
Seperti yang habib bilang sebelumnya, ini memang hukuman. Hukuman yang sangat menyakitkan. Ditambah dengan rangsangan yang telah menumpuk di dalam hati, Aish tiba-tiba merasa tidak kuat lagi untuk menahannya. Ternyata menjadi pengejar itu tidak menyenangkan. Rasanya sangat menyakitkan.
"Bukankah aku pernah mengatakan sebelumnya..." Aish merasakan usapan lembut di kedua pipinya.
Tangan-tangan besar itu menyentuh lembut kulit wajah Aish. Bergerak ringan menghapus setiap tetesan air mata yang meluap dari mata indah itu.
Hati Aish bergetar. Dia menundukkan kepalanya tapi segera ditahan oleh sang habib. Perlahan kepalanya terangkat berhadapan langsung dengan mata gelap sang habib. Mata itu.... Memiliki emosi yang sangat lembut di dalamnya. Ada kerinduan, marah dan cemburu. Semuanya hanya bisa digambarkan dengan rasa sakit. Aish terkesima melihatnya. Dia bingung apa yang telah membuat sang pujaan hati memiliki ekspresi kesakitan di dalam mata itu?
"Selama aku tidak mengatakan apa-apa terhadap rumor itu, maka artinya itu hanya omong kosong belaka dan kamu tidak seharusnya perduli. Namun bila kamu benar-benar peduli dan mencemaskan rumor itu, lalu tanyakanlah kepada aku dan jangan kepada orang lain. Sebab orang lain hanya bisa berbicara dan menyimpulkan tetapi tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh hatiku sendiri. Bila kamu bertanya kepadaku, maka tentu saja aku akan mengatakan yang sebenarnya bahwa aku tidak ada hubungannya dengan mereka ataupun wanita yang datang bersamaku hari ini. Rumor itu hanya menebak-nebak saja, kamu tidak akan mendapatkan kebenaran di dalamnya. Sedangkan berbicara kepadaku adalah jawaban yang pasti, kamu tidak akan mendapatkan kebohongan di dalamnya. tapi kamu ceroboh ya kamu mulai melakukan diri sendiri dan kepercayaanmu kepadaku. Aku sangat tidak menyukai hal ini Aish. Kemudian wanita yang datang bersamaku hari ini, untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu siapa dia karena suatu saat nanti dia sendiri yang akan berbicara denganmu. Satu hal yang pasti kamu tahu bahwa aku dan dia tidak memiliki hubungan ambigu yang semua orang pikirkan. Malah aku sangat menghormati dirinya karena dia memiliki hubungan dengan dirimu." Habib Khalid berbicara dengan nada yang lembut dan meyakinkan tanpa terlihat berpikir.
Seolah kata-kata ini sudah tersusun apik di dalam kepalanya.
Nama satu hal yang menarik perhatian bahwa semua rumor itu ternyata dalam kebohongan karena sang habib tidak mengakuinya. Memang benar bahwa sang habib pernah mengatakan kepadanya jika ada sesuatu yang membuat dirinya bingung atau cemas maka langsung bertanya kepada sang habib, dan jangan bertanya kepada orang lain karena orang lain tidak mengetahui semua yang ada di hati sang habib. Karena terlalu cemas Aish jadi melupakannya dan mulai ragu-ragu bahwa rumor itu mungkin memang benar adanya. Kemudian apa yang Aira katakan beberapa saat yang lalu sangat membekas di tangan hatinya bahwa dia dan sang habib berasal dari dunia yang berbeda. Mereka tidak mungkin bersama.
Tapi apa yang dikatakan sang habib tentang wanita asing itu? Mengapa sang habib mengatakan bahwa dia dan wanita itu memiliki sebuah hubungan?
Aish tidak tahu hubungan apa yang dimaksud karena di dalam ingatannya, dia yakin tidak pernah bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
"Maafkan diriku pernah mengingkari janji. Memang benar aku mengatakan bahwa aku di luar kota selama 2 minggu tapi karena beberapa urusan tidak mudah diselesaikan, aku akhirnya menghabiskan beberapa hari tambahan lagi di luar kota. Namun aku sudah mengirim kabar kepadamu lewat Umi. Aku berpesan untuk menunggu beberapa waktu lagi karena pekerjaanku di luar kota membutuhkan beberapa hari lagi untuk diselesaikan. Aku pikir Umi telah memberitahu kamu tentang situasiku ini karena itulah aku tidak menyadari bahwa kamu sedang marah kepadaku." Pekerjaan di luar kota memang di luar dugaannya. Sebelum pergi dia telah memikirkannya dengan matang-matang bahwa mungkin hanya butuh 2 minggu saja bisa kembali ke pondok pesantren, tapi itu lebih sulit dari yang dia kira dan memakan beberapa waktu lagi. Khawatir membuat Aish mencemaskan dirinya di pondok pesantren, dia lalu mengirim pesan kepada Umi dan meminta agar pesan itu disampaikan kepada Aish. Dia pikir pesan itu telah disampaikan karena itulah dia bersikap biasa di depan Aish pesan mereka bertemu kembali. Hanya saja setelah mendengar keluhan Aish tadi, dia menyimpulkan bahwa Umi tidak pernah mengatakan apa-apa.
"Aku... Aku tidak mendengar apa-apa dari Umi. Kalau aku dengar, aku tidak mungkin salah paham." Suaranya mencicit.
"Maka aku akan meminta penjelasan kepada Umi nanti. Di harus memberikan jawaban yang jelas atas amanah yang diabaikan." Nada suara habib Khalid berbeda.
Aish langsung ketakutan mendengarnya. Dia sangat takut jika sang habib bertengkar dengan Umi gara-gara masalah ini. Ini bukanlah akhir yang dia inginkan.
"Nggak usah, kak. Sekarang bukankah kita sudah bertemu? Aku lebih suka mendengar penjelasan kakak langsung."
"Tapi amanah adalah hutang sayang dan harus dilunasi." Jelasnya seraya menyentuh bulu mata panjang Aish yang lembab karena habis menangis.
"A-apa... Kak Khalid tadi memanggilku apa?" Aish terperanjat kaget.
Mata aprikotnya melebar seiring rona merah yang kembali mengembang di wajah cantiknya yang mempesona. Setiap kali habib Khalid melihat wajah Aish mengembangkan warna merah di pipinya, dia kan selalu teringat dengan mawar mawar merah yang dia tanam dengan tangannya sendiri. Sama seperti yang dia bayangkan waktu itu, adalah wanita terindah yang pernah melihat dalam hidupnya.
"Aku memanggilmu sayang. Apakah masih kurang jelas?" Jawabnya geli.
__ADS_1
Aish berkedip tidak percaya. Sayang?
Jantungnya mulai menggila. Dan darahnya berdesir hangat mengirimkan panas ke sekujur tubuhnya. Ini adalah reaksi paling gila yang pernah dia rasakan. Euforia kebahagiaan luar biasa kini tengah memenuhi hatinya hingga membuat matanya menangis. Apakah dia bermimpi?
Okay, melihat Aish menangis membuat habib Khalid langsung serius. Ini sama sekali tidak lucu pikirnya.
"Apakah salah?" Tanyanya gugup.
Aish tidak mengerti,"Apa?"
"Mencintai kamu." Jelas sang habib terdengar malu. Dia gugup bercampur malu telah mengungkapkan perasaan di hatinya kepada sang pujaan hati. Daun telinganya saat ini terasa sangat panas dan terlihat memerah yang menunjukkan betapa gugupnya dia sekarang
"Kak Khalid..." Aish sekali lagi ingin menangis dibuatnya.
"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis.... Dan aku lebih suka melihat kamu tersenyum." Ucap habib Khalid panik.
Aish tidak menyangka bahwa sang habib juga memiliki sisi ini. Padahal sisi yang selalu ditampilkan oleh sang habib memiliki kesan bahwa dia adalah laki-laki yang tenang dan berwibawa. Nyatanya sang habib masih manusia dan memiliki beberapa hal konyol di dalam dirinya.
__ADS_1