Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.7


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malamnya, aku, Dira dan Gisel buru-buru kembali ke asrama secepat yang kami bisa untuk menghindari berbagai macam pertanyaan dari para santriwati yang penasaran. Aku tidak buta untuk tidak bisa melihat keinginan mereka. Barang yang ada di tanganku bagaikan kentang panas yang menarik rasa lapar para santriwati. Aku bukan orang yang pelit jika menyangkut barang ku, tapi kalau soal barang Kakak kak Khalid, aku rela dijuluki sebagai manusia terpelit di dunia ini. Lagian gadis mana yang mau barang dari pujaan hatinya diperebutkan oleh wanita lain?


Aku jelas bukan wanita yang polos.


Selain itu aku juga sudah tidak sabar ingin melihat apa yang kak Khalid berikan kepadaku. Sekilas aku melihat ada beberapa botol-botol kecil yang berisi air minum. Makanya kantong plastik ini agak berat.


"Ayo buka, aku penasaran apa yang habib Thalib berikan kepadamu?"


Sesampai kami di kamar asrama, Gisel dan Dira langsung berebutan mengambil kantong plastik yang ku bawa.


Mereka seperti ini karena murni penasaran, selain itu kebiasaan ini dipupuk karena setiap kali kak Khalid memberikanku tas atau kantong plastik, isinya pasti makanan lezat. Jadi mereka ketagihan mendapatkan makanan dari kak Khalid.


"Minuman apa ini?" Dira dan Gisel mengeluarkan botol-botol kecil itu dari dalam kantong plastik.


Minuman itu berwarna putih kekuning-kuningan, sekilas terlihat air susu tapi pada saat yang sama seperti bukan air susu.


"Baunya enak tapi aku nggak tahu minuman apa ini." Gisel membuka salah satu botol dan mencium baunya.


Mata Dira langsung bersinar,"Coba kucium?" Lalu dia mengambil botol yang sudah Gisel buka dan menciumnya.


"Kayaknya ini minuman yang dicampur dari beberapa macam buah deh. Ada wangi susunya, ada juga wangi manis, em...apa ini kurma atau madu?" Dira tidak bisa menjelaskan secara pasti.


"Minum saja. Masing-masing dari kalian mengambil dua, dan aku tiga tidak boleh diganggu gugat." Untuk kedua sahabatku ini, aku rela berbagi.


"Alhamdulillah makasih sahabatku, terus tiga lainnya mau kasih siapa?"


Dira dan Gisel langsung senang. Mereka tanpa canggung mengambil dua botol ke dalam pelukan masing-masing.


Mereka sebenarnya sangat lucu kalau tidak bersikap menyebalkan, melihat mereka aku merasa memiliki seorang adik tambahan.


"Dua lainnya aku mau ngasih teman-teman kamar yang lain buat dicicipi dan satu botol lagi kita bisa minum bertiga. Kak Khalid cuma bawain aku 10 botol jadi aku nggak bisa ngeluarin semuanya buat dibagi-bagi." Kalau bukan teman-teman kamar yang baik, aku mungkin tidak ingin berbagi. Tapi teman-teman kamarku sangat baik dan pengertian. Tidak tega rasanya untuk tidak berbagi.


"Masya Allah sahabat kita baik banget. Tapi Aish, habib Thalib nggak ngomong apa-apa soal minuman ini?"


Kak Khalid tidak ngomong sesuatu yang penting dan hanya memintaku untuk meminumnya.


"Dia bilang minum setiap hari kalau nggak salah." Seingat ku sih begitu.

__ADS_1


"Kalau disuruh minum tiap hari mungkin minuman ini memiliki manfaat yang baik buat tubuh kita. Aish, ayo kamu minum dulu." Dira memberikan botol yang sudah dibuka kepadaku.


Aku tidak sungkan mengambilnya. Kebetulan aku juga haus karena capek berlari.


"Bismillahirrahmanirrahim.." Aku mengambil sesapan kecil pertamaku dari botol.


"Uhm... Rasanya enak, manis dan asam. Aku nggak tahu gimana cara gambarin nya. Tapi serius, ini enak banget." Ada bau susu di dalamnya bercampur dengan wangi manis yang entah berasal dari madu atau kurma, tapi ada juga rasa asamnya yang membuat minuman ini tidak terlalu membosankan di lidah.


Aku ketagihan meminumnya. Jadi aku buru-buru memberikan botol itu kepada Dira dan mengambil botolku sendiri. Aku membuka botol minumanku dan langsung meminumnya sepuas yang ku mau.


"Enak banget. Aish, nanti kalau ketemu sama habib Thalib tolong tanyain ya dia beli minuman ini di mana? Soalnya aku pengen beli banyak-banyak biar bisa minum kapan pun aku mau." Gisel juga langsung jatuh cinta dengan minuman ini.


Rasanya unik dan lezat, aku sendiri tiga botol tidak cukup.


"Em...nanti aku tanyain deh soalnya aku juga mau beli." Hooh, tiga botol benar-benar tidak cukup.


Beberapa menit kemudian teman-teman kamarku mulai berdatangan. Mereka dengan malu-malu bertanya kepadaku, apa yang kak Khalid berikan di kantin tadi.


Aku tidak membohongi mereka dan menjelaskan secara jujur bahwa itu adalah minuman tapi aku tidak tahu nama minumannya apa. Dan mereka semua sangat senang saat aku memberikan dua botol untuk dicicipi. Sama seperti Dira dan Gisel yang ingin membelinya, beberapa teman kamarku juga mengajukan pertanyaan yang sama. Mereka ingin membeli minuman ini dan memintaku untuk bertanya kepada kak Khalid.


"Siapa?" Tanyaku tidak terlalu banyak berpikir.


"Katanya..." Dia menatap ku ragu-ragu,"....dia adikmu, Aira."


Oh, anak itu nekat datang ke sini padahal sudah aku peringatkan lewat Nana. Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga Ayah dan aku juga sedang berusaha menenangkan hatiku agar mengikhlaskan masa lalu. Itulah alasan kenapa aku tidak ingin bertemu dengannya. Tapi jika dia terus seperti ini apalagi menambah masalah untukku, Bukankah ini sama saja dengan menambah luka di hatiku?


"Aish, jangan pergi." Larang Dira.


"Iya, dia pasti mau cari gara-gara sama kamu." Gisel juga tidak setuju.


Aku menghela nafas berat.


"Jangan khawatir, aku bukanlah orang yang bodoh dan sekarang pikiranku sudah tenang jadi tidak mudah terpancing." Kataku menghibur kedua sahabatku- ah, harusnya Aku lah yang membutuhkan penghiburan.


Aku lupa.


...******...

__ADS_1


Pulang-pulang dari kantin ekspresi wajah Aira lebih hitam dari dasar pot. Dia cemburu dan marah pada saat yang sama melihat kakaknya mendapatkan sesuatu dari habib Khalid. Dia yakin kakaknya sekarang pasti sangat sombong setelah mendapatkan perhatian kecil dari sang habib. Nyatanya itu bukan apa-apa dan Aira bertekad juga akan melampaui apa yang didapatkan oleh kakaknya.


"Aku kangen Bunda. Kalau ada Bunda, dia pasti bisa membantuku." Gumamnya putus asa.


"Kamu bisa menghubungi orang tuamu setiap hari minggu di kantor staf." Suara malas Nana membuyarkan lamunan Aira.


Nana berjalan mendekat ke ranjang Aira dan duduk dengan alami di sampingnya.


"Terima kasih sudah memberitahuku. Besok aku akan membawa kak Aish ke sana. Karena Ayah dan Bunda sudah merindukannya." Aira langsung memasang wajah lembutnya.


Nana menyipit terganggu dengan perubahan ekspresi itu, tapi tidak berkomentar apa-apa.


"Sayangnya harapanmu ini hanyalah angan-angan saja. Tadi saat makan malam aku sempat berbicara dengan Aish. Dia bilang agar kamu berhenti mengganggunya lagi. Yah, tepatnya berhenti bersikap palsu karena ini bukan rumahmu lagi." Balas Nana dengan senyuman yang tidak sampai di mata Aira.


Aira terperanjat kaget, dia tidak menyangka Aish akan mengatakan itu kepada orang lain. Dan orang itu adalah ketua kelasnya sekaligus pemimpin di kamar tempatnya tinggal. Oh, tidak heran sebenarnya karena Aish memang selalu seperti ini. Dia pasti sudah menjelek-jelekkannya di depan banyak orang. Contohnya di depan Dira dan Gisel. Kalau tidak, maka mengapa mereka berdua begitu membencinya kemarin?


Kamu benar-benar bermulut ular. Awas aja, aku akan mengadukan kamu kepada Ayah dan Nenek. Batin Aira marah.


Menghela nafas tak berdaya, wajah putihnya menjadi sendu,"Kak Aish selalu seperti ini. Dia masih marah dia membenciku, padahal aku tidak pernah membencinya meskipun dia mencoba membunuhku. Aku sudah memaafkannya dan ingin dekat dengannya, tapi sekarang dia malah menolak ku dan menghancurkan namaku di depan mu. Tolong Jangan masukkan ke hati apa yang kak Aish katakan tentangku-"


"Jadi kamu benar-benar suka bersikap palsu. Aira, kami memang jarang melihat dunia tapi bukan berarti kami tidak bisa melihat bagaimana dunia bekerja. Kami suka menilai karakter seseorang. Entah itu dari cara bicaranya, mimik wajahnya, ataupun sikap perilakunya, ini adalah pelajaran dasar bagi kami orang pondok. Adapun prasangka, itu lahirnya dari setan dan kami sebisa mungkin untuk menghindarinya. Tapi kamu... Sejak di sekolah aku melihatnya. Kamu secara terang-terangan ingin membangun prasangka di hati teman-temanku, jangan seperti ini Aira. Jangan bertindak bodoh. Orang-orang yang coba kamu bodohi adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang jauh lebih tinggi daripada dirimu, jadi berhentilah bersikap palsu dan merusak dirimu sendiri. Ini adalah nasihat dariku untukmu. Aku harap kamu mau mendengarkannya. Permisi." Dengan senyuman terbaik di wajahnya, Nana lalu bangun dari duduknya dan pergi dengan sopan ke tempat tidurnya.


Sementara Aira. Dia menatap bodoh kepergian Nana. Hatinya serasa diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Sakit dan perih, dia tidak tahu bagaimana cara menggambarkan nya. Harga dirinya seolah diinjak-injak, dia merasa dipermalukan sama seperti yang dirasakan saat Nadira mengecamnya sebagai gadis yang berkarakter buruk.


"Apa itu tadi? Kenapa Nana berbicara seperti itu kepadaku?" Aira menangkup wajahnya tidak bisa berpikir jernih.


Kepalanya terasa pusing dipenuhi oleh amarah yang membara. Dan dadanya terasa terasa sesak menahan rasa sakit atas penghinaan yang didapatkan.


"Kak Aish, ini semua adalah gara-gara kamu! Kenapa kamu tega merusak namaku di depan ketua kelas ku sendiri! Apa salahku?! Seorang manusia sampah dan tak berguna, beraninya kamu menghancurkan ku di sini! Aku membencimu kak Aish!"


Marah, dia lalu memutuskan untuk menghampiri Aish ke kamarnya. Dia menarik salah satu teman yang menyapa, meminta gadis itu untuk menemaninya ke Aish karena dia juga tidak tahu di mana letak kamar Aish. Melihat Aira pergi, Nana menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Sekarang dia mengerti kenapa Aish memintanya untuk menghalangi Aira datang malam ini.


"Kak Aish?" Sekarang dia sudah berdiri di depan Aish.


Wajahnya yang pucat pasi kehilangan warna melihat lurus ke arah Aish dengan bibir bergetar. Perlahan-lahan, air yang menggenang di dalam matanya mulai berjatuhan. Dia terlihat sangat rapuh dan menyedihkan, mengundang perhatian beberapa orang yang sedang duduk bersantai di lorong asrama. Bahkan teman yang menemaninya ke kamar Aish merasa bingung dengan tangisan tiba-tiba Aira.


"Kamu kenapa?" Tanya Aish jutek.

__ADS_1


__ADS_2