Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.1


__ADS_3

Ayah duduk termangu di kursi tunggu menunggu kepulangan Aish. Sudah sebulan tidak bertemu bohong jika Ayah mengatakan bahwa dia tidak merindukan putri pertamanya itu. Ayah sangat merindukannya namun tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata karena hubungannya dengan sudah Aish sudah agak merenggang sejak Aish masuk sekolah SMA.


Ayah rindu namun malu mengungkapkannya. Dan rasanya semakin sakit tiap kali memikirkan Aish tak pernah mengambil inisiatif untuk menghubunginya di rumah. Ayah menduga mungkin Aish kecewa dan malu dikirim ke pondok pesantren. Dikirim malam-malam tanpa waktu untuk mempersiapkan diri, ya, Aish pasti sangat marah.


Tapi apa yang harus dia lakukan? sebagai seorang Ayah, dia ingin melihat Aish tumbuh menjadi gadis yang baik dan selain itu, ini adalah permintaan dari Kakek langsung. Aneh, mungkin karena sudah terlalu tua Kakek juga suka bingung sendiri. Di rumah terkadang Kakek menyalahkan mereka mengirim Aish ke pondok pesantren tapi terkadang pula mendukung mereka mengirim Aish ke pondok pesantren.


Orang-orang rumah jadi bingung dibuatnya namun tidak terlalu memperdulikannya dan hanya beranggapan bahwa Kakek sedang pikun.


"Mas, ayo pulang. Mas pasti lelah berkendara jauh." Suara lembut Bunda menarik Ayah dari lamunannya.


Ayah mengangkat kepalanya dan melirik wajah istri tercintanya,"Aku ingin bertemu Aish, aku sangat merindukannya. Walaupun dia sering membuat masalah di rumah dan di pondok pesantren tapi dia adalah putriku juga. Kami belum pernah bertemu satu bulan lamanya, dan aku sangat penasaran seperti apa rupa putriku sekarang."


Bunda menghela nafas panjang, dia juga mengerti perasaan suaminya. Sejujurnya dia juga tidak nyaman melihat Aish. Bohong jika dia sangat menyukai Aish. Dia adalah seorang Ibu tiri dan lebih mengutamakan putri kandungnya daripada putri orang lain. Pasti dia lebih suka Ayah menyukai Aira daripada Aish.


Namun dia tidak bisa mengungkapkannya.


"Aku mengerti perasaan, mas. Tapi kita bisa menghampirinya setelah mas cukup beristirahat di hotel. Mas, tolong dengarkan aku kali ini. Ayo ke hotel dan beristirahat sebentar saja. Nanti jika tenaga mas sudah pulih, kita bisa datang ke sini untuk mencari Aish. Percayalah mas, pada saat itu kita pasti bisa bertemu dengan Aish lagi."

__ADS_1


Bunda sangat lelah sebenarnya setelah berkendara jauh dan ingin segera pergi ke hotel untuk beristirahat menyusul ipar-iparnya yang lain. Tapi suaminya masih ada di sini duduk dengan keras kepala menunggu Aish kembali.


"Baiklah, ayo pergi ke hotel dan kembali ke sini setelah merasa cukup baik." Ayah dengan berat hati setuju setelah melihat wajah lelah istrinya.


Tanpa penundaan mereka berdua lalu pergi ke hotel setelah mengucapkan pamit kepada Umi dan Abah.


Di hotel semua orang yang ikut sudah menunggu mereka datang. Ada meja penuh makanan di depan mereka dan suasana di dalam kamar cukup menyenangkan. Semua orang membicarakan banyak hal sambil makan hingga akhirnya topik pembicaraan mereka berganti dari bisnis menuju Aish.


Bibi Melati, bibi yang selalu memojok-mojokkan Aish ketika di rumah dulu dan sekarang memiliki kekurangan uang mulai angkat bicara. Di depan Aish tadi dia tidak bisa menahan amarahnya sehingga dia meninggalkan kesan yang buruk kepada Aish lagi, jadi dia dan suaminya memutuskan untuk membicarakannya kepada Ayah saja.


Dan bibi semakin marah ketika mengingat kedua sahabat Aish mengolok-oloknya dengan sebutan nenek lampir. Bibi Melati dan bibi Dinda masih muda, usia mereka baru saja menginjak 40 tahun belum lama ini. Jadi dengan usia seperti itu perawakan mereka masih sangat bugar dan jauh dari kata nenek.


Memanggil mereka sebagai nenek lampir, teman-teman Aish berani mengolok-olok mereka.


Ayah menghela nafas berat,"Apakah benar yang kalian katakan?"


Bibi Dinda lalu menimpali,"Benar, kak. Tidak hanya menghina Aira saja, tapi mereka juga menyebutku dan Melati sebagai nenek lampir. Apa-apaan coba? kami masih muda tapi sudah disamakan dengan nenek bangkotan." Ucap bibi Dinda misuh-misuh.

__ADS_1


Ayah memejamkan matanya tidak tahu harus berkata apa, marah dan kecewa sudah pasti. Namun di sisi lain, Ayah sedikit mengerti dengan perasaan Aish. Masa lalu mungkin menjadi duri di dalam hati putri pertamanya itu.


"Aku akan membicarakannya dengan Aish nanti, kalian tenang saja." Ayah tidak berniat membicarakan topik ini lebih lama lagi.


"Kakak kamulah yang terbaik." Bibi Dinda memuji.


"Kakak tolong bicarakan ini juga dengan Aish." Bibi Melati masih mengingat misinya.


"Apa?"


Tersenyum lebar, bibi Melati lalu mengatakan apa yang telah direncanakan bersama suaminya di rumah tadi malam.


"Kakak tahu kan bahwa aku dan suamiku sedang membuat usaha baru tapi kami kekurangan dana yang cukup untuk pembukaan beberapa bulan lagi. Kami tidak mungkin meminta kepada Ayah dan Ibu karena mereka sudah tidak bekerja lagi, kami juga tidak mungkin meminjam kepada kalian karena kami tahu bahwa kalian juga membutuhkan uang. Selain daripada kalian kami hanya punya satu solusi yaitu meminjam uang kepada Aish. Semua orang sudah tahu bahwa Aish memiliki banyak uang di tangannya entah itu uang dari almarhum Mamanya dan uang dari saham yang Ayah berikan. Dengan uang sebanyak itu, Aish tidak mungkin mampu memegangnya karena Aish masih kecil dan belum bisa menggunakan uang dengan baik. Aku takut Aish menyia-nyiakan uang itu karena kita tidak mengawasinya di sini. Jadi untuk berjaga-jaga lebih baik uang itu ku pinjam saja dulu besok jika dia sudah lebih dewasa dan lebih stabil memegang uang, aku dan suamiku akan mengirimkan uang itu kembali kepadanya." Bibi Melati berbicara dengan hati-hati sambil mengamati ekspresi Ayah.


Masalah uang sangat sensitif untuk semua orang, tidak terkecuali untuk keluarga ini pula.


Dan benar saja setelah dia mengungkit masalah uang mata-mata semua orang langsung tertuju kepadanya. Uang yang ada di tangan Aish tentu saja menjadi incaran beberapa orang di rumah ini. Namun mereka masih belum bergerak karena menunggu waktu yang tepat. Mereka yakin bisa mendapatkan uang itu jika berhasil melembutkan hati Aish. Tapi mereka tidak tahu saja bahwa bibi Melati sudah mencobanya namun gagal. Hati Aish sudah terlalu dingin untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2