Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.8


__ADS_3

Dia menatap adiknya datar tanpa rasa bersalah ataupun simpati sedikitpun. Karena memang beginilah cara main adiknya. Dia suka bersandiwara.


"Apakah kak Aish benar-benar membenciku?" Tanya Aira melankolis.


Aish tampak tidak senang, dia tidak suka bukan berarti dia membenci, terlepas betapa licik adiknya.


"Seorang Ibu tiri memang tidak bisa melahirkan bibit yang baik, dan aku bersyukur dikirim ke sini. Setidaknya aku tidak lagi diperlakukan dengan buruk di rumah itu. Aku pergi dan dengan sukarela melepaskan rumah itu untuk kalian berdua. Tapi inilah yang tidak ku mengerti, mereka tiba-tiba mengirim kamu ke pondok pesantren. Padahal setahuku pondok pesantren tidak akan menerima siswa pindahan lagi karena sebentar lagi ujian akhir. Apa aku boleh tahu bagaimana kamu bisa masuk ke pondok pesantren?" Kini Aish berbalik menyerang langsung ke titik lemah Aira.


Dia juga secara sengaja mengungkap identitas Aira bahwa dia adalah anak yang terlahir dari seorang Ibu tiri. Memang tidak semua Ibu tiri itu jahat, tapi bukan berarti tidak sedikit Ibu tiri itu yang jahat. Contohnya seperti Bunda Aira. Bersikap seolah-olah dia adalah wanita yang tidak tahu apa-apa, padahal jika bukan karena dia, Mamanya tidak akan jatuh depresi dan meninggal. Ini adalah fakta, kesimpulan akhir dari kehidupan masa lalu di rumah itu.


"Aku..." Aira tertangkap basah dan kesulitan menjawab.


"Dia direkomendasikan langsung sama habib Thalib. Makanya dia bisa masuk ke sini." Teman yang menyimak berinisiatif menjawab.


"Oh, direkomendasikan sama kak Khalid, ya? Kok aku nggak tahu?" Aish mengejek.


Dia percaya sang habib tidak akan melakukan itu tapi tetap saja hatinya merasa cemburu.


Aira gelagapan,"Kenapa kak Aish harus tahu, ini kan keputusan dari habib Thalib sendiri. Lagian hubungan kakak dengan habib Thalib tidak sedekat Itu kok sampai-sampai kakak harus tahu masalah ini."


Ya, habib Thalib tidak punya hubungan apa-apa dengan Aish jadi mengapa dia harus tahu? Ini sangat tidak masuk akal.


"Hubungan kami memang tidak sedekat itu, tapi dibandingkan denganmu yang asing, hubunganku bisa dibilang cukup dekat. Aku tidak percaya, jujur saja. Nanti kalau aku bertemu dengan kak Khalid, aku akan menanyakan masalah ini kepadanya." Jawab Aish sinis menakut-nakutinya.


Nyatanya Aira sangat ketakutan, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya di wajah.


"Tanya saja kalau tidak percaya." Ucapnya pura-pura tidak takut.


"Baiklah, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku akan tidur, dah." Aish gerah berbicara lagi dengannya dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kak Aish... Kita belum selesai ngomong!" Aira memanggil-manggil tapi Aish sama sekali tidak mendengarkannya.


Aira kesal jadinya. Dia bahkan lupa sedang menangis sekarang. Marah, kakinya menghentak jengkel sebelum berbalik berjalan menuju kamar asramanya.


"Aira tunggu!" Temannya buru-buru menyusul.


Setelah pembicaraan kecil ini, kabar bahwa Aish memiliki seorang adik yang terlahir dari Ibu tiri menyebar di pondok pesantren. Kenapa rumor ini di heboh-hebohkan? Itu karena hubungan mereka diketahui sangat buruk dan tidak rukun. Dan salah satu faktor yang menyebabkan rumor ini menyebar cepat adalah karena Aira yang mengaku jika dirinya direkomendasikan langsung oleh sang habib. Pengakuan ini menimbulkan kecemburuan dan kontroversi, banyak suara yang menolak untuk percaya. Apalagi setelah melihat bagaimana rupa Aira. Memang cantik tapi tidak menarik. Itu tidak seperti Aish, yang memiliki kecantikan indah.


...*****...


Malam harinya Aish merasakan usapan lembut di wajahnya. Tidur menjadi lebih lelap, nyaman rasanya. Dia memiringkan kepalanya, meminta lebih banyak lagi sentuhan.


"Akh!" Aish sontak terbangun dari tidurnya.


Pipinya terasa panas, perasaan ini sama seperti terakhir kali sang habib mencubitnya.


"Apakah aku baru saja bermimpi?" Gumamnya sambil mengelus-ngelus pipinya yang panas.


"Jadi cuma mimpi." Desahnya kecewa.


"Aku pikir yang datang kak Khalid, ternyata cuma mimpi." Gerutunya kesal seraya merebahkan kembali dirinya di kasur.


Sudah lama dia tidak melihat sang habib mengetuk jendelanya. Hatinya sudah merindu, ingin bertemu dengan sang habib. Tapi apa yang dia bisa lakukan, entah berapa doa yang dia layangkan sebelum tidur dan dalam sujudnya untuk merayu Sang Maha Romantis agar membalik hati dang habib hanya untuknya. Merayu Sang Maha Kuasa agar mata habib Khalid hanya tertuju kepadanya dari banyak wanita yang datang mengejar dengan segala kelebihan.


"Kak Khalid." Panggil Aish rindu.


"Kenapa, rindu?" Suara berat dan lembut itu bagaikan air hujan yang membasahi hamparan gurun.


"Kak Khalid...kok..." Segera bangun dari tidurnya dan duduk menghadap jendela.

__ADS_1


Seperti yang diharapkan, habib Khalid berdiri tepat di depan jendela. Wajahnya yang tampan membentuk senyuman manis, menyentuh titik rapuh di hati Aish hingga membuatnya berdebar kencang.


"Kenapa, hem?" Tanyanya dengan suara serak.


Wajah Aish langsung memerah terang. Malu, dia menepuk pipinya cemas berharap jika sang habib tidak melihatnya. Ini sangat memalukan.


"Aku pikir kak Khalid tidak mampir." Jawab Aish tersipu malu.


Dan dia semakin malu saat membayangkan semua kata-katanya tadi didengar oleh sang habib. Bukankah ini namanya lelucon?


"Malam ini aku bertugas patroli, jadi aku mampir untuk melihat-lihat." Ujar sang habib geli.


Jangan lihat Aish yang berwajah jutek dan irit senyum, nyatanya Aish adalah gadis yang pemalu dan mudah merasa malu. Sikapnya yang pemalu ini membuat hati sang habib tergelitik.


"Kalau...kalau begitu, kak Khalid belum tidur dong?" Aish merasa bersalah melihat habib Khalid begadang tanpa tidur.


Pujaan hatinya pasti sangat kelelahan karena tidak bisa tidur gara-gara berpatroli dan esoknya mulai sibuk mengajar dan mengerjakan berbagai macam pekerjaan di pondok pesantren. Jika yang begadang adalah Dira dan Gisel, dia merasa itu normal-normal saja. Tapi hatinya tidak nyaman kalau itu adalah habib Khalid. Hem, jatuh cinta itu aneh.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Ah?" Aish terkejut mendapati sentuhan lembut di wajahnya.


Karena terlalu sibuk berpikir dia tidak menyadari bahwa tangan sang habib sudah terulur masuk lewat jendela menyentuh pipi kanannya yang sempat terasa panas tadi. Tangan sang habib sangat besar dan lembut, bohong bila Aish tidak merasa candu. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata dan memilih berpura-pura bodoh agar sang habib tidak menarik tangannya.


"Tahukah kamu, kami para laki-laki tidak selemah yang kamu pikirkan. Sebelum berpatroli kami sudah membuat aturan. Demi shalat tahajud, kami tidak akan melewati waktu penting ini. Jadi sebelum berpatroli kami akan membagi tugas. Tim patroli pertama adalah tim yang bertugas hingga 12 atau 1 malam, lalu digantikan oleh tim patroli kedua yang sengaja tidur sebelumnya agar bisa bertugas dini hari berikutnya. Dan aku adalah tim patroli kedua, sebelum bertugas aku sempat tidur 2 atau 3 jam dulu agar tidak lelah besoknya."


Bersambung...


Masya Allah, pembacanya datang dari berbagai daerah. Saya senang banget.

__ADS_1


Dan sekarang, saya boleh tahu enggak darimana pembaca tahu tentang buku saya ini?


Insya Allah, nanti saya up hehehe...


__ADS_2