
Di belakang Kakek, ada seorang laki-laki paruh baya terbalut sorban putih yang sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Dia adalah tokoh besar, seorang habib yang melakukan dakwah ke manapun kaki melangkah. Baru sekarang, tubuhnya mulai sakit-sakitan dan penglihatannya menjadi tidak jelas, dia mulai jarang muncul di depan khalayak umum untuk berdakwah. Kecuali di rumah, dia jarang muncul di tempat lain.
"Masya Allah, habib Alamsyah! Mengapa guru besar ada di sini?"
"Ini habib Alamsyah, sudah lama sekali dia tidak muncul di TV. Aku kira tidak akan pernah melihat wajahnya lagi.."
Suara-suara penuh kejutan segera membanjiri ruangan sidang. Pondok pesantren sekali lagi digemparkan oleh kedatangan seorang tokoh besar umat Islam di dalam negeri. Dia adalah habib Alamsyah, seorang guru besar yang mengabadikan sebagian dari hidupnya untuk melakukan dakwah dan menyebarkan ajaran Islam. Dia terkenal dengan dakwahnya yang menyejukkan hati, damai dan tak kenal takut. Perjuangannya selalu dikenang di hati banyak umat muslim tidak perduli apakah mereka tua atau muda. Nama habib Alamsyah selalu hidup.
Karena kedatangan habib Alamsyah, masalah hari ini tiba-tiba dilupakan begitu saja.
"Kakek!" Aish senang melihat Kakek akhirnya datang. Dia tahu Kakek tidak akan pernah membiarkan dia ditindas.
"Paman!" Bibi Rumi tak kuasa menahan senyum di wajahnya saat melihat habib Alamsyah datang ke sini. Tanpa menunggu habib Alamsyah mendatanginya, dia langsung berlari menghampiri habib Alamsyah dan memeluknya sayang. Habib Alamsyah adalah paman sekaligus Ayah di dalam hidupnya. Karena sejak Abah dan Uma pergi, peran orang tua di dalam keluarga digantikan oleh habib Alamsyah.
Kakek melihat habib Alamsyah sambil tersenyum, lalu dia melambaikan tangannya kepada Aish.
"Temui Kakek." Bisik sang habib sembari membimbing istrinya berjalan mendekati Kakek.
"Kakek, aku sangat senang melihat Kakek." Lalu dia dia melirik laki-laki paruh baya di samping Kakek yang tengah di peluk oleh bibi Rumi.
Karena bibi Rumi memiliki hubungan yang dekat dengan habib Alamsyah, maka Aish seharusnya memiliki hubungan dengannya juga. Tapi dia sangat malu mengenali habib Alamsyah lebih dulu. Takutnya ditolak.
__ADS_1
"Dia adalah kakek mu juga, tepatnya Paman dari Mama kamu." Kata Kakek menjawab rasa ingin tahu Aish.
Aish mengangguk. Dia tiba-tiba merasa sangat gugup.
"Rumi, dimana anak itu, Nak?" Habib Alamsyah bertanya dengan suara lemah yang sangat lembut.
Mata bibi Rumi berkaca-kaca. Dia lalu mengarahkan habib Alamsyah mendekati Aish.
"Dia di sini, Paman."
Habib Alamsyah menundukkan kepalanya menatap seorang gadis cantik yang tengah menatapnya dengan mata rasa ingin tahu. Tidak ada ketakutan di sana, namun rasa malu begitu melekat di dalam mata itu.
"Arumi, Nak... Apakah kamu Arumi?" Tanya habib Alamsyah sembari mengulurkan tangan tuanya menyentuh wajah merah Aish.
"Dia bukan kak Arumi, Paman. Dia adalah Aisha Rumaisha, putri kakakku. Tidakkah wajahnya sangat mirip dengan kakakku? Asal Paman tahu saja, bukan hanya wajahnya yang mirip tapi juga sifatnya keras kepala sangat mirip dengan kakakku. Mereka berdua seolah-olah keluar dari cetakan yang sama.."
Habib Alamsyah terdiam. Mata tuanya menatap wajah lembut Aish lekat-lekat seolah mencoba mencetak wajah ini sedalam mungkin di dalam memorinya.
"Benar, dia sangat mirip dengan kakakmu. Qodarullah, bertahun-tahun aku merindukan Arumi, akhirnya Allah izinkan aku melihat wajah Arumi di cucuku. Kamu sangat cantik, Nak. Bahkan Kakek merasa jika kamu lebih cantik daripada Ibumu, bukankah begitu, Rumi?"
Bibi Rumi menganggukkan kepalanya pahit.
__ADS_1
"Dia jauh lebih cantik daripada kakakku. Jika kak Arumi masih hidup, dia mungkin akan berteriak-teriak kepada kita semua dan memamerkan kecantikan putrinya kepada kita." Kakaknya adalah orang seperti ini.
"Tidak apa-apa... Kamu akhirnya kembali ke rumahmu, Nak. Kakek tidak akan membiarkan kamu pergi lagi." Habib Alamsyah membawa Aish ke dalam pelukannya yang hangat.
"Terima kasih Kakek...aku sangat senang.."
Ini pertama kalinya mereka bertemu tapi aneh sekali, Aish tiba-tiba merasa sangat rindu ketika dipeluk oleh habib Alamsyah. Semua rasa lelahnya seolah mendapatkan penawar yang dia cari-cari. Dia akhirnya bertemu dengan orang-orang yang sangat menghargai dan mencintainya.
"Paman.." Di tengah-tengah keterkejutan semua tentang identitas tak terduga Aish, Ayah memberanikan diri berbicara dengan habib Alamsyah.
Hari ini berkali-kali dia di kejutkan. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah Ayahnya sendiri, Kakek, telah mengambil tempatnya sebagai wali ketika Aish menikah dengan sang habib.
Habib Alamsyah melirik Kakek sebelum berlama-lama menatap wajah Ayah.
"Aku pernah menjadi wali pernikahan di antara kamu dan salah satu putriku, Arumi. Tapi kamu telah mengecewakanku. Jika bukan melihat Arumi, aku tidak ingin berurusan dengan kamu lagi sebab karena dirimu putriku mengalami kehancuran. Beberapa tahun yang lalu Arumi mengirimkan ku sebuah surat, memintaku menjadi saksi bila suatu hari Aish dan habib Thalib menikah. Dan sebagai orang tuanya, aku menyanggupi permintaannya. Kemudian 5 tahun yang lalu, aku diundang oleh Ayahmu untuk menghadiri pernikahan Aish dan habib Thalib di rumah sakit secara syariat Islam. Pernikahan ini memang belum terdaftar di dalam negara karena usia cucuku saat itu masih 13 tahun. Tapi 13 tahun sudah baligh di dalam Islam dan pernikahan mereka sah." Habib Alamsyah terbatuk-batuk ketika menjelaskan seluk beluk pernikahan Aish dan habib Thalib beberapa tahun yang lalu.
"Kakek.." Bisik Aish sedih sekaligus tersentuh.
Habib Alamsyah tersenyum lembut. Tangan tuanya menyentuh puncak kepala Aish sembari melambungkan sebuah doa di dalam hatinya.
Ya Allah, berkahi lah cucuku dengan ilmu yang luas dan ridho-Mu. Lindungilah cucuku kapanpun dan di manapun dirinya berada. Ku serahkan segala urusannya kepada diri-Mu, ya Allah. Batin habib Alamsyah berdoa.
__ADS_1
"13 tahun usia yang sangat kecil bagiku dulu. Awalnya aku menolak gagasan pernikahan dini. Namun karena habib Thalib memberikan kepastian tidak akan menyentuh Aish hingga usia dewasa, aku pun menyanggupinya lalu pernikahan dilaksanakan. Dari rahasia yang kami ungkapkan tak mungkin bila Aish mencelakai suaminya sendiri dan menjebaknya bersama wanita lain. Tuduhan ini sungguh sangat tidak masuk akal. Adapun mengenai saksi dari santriwati tadi, dia jelas berbohong. Dia mengada-ada dan memfitnah Aish secara terang-terangan. Tapi mirisnya, kamu malah mempercayai apa yang dikatakan oleh santriwati itu. Aku benar-benar tidak dapat berkata-kata untukmu." Kakek sedih telah gagal membesarkan putra yang selama ini dia bangga-banggakan.
Sampai dengan saat ini dia bertanya-tanya Apa yang membuat cintanya kepada Aish dan Aira berat sebelah?