaman. Tanpa sadar penampilan cemberut Aish telah menarik perhatian beberapa santri yang diam-diam mengintip.


Sebagai seorang laki-laki, mereka jelas memiliki ketertarikan yang kuat namun tak mampu menunjukkan karena pendidikan agama yang telah mereka terima sejak dini.


Alhasil, untuk memuaskan keinginan hati terkadang mereka akan mengintip atau melihat secara diam-diam akhwat yang telah berhasil menyentuh rasa keingintahuan hati. Seperti sekarang, penampilan Aish yang cantik dan menawan semakin menggoda tatkala Aish tanpa sengaja membuat ekspresi cemberut di wajah merahnya.


Hati beberapa santri rasanya sangat panas. Mereka ingin sekali menjangkau Aish, melihatnya secara leluasa untuk memuaskan rasa kagum yang tiba-tiba saja tumbuh di hati.


"Kalian semua bisa melanjutkan pekerjaan lagi. Seperti arahan sebelumnya, eceng gondok yang mati dan membusuk harus disingkirkan dari kolam. Taruh saja semua eceng gondok yang mati di pinggir kolam dan jangan langsung dibuang karena eceng gondok yang mati bisa dikubur di tanah untuk dijadikan pupuk. Apakah kalian mengerti?" Suara datar habib Khalid mengejutkan para santri.


Mereka semua langsung menundukkan kepala malu. Beberapa orang yang sempat memiliki pikiran terhadap Aish dan Dira segera ditenangkan. Meskipun ada sedikit penyesalan karena tidak bisa melihat banyak, namun ucapan habib Khalid jauh lebih penting dari hasrat hati. Mereka dengan patuh mengangguk dan kembali turun ke kolam.


"Kami mengerti, habib."


"Hem."


Dari atas habib Khalid diam-diam mengawasi para santri turun ke kolam dan melaksanakan tugas dengan benar. Setelah memastikan bila mereka tidak bermain mata lagi, habib Khalid kembali membawa pandangannya melihat Aish, lalu secara perlahan menundukkan kepalanya menatap ke arah ember.


"Aku akan membantumu membawanya ke rumah Umi. Kebetulan aku juga akan kembali ke rumah Umi." Kata habib Khalid kembali dengan wajah tersenyum nya.


Aish langsung gembira mendengarnya. Mata aprikot nya yang cerah berbinar terang menatap habib Khalid. Rindu yang sudah 10 hari menjamur di hatinya seketika terbayarkan hari ini.


Dia senang, sangat senang.


"Kak Khalid tidak apa-apa, kan?" Aish bertanya malu-malu dan hampir membutakan mata Dira.


Benar, sejak kapan Aish memiliki temperamen selembut ini?


Sejak kapan- tidak! Tepatnya apakah Aish yang dia kenal dengan Aish di sampingnya ini adalah orang yang sama?!


Habib Khalid tersenyum lembut, perlahan pandangannya beralih menatap Aish. Mata mereka bertemu. Binar di dalam mata aprikot itu begitu indah, seolah-olah ada danau jernih yang bersemayam di sana, menyembunyikan sebuah keindahan jiwa yang tidak tersentuh. Sungguh menawan.


"Tidak apa-apa. Ini memang rencana ku dari awal."


Aneh. Dira menggaruk telinganya yang tidak gatal.


Kata-kata habib Khalid tadi agak ambigu dan aneh. Tapi dia tidak tahu dimana tempat anehnya karena secara logika, kata-kata habib Khalid tidak vulgar dan terkesan sopan.


Tapi...

__ADS_1


Kenapa aku merasa ada sesuatu yang salah? Batin Dira ragu.


"Ah," Aish menundukkan kepalanya malu.


"Terima kasih, kak Khalid. Lagi-lagi kak Khalid membantu kami." Gumamnya lembut.


Habib Khalid terkekeh, menggelengkan kepalanya tidak berdaya dan merasa gemas sendiri melihat tingkah manis Aish,"Apa yang tidak buat kamu." Bisiknya samar.


Aish mengangkat kepalanya kaget, menatap habib Khalid dengan pandangan hati-hati.


"Kak Khalid tadi ngomong apa?" Tanyanya ragu.


Pasalnya dia tadi mendengar habib Khalid mengatakan sesuatu tapi karena suaranya terlalu kecil, dia tidak begitu jelas. Di tambah lagi suara debaran jantungnya terlalu kencang, sehingga dia tidak begitu jelas dengan apa yang habib Khalid katakan tadi.


Habib Khalid tersenyum lebar. Menatap Aish sebentar, lalu kembali menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Bukan sesuatu yang penting." Katanya tenang.


Bukan sesuatu yang penting?!


Dira hampir mengorek kedua telinganya dengan ranting kayu di sampingnya. Dia yakin seyakin-yakinnya jika apa yang habib Khalid katakan pasti sesuatu yang sangat penting untuk Aish, walaupun yah..itu juga tidak terlalu jelas untuknya karena suara habib Khalid terlalu kecil, ah!


Mereka berdua jelas bukan kenalan biasa! Lihat saja suasana ambigu di sini, kehadiran ku jelas menghalangi pertemuan mereka berdua! Batin Dira nelangsa.


Dia tahu itu. Seharusnya dia tidak datang ke sini!


"Oh.." Wajah Aish sangat merah.


Rasanya sangat memalukan.


"Assalamualaikum, habib?"


Tiba-tiba Danis datang menyela suasana ambigu diantara mereka. Diam-diam Dira menghela nafas lega melihat kedatangan Danis. Dan untuk pertama kalinya dia sangat senang melihat wajah tembok Danis.


"Waalaikumussalam, ada apa?" Habib Khalid terlihat sangat biasa di depan Danis.


Memang bibirnya membentuk garis senyuman, tapi entah mengapa Dira selalu merasa bila senyuman itu tidak selembut yang habib Khalid tunjukkan di depan Aish.


Mata Danis menyapu Aish dan Dira beberapa kali. Ekspresinya sangat mencolok sehingga membuat tengkuk Dira langsung merinding.

__ADS_1


"Ada apa dengan ekspresi anehnya itu?" Tanya Dira ragu.


Aish tidak terlalu memperhatikan Danis dan tidak menyadari ekspresi 'pengawasan' di wajah Danis. Jadi dia hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Entahlah."


Setelah melihat beberapa kali, Danis dengan bijak menarik pandangannya dari mereka berdua kembali melihat habib Khalid. Bersikap seolah-olah Aish dan Dira tidak ada di sini.


"Apakah habib Khalid akan kembali ke rumah Umi?" Tanyanya sopan.


Habib Khalid memandang Danis dengan tatapan penuh arti dan mengangguk ringan.


"Bolehkah aku ikut? Aku juga punya urusan dengan Umi."


Habib Khalid tidak keberatan dengan permintaan Danis karena pada awalnya dia juga berniat membawa Danis ke sana untuk membantu.


"Ikut saja. Aku juga membutuhkan bantuan mu." Kata habib Khalid membolehkan.


Danis mengangguk sopan. Tanpa diminta dia langsung mengambil alih ember besar yang berisi lele dan membawanya sendirian.


Habib Khalid dan Danis lalu berjalan di depan sedangkan Aish juga Dira berjalan di belakang mereka. Tepatnya mereka berjarak dua atau tiga meter jauhnya dari habib Khalid dan Danis.


Di belakang Dira langsung memanfaatkan kesempatan untuk berbicara dengan Aish. Dia menarik tangan Aish agar berjalan lebih lambat dengan bau-bau gosip di sekujur tubuhnya.


"Dilarang gibah." Peringat Aish.


Dira mengelak,"Enggak gibah kok. Cuma nanya aja."


Aish memutar bola matanya meragukannya.


"Aish, kamu..." Kata-kata Dira terhenti.


Dia tampak termenung, menggelengkan kepalanya dan melepaskan tangan Aish.


"Kenapa?" Aish heran.


Dira menggelengkan kepalanya kalem.


"Nanti aja kalau udah kumpul sama Gisel. Kebetulan aku juga mau nanya sama Gisel, jadi tahan aja dulu." Gosip enggak asik kalau cuma berdua.

__ADS_1


Aish terdiam,"..." Yah, kenapa dia tidak pernah tahu kalau Dira punya jiwa gosip yang besar, ah!


__ADS_2