Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.11


__ADS_3

Dira melambaikan tangannya menolak mentah-mentah ide ini. Di antara semua laki-laki di dunia ini mengapa dia harus memilih laki-laki menyebalkan itu? Menurutnya laki-laki menyebalkan itu tidak memiliki kelebihan apapun selain darah mulia yang mengalir di tubuhnya. Dia masih bocah, usianya baru 15 tahun dan memiliki sikap yang egois. Untuk memiliki calon suami setidaknya laki-laki itu bertanggung jawab dan jauh lebih tua dari dirinya. Eh, jangan terlalu tua tapi kalau bisa sepantaran saja. Seenggaknya mereka berdua memiliki pola pikir yang sama. Dan dia tidak bisa membayangkan bila benar-benar berakhir dengan Khalif. Rumah tangganya pasti hancur karena sering bertengkar. Selain itu Dira tidak mempercayai karakter orang seperti Khalif. Masalah sepele saja membuatnya sangat marah, dan membuat masalah untuk membalaskan dendamnya.


"Serius, nggak apa-apa dibuat kamu aja. Aku pikir orang sebaik dan secantik aku lebih pantas mendapatkan atlet basket nasional negara kita. Dibandingkan dengan dia yang masih bocah dan labil, menurutku kalian berdua cocok." Ucap Dira tidak menutupin ada jijiknya.


"Terima kasih, tapi orang semulia dia tidak diciptakan layak untuk diriku. Menurutku kalian berdua serasi kok." Gisel juga menolak mentah-mentah ide ini.


Dia tidak memiliki masalah apapun dengan bocah labil itu kecuali hari ketika dia difitnah. Dan dia juga tidak pernah saling menyapa dengan bocah itu, maka akan aneh jika mereka berdua terlihat serasi. Di antara mereka bertiga Dira lah yang paling banyak bicara dengan Khalif. Dira juga yang pertama kali mengenal bocah labil itu, dan Dira pulalah yang banyak berbicara dengan Khalif.


Maka orang yang paling memenuhi kualifikasi adalah Dira.


"Ngomong-ngomong soal jodoh, tipe suami idaman kalian itu seperti apa sih?" Aish melerai perang kata-kata di antara mereka berdua.


Mumpung lagi santai-santai, dia ingin menggunakan waktu ini untuk membicarakan harapan di masa depan.


"Ya Allah, Aish, kita masih SMA, masih kecil. Belum waktunya ngomongin masalah pernikahan." Jarang menggelengkan kepalanya heran. Aish Ini sekalinya jatuh cinta langsung memikirkan pernikahan.

__ADS_1


"Apa yang salah dari memikirkan pernikahan sekarang? Kita bukan anak kecil lagi. Usiaku udah 18 tahun sementara Aish juga 18 tahun, dan kamu pasti 18 tahun sekarang. Usia ini tuh udah legal tahu nikah." Gisel tidak merasa ada sesuatu yang salah dengan pemikiran ini.


Malah sekarang lagi boomingnya tren nikah muda. Buka sosial media pasti yang sering berkelebat di beranda adalah foto-foto atau video pernikahan anak muda seusia mereka.


"Emang bener sih usia kita tuh udah legal nikah tapi kalian nggak mikir kedepannya mau ngapain gitu selain nikah, misalnya sekarang mau lanjut kuliah atau mau bangun usaha?" Dia tidak menampik masalah ini.


Aish berpikir sebentar sebelum menjawab,"Kalian berdua tahu kan kalau aku sedang mengejar kak Khalid. Dan bila suatu hari Allah subhanahu wa ta'ala mengizinkan aku bersama dengan kak Khalid, dalam artian pengejaran ku diterima sama kak Khalid, maka aku akan menikah jika kak Khalid mengajakku menikah. Tapi jika pengejaran ku ditolak, aku tidak akan melanjutkan kuliah tapi ingin membuat usaha di luar kota. Di antara semua pilihan yang pasti aku tidak akan kembali ke kota asal lagi. Aku tidak ingin terjerat dengan mereka dan aku juga tidak ingin mempersulit kehidupanku sendiri. Aku ingin memiliki kehidupan baru bila tidak bisa mendapatkan kak Khalid. Misalnya aku membuka usaha pakaian atau makanan, atau mengikuti jejak Mamaku dulu." Untuk masa depan Aish sudah berulang kali memikirkannya dengan baik.


Ada banyak kemungkinan di dalam hidupnya dan ada banyak pilihan yang telah dia pikirkan untuk masa depannya, pilihan pastinya dia tidak ingin merugikan dirinya sendiri jadi dia telah menyiapkan banyak pilihan.


"Apa yang kamu pikirkan sama persis seperti yang aku pikirkan." Mengangkat kepalanya menatap hamparan luas langit di atas sana, kisah mulai membayangkan masa depan yang berkali-kali disusunnya saat menjelang tidur.


Nikah atau bekerja hanya itulah pilihannya tidak ada kata seperti melanjutkan sekolah dan kembali ke keluarga. Melanjutkan sekolah dengan apa? Dia tidak punya uang. Dan pilihan kembali ke keluarga, ini adalah pilihan yang sangat buruk. Dia tidak mungkin diterima kembali.


"Hahh... Jadi cuma aku yang ingin melanjutkan sekolah? Aku sedih mendengarnya. Mendengarkan harapan kalian di masa depan aku merasa cemburu. Kalian tahu Mama dan Papaku adalah orang yang sangat sibuk dengan karir masing-masing. Meskipun mereka jarang pulang ke rumah untuk memperhatikan tapi mereka selalu memberikan batasan terhadapku. Misalnya seperti sekolah. Karena mereka berasal dari orang-orang yang berpendidikan tinggi maka aku juga dituntut untuk memiliki akhir yang sama. Mereka ingin melihatku melanjutkan sekolah kejenjang yang tinggi walaupun nilaiku tidak begitu baik. Aku tidak punya pilihan untuk memikirkan nikah atau membangun usaha di luar kota. Aku sangat iri dengan kalian." Ujar Dira mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


"Kamu bisa membebaskan takdirmu sendiri dengan kawin lari." Gisel memberikan solusi praktis.


Dia memutar bola matanya,"Solusimu emang bagus tapi mau kawin lari dengan siapa, unta?"


"Boleh juga. kamu bisa kawin lari sama unta." Aish bercanda.


"Kalian berdua ya tega bener ngawinin sahabatnya sama onta. Seolah nggak ada laki-laki aja di dunia ini." Dira menggembungkan pipinya seperti ikan buntal.


Terlihat sangat lucu.


"Kita nggak bilang kamu harus nikah sama untanya. Bisa jadi kan kamu nikah sama laki-laki dari negara unta? Misalnya kayak negara Arab atau India. Kamu bebas milih, ini kan terserah kamu." Gisel kembali meledek.


Jawabannya spontan membuat Aish dan Dira tertawa terbahak-bahak. Otak kecil mereka segera berselancar memikirkan orang-orang berkulit putih dengan kain sorban di atas kepala sambil menunggang untuk yang kelebihan beban. Bayangan ini kontras terlihat sedikit lucu, jauh dari estetika dari kehidupan Dira di kota yang agak glamour.


"Loh Gisel, kamu sekolah di sini juga?" Tawa mereka bertiga langsung berhenti saat melihat seorang gadis datang menyapa.

__ADS_1


Gadis itu mungkin berada di tahun senior melihat kitab hijau yang ada di pelukannya. Dari segi wajahnya Aish dan Dira menebak usia gadis ini jauh lebih tua dari mereka bertiga.


"Oh... Kak Leni." Gisel langsung kehilangan senyum di wajahnya.


__ADS_2