Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 8.5


__ADS_3

Dug


Dug


Dug


Apa mungkin?


Aku juga tidak tahu. Tapi apa yang aku rasakan juga dirasakan oleh Dira dan Gisel. Mereka juga menganggap sikap kak Khalid kepadaku sangat berbeda dengan orang lain. Terus terang saja, aku juga sering berpikir bila kak Khalid terkadang bersikap terlalu baik kepadaku. Apa alasannya?


Apa karena kami pernah bertemu sebelumnya?


Tapi jika memang karena alasan ini, lalu bukankah ini sudah berlebihan karena kenalan tidak sejauh ini. Kenalan tidak boleh seperti ini. Apalagi kami hanya bertemu beberapa kali saja dan bisa dihitung dengan jari tangan.


Lalu apa alasannya kalau bukan karena ini?


Jika tidak, apakah aku boleh memikirkannya sebagai kode bahwa kak Khalid memiliki maksud yang sama dengan hatiku?


Ini...


"Jangan berbicara omong kosong. Kami hanya kenalan." Bantah ku berpura-pura tenang di depan mereka.


Aku tidak berani memikirkannya. Aku tidak berani berpikir terlalu jauh.


Di tempat ini duniaku dan dunia kak Khalid berbeda. Aku memang bisa mengejarnya tapi aku tidak mau melakukannya karena aku takut kak Khalid menganggap ku sebagai gadis yang memuakkan.


"Aish, kamu mengelak lagi." Keluh Dira kepadaku.


Aku tersenyum tipis. Mau bagaimana lagi. Saat ini tidak tepat untuk membicarakan cinta. Aku masih butuh waktu lama untuk memastikan bahwa kak Khalid terbiasa dengan diriku.


"Jangan membuat masalah. Ayo turun dan bantu yang lain bekerja. Jika kita berdiri terus, seseorang akan berpikir bila kita sengaja melambat."


Tanpa menunggu respon mereka berdua, aku langsung turun ke sawah dan bergabung dengan teman-teman kamar yang lain. Sekarang kami sudah akrab jadi aku tidak terlalu canggung lagi berbicara dengan mereka. Sejujurnya karakter orang-orang pondok relatif sederhana dan polos. Mungkin karena mereka terbiasa belajar agama dari dini sehingga membuat mereka menumbuhkan karakter yang damai pula. Mereka adalah orang-orang yang mendalami agama dan wawasan mereka jauh lebih tinggi daripada kami bertiga, akan tetapi meskipun begitu mereka tidak menggurui kami bertiga. Mereka tidak sok tahu dan sok benar sehingga komunikasi diantara kami dengan mereka jauh lebih lancar dari yang kuduga.


"Hati-hati Aish, nanti tanganmu terluka." Salah satu teman kamar buru-buru menarik tanganku.


"Oh, kenapa?" Tanyaku malu.


Dia berkata,"Jangan memegang tangkainya, nanti kamu akan terluka. Lihat, pohon terong ini memiliki banyak duri. Walaupun kecil tapi rasanya sangat tidak nyaman kalau tertusuk. Dan jika kamu tidak hati-hati, tanganmu akan tergores." Jelasnya kepadaku.


Aku tidak memperhatikan sebelumnya dan main asal petik saja. Tapi untunglah seseorang menghentikan aku.


"Terima kasih. Aku belum pernah memetik terong sebelumnya jadi aku tidak tahu." Kataku sopan.


Dia tersenyum lebar, mengangguk malu, dan buru-buru pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata arahan.

__ADS_1


Anehnya, dia masih pemalu. Padahal kami kan sesama wanita.


"Hufth..." Aku menundukkan kepalaku bersembunyi di balik pohon terong.


Dari tempat ku bersembunyi, aku bisa melihat kak Khalid dan mendengar suaranya dengan jelas. Aneh bukan, kak Khalid padahal sedang berbicara dengan orang lain tapi kenapa aku yang gugup sendiri?


"Kami harap 10 hari kemudian dari ujung timur hingga ujung barat tembok pondok sudah mendapatkan perbaikan. Dan kami juga percaya bila kinerja kalian bisa mengimbangi tuntutan pondok kami."


Dengar, dengar, dengar!


Suaranya sangat hangat ketika berbicara dengan orang lain. Tidak heran kak Khalid membuat hati banyak wanita terpesona.


"Um," Atensi ku beralih melihat para santriwati di sekitar sini.


Mereka sama seperti ku, sama-sama bersembunyi mengintip kak Khalid untuk melihat dan mendengarkan suaranya.


Melihat mereka membuat hatiku masam dan gelisah. Sebut saja aku cemburu karena orang yang mengejar kak Khalid nyatanya sangat banyak, ah!


"Kak Khalid," Panggil ku lemah sembari menatapnya.


Tak disangka kak Khalid tiba-tiba menoleh ke arahku- ah, astaga, dia benar-benar melihat ke arahku!


Aku ketahuan!


"Ugh.." Aku langsung memeriksanya.


Untungnya tidak ada duri. Namun sensasi duri tadi membuatku langsung waspada dan tidak berani mengambil tindakan ceroboh lagi.


"Aish, ada apa?"


"Tanganku sakit-" Jawabku sambil mengangkat kepalaku.


"Kak...kak Khalid?!" Aku sangat kaget melihat kak Khalid tiba-tiba sudah berdiri berseberangan dengan ku.


Jika tidak ada pohon terong ini, maka jarak ku dengannya bisa dipastikan cukup dekat.


"Kamu bilang tadi tanganmu sakit, coba tunjukkan kepadaku?" Perintahnya terdengar khawatir.


Aneh, mengapa aku merasa bila suara kak Khalid agak tegang tidak seperti biasanya. Seolah-olah dia sendang mengkhawatirkan ku. Tapi mungkin ini hanya perasaan ku saja.


Benar, ini hanya perasaan ku saja.


"Enggak kok, kak. Tanganku enggak sakit." Aku menurunkan tanganku dan menyembunyikannya di balik kain jilbabku.


"Kak Khalid?" Suara-suara para santriwati berbisik masuk ke dalam telinga ku.

__ADS_1


"Kenapa dia manggil habib Thalib seperti itu? Bukankah itu namanya enggak sopan?"


Aku lagi-lagi sangat ceroboh!


Bagaimana bisa aku memanggil kak Khalid seakrab ini di depan banyak orang?


Belum lagi panggilan tak sopan ini di telinga mereka, kedekatan ku dengan kak Khalid saat ini pasti membuat mereka semua cemburu.


Ah, cemburu?!


Akan sangat menyenangkan bila mereka semua cemburu kepadaku- tapi tidak, tidak untuk saat ini karena yang terpenting adalah menyelamatkan kehormatan kak Khalid di depan para anak didikannya!


"Tunjukkan kepadaku." Suara tegas kak Khalid mengalihkan pikiranku.


Aku menatapnya hati-hati, ada sesuatu yang salah dengan kak Khalid. Apakah aku salah?mengapa aku merasa bila ekspresi kak Khalid tampak cukup dingin saat ini?


Kemana senyum hangat bak matahari pagi itu?


"Ini...ini sungguh bukan apa-apa, habib." Kataku hati-hati.


Em, kenapa suasana jauh lebih tegang dari sebelumnya?


Apa ada yang salah dari kata-kata ku?


"Ternyata kamu mengulanginya begitu cepat." Suara dinginnya mengingatkan ku dengan mudah hati pada janji ku kemarin di rumah Umi.


Hukuman?


Hukuman apa yang akan kak Khalid berikan kepadaku?


Ini adalah hukuman dan itu pasti bukan sesuatu yang baik, namun mengapa hatiku sangat menantikan nya?!


Ini tidak benar!


"Di sini...di sini ada banyak orang." Kataku berbisik.


"Hukuman adalah hukuman. Aku akan memikirkan hukuman apa yang akan kamu dapatkan nanti. Bila keputusan sudah dibuat, maka tenang saja," Menatapku dengan mata dalamnya,"Aku sendiri yang akan memberi tahu mu."


Dug


Dug


Dug


Jantungku berada diluar kendali lagi. Darahku berdesir panik seolah sedang menari di bawah latar belakang ritme jantung ku yang berdebar kencang.

__ADS_1


__ADS_2