Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 30.1


__ADS_3

Sunyi. Kemanapun matanya memandang akan selalu membuat jantungnya berdebar kencang. Kelopak bunga yang bertebaran, warna merah yang menggairahkan, dan wangi semerbak bunga merah di dalam ruangan ini telah mengingatkan dia berkali-kali bahwa tempat ini akan menjadi saksi bisu penyatuannya dengan sang suami. Ah, entah bagaimana rasanya sangat memalukan. Untuk malam ini dia telah membaca banyak buku sebagai bekal- tapi, masih menyisakan satu titik lemah di dalam diri Aish, yaitu sebuah ketakutan.


Setiap wanita yang baru menikah pasti memiliki ketakutan ini. Begitu pula yang dirasakan oleh Aish. Malam pertama, sangat berarti untuk pasangan suami istri. Dia juga berpikir bahwa malam pertama memiliki kesan yang sangat dalam dan sakral. Karena di malam pertama, dia dan habib Khalid akan menyatukan rasa di dalam hati melalui sentuhan jiwa. Ini sangat penting, sungguh sangat penting. Tapi cukup menyeramkan.


Kenapa?


"Bagaimana ini ya Allah, aku sangat takut. Banyak yang bilang kalau malam pertama itu dilalui dengan kesulitan. Terutama untuk para wanita. Um, rasanya sangat menyakitkan. Apalagi ini adalah pertama kali ku melakukannya. Apakah aku bisa bertahan?" Gumamnya sambari menggigit bibirnya takut.


Jangan lihat wajah tertunduk malunya sekarang. Karena selepas Bibi keluar dari kamar pengantin ini, dia telah diliputi oleh rasa takut. Takut untuk tahap selanjutnya.


"Ya Allah.."


Cklak


Pintu kamar dibuka oleh sang Habib. Terkejut, dia sontak menundukkan kepalanya menunggu dalam pasif kedatangan sang suami.


"Assalamualaikum istriku?" Dengan langkah ringan, sang Habib masuk ke dalam kamar setelah memastikan pintu tertutup rapat dan terkunci.

__ADS_1


Dalam beberapa langkah sampailah dia tepat di depan istrinya yang tengah tertunduk malu menyembunyikan pesonanya. Hati sang Habib tergelitik melihat kelakuan istrinya yang pemalu. Dia tersenyum lembut. Kemudian duduk berlutut di depan sang istri. Kedua tangannya bergerak menyentuh pipi halus nan lembut Aish, dan perlahan dia mengangkat wajah Aish sejajar dengan mukanya sendiri.


Terhenyak, jantung sang Habib segera menjadi kacau balau begitu melihat betapa cantiknya maha karya Allah pada makhluk ciptaan-Nya yang satu ini. Indah dan mempesona. Dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi untuk menggambarkan betapa terpesona dirinya dibuat oleh sang istri tercinta.


"Waalaikumsalam, kak Khalid." Lembut, suara itu merasuki pendengaran sang Habib.


Membuat hatinya geli dan pada saat yang sama, telinganya memanas.


"Sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri secara agama maupun negara, jadi kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan kak Khalid, sebab aku adalah suamimu secara sah sekarang. Tapi panggillah aku mas Khalid atau...suami? Aku suka kedua panggilan ini keluar dari bibir manismu." Ucap sang Habib membuat Aish langsung tersipu malu.


Dia memang suka istrinya pemalu, tapi akan lebih suka bila istrinya lebih berani lagi. Apalagi bertindak berani di depannya untuk memperjuangkan hal-hal yang bernilai ibadah, Masya Allah... Bahagianya seorang suami tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Kenapa kamu memalingkan wajahmu dariku?" Tanya sang Habib.


Haruskah Aish menjawab?


Apa respon sang Habib bila dia berani menjawab bahwa panggilan ini terlalu...intim?

__ADS_1


Setelah dipikir-pikir Aish tidak mau menjawab. Dia diam membisu, dengan kelopak mata turun enggan menatap. Tampak sangat keras kepala.


Sang Habib terkekeh. Bukankah istrinya terlalu manis?


"Tahukah kamu letak kebahagiaan suami ada di mana?" Tanya sang Habib serius.


Sebelum benar-benar memulai ke tahap yang lebih dalam lagi, tak ada salahnya memulai kuliah pernikahan lagi kepada istrinya. Ini hanya kuliah kecil tapi informasi yang dibawa sungguh tak terkira mahalnya. Karena itulah Aish tidak lagi keras kepala di hadapan sang suami.


"Terletak pada diriku?" Di mana-mana jawabannya sudah pasti pada istri.


Jawabannya benar. Sang Habib tersenyum lebar karenanya. Melihat senyuman lebar terbentuk di wajah tampan sang suami, Aish langsung tersipu malu dan salah tingkah. Begitu mudah membuat suaminya tersenyum selebar dan secerah ini?


Aish diam-diam takjub di dalam hati.


Lalu sebuah usapan lembut di atas puncak kepalanya menginterupsi lamunan singkat Aish. Dia terdiam, jantungnya berdegup kencang di dalam dada.


"Benar sekali, kebahagiaan suami memang terletak pada istrinya. Namun katakan kepadaku, istri seperti apa yang membuat suami bahagia?" Tanya sang Habib lagi dengan nada suara yang begitu lembut.

__ADS_1


__ADS_2