Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (14)


__ADS_3

Setelah menutup pintu Gisel dan Laras membuka paper bag pemberian dari Danis. Ternyata di dalam paper bag itu ada mushaf Al-Qur'an, warnanya sangat cantik dengan ukuran mungil. Kemanapun Gisel pergi rasanya nyaman membawa mushaf Al-Qur'an mungil ini. Ukurannya pas di tangan dan sangat cantik. Untungnya wudhu Gisel masih ada. Jadi dia bisa memegang Al-Qur'an dan membukanya. Kaligrafi Al-Qur'an di dalamnya digores dengan indah dan rapi. Gisel merasa mudah membacanya. Dan dia sangat menyukai terjemahan di setiap ayat. Bila Gisel nantinya membaca Al-Qur'an terjemahan dapat membantunya untuk mengetahui setiap makna per ayat. Baginya yang belum menghafal Al-Qur'an, mushaf kecil ini sangat membantu. Tidak hanya mushaf kecil saja tapi ternyata ada barang lain lagi di dalamnya.


"Dompet, dek? Masya Allah cantik banget!" Ternyata isinya dompet.


Laras mengambil dompet dan melihat-lihatnya. Dia membuka bagian di sana dan bagi di sini, dilihat dari manapun dompet ini sangat sedap di pandang. Mungkin Danis melihat dompet Gisel yang sudah rusak dan tidak layak pakai lagi sehingga dia membelikan Gisel dompet ini.


"Ini... Dari brand mewah' kan?" Laras bertanya ragu-ragu kepada Gisel.


Pasalnya Laras tidak pernah melihat atau memegang brand mewah secara langsung seumur hidupnya. Baru kali ini dia bisa memegang barang mewah dan menyentuhnya sesuka hati. Mulutnya tidak bisa berhenti berdecak kagum melihat dompet ini. Tentu saja wanita manapun pasti akan menyukai keindahan dan kemewahan, tak terkecuali dirinya yang sering berselancar di dunia sosial media.


Bahannya dari kulit premium, lembut dan harum, di depan dompet tercetak sebuah logo dari brand ternama. Jelas aja, Danis mengeluarkan banyak uang untuk membeli hadiah ini.


Gisel sudah terbiasa melihat brand-brand ini. Dan dia senang diberikan hadiah ini oleh orang yang dia sukai. Cuman dia pribadi lebih menyukai Al-Qur'an kecil di tangannya sekarang. Um, rasanya berbeda kalau sudah menyangkut akhirat. Seperti ada hembusan lembut di dalam hati, menyentuh hatinya dan menyebarkan perasaan damai di dalam.


Gisel merasa tenang. Sangat tenang. Tiba-tiba saja.


"Jadi ini benar-benar brand mewah?" Laras berseru kaget sambil memeluk dompet Gisel.


Ingin sekali dia memiliki dompet ini. Tapi dia tahu uangnya tidak mampu dan sekalipun dia memiliki uang dia tidak mau menyia-nyiakan uangnya untuk membeli barang mahal. Apalagi untuk ukuran dompet yang kecil. Menurutnya itu tidak layak.


"Ini memang brand mewah. Seingat ku harganya lumayan." Kata Gisel tidak berani menyebutkan harganya di depan Laras.


Takutnya Laras semakin histeris.


"Ya Allah dek, dek. Rezeki kamu teh akhir-akhir ini lancar banget. Coba bilang sama kakak, apa sih rahasia kamu sampai dapat rezeki bertubi-tubi dalam waktu yang sangat dekat? Kakak juga mau." Katanya memelas.


Gisel tidak pernah melakukan apapun. Kebetulan saja dia mengenal orang-orang baik dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan mereka. Tanpa diketahui orang-orang ini memberikannya berbagai macam hal yang tak mampu dia balas secara material. Tapi nama-nama mereka tak pernah lepas dari doa-doa dalam sujud nya.


"Aku juga nggak tahu, kak. Ini murni karena bantuan Allah kepadaku. Dan semua barang-barang ini berasal dari orang-orang baik, orang-orang yang akan selalu mendapatkan lindungan Allah, insya Allah." Kata Gisel malu-malu.


Laras menghela nafas panjang. Dia tahu jawaban ini. Dia juga tidak pernah melihat Gisel melakukan sesuatu.


"Aku akan menaruh mushaf Al-Qur'an ku dulu." Gisel membawa mushaf Al-Qur'an nya menuju meja rias.

__ADS_1


Saat akan menaruh mushaf Al-Qur'an itu, tiba-tiba sebuah catatan putih jatuh. Itu adalah logo dari pabrik di mana mushaf Al-Qur'an ini dicetak. Ketika dia menaruh kembali catatan itu ke tempat posisinya semula, matanya berkedip tak yakin ketika melihat cetakan namanya ditulis dengan kaligrafi yang indah.


"Gisel Permatasari." Katanya membaca cetakan namanya sendiri.


Rasa manis langsung memenuhi hati Gisel. Tak bisa dibohongi bahwa dia sangat senang, rasa senang yang dia miliki jauh melebihi rasa senang ketika melihat nilainya mengalami peningkatan di sekolah. Sesederhana itu.


"Um, kak Danis!" Dia mengecup mushaf Al-Qur'an itu sebelum menaruhnya di atas meja rias.


"Ini dompet kamu, dek. Cantik banget, teksturnya halus lagi. Kapan-kapan kakak mau beli yang ke kw di pasar. Semoga aja ada ya, dek." Kata Laras sambil menyerahkan dompet itu kembali ke tangan pemiliknya.


Ketika mendengar kata-kata Laras ini, sudut mulut Gisel berkedut tertahan. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya. Karena entah kenapa kata-kata polos ini terdengar begitu lucu tapi pada saat yang sama agaknya cukup miris.


"Aku doain deh semoga ada." Ujar Gisel membuat Laras langsung tertawa terbahak-bahak.


"Okay, aku percaya dengan doa kamu."


Setelah menaruh dompetnya di dalam lemari, mereka berdua tidur di masing-masing ranjang dan memainkan ponsel.


Pantas saja Aish suka panas dingin setelah bertemu dengan Habib Khalid. Dulu Gisel heran tapi sekarang dia mengerti. Ternyata rasanya segugup ini. Batinnya bersenandung lembut.


Sementara Gisel dan Laras sibuk dalam pikiran masing-masing di dalam kamar, semua orang di asrama justru membicarakan tentang pertemuan Danis dan Gisel tadi. Ada yang cemburu juga merasa tidak apa-apa, ada banyak sekali reaksi.


Namun ada juga yang tidak senang. Tentunya orang-orang itu adalah orang yang memiliki rasa kekaguman kepada Danis. Semua orang menyayangkan ketika tersebar kabar bahwa Dira meminta Danis untuk mengawasi Gisel. Dan mereka semakin kecewa ketika melihat Danis mencari Gisel tadi. Tidak ada yang benar-benar bodoh. Mereka semua dapat menebak tujuan Danis datang ke sini. Namun meskipun mereka menebak, beberapa orang enggan mengakui hal itu.


Mereka tetap bersikukuh bahwa ini adalah salah satu bagian cara Danis mengawasi Gisel. Padahal faktanya bagi orang-orang yang secara jujur mengakui, mengawasi adalah mengawasi, tidak perlu sampai datang mengirimkan hadiah.


"Ayu...Ayu, sekarang lihat toh akibat dari perbuatan kamu. Karena kamu mengganggu Gisel, bukannya Gisel dan Danis menjauh satu sama lain, mereka malah semakin dekat. Selamat ya, ngomong-ngomong kamu jangan lagi bermimpi tentang Danis. Karena seperti yang dikatakan oleh Dira kepada kamu, keluarga mereka tidak membutuhkan orang seperti kamu. Iya... Kami tidak bisa memberikan komentar apapun atau membantu kamu karena semua ini terjadi juga gara-gara kamu. Istilah umumnya sih, apa yang kamu tabur itulah yang akan kamu tuai. Sekarang kamu menikmatinya." Kata seseorang dengan terang-terangan mengejek Ayu sebagai pelampiasan rasa kecewanya.


Ayu gemetaran karena marah. Namun menghadapi mata-mata cemoohan dari mereka semua dia tidak berani mengatakan apa-apa ataupun melawan. Karena dia sendiri juga menyadari akibat dari kecerobohannya dan betapa menyesal dia sekarang.


Ya Allah, aku menyesal. Aku sangat menyesal ya Allah. Batinnya bersedih di dalam hati.


...*****...

__ADS_1


Berita tentang semalam menyebar luas ke asrama para santriwati. Reaksi mereka sama seperti asrama pekerja. Ada yang menyayangkan, ada yang kecewa, ada yang kesal, ada yang sakit hati, dan ada yang bereaksi biasa-biasa saja. Orang-orang yang tujuannya lurus mencari ilmu tidak akan terlalu banyak berpikir tapi bagi mereka yang memiliki kekaguman kepada Danis tentunya memiliki reaksi-reaksi ini.


Begitu pula yang dirasakan oleh Leni sekarang. Giginya sakit memikirkan rumor baru-baru ini tentang Gisel dan Danis.


"Kok bisa ya kak Danis dekat sama wanita seperti Gisel? Aku sama sekali nggak percaya sama rumor ini. Seolah-olah tidak ada wanita lain saja. Wanita yang lebih baik dari Gisel amat sangat banyak di sini, kak Danis tinggal memilih saja. Mungkinkah rumor ini sengaja disebarkan oleh Gisel sendiri gara-gara dia mendapatkan perlindungan dari kak Danis? Kalau itu benar-benar terjadi, wah aku nggak bisa ngomong apa-apa. Anak itu selalu suka mencari masalah." Gumamnya menerka-nerka.


Karena dia tidak menyukai Gisel gara-gara hubungan baiknya dengan sepupu Gisel, semua pendapatnya tentang Gisel dipengaruhi oleh sepupunya Gisel, jadi apapun yang menyangkut Gisel akan selalu dipandang sebelah mata oleh Leni. Dan kesan Leni terhadap Gisel semakin memburuk ketika tersiar kabar tentang hubungan terlarang di antara Gisel dan Iyon dulu. Makannya sampai dengan hari ini dia tidak terlalu menyukai Gisel.


"Aku harus melaporkan rumor ini kepada Tina. Biar dia tahu bagaimana kelakuan sepupunya di sini." Kebetulan hari ini hari libur, jadi kantor staf terbuka dan mereka bisa menghubungi keluarga masing-masing.


Tina dan teman-teman kamarnya pergi ke kantor bersama-sama. Mereka mengantri selama 1 jam sebelum mendapatkan giliran. Dan ketika Tina mendapatkan giliran, dia tidak menghubungi keluarganya, tapi malah menghubungi tetangganya.


"Halo Tina, aku sudah mengatakan semuanya kepada sepupu kamu. Tapi sepupu kamu menolak pulang. Dia sangat bangga dengan pekerjaannya sebagai pesuruh dapur. Tapi aku juga mengerti kenapa dia tidak mau pulang ke rumah. Iya, soalnya dia memiliki pelindung. Kamu tahu sendiri kan si Aish sama si Dira, karena mereka berdua tidak ada orang yang berani mengganggunya. Dan yang paling menjengkelkan itu Dira meminta sepupunya, kamu masih ingat kan Danis? Benar, Dira meminta Danis untuk mengawasi Gisel selama berada di pondok pesantren. Gara-gara itu, sepupu kamu semakin melunjak dan bahkan berani membuat rumor tentang dirinya sendiri sama Danis di pondok pesantren. Saranku kamu harus mengambil dia pulang deh, sebelum lebih mempermalukan keluarga kalian." Leni banyak bicara, mengurangi beberapa fakta dan melebih-lebihkan beberapa fakta. Intinya dia menghasut agar Tina segera mengambil Gisel dari sini. Karena jujur saja, dia juga sudah muak.


Atau mungkin lebih tepatnya, dia menginginkan posisi Gisel.


"Um, saranku sih lebih cepat lebih baik. Biar dia nggak buat masalah lagi. Kalau perlu kalian nikahkan saja dia dengan siapapun agar dia tidak bertindak genit kepada laki-laki lain. Ya, aku aku juga tidak suka melihatnya."


Dia banyak mengobrol dengan Tina lewat telepon. Tapi sayang, mereka tidak bisa berbicara panjang lebar karena keterbatasan waktu.


Jadi dengan enggan Leni memutuskan telepon. Tapi dia puas karena misinya sudah tercapai. Dia berharap bahwa Gisel segera angkat kaki dari pondok pesantren.


Katakan saja dia egois dan serakah, salahkan Gisel yang terlalu beruntung di sini.


"Nah sekarang aku sudah mengatakan semuanya kepada Tina. Aku harap keluarga Tina segera datang karena aku sudah tidak tahan lagi melihat Gisel menimbulkan masalah di sana-sini. Jika paman dan bibi turun tangan, Aish ataupun Dira tidak bisa berkata apa-apa. Hah... Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu." Ucap Tina dalam suasana hati yang baik setelah menyingkirkan Gisel.


Tapi ketika dia dan teman-temannya pulang melewati rumah Umi, senyumnya segera menghilang. Dia mendengar dari para santriwati di sana kalau kyai dari pondok pesantren kota sebelah datang bersama putrinya untuk melamar Danis.


Berita ini langsung menjadi heboh di pondok pesantren.


Bersambung...


Aish dan Habib Khalid akan muncul setelah Gisel rampung. Chapter Gisel enggak terlalu banyak, jadi tunggu aja ya😀

__ADS_1


__ADS_2